Arini meninggalkan suaminya yang tulus, Dimas, karena terbuai janji kemewahan dari Rian. Namun Rian ternyata hanya menipunya lalu pergi begitu saja, membuat Arini jatuh miskin sendirian. Saat ia menyadari kesalahannya dan berharap kembali pada Dimas, ia terlambat — Dimas sudah bahagia dengan wanita lain. Arini akhirnya belajar: ketulusan jauh lebih berharga daripada kemewahan semu, dan penyesalan selalu datang di akhir cerita.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon edwin setiawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dermaga Kedamaian dan Bayang-Bayang yang Mengintai
Pagi yang cerah di awal tahun membingkai sebuah rumah beraksen kayu dan kaca di kawasan perumahan asri Jakarta Timur. Angin berembus lembut, menerpa dedaunan pohon mangga di halaman depan yang tertata hijau dan asri. Di teras samping yang menghadap ke taman kecil, uap tipis membumbung dari cangkir teh krisan dan secangkir kopi hitam tanpa gula di atas meja kayu jepara.
Sari duduk anggun mengenakan gamis katun lembut berwarna merah muda pudar dengan jilbab yang terurai rapi menutupi dadanya. Tangannya yang jemarinya lentik dan bersih bergerak perlahan merapikan catatan anggaran bulanan keluarga kecil mereka. Di sampingnya, Dimas yang mengenakan kemeja santai berwarna krem bersandar rileks di kursi kayu, menikmati usapan lembut angin pagi.
Enam bulan telah berlalu sejak akad nikah mereka yang sakral di masjid kecamatan. Kehidupan pernikahan mereka berjalan dalam riak gelombang yang begitu tenang, penuh dengan rasa saling menghormati, keterbukaan, dan kesederhanaan yang bermartabat.
Dimas kini bukan lagi sekadar Manajer Operasional Regional di PT Buana Teknik Mandiri, melainkan telah dipercaya oleh Pak Gunawan sebagai Direktur Operasional Muda yang membawahi tiga cabang logistik utama di Pulau Jawa. Namun, sebanyak apa pun kenaikan penghasilan dan penghormatan yang ia dapatkan di luar sana, begitu melangkah masuk ke dalam rumah, Dimas tetaplah pria yang sama: sosok suami yang santun, penyayang, dan senantiasa mendengarkan setiap patah kata istrinya.
"Mas..." sapa Sari lembut, memalingkan wajahnya yang bersih dari lembaran catatan keuangan. Senyuman tipis yang menenangkan terukir manis di bibirnya.
Dimas menoleh, menatap sepasang mata jernih istrinya dengan pendaran kehangatan yang amat dalam. "Iya, Dek?"
"Laporan anggaran belanja dan tabungan untuk bulan ini sudah selesai aku rapihkan," tutur Sari seraya menyodorkan buku catatan kecil bergaris rapi. "Sebagian rezeki yang Mas berikan kemarin sudah aku sisihkan untuk dana darurat, operasional rumah tangga, dan sebagian lagi sudah aku transferkan atas nama Mas Dimas untuk santunan anak yatim di panti asuhan dekat bengkel Bapak."
Dimas meraih tangan Sari, mengusap punggung jemari istrinya itu dengan penuh ketulusan. "Terima kasih banyak ya, Dek. Kamu selalu bisa menjaga dan mengelola amanah rezeki ini dengan sangat bijaksana. Mas merasa sangat beruntung punya istri seperti kamu."
Sari menundukkan kepalanya sedikit, merona merah bahagia atas pujian tulus itu. "Aku yang beruntung, Mas. Mas Dimas tidak pernah menuntut hal-hal yang di luar kemampuan rumah tangga kita, tidak pernah membawa kepeningan pekerjaan ke rumah, dan selalu memperlakukan aku dengan rasa hormat yang luar biasa."
Dimas tersenyum, menggenggam erat tangan Sari. Di dalam dadanya, rasa syukur menggema tiada henti. Bersama Sari, kehidupan tidak pernah terasa sebagai medan perlombaan gengsi atau tempat bertukar tuntutan yang tak mengenyangkan. Bersama Sari, rumah benar-benar menjadi tempat pulang—sebuah tempat di mana jiwa Dimas menemukan kedamaian yang hakiki.
Namun, di kala dermaga kehidupan Dimas dan Sari diselimuti ketenangan yang hakiki, di tempat lain yang terpisah oleh riuk jarak kota, benih-benih badai lama mulai menggeliat kembali.
Di sebuah kawasan pusat perbelanjaan kelas atas di bilangan Jakarta Selatan, denting cangkir porselen dan aroma biji kopi impor memenuhi kafe ber-interior mewah dengan dinding-dinding kaca tebal. Suara tawa renyah dan obrolan bernada tinggi dari para wanita sosialita berbusana mahal terdengar bersahut-sahutan.
Di salah satu sudut meja yang menghadap ke atrium mall, Arini duduk memandangi cangkir cappuccino di hadapannya.
Penampilan Arini kini telah banyak berubah jika dibandingkan dengan beberapa bulan lalu saat ia baru saja memulai usaha jahitannya di rumah ibunya. Kain gamis bersahaja yang dulu dipakainya kini telah berganti dengan terusan blazer modern berwarna abu-abu elegan. Meskipun belum semewah gaun-gaun desainer yang dulu ia pakai saat bersama Rian, penampilannya tampak jauh lebih mencolok dibanding wanita pemukiman biasa.
Usaha jahitannya memang berkembang pesat. Hasil karya tangan Arini yang rapi dan elegan rupanya menarik perhatian seorang wanita pengusaha konveksi bernama Siska Murni—bukan Siska teman arisannya yang dulu membuangnya, melainkan seorang pemilik butik pakaian wanita beromzet ratusan juta yang kebetulan menjadi pelanggan jahitannya tiga bulan lalu.
Siska Murni duduk di seberang meja Arini. Wanita berusia empat puluh tahunan yang dihiasi perhiasan berlian di jemari dan lehernya itu sedang menyesap minumannya seraya memandangi Arini dengan binar mata seorang pebisnis yang jeli.
"Arini," sapa Siska Murni dengan nada suara yang penuh wibawa dan persuasi yang menghanyutkan. "Aku sudah melihat lima puluh stel gaun rancangan dan jaitanmu untuk koleksi musim baru butikku. Hasilnya luar biasa! Semuanya laku keras dalam waktu kurang dari satu minggu di outlet utamaku."
Arini tersenyum ramah, mencoba tetap rendah hati. "Alhamdulillah, Bu Siska. Saya senang sekali kalau pelanggan Bu Siska menyukainya."
"Tapi Arini..." Siska Murni memajukan tubuhnya, menatap Arini dengan sorot mata yang tajam dan menggoda. "Apakah kamu tidak merasa sayang? Bakat besar dan jemari indahmu itu hanya menghasilkan beberapa juta rupiah per bulan kalau kamu cuma berharap pada komisi jaitan rumahan biasa seperti sekarang?"
Arini tertegun sejenak. "Maksud Bu Siska?"
Siska Murni merogoh tas kulit bermerek internasionalnya, memamerkan sebuah draf surat kerja sama investasi pembuatan lini busana premium atas nama merek baru. Di atas kertas glossy itu, tertera angka modal kerja ratusan juta rupiah beserta estimasi keuntungan fantastis yang ditawarkan.
"Aku punya jaringan investor kaya di kawasan Jakarta Pusat," terang Siska Murni dengan gaya bicara yang begitu memikat. "Mereka butuh perancang busana muda yang punya bakat segar seperti kamu untuk dijadikan brand ambassador sekaligus kepala desainer. Kamu akan dipasok modal melimpah, disediakan butik megah di mall ini, mobil operasional mewah, dan tentu saja... komisi puluhan juta setiap bulannya."
Mendengar kata-kata butik megah, mobil operasional mewah, dan komisi puluhan juta, jantung Arini yang selama beberapa bulan ini telah tenang mendadak berdegup kencang secara tidak wajar.
Rasa bangga dan riak-riak gengsi lama yang dulu sempat mati akibat kehancurannya bersama Rian, mendadak seperti disiram minyak tanah dan dinyalakan kembali oleh percikan emosi di dalam dadanya.
"Puluhan juta per bulan...?" batin Arini berbisik liar. "Butik mewah di mall besar? Apakah ini kesempatan dari Tuhan agar aku bisa membuktikan pada semua orang bahwa aku memang ditakdirkan untuk menjadi wanita sukses dan kaya raya?"
Arini memandangi sekeliling kafe mewah itu. Melihat wanita-wanita kaya yang melintas membawa tas-tas bermerek, melihat deretan mobil mewah di pelataran parkir vallet, jiwa Arini yang rentan mulai terguncang kembali. Kedamaian dan kesederhanaan yang ia bina bersama ibunya di rumah kontrakan kecil mendadak terasa begitu sempit dan lambat baginya.
"Tapi... Bu Siska," bisik Arini ragu, mencoba menahan gejolak di dadanya. "Ibu saya selalu berpesan agar saya hati-hati dengan penawaran investasi besar. Saya tidak mau terjerat masalah hukum lagi seperti masa lalu saya..."
Siska Murni tertawa renyah, melambaikan tangannya seolah kekhawatiran Arini adalah hal yang sangat konyol.
"Aduh, Arini sayang! Kamu ini terlalu trauma!" potong Siska Murni manis. "Rian itu kan penipu, sedangkan aku ini pengusaha resmi dengan legalitas hukum yang jelas! Kamu bisa periksa sendiri izin usaha butikku. Ini bukan jebakan, Arini. Ini adalah tangga kemuliaanmu untuk naik kelas menjadi wanita terpandang!"
Siska Murni menggeser pulpen berujung emas ke hadapan Arini. "Tanda tangani draf kesepakatan awal ini. Besok kamu langsung aku ajak bertemu dengan para investor utama di restoran hotel bintang lima."
Arini menatap pulpen emas di hadapannya. Jemarinya bergetar hebat. Di dalam pikirannya, bayangan tentang gaun-gaun mahal, pujian orang-orang, dan kemilau harta kembali berputar indah, menutupi nasehat-nasehat bijak ibunya dan pelajaran pahit dari masa lalunya.
Tanpa sadar, Arini mengulurkan tangannya, menyambut pulpen emas itu. Bisikan keangkuhan dan kehausan akan pengakuan duniawi yang belum sepenuhnya mati kini telah bangkit kembali, siap menyeret Arini memasuki pusaran gelombang ujian baru yang tak kalah mengerikan.