Bima Samudra, pemuda tampan dan jenius yang hidup terisolasi di puncak Gunung Lawu bersama seorang guru cantik dan tujuh kakak seperguruan yang luar biasa cantik. Di era modern yang penuh kebisingan, Bima justru ditempa dalam kesunyian, menguasai bela diri kuno dan ilmu pengobatan warisan leluhur. Mereka semua menyayanginya lebih dari nyawa mereka sendiri. Hingga sebuah takdir memanggil ketujuh kakaknya untuk turun gunung kembali ke hiruk-pikuk kota. Dan dari sinilah, rahasia besar tentang jati diri Bima yang sesungguhnya mulai terkuak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fareva, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23: PINTU GERBANG ORGANISASI TUJUH BIDADARI
Setelah banyak mengobrol dan bercanda di sepanjang jalan tol Solo - Semarang, tak terasa mobil sport merah milik Sinta sudah hampir tiba di sebuah kawasan yang sangat tenang, asri, dan dijaga dengan sangat ketat di daerah Colomadu, Karanganyar.
Di depan mereka, terlihat sebuah gerbang yang sangat mewah dan tinggi, terbuat dari besi tempa hitam dengan ukiran tujuh bunga anggrek yang berkilauan emas. Di atas gerbang itu tertulis dengan huruf yang elegan: MARKAS PUSAT ORGANISASI TUJUH BIDADARI.
"Kak, apa itu markas Organisasi Tujuh Bidadari yang Kakak ceritakan...? Yang di bangun oleh Kakak-kakak semua...?" tanya Bima kepada Sinta dengan mata yang berbinar kagum melihat kemegahan gerbang itu.
"Iyaaa, Bima, itu rumah kita sekarang. Rumah untuk kita berdelapan," jawab Sinta dengan senyum manisnya yang penuh kebanggaan, sambil menatap wajah adiknya yang terpesona.
"Kak, aku mau berjalan kaki saja masuk ke dalam gerbang itu, aku ingin memberi kejutan manis untuk kakak-kakak yang lain yang ada di dalam. Aku kangen sekali ingin melihat ekspresi mereka," kata Bima dengan semangat seperti anak kecil.
Begitu Sinta memberhentikan mobilnya perlahan di pinggir jalan, Bima sudah lebih dulu berjalan keluar dengan langkah yang ringan dan penuh semangat menuju gerbang mewah itu.
Saat Bima baru saja mau melangkahkan kakinya masuk melewati gerbang, dia langsung dicegat dengan kasar oleh empat orang penjaga keamanan berbadan tegap yang berseragam hitam.
Melihat seorang pemuda tampan yang tidak mereka kenal sama sekali dan tidak menggunakan kartu akses, salah satu penjaga itu langsung bertanya dengan nada yang sangat angkuh dan curiga,
"Hei, berhenti di situ...! Siapa kamu...? Apa tujuan mu mau masuk seenaknya ke dalam kawasan pribadi ini...? Ini adalah kawasan terlarang...!"
"Aku ingin menemui ketujuh kakak ku yang ada di dalam sana," jawab Bima dengan santai dan sopan.
"Owh, siapa nama ketujuh kakak mu itu...? Memangnya kamu kenal dengan pemilik tempat ini...?" tanya salah seorang penjaga lain sambil tertawa meremehkan.
"Ketujuh pemimpin yang ada di dalam organisasi ini, Sinta Maharani, Laras, Anjani, Sekar, Ratih, Dewi dan Bulan, mereka semua adalah kakak kandung seperguruan ku," jelas Bima dengan santai dan jujur.
Mendengar ucapan Bima yang begitu polos dan berani itu, semua penjaga dan beberapa staf yang ada di pos gerbang itu jadi tertawa terbahak-bahak menghina nya dengan sangat keras.
Menurut logika mereka, mana mungkin ketujuh pemimpin cantik, dingin, dan sangat berkuasa seperti dewi itu punya seorang adik laki-laki yang penampilannya seperti pemuda biasa seperti ini. Jika memang benar ada adiknya, pasti sedari lama sudah menjadi orang yang paling penting dan paling dihormati di dalam Organisasi Tujuh Bidadari ini, bukan malah berjalan kaki seperti pengemis.
"Nak, sepertinya kamu sedang mabuk atau habis menonton sinetron yang kebanyakan hayalan, sehingga hayalan mu itu melambung terlalu tinggi sampai ke langit," kata kepala penjaga dengan nada mengejek.
Satu persatu hinaan dan ejekan yang pedas mulai diterima oleh Bima. Ada yang menyebutnya penipu, ada yang menyebutnya pengangguran yang ingin pansos.
Melihat Bima yang hanya diam saja dengan sabar dan tersenyum, tidak membalas sama sekali, Sinta yang sedari tadi diam di dalam mobil sambil memperhatikan dari kaca spion, sudah tidak tahan lagi.
Dengan aura yang sangat mengerikan dan dingin yang membuat suhu di sekitar gerbang turun drastis, Sinta keluar dari mobilnya.
Orang-orang yang ada di gerbang melihat salah satu pemimpin tertinggi organisasi mereka, Sinta Maharani, datang dengan aura yang mengerikan dan wajah yang sangat marah, para penjaga itu langsung berlutut ketakutan dengan wajah pucat pasi.
Mereka berpikir di dalam hati mereka, tamatlah riwayat pemuda penipu ini, Bu Sinta pasti murka besar karena ada orang yang berani mengaku-ngaku sebagai adiknya, pemuda ini pasti akan dihabisi hari ini juga. Begitulah pikir semua orang yang ada di sana dengan ngeri.
Setelah Sinta berjalan masuk melewati gerbang, Bima langsung berjalan menghampiri Sinta dan dengan manja langsung menggandeng tangan Sinta dengan erat di depan semua orang.
"Kak Sinta, mereka tidak mengizinkan ku masuk ke dalam, padahal aku sudah minta baik-baik dengan sopan. Mereka bilang aku pembohong," kata Bima dengan wajah yang dibuat-buat memelas dan sedih, seperti anak kecil yang mengadu kepada ibunya.
Mendengar aduan itu, Sinta yang tadinya sudah marah menjadi semakin merasa murka dan sakit hati, bagaimana bisa adik kesayangannya yang baru saja pulang setelah sekian lama menghilang, diusir dari rumahnya sendiri...?
Mendengar keributan dan aura dingin yang menyebar di gerbang depan, ada tiga wanita cantik jelita yang keluar dengan tergesa-gesa dari dalam markas utama.
Wanita-wanita itu sangat cantik dengan pesona dan aura mereka masing-masing yang berbeda-beda, namun sama-sama mempesona. Mereka adalah Laras, Anjani, dan Sekar.
"Ada apa ini, Sinta...? Kenapa kamu tiba-tiba mengeluarkan aura penekan seperti itu di gerbang depan...? Ada penyusup...?" tanya salah seorang kakak seperguruan Bima yang bernama Laras, yang merupakan kakak kedua yang paling dewasa dan bijaksana.
"Bagaimana aku tidak marah, Laras...! Orang-orang bodoh dan buta ini melarang adik kita sendiri untuk masuk ke rumahnya sendiri...! Mereka juga menghina dan menertawakan nya...!" jawab Sinta dengan suara yang bergetar karena menahan amarah.
"Haaaaa... Adik...?" Laras, Anjani dan Sekar langsung serempak melirik ke arah Bima yang berdiri di samping Sinta.
Bima pun tersenyum dengan senyum nakal dan hangatnya yang sangat mereka rindukan.
"Kak Laras, Kak Anjani, Kak Sekar, apa kalian sudah tidak merindukan ku lagi, hingga aku diabaikan dan diusir di depan pintu rumah kita sendiri...?" kata Bima dengan suara yang lembut.
Mendengar suara yang sangat familiar dan sangat mereka rindukan selama berbulan-bulan itu, Laras langsung berteriak dengan histeris,
"Bimaaaaa...! Benarkah ini kamu, Bima...! Ya Tuhan...!"
Tanpa menunggu jawaban, Laras langsung berlari dan memeluk Bima dengan sangat erat, air matanya langsung tumpah tak terbendung. Disusul oleh Anjani dan Sekar yang juga langsung berlari dan memeluk Bima dari sisi kiri dan kanan, memeluk adik mereka dengan sangat erat.
"Aku akan mati kehabisan napas jika kalian terus memeluk ku seperti ini, Kak," kata Bima dengan pura-pura sesak, namun hatinya terasa sangat hangat.
"Lebih baik Kakak mati kehabisan napas daripada harus kau tinggalkan pergi lagi dan membuat kami semua khawatir setengah mati seperti orang gila," jawab Laras tanpa mau melepaskan pelukannya sedikit pun, wajahnya masih terbenam di dada Bima.
"Kak, setiap tempat di sini ternyata sangat sulit dimasuki untuk orang miskin dan orang biasa seperti ku, itulah yang membuat ku jadi kesulitan menemukan kalian semua," kata Bima dengan nada manja.
Mendengar itu, ketiga kakak seperguruan Bima jadi merasa sangat prihatin, bersalah, dan amarah mereka kepada para penjaga semakin menjadi-jadi. Mereka merasa sangat bersalah karena tidak pernah memperkenalkan wajah dan foto Bima sedari awal kepada seluruh staf keamanan.
Dalam posisi yang masih sangat marah dan matanya memerah, Sinta menatap para penjaga yang masih berlutut itu dengan tatapan yang sangat dingin, tatapan yang bisa membekukan darah.
"Hanya kematian yang pantas untuk orang-orang bodoh yang telah berani menghina dan mengusir adik kami dari rumahnya sendiri," kata Sinta dengan suara yang dingin seperti es.
Laras, Anjani dan Sekar yang ada di sampingnya tidak menghentikan Sinta sama sekali, karena di dalam hati mereka pun, mereka juga sangat marah dan sakit hati melihat adik kesayangan mereka yang sangat mereka manja dihina seperti itu.
Saat Sinta sudah mengangkat tangannya dan ingin memberikan hukuman yang sangat berat kepada para penjaga itu, Bima lagi-lagi dengan cepat menghentikan nya dengan memegang pergelangan tangan Sinta dengan lembut.
"Kak Sinta, Kak Laras, maafkanlah mereka untuk kali ini saja ya, Kak. Anggap saja mereka memang tidak tahu siapa aku. Lagian mereka hanya menjalankan tugas mereka menjaga gerbang. Tapi memang, merendahkan orang lain tetaplah tidak bisa dibenarkan," kata Bima dengan bijak.
Mendengar Bima yang membela mereka, para penjaga itu merasa sangat bersyukur.
"Kalian hari ini dibebaskan dari hukuman yang paling berat karena kebaikan hati dan kemurahan hati dari adik kami, Bima. Untuk sisanya, hukuman apa yang pantas untuk mereka ini, terserah pada mu, Laras, kau yang putuskan," jelas Sinta dengan singkat kepada Laras sebagai wakil ketua.
Orang-orang penjaga itu pun langsung berlutut dan berterima kasih dengan tulus di depan Bima, mencium kaki Bima.
"Terima kasih banyak, Tuan Muda Bima, atas kemurahan hati Tuan Muda, kami berjanji tidak akan mengulangi nya lagi..."
"Sudah, sudah, bangunlah kalian semua. Dengarkan kata-kata ku ini baik-baik dan camkan di dalam hati kalian," kata Bima dengan suara yang tenang namun penuh wibawa, seperti seorang guru bijak.
"Kita sebagai sesama manusia, sebagai sesama anak bangsa, harus saling menghargai dan saling menghormati satu sama lain. Pada dasarnya kita semua ini sama, lahir tanpa membawa apa-apa. Hanya dibedakan oleh sedikit keberuntungan dan rezeki yang diberikan Tuhan kepada kita, tidak sepantasnya kita menindas dan merendahkan yang lain yang kurang beruntung."
"Dan jika kalian menghina atau merendahkan orang lain hanya karena penampilannya, itu sama saja seperti kalian melempar kotoran kepada orang lain di depan umum. Sebelum orang yang kalian lempar itu terkena kotor, tangan kalian sendiri sudah kotor dan bau duluan."
Orang-orang penjaga itu hanya bisa menunduk dalam-dalam, merenungkan setiap kata demi kata dari Bima yang mengandung banyak makna yang sangat dalam dan menyentuh hati.
Mereka tak menyangka pemuda yang mereka hina sebagai penipu tadi, ternyata adalah seorang pemuda yang sangat bijaksana, dewasa, dan berhati mulia, padahal usianya masih sangat muda.
"Sebagai pelajaran dan hukuman untuk kalian, agar kalian tidak lupa, kalian semua berlari mengelilingi lapangan upacara yang luas ini sebanyak seratus kali tanpa protes dan tanpa berhenti...!" kata Bima dengan tegas namun masih dengan senyum.
Mendengar hukuman yang masih sangat ringan itu, orang-orang penjaga itu langsung menurut dan berlari tanpa membantah sedikit pun kepada Bima, mereka bahkan merasa sangat berterima kasih.
Sinta, Laras, Anjani dan Sekar yang melihat itu sangat kagum kepada Bima. Bocah kecil yang dulu sangat nakal, manja, dan suka mengintip mereka mandi di sungai di Gunung Lawu, sekarang sudah tumbuh menjadi seorang pemuda yang dewasa, bijaksana, dan berwibawa.
Melihat tatapan kagum dan berkaca-kaca dari kakak-kakak seperguruannya itu, Bima jadi sedikit salah tingkah dan penasaran.
"Ada apa, Kak...? Apakah aku berbuat salah lagi...? Kenapa menatap ku seperti itu...?" tanya Bima polos.
"Tidak, tidak ada yang salah, Bima... Ayo, kita masuk ke dalam rumah, di luar panas," ajak Laras kepada Bima dan yang lainnya sambil menghapus air matanya yang haru.
Sesampainya di dalam pendopo utama markas Organisasi Tujuh Bidadari yang sangat mewah dan sejuk itu, Bima langsung diberondong dan dicecar oleh banyak sekali pertanyaan oleh kakak-kakak seperguruannya yang penasaran.
"Kamu kemana saja...? Kamu makan apa...? Kamu tidur dimana...? Kamu kangen tidak sama kami...?"
Mendengar rentetan pertanyaan itu, Bima jadi pusing dan bingung harus mulai menjawab dari mana, kepalanya jadi pening.
"Kakak-kakak ku yang cantik, kalian sangat tega kepada ku, aku baru saja tiba, belum dikasih makan, belum dikasih minum, sudah diinterogasi seperti maling ayam begini," keluh Bima dengan wajah yang dibuat-buat cemberut manja.
Melihat wajah Bima yang cemberut dan lucu itu, para wanita cantik itu merasa kasihan, tapi di sisi lain mereka juga ingin tertawa melihat tingkah adik mereka yang masih sama seperti dulu.
"Anak nakal, jangan coba-coba menghindar dari pertanyaan kami. Bukankah tadi kamu bilang sedang makan dengan lahap waktu di restoran padang milik Sinta...?" sela Sinta dengan senyum jahilnya.
"Tidak, Kak, tadi aku baru saja memesan, baru minum dua teguk teh jahe hangat, Kakak langsung datang dan mengobrak-abrik restoran itu dengan aura mu yang mengerikan itu, jadi aku tidak jadi makan sama sekali. Padahal perjalanan ku dari puncak Gunung Lawu sampai ke Kota Solo ini, aku tidak makan sama sekali, perut ku keroncongan dari tadi," kata Bima dengan akting yang sangat meyakinkan.
"Apaaaa...!" Laras sangat kaget mendengar ucapan Bima. Mereka berpikir Bima turun gunung seperti orang normal dengan berjalan kaki, yang berarti butuh waktu tiga hari tiga malam melewati hutan.
Mendengar Bima yang mengaku belum makan selama tiga hari, keempat wanita cantik yang merupakan pengusaha dan pendekar wanita terkuat di Solo itu langsung panik dan bergegas lari ke arah dapur mewah untuk memasak makanan dengan tangan mereka sendiri, walaupun mereka tahu Bima seorang kultivator yang kuat, dia tetap butuh makan. Mereka sangat takut jika adik kesayangan mereka itu sampai sakit maag karena kelaparan.
Melihat kakak-kakaknya yang cantik-cantik itu buru-buru berlarian ke dapur dengan masih mengenakan blazer mahal mereka, Bima merasa sangat puas dan bahagia di dalam hatinya, dia tersenyum kecil sambil bergumam pelan di dalam hatinya,
"Maafkan aku, Kakak-kakak ku yang cantik, aku terpaksa harus sedikit menutupi jati diri ku yang sebenarnya untuk sementara. Aku lebih suka menjadi adik kecil yang manja dan yang kalian sayangi seperti ini, daripada menjadi pendekar yang ditakuti."
Di sini, Bima bertindak seolah-olah dia masih sangat ketergantungan dan manja kepada kakak-kakak seperguruannya, padahal di Alam Jiwanya, dia memiliki puluhan Ratu Naga dan Phoenix yang siap melayaninya.
Sementara Bima bersantai dengan duduk manis di sofa empuk, di dapur, Laras, Anjani, Sekar dan Sinta masih sibuk memasak dengan riuh, suara wajan dan panci beradu, mereka memasak berbagai macam makanan kesukaan Bima, ada rendang, ayam pop, sambal goreng ati, dan sayur lodeh.
Setelah meja makan yang besar itu penuh dengan belasan piring makanan yang mengepul harum, mereka langsung menarik Bima dengan paksa ke meja makan.
"Adik ku sayang, ayo cepat makan yang banyak, semua ini Kakak masak khusus untuk mu," kata Laras dengan lembut.
Melihat makanan yang begitu banyak sampai meja hampir tidak muat, Bima jadi bingung dan sedikit panik.
"Apakah Kakak-kakak ku ini masak untuk satu kelurahan...? Sebanyak ini...?" pikir Bima.
"Ayo cepat makan, Bima, jangan dilihatin saja," desak Anjani yang sudah menyuapkan nasi ke piring Bima.
Untuk menutupi sandiwara manja nya, Bima pun makan dengan sangat lahap, makanan-makanan yang masih panas mengepul itu pun langsung dia makan tanpa takut kepanasan, dia makan dengan sangat cepat.
Melihat itu, Sinta dan yang lainnya sangat senang sekaligus merasa sedih dan terharu, ternyata adik mereka ini memang sangat kelaparan dan kelelahan setelah perjalanan jauh.
Padahal, makanan-makanan yang terlihat dimakan dengan lahap oleh Bima itu, sebenarnya tidak masuk ke dalam perutnya semua. Diam-diam, dengan menggunakan teknik Alam Jiwanya, Bima mengirim sebagian besar makanan itu untuk para pelayannya, yaitu Sari Ratu Lebah Emas, Kencana, dan Sekar Lestari yang ada di dalam Alam Jiwanya, sehingga para pelayannya itu juga ikut makan dengan kenyang dan bahagia. Walaupun mereka tidak mengerti makanan manusia modern seperti rendang, tapi karena itu adalah perintah dan pemberian dari Tuan mereka yang tercinta dan juga rasanya sangat enak, mereka pun jadi makan dengan sangat semangat hingga kekenyangan di dalam joglo mereka.
"Akhirnya, sedikit makanan ini bisa mengganjal perut ku yang lapar ini," kata Bima sambil bersendawa dengan keras dan mengelus perutnya yang buncit.
"Apaaaaa...? Sedikit kamu bilang...? Kamu sudah menghabiskan semua bahan makanan yang ada di dalam kulkas dan di dapur kami untuk stok satu minggu, Bima...!" kata Laras dengan kaget melihat piring-piring yang sudah kosong melompong.
"Maafkan aku, Kak, mungkin aku terlalu lapar, dan masakan Kakak-kakak ku yang terlalu enak dan lezat ini membuat ku jadi lupa diri dan kalap," kata Bima dengan akting yang sangat manjur.
Akting Bima yang polos dan manja itu sangat manjur dan berhasil membuat keempat kakak seperguruannya itu percaya begitu saja, mereka malah merasa bersalah karena menganggap masakan mereka kurang banyak.
Mereka tidak tahu, di dalam Alam Jiwanya, para Ratu Naga dan Phoenix sedang bersendawa kekenyangan bersama.
BERSAMBUNG
kelamaan, berapa bab yg ada cuma rencana mulu. banyakan drama gak jadi² ke padepokan.🤦
sekarang setelah sembuh berubah jadi kakaknya..
priwe mbok thor?
terus setatusnya "adik" atau "kakaknya" intan?