[SEASON 2]
Sekuel kedua dari cerita 'Pegasus From Diamond Planet'
"Aroma jiwamu sudah menyatu dengan kegelapanku. Aku akan menjemputmu saat rembulan memerah."
Sebuah mawar hitam misterius di atas meja akademi menghancurkan penyamaran gender White. Gadis berambut putih perak itu mengira ia hanyalah manusia biasa, sampai takdir menyeretnya ke dalam pusaran cinta posesif Ethan, calon Alpha serigala cahaya (Werewolf), dan kerajaan obsesif Aslan Dexter, sang raja iblis (Demon).
Di balik wajah sucinya, ada rahasia mengerikan: White terlahir dari sebuah kristal misterius yang jatuh dari langit, membawa esensi jiwa parasit masa lalu yang di cari oleh seluruh klan imortal.
Saat kutukan darah mulai bangkit dan aliansi antarras terancam pecah, White di hadapkan pada dua pilihan: menyerah pada kegelapan masa lalu, atau bertahan di bawah perlindungan pelukan sang Alpha?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9. Kehilangan Rambut Palsu
FLASHBACK 3 HARI YANG LALU...
Sinar matahari siang yang terik memanggang hamparan ladang kentang di pinggiran desa seperti oven raksasa. Cahayanya yang menyengat membuat fatamorgana panas tampak menari-nari di atas permukaan tanah gembur.
Aroma tanah basah bercampur aroma getir dedaunan hijau menguar kuat ke udara, berputar di sekitar sosok White Emerson yang tengah berlutut.
"Seharusnya kamu tidak perlu repot-repot turun ke ladang dan membantu Ayah seperti ini, White. Lihatlah... sekarang seluruh pakaianmu menjadi kotor dan penuh lumpur," ucap Lucas Emerson sembari menyeka bulir keringat di dahinya dengan lengan kemeja yang kasar.
Pria itu menghentikan ayunan cangkulnya sejenak, menatap putrinya dengan pandangan yang sarat rasa iba dan bersalah.
White tidak memedulikan teguran itu. Jemarinya yang ramping bergerak dengan kecekatan yang tidak biasa, terus memunguti umbi-umbi kentang yang baru saja digali dari perut bumi dan memasukkannya ke dalam karung rami dengan ritme konstan. Ketika mendongak, memperlihatkan gurat wajahnya yang berhias coretan tanah kering di pipi, sebuah senyuman lebar terkembang di bibirnya.
"Ayah tidak perlu mengkhawatirkanku. Pakaian kotor ini bisa dibersihkan dengan beberapa ember air nanti," sahut White ceria, sengaja menghibur sang ayah.
"Aku justru senang melakukannya agar pekerjaan Ayah cepat selesai. Lagi pula, siapa lagi kalau bukan aku yang akan membantu Ayah di ladang ini?"
Suaranya yang bening bagai denting lonceng perak terasa sangat kontras dengan penampilannya yang berantakan. Kaus kusam yang ia kenakan sudah berubah warna menjadi kecokelatan akibat kepulan debu ladang. Butiran keringat tampak membasahi pelipisnya yang tertutup wig hitam pendek.
Lucas menghela napas panjang. Sebuah senyuman tipis terukir di wajahnya yang kuyu melihat kegigihan putrinya. White memang berbeda dari gadis-gadis di desa mereka. Sejak kecil, ia tidak pernah mengeluh meski harus berurusan dengan pekerjaan fisik yang berat.
Gadis itu selalu ingin merasa berguna, menghapus sedikit beban di pundak ayahnya yang kian hari kian membungkuk.
****
Waktu berlalu cepat hingga matahari mulai merunduk di ufuk barat, menciptakan bayangan-bayangan panjang di permukaan ladang. Lucas menatap langit yang mulai berubah warna menjadi jingga kemerahan dengan semburat cemas yang kentara.
"Pekerjaan Ayah sudah hampir selesai. Lebih baik kamu cepat pulang sekarang! Kasihan Bibi Calipso sudah terlalu lama menemani ibumu sendirian di rumah. Ayah merasa tidak enak jika harus terus merepotkan tetangga setiap hari."
Lucas menepuk-nepuk tangannya yang kotor untuk meluruhkan sisa tanah.
Pria itu harus segera memacu kereta kuda tuanya untuk mengantar hasil panen hari ini ke pasar kota sebelum gerbang perdagangan ditutup. Ia tidak mungkin membawa White dalam kondisi seberantakan ini.
"Baiklah, Ayah. Tapi sebelum aku pulang... bolehkah aku membersihkan diri dulu di sungai?"
White menunjuk ke arah aliran air yang berkilau keperakan di balik deretan pohon ek raksasa, tak jauh dari perbatasan ladang mereka. Ia melirik pakaiannya yang penuh noda tanah. Ada ketakutan tersendiri di dalam hatinya; jika ia berani pulang ke rumah dalam kondisi sekotor ini, ibunya pasti akan kembali histeris karena menganggapnya sebagai orang asing yang berniat jahat.
"Boleh, tapi ingat, jangan lama-lama!" pesan Lucas tegas.
White segera menyambar bungkusan kain berisi pakaian ganti bersih dan sebuah wig hitam barunya—sebuah barang berharga yang baru dibeli dari hasil tetesan keringat Lucas demi menyembunyikan identitas aslinya. Gadis itu berlari kecil memotong jalan setapak menuju tepian sungai. Begitu kakinya memijak rumput basah, ia menatap sekeliling dengan waspada. Suasana hutan di tepi ladang mulai sepi, hanya terdengar kicauan burung-burung liar yang terbang pulang ke sarang.
Dengan tergesa, White menanggalkan pakaian kotornya hingga hanya menyisakan pakaian dalam yang tipis.
Byur!
Ia melompat ke dalam aliran air yang jernih. Namun, tepat pada detik ketika permukaan sungai menyentuh kulit tubuhnya, sebuah reaksi aneh terjadi. Uap dingin yang tipis mendadak muncul dan mengepul dari permukaan air di sekitar tubuh White. Suhu air di sekelilingnya merosot tajam dalam sekejap mata.
"Ck! Ini benar-benar menyebalkan! Kapan kutukan ini akan berakhir?" keluh White kesal. Ia memukul permukaan air di depannya dengan telapak tangan terbuka.
Krek... Krek... Krek...
Seketika itu juga, air sungai yang terkena kontak langsung dengan telapak tangannya membeku. Air yang mengalir itu berubah menjadi kristal-kristal es yang tajam, pekat, dan memancarkan suhu sedingin kutub utara.
Pembekuan itu merambat cepat, menciptakan lapisan es setebal beberapa sentimeter di sekitarnya.
"Kapan aku bisa merasakan mandi di air yang normal? Atau merasakan mandi air hangat seperti orang-orang pada umumnya?"
White bergidik, memeluk tubuhnya sendiri yang gemetar akibat suhu ekstrem yang diciptakan oleh tubuhnya sendiri.
Ini adalah rahasia terbesar dan paling menakutkan yang ia miliki. Setiap kali tubuhnya menyentuh cairan, terutama air dalam volume tertentu, suhu zat cair tersebut akan merosot drastis hingga membeku menjadi es padat dalam hitungan detik.
Ayahnya selalu berpesan dengan sangat keras agar ia menyembunyikan anomali ini dengan taruhan nyawa. Dunia luar bisa menjadi sangat kejam dan menganggapnya sebagai monster jika hal yang tidak masuk akal ini sampai ketahuan.
White membersihkan sisa tanah di tubuhnya secepat kilat. Ia tidak boleh berendam terlalu lama, atau seluruh aliran sungai desa ini bisa membeku total dan mematikan sistem irigasi ratusan warga desa.
Begitu merasa cukup bersih, White segera melompat naik ke daratan berbatu yang dipenuhi rumput liar. Ia mengeringkan tubuhnya dengan selembar kain kecil dan mulai mengenakan pakaian bersihnya satu per satu. Namun, saat tangannya meraba-raba ke atas sebuah batu ceper tempat ia meletakkan wig hitam barunya, jantung White seolah berhenti berdetak. Tempat itu kosong.
"Ke mana... ke mana wig-nya?"
White diserang kepanikan instan. Ia menyibak semak belukar di sekitarnya, berlutut untuk mencari di bawah celah akar pohon besar, namun benda berbahan rambut sintetis itu lenyap tanpa jejak.
"Bagaimana ini? Aku tidak bisa pulang ke rumah tanpa wig itu. Aku tidak mungkin tega meminta Ayah membelikannya lagi, uang hasil panen kentang ini sangat berharga untuk obat Ibu."
Ia berjalan mondar-mandir dengan napas memburu. Jari-jarinya yang frustrasi menarik-narik rambut putih aslinya yang kini basah kuyup dan menjuntai indah hingga ke pinggang.
"White! Cepat pulang! Ayah akan berangkat ke kota sekarang juga!"
Teriakan Lucas menggema dari arah jalan setapak ladang, memecah kesunyian hutan.
"Iya, Ayah! Sebentar lagi aku menyusul!" sahut White dengan suara bergetar karena panik yang kian memuncak.
Ia menatap ke dalam vegetasi hutan yang mulai menggelap dengan cemas. Pencahayaan alami dari matahari kian minim, dan ia tidak membawa senter untuk menerangi jalannya.
"Sebenarnya ke mana perginya benda sialan itu? Ya Tuhan... aku harus mencari ke mana lagi?"