Lima tahun Anindya Wiranegara menyembunyikan jati dirinya demi menjadi istri biasa. Lima tahun pula dia dihina suaminya, direndahkan mertuanya, dan dipandang rendah oleh semua orang.
Sampai malam pesta itu. Di anak tangga marmer sebuah hotel mewah, perempuan yang sudah lama menunggu gilirannya mendorongnya jatuh, dan sang suami hanya berkata, "Jangan merusak malamku."
Perempuan yang bangun dari rumah sakit itu bukan lagi istri penurut. Dia pewaris imperium perhotelan, perbankan, dan dunia bawah yang selama ini dia tinggalkan. Syaratnya hanya tiga: pegang kendali bisnis keluarga, kembali berlatih senjata, dan menikah dengan Arga Mahendra, taipan paling sombong dan paling ditakuti di negeri ini.
Pernikahan kontrak dimulai dengan klausul-klausul tertulis di atas meja kaca. Anindya menambahkan klausul merah miliknya sendiri. Arga menantang, Anindya membalas lebih tajam. Siapa pun yang berani menyebut pernikahan ini "sekadar bisnis" belum pernah melihat mereka berdua di ruang rapat, di meja catur, atau di ranjang.
Sementara itu, keluarga Pratama tak tahu bahwa kehancuran mereka sudah ditandatangani.
Ini bukan sekadar balas dendam. Ini seni, dan Nyonya Mahendra sudah menggoreskan tinta pertamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naibelys Perez, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PUNCAK KEANGKUHAN DAN PEMBALASAN YANG TERTUNDA
Ketegangan yang dipancarkan kata-kata Darmawan Wiranegara melayang di udara malam taman kediaman itu, tapi tak satu pun dari kedua raksasa muda itu kehilangan ketenangan di depan umum. Arga merapikan manset tuksedonya dengan sikap dingin tanpa cela, sementara Anindya menegakkan punggung dengan keangkuhan yang menantang setiap jejak kelemahan fisik.
"Tidak ada apa-apa, Papa," jawab Arga dengan suara berat yang mantap dan terkendali sempurna, menghadiahi sang patriark senyum yang diperhitungkan. "Kami sedang membahas detail penutupan korporasi berikutnya di sektor perbankan. Anindya dan aku hanya membawa gairah bisnis kami sampai ke wilayah pribadi."
Darmawan mengamati mereka dengan tatapan tajam dan dingin, menyusuri raut angkuh putrinya sebelum mengangguk pelan.
"Sebaiknya gairah itu tetap terkendali, Arga," Darmawan memperingatkan dengan nada keras. "Dalam keluarga kita kelemahan tidak diampuni, apalagi di depan umum. Nikmati pestanya. Masih banyak tamu yang harus kalian layani."
Sang patriark berbalik dan menjauh di antara kerumunan, meninggalkan pasangan itu dalam keheningan berlistrik. Begitu Darmawan menghilang dari pandangan, ibu jari Arga kembali bergeser di layar ponselnya. Denyut panjang, dalam, dan tak berbelas menjalari tubuh Anindya, memaksanya menggigit bibir bawah begitu keras hingga seutas darah nyaris muncul. Matanya yang gelap terpaku pada mata suaminya dengan campuran murka pembunuh dan hasrat demam yang nyaris tak tertahankan.
"Senang, pria alfa?" desis Anindya dalam bisikan nyaris tak terdengar, buku-buku jarinya memutih karena mencengkeram tas tangan. "Masih perlu terus membuktikan siapa yang berkuasa sementara kamu bersulang dengan kalangan atas?"
Arga membungkuk ke arahnya, bibirnya menyentuh garis telinganya, napasnya panas dan berat.
"Ini baru awal hukumanmu, sayang," gumamnya dengan senyum gelap. "Kamu akan tersenyum, kamu akan berdansa denganku di tengah lantai dansa, dan kamu akan menahan setiap detik malam ini sambil tahu tubuhmu sepenuhnya milikku."
Begitulah sisa malam itu berlalu. Anindya menahan hukuman tanpa ampun yang dikendalikan Arga dari jauh sesuka hatinya sepanjang malam. Dia menanggung sulang demi sulang, percakapan kosong dengan para menteri dan bankir, dan dansa-dansa ruang dansa di bawah lampu-lampu pohon tua, sementara perangkat mungil itu bergetar seirama kehendak sang taipan. Setiap langkah dansa adalah aksi keseimbangan di atas jurang, setiap senyum yang dia berikan pada para tamu menyembunyikan gemetar di dalam yang mengancam meruntuhkan tekadnya. Tapi Anindya tak sekali pun mengeluh, tak sekali pun mengerang di saat yang salah, tak sekali pun memohon ampun. Dia menjaga topengnya tetap utuh, mengubah penderitaannya sendiri menjadi baju zirah tantangan mutlak.
Menjelang dini hari, ketika pintu-pintu antipeluru suite utama kediaman Mahendra menutup di belakang mereka, tetes terakhir pengendalian diri seolah menguap di udara.
Kamar itu gelap, hanya diterangi pantulan bulan di seprai linen. Arga melepas dasi kupu-kupunya dengan lelah dan menjatuhkan jasnya di kursi, merasakan kemenangan telak karena telah menaklukkan perempuan paling tak terjinakkan di negeri ini sepanjang satu malam penuh eksposur publik. Dia berbalik padanya dengan senyum puas di wajah, siap mencicipi kemenangan akhir.
Anindya berdiri di dekat meja rias. Gaun zamrudnya sudah dilempar ke samping, rambutnya tergerai bak air terjun di bahu, dan napasnya berat dan memburu setelah berjam-jam bertahan sekuat tenaga. Tak ada air mata di matanya, hanya kegelapan mutlak, dingin dan setajam pisau tempur.
Dia mengeluarkan perangkat mungil itu dari tubuhnya dengan gerakan lambat, sengaja, penuh rasa jijik yang mutlak. Dia berjalan ke arah Arga tanpa ragu sedetik pun dan melemparkan benda logam itu sekuat tenaga tepat ke dadanya, memantul sebelum jatuh ke lantai dengan bunyi kering.
Arga mengangkat sebelah alis, kaget oleh reaksinya, sementara senyum angkuh kembali muncul di bibirnya.
"Ada apa, Anindya?" tanyanya dengan nada mengejek, bersedekap di atas kemejanya yang terbuka. "Apa hukumannya terasa terlalu ringan untuk ahli strategi besar Wiranegara? Kamu bertahan dengan baik malam ini, kuakui, tapi pada akhirnya kemenangan tetap milikku."
Anindya maju selangkah, memangkas jarak sampai beberapa senti dari dadanya, dengan tatapan sedingin es hingga senyum Arga goyah sejenak.
"Nikmati, Arga... Nikmati setiap detik sialan kemenangan palsumu dan penuhi sepuasmu ego pria alfamu yang terkutuk itu dengan malam permainan elektronik ini," tukas Anindya dengan suara serak, rendah, dan mematikan yang menggema sekeras guntur di kamar. "Karena kujamin, demi segala yang paling kucintai, ketika giliranku tiba untuk menagih utang... kuharap kamu benar-benar sanggup menahan pukulan dengan cara sedingin dan sesenyap yang kulakukan."
Berat peringatan itu jatuh di suite seperti lempengan timah. Mata Arga melebar sedikit dan untuk pertama kalinya dalam waktu lama, bayangan keraguan tulus melintas di benaknya. Perang belum berakhir. Papan permainan baru saja dibalik, dan balas dendam Anindya menjanjikan kehancuran jauh lebih besar daripada permainan kuasa bisnis mana pun.