Ketika langit di atas pinggiran Kekaisaran Yanling tiba-tiba terkoyak oleh invasi mendadak monster binatang, ilusi kedamaian hancur dalam semalam. Di tengah kepanikan para kultivator muda elit yang formasinya porak-poranda, Lin Juan—seorang yatim piatu bermarga Lin yang selalu dicaci karena Jiwa Rohnya yang cacat—menjadi satu-satunya yang menolak mundur. Tanpa pancaran energi spiritual yang mewah, ia mengandalkan insting murni dan tubuh yang ditempa penderitaan untuk bertahan hidup. Di tengah genangan darah dan keputusasaan, sebuah jiwa purba yang tertidur di kedalaman nadinya, Roh Kera Putih yang legendaris, akhirnya membuka mata, merespons panggilan kematian dengan raungan yang mengguncang surga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fery Oktavian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
INSTING TANPA QI
Lompatan Serigala Besi itu membelah udara sore yang pekat oleh bau amis. Rahang bergetar dengan taring sepanjang telapak tangan terbuka lebar, mengincar leher Lin Yuan.
Tanpa aliran *qi* di meridiannya, gerakan Lin Yuan murni bergantung pada reaksi saraf dan insting bertahan hidup yang terasah dari bertahun-tahun siksaan. Ia tidak mencoba menahan terkaman itu secara langsung. Begitu cakar depan monster itu hampir menyentuh dada, Lin Yuan menjatuhkan badannya ke samping, merendahkan panggul, lalu menghantamkan balok kayu tebal di tangannya tepat ke rusuk kanan sang monster.
PRAK!
Balok kayu lapuk itu hancur menjadi serpihan. Benturan keras itu gagal melukai kulit baja sang serigala, tetapi bobot pukulan Lin Yuan berhasil menggeser arah jatuhnya monster tersebut sejauh dua langkah ke samping.
Serigala Besi itu mendarat kasar di atas batu jalanan, menggeram rendah sambil memutar badannya yang kekar.
"Tolong! Anakku!" Teriak seorang ibu muda yang jatuh terjerembap saat mencoba berlari, menindih anak laki-lakinya yang baru berusia sekitar lima tahun.
Di belakang mereka, Serigala Besi itu merendahkan tubuhnya, bersiap melompat menerkam mangsa yang tak berdaya.
Para murid klan yang berlarian di kejauhan melihat adegan itu, namun tak satu pun dari mereka yang berbalik. Mereka sibuk menyelamatkan diri sendiri menuju gerbang dalam.
"Jangan melihat ke belakang! Lari saja!" Teriak salah seorang murid elit klan dengan wajah pucat.
Lin Yuan menoleh sekilas. Tidak ada waktu untuk berpikir panjang. Tanpa *qi*, tubuhnya adalah satu-satunya senjata yang ia miliki.
SREK!
Menggunakan pecahan balok kayu bersisi runcing yang tersisa di tangannya, Lin Yuan meluncur di atas tanah basah, menerobos ruang sempit di antara sang ibu dan moncong monster.
BLES!
Ujung kayu runcing itu menancap dalam ke dalam mata kiri Serigala Besi. Darah hitam pekat menyembur, mengenai separuh wajah Lin Yuan.
ROAAAR!
Monster itu melolong kesakitan yang membakar. Cakar depannya menyabet liar secara refleks, menghantam dada Lin Yuan hingga pemuda itu terpental beberapa meter, menabrak tembok toko di tepi jalan.
Brak!
Rasa panas melelehkan tulang rusuk Lin Yuan. Napasnya langsung tertahan, tenggorokannya tersumbat cairan hangat berbau tembaga. Namun, alih-alih pingsan atau merintih, sorot mata Lin Yuan justru semakin tajam dan bening. Di kedalaman lautan jiwanya, gumpalan aura putih yang membeku mulai bergetar samar, menyerap getaran rasa sakit yang menghantam tubuhnya.
"Lari ke gang sebelah!" Teriak Lin Yuan serak sambil menyapu darah yang menghalangi pandangan matanya.
Wanita itu merangkak cepat memeluk anaknya, melarikan diri ke gang sempit sambil menangis ketakutan.
Serigala Besi yang kini buta sebelah mata itu berbalik sepenuhnya ke arah Lin Yuan. Liur bercampur darah hitam menetes dari rahangnya yang terbuka. Monster itu melesat maju dengan kegilaan penuh.
Lin Yuan tidak menunggu sabetan berikutnya. Ia melempar tubuhnya ke depan, menerobos kolong perut monster itu tepat sebelum cakar maut mendarat. Ia melingkarkan kedua tangannya dari bawah, mencengkeram erat leher berbulu keras sang monster, lalu mengunci posisinya di atas punggung binatang buas tersebut.
Monster itu meraung murka, berguling dan memutar tubuhnya liar di atas jalanan batu untuk menghempaskan beban di punggungnya.
Brak! Brak!
Punggung Lin Yuan dihantamkan berkali-kali ke dinding batu dan trotoar. Setiap benturan membuat pandangannya memudar dan persendiannya berderit hampir patah. Namun genggaman tangannya di leher monster tidak sedikit pun mengendur. Otot-otot lengannya menegang hingga pembuluh darah merah menonjol di permukaan kulitnya.
"Mati kau!" Mengerang Lin Yuan dengan gigi menggeletuk.
Menggunakan sisa tenaga fisiknya, Lin Yuan memutarkan genggamannya, menyikut persendian rahang bawah monster itu dengan tumpuan lututnya. Tanpa *qi*, ia memanfaatkan seluruh bobot tubuh dan sudut tumpuan mekanis untuk mematahkan leher sang serigala.
KREK!
Suara remukan tulang leher terdengar jelas di tengah gemuruh pertempuran kota.
Serigala Besi itu kejang-kejang hebat seketika. Gerakan liarnya perlahan melemah, sebelum akhirnya roboh terjerembap ke atas tanah basah, tak bernyawa lagi.
Lin Yuan terengah-engah hebat, berbaring terlentang di samping bangkai monster raksasa itu. Dadanya naik turun tidak teratur, seluruh bajunya koyak bersimbah darah bercampur lumpur. Setiap embusan napasnya terasa seperti luka bakar di dalam tenggorokan.
Di kejauhan, beberapa warga dan pengawal klan yang bersembunyi di balik barikade mengintip dengan mata melotot tak percaya.
"Dia... dia membunuh Serigala Besi sendirian?" Bisik seorang pengawal dengan suara bergetar.
"Bahkan tanpa menggunakan energi spiritual sama sekali?" Sahut warga lain di sebelahnya seolah tak mempercayai penglihatannya sendiri.
Lin Yuan tidak memedulikan tatapan-tatapan itu. Ia perlahan mengepalkan jemarinya yang gemetar. Di bawah kulit kepalan tangannya, ada kehangatan aneh yang perlahan mengalir—sebuah denyut energi dingin dan murni yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.