PACAR KONTRAK SANG KETUA GENG
Fake Dating • Bad Boy • School Romance • Possessive Love
Nadine Kirana tidak pernah berniat terlibat dengan Axel Pratama—ketua kelompok Orbit yang terkenal dingin, sulit diatur, dan selalu mendapatkan apa yang diinginkannya.
Bagi Nadine, hidup sudah cukup rumit. Di tengah kesibukan sekolah dan pekerjaan paruh waktu, dia harus mencari uang untuk biaya perawatan ibunya. Sementara itu, impiannya melanjutkan kuliah di luar kota perlahan terancam oleh keadaan yang tidak bisa dia kendalikan.
Lalu Axel datang membawa tawaran yang tidak masuk akal.
Jadilah pacarku selama sembilan puluh hari, dan aku akan menanggung biaya yang kita sepakati.
Axel membutuhkan pacar pura-pura untuk menggagalkan rencana perjodohan keluarganya. Nadine membutuhkan uang. Kesepakatan itu seharusnya sederhana: berpura-pura saling mencintai di depan orang lain, menaati aturan, lalu berpisah ketika waktunya habis.
Tidak ada perasaan. Tidak ada tuntutan. Tidak ada masa depan bersama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhea Vey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MAKAN MALAM PENUH JEBAKAN
Ponsel Nadine bergetar ketika bel istirahat berbunyi.
Ia baru saja menyelesaikan beberapa soal latihan di buku catatannya saat sebuah nama muncul di layar.
Axel Pratama.
Axel: Malam ini lo ada acara?
Nadine mengerutkan kening.
Nadine: Kenapa?
Pesan berikutnya datang tidak sampai semenit kemudian.
Axel: Gue mau ngajak lo makan malam di rumah gue.
Nadine membaca pesan itu dua kali, memastikan tidak ada bagian yang terlewat.
Rumahnya?
Selama beberapa detik, ia hanya menatap layar. Hubungan mereka memang sudah diumumkan di sekolah, tetapi bukan berarti Nadine siap dibawa masuk ke kehidupan pribadi Axel begitu saja.
Nadine: Buat apa?
Kali ini, Axel membutuhkan waktu sedikit lebih lama untuk menjawab.
Axel: Bokap gue mau ketemu lo.
Nadine meletakkan pena.
Nadine: Kenapa harus ketemu gue?
Axel: Karena keluarga bokap gue sama keluarga Keisha bakal datang malam ini. Mereka mau ngomongin soal perjodohan itu.
Nadine mengembuskan napas pelan.
Jadi, inilah bagian dari kesepakatan yang belum benar-benar ia pikirkan.
Menjadi pacar pura-pura Axel bukan sekadar berjalan bersama di koridor sekolah atau duduk bersebelahan saat istirahat. Ada keluarga, reputasi, dan urusan bisnis yang ikut terseret. Dan sekarang, Nadine diminta masuk ke tengah-tengah semuanya.
Nadine: Gue bukan alat buat lo menang lawan bokap lo.
Balasan Axel tidak langsung muncul.
Di kelas yang mulai ramai, Nadine memperhatikan teman-temannya beranjak keluar. Ia hampir memasukkan ponsel ke tas ketika layar kembali menyala.
Axel: Gue tahu.
Axel: Gue ngajak lo karena gue pengin lo datang. Bukan berarti lo wajib datang.
Nadine membaca kalimat itu dengan hati-hati. Setidaknya kali ini Axel tidak langsung memutuskan sesuatu atas namanya.
Nadine: Kalau gue datang, gue perlu tahu apa yang bakal terjadi di sana. Siapa yang hadir, apa tujuan acaranya, dan apa yang lo harapkan dari gue.
Axel: Kita bahas di perpustakaan setelah pulang sekolah?
Nadine: Jam empat. Gue cuma bisa sebentar. Setelah itu gue harus kerja.
Axel: Oke.
Nadine mengunci layar.
Ia belum mengatakan iya. Namun, ia tahu pembicaraan ini tidak bisa dihindari selamanya.
---
Pukul empat sore, Axel sudah menunggu di sudut perpustakaan yang agak jauh dari meja utama.
Di hadapannya tergeletak sebuah buku yang sejak tadi tidak benar-benar ia baca. Jari telunjuknya mengetuk permukaan meja satu kali ketika melihat Nadine mendekat.
Kebiasaan kecil itu muncul setiap kali pikirannya mulai dipenuhi sesuatu yang tidak bisa ia kendalikan.
Nadine duduk di kursi seberangnya dan langsung membuka pembicaraan.
“Jelasin.”
Axel mengangkat alis. “Nggak ada basa-basi dulu?”
“Waktu gue terbatas. Lo tahu gue harus kerja.”
Axel menutup bukunya.
“Bokap gue udah lama merencanakan perjodohan gue sama Keisha. Keluarga mereka punya hubungan bisnis sama keluarga gue. Buat bokap, pernikahan itu semacam cara buat memperkuat hubungan mereka.”
“Dan lo nggak mau?”
“Gue nggak mau hidup gue ditentukan orang lain.”
Nadine menatapnya beberapa saat. “Terus lo pikir bawa gue ke sana bakal menyelesaikan semuanya?”
“Belum tentu.”
“Jawaban yang bagus. Setidaknya lo nggak bohong.”
Axel menyandarkan punggungnya. “Gue cuma mau bokap gue tahu kalau gue udah punya pacar.”
“Pacar kontrak.”
“Di atas kertas, iya.”
“Dan di depan keluarga lo, gue harus berpura-pura jadi pacar sungguhan.”
“Kalau lo setuju datang.”
Nadine memperhatikan wajah Axel. Ada sesuatu yang berbeda dari cara laki-laki itu berbicara hari ini. Biasanya Axel menyampaikan keinginannya seolah-olah dunia akan menyesuaikan diri dengannya. Sekarang, ia tampak berusaha memilih kata-kata yang tidak terdengar seperti perintah.
Namun, Nadine tidak berniat menganggap perubahan kecil itu sebagai jaminan.
“Gue punya tiga syarat,” katanya.
Axel mengangguk. “Sebutkan.”
“Pertama, jangan jadikan gue bahan buat mempermalukan bokap lo. Kalau lo punya masalah sama beliau, selesaikan sendiri.”
“Gue nggak berniat mempermalukan siapa pun.”
“Gue belum selesai.”
Axel mengatupkan mulutnya.
“Kedua, jangan jawab pertanyaan atas nama gue. Kalau ada yang nanya, biarkan gue jawab sendiri. Gue bisa bicara tanpa harus diwakili.”
“Oke.”
“Ketiga, kalau gue merasa nggak nyaman dan mau pulang, lo nggak boleh menahan gue cuma karena acara belum selesai.”
Kali ini Axel tidak langsung menjawab.
Nadine menunggu.
“Kalau lo mau pulang, gue nggak akan menahan lo,” katanya akhirnya.
“Bukan cuma nggak menahan. Jangan bikin gue merasa bersalah karena memutuskan pulang.”
Axel menatapnya lebih lama, lalu mengangguk sekali.
“Oke. Gue ngerti.”
Nadine menutup buku catatannya. “Gue akan datang setelah selesai kerja. Tapi gue datang karena gue setuju menghadiri acara itu, bukan karena lo punya hak buat menentukan ke mana gue harus pergi.”
“Gue tahu.”
“Dan satu lagi. Gue nggak punya pakaian mahal buat acara keluarga lo.”
Axel hampir menjawab, tetapi urung.
“Pakai pakaian yang biasa lo pakai,” katanya. “Lo nggak perlu jadi orang lain.”
Nadine sedikit terkejut mendengarnya.
“Semoga lo juga ingat itu ketika kita sampai di sana.”
Ia berdiri, merapikan tas, lalu meninggalkan perpustakaan.
Axel tidak mengejarnya.
Untuk pertama kalinya, ia membiarkan Nadine pergi tanpa mencoba mengatur langkah berikutnya.
---
Pukul tujuh lewat lima belas menit, Nadine tiba di rumah keluarga Pratama.
Setelah menyelesaikan pekerjaannya di tempat fotokopi Pak Udin, ia sempat pulang untuk memberi tahu ibunya mengenai acara tersebut.
Ibunya tidak melarang.
Namun, sebelum Nadine berangkat, Ratih sempat menggenggam tangannya.
Lampu taman menyinari jalan masuk yang bersih. Jendela-jendela tinggi memantulkan cahaya hangat dari dalam. Semuanya tampak rapi dan teratur, sampai Nadine merasa sepatunya sendiri terlalu sederhana untuk berada di sana.
Ia menarik napas, kemudian menekan bel.
Pintu dibuka oleh seorang perempuan berpenampilan anggun yang langsung tersenyum ketika melihatnya.
“Kamu Nadine, ya?”
“Iya, Tante.”
“Saya Maya, mamanya Axel. Ayo, masuk. Axel bilang kamu mungkin datang setelah bekerja.”
Maya tidak memandang pakaian Nadine dengan tatapan menghakimi. Ia justru mempersilakannya masuk dan menanyakan apakah perjalanan tadi lancar.
Sambutan sederhana itu membuat ketegangan di bahu Nadine sedikit berkurang.
Namun, rasa gugupnya kembali ketika ia melihat Arman Pratama berdiri di dekat ruang makan.
Ayah Axel itu mengenakan kemeja rapi dengan lengan yang dilipat sampai pergelangan tangan. Wajahnya tidak menunjukkan permusuhan, tetapi tatapannya bergerak cepat, seolah-olah ia sedang menyusun penilaian sebelum Nadine sempat memperkenalkan diri.
“Jadi, ini Nadine,” katanya.
“Iya, Om. Saya Nadine.”
Arman mengulurkan tangan. Nadine menyambutnya dengan sopan.
“Axel jarang membawa teman ke rumah.”
Nadine tidak tahu apakah kalimat itu sekadar pembuka percakapan atau sindiran halus.
“Kalau begitu, semoga kedatangan saya tidak merepotkan, Om.”
Sudut bibir Arman bergerak tipis.
“Kita lihat saja nanti.”
Sebelum percakapan berlanjut, Axel muncul dari arah tangga.
“Lo udah datang.”
Nadine meliriknya. “Gue bilang bakal datang setelah kerja.”
Axel seolah hendak mengatakan sesuatu, tetapi akhirnya hanya mengangguk.
Maya mempersilakan mereka duduk di ruang makan. Nadine memilih kursi yang ditunjukkan tuan rumah, sementara Axel duduk di sebelahnya.
“Bagaimana sekolahmu?” tanya Arman.
“Baik, Om.”
“Kamu kelas dua belas sekarang?”
“Iya.”
“Setelah lulus, rencananya mau kuliah di mana?”
Nadine sempat melirik Axel, tetapi laki-laki itu sedang memperhatikan ayahnya. Ia teringat syarat yang disampaikannya di perpustakaan: ia akan menjawab sendiri.
“Saya ingin kuliah di jurusan Ilmu Gizi di universitas negeri, Om. Saya sedang mempersiapkan berkas beasiswa juga.”
“Universitas negeri di kota lain?”
“Iya.”
“Biaya hidup dan kuliah di luar kota tentu tidak sedikit.”
Nada bicara Arman tetap tenang. Ia bahkan tidak terdengar sedang menyindir. Namun, pertanyaannya membuat Nadine sadar bahwa percakapan ini bukan sekadar basa-basi.
“Saya tahu, Om. Karena itu saya sedang mencari beasiswa dan berusaha menyiapkan semuanya dari sekarang.”
“Kalau tidak mendapat beasiswa?”
“Saya akan mencari pilihan lain yang masih memungkinkan. Tapi saya tetap ingin berusaha.”
Arman menyatukan kedua tangannya di atas meja.
“Jadi, kamu sudah menghitung kemampuan finansialmu sebelum menentukan tujuan?”
“Saya sedang belajar melakukannya, Om. Kondisi saya memang tidak sama dengan semua orang, tetapi saya tidak ingin menjadikan itu alasan untuk berhenti mencoba.”
Ruangan mendadak terasa lebih sunyi.
Nadine menjaga suaranya tetap tenang. Ia tidak ingin terdengar menantang, tetapi juga tidak ingin mengarang jawaban agar tampak lebih pantas di mata keluarga ini.
Maya meletakkan semangkuk sup di dekatnya.
“Coba makan dulu, Nadine. Dari tadi kita malah terus bertanya.”
“Terima kasih, Tante.”
“Kamu kerja setelah sekolah setiap hari?”
“Tidak setiap hari, Tante. Tapi saya memang membantu di tempat fotokopi sepulang sekolah.”
Maya mengangguk, lalu bertanya tentang pelajaran yang paling disukai Nadine. Percakapan itu terasa lebih ringan.
Sementara itu, Arman kembali menatap putranya.
“Axel, kamu sudah mempertimbangkan semua konsekuensi dari hubungan ini?”
Axel meletakkan sendoknya.
“Hubungan yang mana?”
“Jangan berpura-pura tidak mengerti.”
Nadine menahan napas. Ia tahu percakapan ini pada akhirnya akan sampai ke sana.
Arman menoleh kepadanya. “Saya tidak bermaksud mencampuri urusan pribadi kalian. Namun, kamu tentu mengerti bahwa hubungan seperti ini bisa menimbulkan pertanyaan, terutama ketika keluarga kami sudah memiliki rencana lain.”
Nadine menatap Arman.
“Kalau Om ingin menanyakan sesuatu tentang saya, silakan bertanya langsung. Saya akan menjawab sebisa saya.”
Axel meliriknya. Ada dorongan untuk menyela, tetapi ia teringat janjinya.
Arman memperhatikan Nadine selama beberapa detik.
“Baik. Kalau begitu, saya akan bertanya langsung. Apa yang membuat kamu menerima hubungan dengan Axel?”
Pertanyaan itu membuat Nadine terdiam sesaat.
Ia tidak mungkin menjelaskan seluruh isi kontrak di meja makan. Namun, ia juga tidak ingin memberikan jawaban yang sepenuhnya palsu.
“Saya dan Axel sudah membicarakan kesepakatan kami,” jawabnya hati-hati. “Saya punya alasan sendiri untuk mempertimbangkannya, dan saya tahu ada batasan yang harus kami hormati.”
“Itu bukan jawaban yang lengkap.”
“Saya mengerti, Om. Tapi saya juga merasa ada hal-hal pribadi yang tidak perlu saya ceritakan seluruhnya malam ini.”
Axel menoleh kepadanya.
Untuk sesaat, ia terlihat seperti baru menyadari sesuatu: Nadine tidak sedang berusaha memenangkan hati keluarganya. Gadis itu hanya berusaha berdiri di tempatnya sendiri, tanpa membiarkan siapa pun mendorongnya terlalu jauh.
Arman belum sempat menanggapi ketika bel rumah berbunyi.
Maya melirik jam dinding.
“Sepertinya keluarga Mahendra sudah datang.”
Ketegangan yang sejak tadi tertahan di meja makan terasa berubah arah.
Beberapa saat kemudian, seorang gadis masuk bersama kedua orang tuanya. Penampilannya rapi, pembawaannya tenang, dan tatapannya langsung tertuju pada Axel.
Lalu, pandangannya beralih kepada Nadine yang duduk di sebelahnya.
Gadis itu tidak terlihat terkejut. Ia hanya mengamati mereka berdua selama beberapa detik, seolah-olah sedang mencocokkan sesuatu yang sudah lama ia curigai.
Kemudian, ia menarik kursi di seberang mereka.
“Jadi, ini alasan Axel tiba-tiba punya pacar?”