NovelToon NovelToon
Di Jodohkan Dengan Dokter Spesialis Dingin

Di Jodohkan Dengan Dokter Spesialis Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Crazy Rich/Konglomerat / Perjodohan
Popularitas:6.6k
Nilai: 5
Nama Author: Heresnanaa_

-
Aini Zahra Wijaya, seorang dokter muda yang baru lulus, memulai masa koasnya di rumah sakit megah milik keluarga besar Wigunadi. Berharap fokus mengabdi, takdir justru mempertemukannya dengan Dr. Ivandra Arya Wigunadi—spesialis bedah saraf yang jenius, dikenal paling dingin, dan tak tersentuh.
-
Meski Ainu berusaha keras menghindari pria kejam itu, sebuah rahasia keluarga dan ikatan takdir memaksa mereka bersatu dalam ikatan pernikahan. Di balik dinding rumah sakit yang dingin, hubungan penuh ketegangan, batasan, dan emosi yang terpendam pun dimulai.
_

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 17

***

Sinar matahari pagi di lorong lantai dua RS Utama Wigunadi terasa menyengat melalui deretan jendela kaca. Di Poli Anak, riuh rendah tangis balita bercampur dengan langkah tergesa para perawat. Aini menyapukan pandangan lembut ke arah deretan bangku tunggu, mencoba mengurai ketegangan di antara para pasien kecil yang kelelahan.

"Dokter Aini, tolong bantu di Ruang Tindakan Tiga sebentar! Ada pasien rujukan yang agak rewel," panggil Suster Maya dari balik pintu.

"Baik, Suster. Saya segera ke sana," sahut Aini cepat. Ia merapikan letak stetoskop yang melingkar di lehernya lalu melangkah masuk.

Di dalam ruangan, seorang anak laki-laki berusia lima tahun menangis histeris sembari memberontak di atas ranjang periksa. Di sampingnya, seorang pria bertubuh kekar berkaus ketat—ayah sang anak—berteriak gusar dengan wajah merah padam.

"Kalian ini becus kerja nggak sih?! Anak saya dari tadi kesakitan, cuma disuruh nunggu!" bentak pria itu penuh emosi, memukul meja periksa hingga vas bunga kecil di atasnya bergoyang keras.

Aini melangkah mendekat dengan telapak tangan terangkat tenang. "Bapak, mohon tenang terlebih dahulu. Kami memahami kekhawatiran Bapak. Tolong biarkan saya memeriksa kondisi adiknya sekarang agar—"

"Nggak usah banyak alasan kamu, Dokter Muda!" potong pria itu kasar. Tanpa diduga, ia melangkah maju dengan emosi membara, mengangkat tangannya yang terkepal dan hendak mencengkeram bahu Aini dengan dorongan kuat.

Suster Maya menjerit kaget. Aini membelalakkan matanya, refleks memejamkan mata dan mengencangkan cengkeraman tangannya pada papan jalan, bersiap menahan benturan.

Greb!

Dorongan itu tak pernah sampai. Sebuah cengkeraman tangan kokoh bersurat urat menahan pergelangan tangan pria emosional itu di udara dengan kekuatan yang tak tergoyahkan.

Aini perlahan membuka matanya. Aromanya mendahului segalanya—wangi segar kayu cendana bercampur mint yang sangat ia kenal.

Di sebelahnya, berdiri menjulang sosok dr. Ivandra Arya Wigunadi, Sp.BS. Pria itu baru saja melintas di lorong Poli Anak untuk agenda konsultasi antar-departemen, namun kini berdiri tegak sebagai dinding pelindung. Jas dokter putihnya melambai pelan. Rahang tegas Ivandra mengetat keras, dan manik mata elangnya menancap lurus pada wali pasien tersebut dengan binar kemarahan dingin yang teramat membunuh.

Atmosfer di dalam ruangan seketika membeku. Suara tangis anak kecil itu bahkan mendadak meredup akibat aura intimidasi yang melingkupi ruangan.

"Jaga tangan anda di dalam rumah sakit ini," ujar Ivandra dengan suara berbariton rendah yang mengalun sangat pelan, namun sanggup menggentarkan mental siapa pun yang mendengarnya.

Pria kekar itu meringis kesakitan, mencoba menarik tangannya dari cengkeraman Ivandra, namun jemari Ivandra yang kokoh justru makin mengunci pergelangan tangannya. "S-siapa kamu?! Nggak usah ikut campur!"

"Saya dr. Ivandra, Kepala Departemen Bedah Saraf sekaligus penanggung jawab area medis ini," sahut Ivandra dingin tanpa mengedipkan mata sedikit pun. "Melakukan ancaman fisik kepada tenaga medis adalah tindak pidana. Sekali lagi kamu mengangkat tanganmu pada dokter saya, saya pastikan kamu keluar dari rumah sakit ini bersama petugas kepolisian."

Pria itu menelan ludah kasar, nyalinya menciut seketika melihat tatapan iblis milik Ivandra. Ivandra menghempaskan pergelangan tangan pria itu secara kasar, lalu mengibaskan jarinya seolah baru saja menyentuh noda kotor.

"Suster, panggil petugas keamanan untuk mendampingi pemeriksaan pasien ini hingga selesai," perintah Ivandra tegas tanpa menoleh.

"B-baik, Dokter Ivandra!" jawab Suster Maya terbata-bata, segera berlari keluar ruangan.

Aini berdiri mematung di tempatnya. Jantungnya berdegup kencang bukan karena ancaman tadi, melainkan karena melihat sosok Ivandra yang berdiri menjulang di depannya. Pria yang selama ini bersikap dingin dan berjarak padanya di dalam apartemen, kini baru saja pasang badan secara terang-terangan di depan umum demi melindunginya.

Ivandra memutar tubuhnya perlahan. Untuk sekelibat detik, mata elangnya menyapu wajah Aini dari atas ke bawah, memastikan tidak ada cedera pada tubuh mungil istrinya. Ada riak cemas yang tersembunyi sangat dalam di balik raut datarnya.

"Kamu tidak apa-apa, Dokter Aini?" tanya Ivandra dengan nada yang mendadak kembali formal dan berjarak, menatap Aini dengan raut datar.

Aini menarik napas panjang, menata kembali suaranya yang sempat tercekat. "S-saya tidak apa-apa, Dokter Ivandra. Terima kasih atas bantuannya."

Ivandra hanya mengangguk tipis tanpa mengendurkan garis mukanya yang kaku. "Pastikan kamu selalu menjaga jarak aman dalam situasi konflik. Jangan teledor."

Tanpa menunggu balasan lagi, Ivandra berbalik dan melangkah lebar meninggalkan ruang tindakan. Staf medis dan perawat di luar ruangan menatap Ivandra dengan decak kagum sekaligus histeris, terkagum-kagum pada tindakan protektif sang 'Dokter Iblis' yang sangat tidak biasa itu.

**

Siang harinya di ruang ganti koas, suasana tampak sepi. Aini duduk di bangku kayu dekat lokernya, menghela napas panjang sembari melepas jas putihnya untuk digantung. Kelelahan emosional hari ini benar-benar menguras tenaganya.

Karena kepalanya sedikit pusing, Aini memasukkan jemarinya ke balik kerah gaunnya, menarik keluar sebuah kalung rantai emas tipis yang disembunyikan rapat di balik kain hijabnya. Di ujung rantai tersebut, melingkar sebuah cincin pernikahan berlatin dengan permata berlian kecil yang berkilau indah. Aini mengelus permata itu pelan, mengingat kembali momen saat Ivandra menyematkan cincin tersebut di jemarinya dua bulan lalu.

Srett!

Pintu loker di sebelahnya terbuka mendadak. Nina masuk sembari membawa botol air minum.

Aini yang terperanjat kaget refleks berusaha memasukkan kembali kalung itu ke balik kerahnya. Namun sayang, gerakan paniknya justru membuat rantai emas itu tersangkut pada pin hijabnya, membiarkan cincin berlian itu menggantung jelas di dadanya.

Mata Nina yang tajam membelalak sempurna. Botol air di tangannya hampir saja merosot jatuh.

"A-Aini?!" pekik Nina setengah berbisik, melangkah maju dua tapak dengan wajah syok berat. "Itu... itu cincin apa, Ni?!"

Aini memucat seketika. Jemarinya gemetaran mencoba membebaskan rantai yang tersangkut. "B-bukan apa-apa, Nin. Ini cuma... cuma perhiasan biasa—"

"Jangan bohongi aku, Aini Zahra!" potong Nina gemas, memegang kedua bahu Aini dan menatap cincin itu dari dekat. "Itu jelas-jelas cincin pernikahan! Matanya berlian asli, modelnya berlatin elegan banget. Kamu... kamu sudah menikah?!"

Aini membisu, meremas ujung gaunnya dengan rapat. Lidahnya terasa kelu untuk menyusun kebohongan baru di hadapan sahabat karibnya sendiri.

Nina menepuk jidatnya sendiri, matanya makin membelalak lebar saat sebuah ingatan mendadak melintas liar di kepalanya.

"Tunggu... tunggu sebentar..." gumam Nina sembari mengingat-ingat sesuatu. "Minggu lalu pas kita rapat evaluasi di ruang aula... aku nggak sengaja lihat Dokter Ivandra lepas sarung tangan latex-nya. Di jari manis tangan kirinya... ada cincin berlian polos berlatin yang desainnya persis banget sama lingkaran emas di cincin kamu ini!"

"Nin, kamu salah lihat—"

"Aku nggak salah lihat, Ni!" sela Nina heboh, menutup mulutnya dengan kedua tangan karena terperanjat oleh analisanya sendiri. "Cincin di kalung kamu... dan cincin di jari Dokter Ivandra... pasangannya?! Ni... jangan bilang kamu..."

Aini menggigit bibir bawahnya erat-erat, menundukkan kepalanya dalam-dalam. Keheningan yang tercipta di antara mereka seolah menjadi jawaban mengkonfirmasi kecurigaan besar yang selama ini tersembunyi rapat di balik tembok rahasia.

Bersambung....

1
Anonim
CRAZY UP THOR
Anonim
crazy up thor
Anonim
up thor
Shuttttttttttt
pls crazy up thooor
Anonim
crazy up
Anonim
crazy up thor
Ai Nurlaela Jm
karyamu kereen Thor
Anonim
crazy up thor
Anonim
crazy up
Putry Chan
dokter pria itu serem deh bikin merinding jangan sampai ketemu lagi
mampir ya ke novel ku
Putry Chan
Aini Mungkin kmu sedikit ceroboh
Putry Chan
maaf gak sengaja kau pikir aku buta 🙄
Putry Chan
semangat Aini
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!