OUTPLAYED BY YOU
He wins every game. She wins every argument.
"Aku tidak akan menikah denganmu kalau kamu masih menyembunyikan sesuatu dariku!"
Raka Adhitama memijat pelipisnya. Di hadapannya, Nadira Prameswari berdiri dengan piyama biru dan ekspresi siap membatalkan pernikahan mereka, padahal pria itu bahkan belum selesai menjelaskan.
"Aku belum mengatakan apa-apa."
"Tepat! Kamu selalu begitu. Diam, menghindar, lalu memasang wajah tampan seolah semuanya akan selesai sendiri."
"Aku tidak pernah menggunakan wajahku untuk menyelesaikan masalah."
Nadira mendengus. "Sayang sekali. Padahal itu satu-satunya kemampuanmu yang kuakui di luar permainan."
Raka hampir tersenyum. Hampir.
Di arena esports, ia dikenal sebagai Vex, pemain profesional yang mampu mengalahkan lawan terkuat tanpa kehilangan ketenangan. Namun, menghadapi calon istrinya sendiri ternyata membutuhkan keterampilan yang tidak tersedia dalam buku strategi mana pun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mars Is Blue, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
17
Lampu kristal di ballroom Hotel Arunika memantulkan cahaya ke lantai marmer ketika para tamu mulai berdatangan.
Di antara deretan pejabat perusahaan, pengusaha, dan tokoh masyarakat, Raka Adhitama berdiri dengan setelan hitam yang membuatnya terlihat seperti pewaris perusahaan besar yang seharusnya ia perankan sejak lama.
Sayangnya, ia lebih suka berada di depan komputer dengan headset di kepala.
“Berhenti memasang wajah seperti itu,” bisik Arman di sampingnya.
“Wajah seperti apa?”
“Wajah orang yang sedang menghitung berapa menit sampai acara ini selesai.”
“Bukankah itu yang sedang kulakukan?”
Arman memejamkan mata sebentar. “Kamu tahu, kadang saya memahami kenapa ayahmu ingin mengirimmu ke pelatihan kepemimpinan.”
“Kalau pelatihannya mengharuskan saya tersenyum kepada orang asing selama tiga jam, saya lebih memilih dihukum berlari mengelilingi lapangan.”
“Jangan bilang begitu di depan donatur.”
Raka mengangkat sudut bibirnya ketika seorang anggota dewan yayasan mendekat. Ia berjabat tangan, bertukar sapaan, lalu mendengarkan penjelasan mengenai program bantuan medis yang akan diumumkan malam itu.
Semuanya berjalan sesuai rencana.
Hingga seorang staf komunikasi menghampiri mereka.
“Pak Raka, tim media sudah tiba. Wartawan dari Media Arena ingin melakukan wawancara mengenai mekanisme bantuan operasi dan laporan tahunan yayasan.”
Raka hampir tidak menunjukkan reaksi.
Namun, ketika staf itu menyebut nama wartawannya, ia langsung menoleh.
“Nadira Prameswari,” lanjut staf tersebut. “Wawancaranya dijadwalkan lima belas menit lagi.”
Arman melirik Raka.
Raka membetulkan manset kemejanya.
“Baik. Pastikan semua dokumen yang relevan tersedia.”
“Siap, Pak.”
Setelah staf itu pergi, Arman menatapnya dengan ekspresi yang terlalu mengenal dirinya.
“Jangan.”
Raka mengernyit. “Jangan apa?”
“Jangan menganggap kedatangan Nadira sebagai kesempatan untuk menyelesaikan masalah pribadi kalian.”
“Aku tidak mengatakan apa-apa.”
“Wajahmu sudah mengatakan cukup banyak.”
Raka mendesah.
“Aku tahu batasnya, Arman.”
“Bagus. Pertahankan batas itu.”
Raka mengalihkan pandangan ke arah pintu masuk.
Ia tidak tahu apakah Nadira akan bersikap dingin, profesional, atau sama sekali mengabaikan keberadaannya.
Namun, ia tahu satu hal: ia tidak ingin membuat perempuan itu merasa terjebak hanya karena mereka berada di ruangan yang sama.
Kali ini, ia akan membiarkan Nadira menentukan sendiri seberapa jauh percakapan mereka berlangsung.
Di lantai bawah, Nadira sedang memeriksa alat perekam ketika Keisha mengirimkan pesan.
Keisha: Jangan lupa makan. Kamu kalau sudah menyelidiki sesuatu suka lupa bahwa manusia membutuhkan makanan.
Nadira tersenyum tipis.
Nadira: Aku sudah makan.
Keisha: Kopi bukan makanan.
Nadira: Ada roti.
Keisha: Aku akan menerima jawaban itu sebagai pengakuan bersalah.
Nadira memasukkan ponselnya ke tas.
Ia datang dengan dua tujuan yang jelas. Pertama, mendapatkan informasi yang dapat dipertanggungjawabkan mengenai program bantuan medis Yayasan Adhitama Peduli. Kedua, memahami apakah ada hubungan antara program tersebut dan operasi ibunya lima tahun lalu.
Tujuan kedua tidak akan masuk ke artikelnya tanpa bukti.
Ia tidak akan menggunakan pekerjaannya untuk mengejar kecurigaan pribadi.
Seorang staf menghampirinya.
“Mbakh Nadira? Perwakilan yayasan sudah siap menerima Anda. Silakan ikut saya.”
Nadira mengikuti staf itu melewati koridor menuju sebuah ruang pertemuan yang lebih kecil daripada ballroom utama.
Di dalamnya, seorang perempuan berusia sekitar lima puluh tahun duduk di belakang meja dengan beberapa dokumen tersusun rapi.
“Selamat sore. Saya Ratna Wibisono, direktur program Yayasan Adhitama Peduli.”
“Nadira Prameswari, Media Arena. Terima kasih sudah meluangkan waktu.”
Mereka berjabat tangan.
Ratna mempersilakannya duduk.
“Saya sudah membaca daftar pertanyaan Anda. Anda ingin membahas mekanisme bantuan operasi dan transparansi laporan tahunan?”
“Betul. Saya ingin memahami bagaimana yayasan menentukan penerima bantuan, siapa yang mengawasi pencairan dana, dan bagaimana publik bisa memeriksa penggunaan anggarannya.”
Ratna mengangguk.
“Program bantuan medis kami memiliki prosedur verifikasi. Permohonan dinilai berdasarkan kondisi pasien, kebutuhan medis, dan kemampuan finansial keluarga. Keputusan tidak dibuat oleh satu orang saja.”
“Apakah ada pihak keluarga Adhitama yang bisa menentukan penerima bantuan secara langsung?”
“Secara administratif, keluarga pendiri tidak menangani setiap permohonan. Kami memiliki tim program dan mekanisme persetujuan internal.”
Nadira mencatat jawabannya.
“Bagaimana dengan bantuan darurat yang membutuhkan keputusan cepat?”
Ratna menjelaskan prosedur khusus untuk kasus medis mendesak, termasuk persetujuan dari pejabat program yang berwenang.
Jawabannya masuk akal, tetapi belum menjawab pertanyaan Nadira mengenai masa lalu ibunya.
Ia menunggu sampai Ratna selesai menjelaskan, kemudian mengajukan pertanyaan yang sudah dipersiapkannya.
“Apakah yayasan masih menyimpan arsip program bantuan dari lima tahun lalu?”
Ratna menatapnya sejenak.
“Sebagian besar dokumen masih tersimpan, tetapi akses terhadap catatan individual dibatasi demi menjaga privasi penerima bantuan.”
“Saya memahami itu. Saya tidak meminta data pasien. Saya ingin mengetahui apakah ada catatan umum mengenai kerja sama yayasan dengan rumah sakit tempat program bantuan operasi dilaksanakan pada tahun tersebut.”
“Rumah sakit yang mana?”
Nadira menyebutkan namanya.
Untuk pertama kalinya sejak wawancara dimulai, Ratna tidak langsung menjawab.
Ia menutup map di depannya, lalu membuka sebuah dokumen lain.
“Kami memang bekerja sama dengan beberapa rumah sakit pada tahun tersebut. Saya perlu memeriksa arsipnya sebelum memberikan konfirmasi yang lebih spesifik.”
“Apakah saya bisa mendapatkan jawaban tertulis setelah pemeriksaan selesai?”
“Tentu. Silakan kirimkan permintaan resmi melalui bagian komunikasi kami.”
Nadira mengangguk.
Ia tidak mendapatkan jawaban yang dicari, tetapi setidaknya ia memiliki jalur resmi untuk melanjutkan penelusuran.
Ketika wawancara selesai, Ratna mengantarnya sampai ke pintu.
“Satu hal lagi,” kata perempuan itu.
Nadira berhenti.
“Apakah ada alasan khusus Anda menanyakan program lima tahun lalu?”
Nadira mempertimbangkan jawabannya.
“Saya sedang memeriksa kemungkinan adanya hubungan antara program bantuan medis dan kasus yang pernah terjadi pada periode tersebut. Untuk saat ini, saya belum memiliki cukup informasi untuk menyimpulkan apa pun.”
Ratna memperhatikannya beberapa detik sebelum mengangguk.
“Saya mengerti. Saya akan meminta tim kami memeriksa arsip yang relevan.”
Nadira mengucapkan terima kasih, lalu meninggalkan ruangan.
Ia tidak menyadari bahwa, setelah pintu tertutup, Ratna segera mengambil ponselnya dan mencari sebuah nomor yang tersimpan dengan nama sederhana.
A. Adhitama.
Raka baru saja menyelesaikan percakapan dengan seorang donatur ketika ia melihat Nadira keluar dari koridor ruang pertemuan.
Mereka bertemu pandang.
Untuk sesaat, suara percakapan di ballroom seolah menjauh.
Raka mengangguk kecil sebagai sapaan.
Nadira membalas dengan anggukan yang sama sopannya.
Tidak ada senyuman.
Tidak ada percakapan tambahan.
Ia hendak melanjutkan langkah ketika seorang staf memanggil Raka untuk sesi foto bersama pengurus yayasan.
Raka menoleh kepada Nadira sekali lagi, lalu mengikuti staf tersebut.
Nadira mengamati punggungnya sesaat.
Laki-laki itu tampak nyaman berada di antara para eksekutif, memahami kapan harus berbicara dan kapan harus diam. Ia tidak terlihat seperti orang yang sedang dipaksa memainkan peran.
Dan justru itulah yang membuat Nadira bingung.
Bagaimana seseorang bisa terlihat begitu alami dalam satu kehidupan, sementara menyembunyikan begitu banyak hal dalam kehidupan lainnya?
Ia segera mengalihkan perhatian pada tugasnya.
Perasaannya terhadap Raka tidak boleh menjadi ukuran untuk menilai fakta.
“Nadira?”
Suara seorang pria yang tidak dikenalnya membuatnya menoleh.
Seorang lelaki berusia sekitar lima puluh tahun berdiri beberapa langkah darinya. Setelan abu-abunya sederhana, tetapi jam tangan di pergelangan tangannya tampak mahal.
“Ya?”
“Maaf, apakah Anda wartawan dari Media Arena?”
“Betul. Ada yang bisa saya bantu?”
Lelaki itu tersenyum tipis.
“Saya Adrian Adhitama.”
Nadira langsung memahami siapa yang berdiri di hadapannya.
Ayah Raka.
Ia pernah melihat wajah itu di berbagai pemberitaan bisnis, tetapi bertemu langsung dengannya menimbulkan perasaan berbeda.
“Senang bertemu dengan Anda, Pak.”
“Begitu juga. Saya mendengar Anda sedang menulis tentang program bantuan medis yayasan.”
“Saya sedang mengumpulkan informasi mengenai mekanisme program dan transparansi pendanaannya.”
“Bagus. Saya menghargai wartawan yang memeriksa fakta sebelum menarik kesimpulan.”
Nadira tidak yakin apakah itu pujian atau sekadar basa-basi.
“Saya berusaha melakukan pekerjaan saya dengan benar.”
Adrian mengangguk, lalu memandangnya lebih saksama.
“Nama Prameswari mengingatkan saya pada seseorang.”
Nadira merasakan tengkuknya menegang.
“Ibu saya bernama Ratih Prameswari.”
Senyum Adrian tidak langsung menghilang, tetapi ada perubahan kecil di matanya.
“Ratih,” ulangnya pelan.
Nadira memperhatikan reaksinya.
“Bapak mengenal ibu saya?”
Adrian terdiam selama satu atau dua detik.
“Saya mengenal banyak orang melalui kegiatan yayasan. Sudah cukup lama, jadi saya tidak bisa memastikan apakah kami pernah bertemu secara langsung.”
Jawaban itu terlalu umum untuk membuktikan sesuatu.
Namun, Nadira tidak melewatkan cara Adrian mengalihkan pandangan sesaat setelah menyebut nama ibunya.
“Apakah ada sesuatu yang ingin Anda tanyakan?” lanjut Adrian.
Nadira memilih kata-katanya dengan hati-hati.
“Tidak untuk saat ini. Saya sedang berusaha memahami catatan program bantuan medis dari lima tahun lalu.”
“Kalau begitu, semoga Anda menemukan informasi yang dibutuhkan.”
Adrian mengangguk sopan sebelum kembali menuju para tamu.
Nadira tetap berdiri di tempatnya.
Ia tidak memiliki bukti bahwa Adrian mengenal ibunya. Bisa saja reaksinya hanya karena pernah melihat nama Ratih dalam dokumen lama.
Tetapi untuk pertama kalinya, nama ibunya telah menghasilkan reaksi nyata dari seseorang yang berada di pusat keluarga Adhitama.
Dan itu cukup untuk membuat Nadira semakin waspada.
Acara amal berlangsung hingga malam.
Setelah sesi pengumuman program baru selesai, Nadira duduk di sudut ballroom untuk merapikan catatan. Ia baru saja mengirimkan beberapa foto kepada editor ketika sebuah bayangan jatuh di atas mejanya.
“Boleh duduk?”
Ia mendongak.
Raka berdiri di hadapannya dengan dua gelas air mineral.
Nadira melirik kursi kosong di seberangnya.
“Silakan. Tapi kalau ini tentang wawancara, aku sudah selesai mengumpulkan materi.”
“Bukan tentang wawancara.”
Raka meletakkan salah satu gelas di dekatnya, tetapi tidak mendorongnya terlalu jauh.
“Aku hanya ingin memastikan kamu baik-baik saja.”
Nadira menatap gelas itu, kemudian kembali menatap Raka.
“Aku baik-baik saja.”
“Bagus.”
Keheningan menyusul.
Raka tampak ingin mengatakan sesuatu, tetapi ia tidak segera melakukannya. Nadira hampir merasa kasihan melihat betapa canggungnya laki-laki itu.
Hampir.
“Kamu tidak perlu terus mengkhawatirkanku,” katanya.
“Aku tahu.”
“Dan kamu juga tidak perlu berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja di antara kita.”
Raka menunduk sebentar.
“Aku tidak berpura-pura.”
Nadira mengembuskan napas.
“Raka, aku sedang bekerja. Aku tidak ingin membahas masalah pribadi di acara ini.”
“Aku mengerti.”
“Bagus.”
Ia kembali memeriksa catatannya.
Raka tidak langsung pergi.
“Ada satu hal yang ingin kukatakan,” ujarnya akhirnya. “Aku tidak akan meminta kamu memercayaiku sekarang. Aku hanya ingin kamu tahu bahwa kalau suatu hari kamu punya pertanyaan tentang keluargaku, aku akan berusaha menjawabnya dengan jujur.”
Nadira berhenti menulis.
Kalimat itu terdengar sederhana.
Namun, ia tidak bisa melupakan pesan anonim yang diterimanya.
Jangan bertanya kepada Raka.
Ia belum tahu apakah peringatan itu berasal dari seseorang yang ingin melindunginya atau seseorang yang ingin mengarahkannya menjauh dari kebenaran.
“Aku akan mengingatnya,” jawab Nadira.
Raka mengangguk.
Kali ini, ia tidak meminta lebih.
Ia berdiri, mengucapkan selamat malam, lalu kembali bergabung dengan para tamu.
Nadira mengawasinya sebentar sebelum menunduk lagi.
Ia tidak tahu apakah suatu hari akan meminta jawaban kepada Raka.
Namun, jika saat itu tiba, ia ingin mengajukan pertanyaan berdasarkan fakta, bukan karena seseorang menyuruhnya percaya atau tidak percaya kepada laki-laki itu.
Menjelang tengah malam, Nadira sudah berada di dalam taksi ketika ponselnya bergetar.
Sebuah pesan masuk dari nomor tidak dikenal.
Nomor Tidak Dikenal: Kamu sudah bertemu Adrian Adhitama, bukan?
Nadira langsung duduk lebih tegak.
Ia tidak pernah memberi tahu siapa pun mengenai percakapannya dengan Adrian, selain menyebutkan secara umum bahwa ia menghadiri acara amal.
Pesan kedua muncul.
Nomor Tidak Dikenal: Jika kamu ingin mengetahui siapa yang membayar operasi ibumu, cari dokumen dengan kode AP-17 di arsip yayasan.
Nadira menatap layar tanpa berkedip.
Kode AP-17.
Ia mengambil tangkapan layar, lalu memeriksa nomor pengirimnya. Sama seperti sebelumnya, tidak ada identitas yang bisa dikenali.
Ia ingin segera mencari kode tersebut di internet, tetapi ia tahu informasi internal yayasan mungkin tidak tersedia secara terbuka.
Satu hal kini menjadi jelas.
Pengirim pesan itu mengetahui bahwa ia sedang menyelidiki operasi ibunya. Mereka juga mengetahui siapa yang ia temui malam ini.
Artinya, seseorang sedang memperhatikan langkah-langkahnya.
Nadira menoleh ke jendela taksi. Lampu-lampu Jakarta bergerak melewati kaca, sementara pikirannya dipenuhi pertanyaan yang semakin sulit diabaikan.
Ia tidak tahu apakah Raka terlibat.
Ia tidak tahu mengapa Adrian tampak mengenali nama ibunya.
Dan ia belum tahu apa arti kode AP-17.
Tetapi untuk pertama kalinya, ia memiliki petunjuk yang bisa ditelusuri.
Nadira menyimpan tangkapan layar itu, lalu membuka catatan digitalnya.
Di bagian atas halaman kosong, ia mengetik tiga hal:
Yayasan Adhitama Peduli.
Ratih Prameswari.
Dokumen AP-17.
Kemudian ia menambahkan satu kalimat di bawahnya.
Jangan menyimpulkan sebelum menemukan bukti.
Malam itu, Nadira belum mendapatkan jawaban.
Namun, seseorang baru saja memberinya alasan untuk terus mencari.
Dan jauh di dalam dirinya, ia mulai merasakan bahwa rahasia yang menghubungkan keluarganya dengan keluarga Adhitama mungkin jauh lebih besar daripada sekadar bantuan biaya operasi.