NovelToon NovelToon
Lentera Terakhir Sang Kultivator

Lentera Terakhir Sang Kultivator

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Mengubah Takdir / Balas Dendam
Popularitas:746
Nilai: 5
Nama Author: Uranenantios

Reinkarnasi, Kesempatan Kedua, Kultivasi

Dikhianati oleh orang-orang yang paling ia percaya, Jian Chen tewas tepat sebelum mencapai Ranah Dewa. Namun, ia mendapat kesempatan kedua untuk mengubah takdir dengan kembali ke dua puluh tahun silam.

Saat ia mulai mengungkap dalang di balik kematiannya, masa depan yang ia kenal perlahan berubah. Pusaka yang seharusnya tersembunyi telah dicuri, teknik langka muncul terlalu dini, dan seseorang tampaknya mengetahui rahasia yang bahkan belum terjadi.

Di balik semua kejanggalan itu, tersimpan Lentera Terakhir pusaka yang mampu memutar waktu, tetapi menyimpan harga yang mengerikan.

Siapa yang mengubah masa depan, dan mengapa mereka seolah tahu setiap langkah Jian Chen? Kali ini, musuh terbesarnya mungkin bukan pengkhianat dari masa lalu, melainkan seseorang yang telah menunggunya sejak awal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Uranenantios, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 34: Ruang Bawah Aula

Dua malam sebelum turnamen, Zhao Feng mengetuk jendela pondok tujuh dengan tiga ketukan pelan. Jian Chen, yang belum tidur, membuka daun jendela dan mendapati wajah tegang di balik kegelapan.

"Aku menemukan tempat tinggal Hu Min," bisik Zhao Feng. "Bukan kamarnya di asrama. Tempat yang tidak ada di catatan."

"Di mana?"

"Ruang bawah aula kontribusi. Gudang arsip lama yang tidak dipakai sepuluh tahun." Zhao Feng menatap sekeliling dengan waspada. "Ikut aku. Jangan membawa lentera."

Jian Chen mengambil pedang Embun Perak dan jubahnya, lalu keluar lewat jendela tanpa membangunkan Qiu Bo. Mereka menyusuri jalan setapak di tepi tebing, menghindari penjaga malam di gerbang pemisah, dan memasuki kompleks sekte dalam lewat celah pagar yang hanya diketahui Zhao Feng. Aula kontribusi berdiri gelap di ujung halaman, atapnya hitam dan pintunya terkunci rantai besi.

"Tidak lewat pintu depan," kata Zhao Feng. Ia membawa Jian Chen mengitari bangunan itu ke sisi belakang, tempat sebuah jeruji besi di dasar dinding tampak berkarat dan sedikit longgar. Zhao Feng menarik jeruji itu dengan satu tangan, dan jeruji itu bergeser tanpa suara.

"Kau sudah pernah masuk," kata Jian Chen.

"Kemarin malam. Aku mencoba melihat sendiri dulu sebelum mengajakmu." Zhao Feng menyelinap ke dalam lubang sempit. "Jangan sentuh apa pun yang tidak perlu."

Mereka merangkak melewati lorong sempit berbau lembap, lalu turun melalui tangga kayu yang berderit di setiap pijakan. Di bawah, ruangan itu luas dan berdebu, penuh rak-rak kayu yang sudah miring dan tumpukan gulungan lapuk. Cahaya redup dari celah di langit-langit memperlihatkan jaring laba-laba yang tebal. Di sudut ruangan, di balik rak terbesar, ada sebuah ceruk kecil yang dialasi tikar jerami, sebuah meja pendek, dan sebatang lilin yang sudah habis.

Jian Chen berlutut di dekat tikar. Di atasnya ada selimut tipis, sebuah mangkuk kosong, dan satu pasang sandal yang tergeletak miring. Ia mengambil mangkuk itu dan mencium baunya. Sisa bubur kering.

"Dia tinggal di sini," katanya. "Sudah lama. Mungkin berbulan-bulan."

"Dan tidak ada yang tahu." Zhao Feng membuka laci meja pendek itu dengan hati-hati. "Lihat."

Di dalam laci ada sebuah buku catatan tipis berjilid benang. Sampulnya polos. Jian Chen membukanya di bawah cahaya yang masuk dari celah. Halaman pertama berisi tulisan persegi dan datar yang sudah ia kenali: tulisan Hu Min. Ia membaca dengan cepat.

Daftar nama. Sebelas anak dari kuil di Bukit Lampion, lengkap dengan umur dan ciri fisik, dengan satu garis di samping setiap nama yang sudah dikunjungi. Dua nama dicoret merah. Di bawahnya ada catatan kecil: Dua sudah dibawa. Sembilan menunggu. Anak bernama Ye Ran: dua belas tahun, rapi, pintar menghitung. Dianjurkan untuk gelombang berikutnya. Catatan ini diberi tanggal tiga bulan sebelum Jian Chen bertemu Ye Ran.

Jian Chen mengepalkan tangan di sisi buku itu. Zhao Feng, yang berdiri di sampingnya, membaca dalam diam dan menghela napas pelan.

"Mereka sudah menandai anak itu sebelum kau datang," katanya.

"Ya."

"Teruskan membaca."

Di sudut setiap halaman, Jian Chen melihat gambar kecil yang digores dengan tinta merah: lingkaran dengan satu garis tipis membelah dari ujung ke ujung. Ia merogoh jubahnya, mengeluarkan koin perak dari Bukit Lampion, dan menaruhnya di samping buku itu. Garisnya persis sama.

"Itu apa?" tanya Zhao Feng.

"Koin dari orang yang mencoba membawa anak-anak yatim di Bukit Lampion."

"Kau menyimpannya sejak itu dan tidak bilang padaku."

"Aku belum tahu apakah kau perlu tahu."

"Aku perlu tahu semuanya yang berhubungan dengan segel sekteku." Zhao Feng mengambil koin itu, memutarnya di jari, lalu mengembalikannya. "Lain kali kau bilang."

"Lain kali aku bilang."

Halaman berikutnya berisi daftar yang berbeda. Delapan nama murid luar dan dalam yang tidak asing: Mu Han, dan enam lainnya yang dilingkari merah di gulungan Zhao Feng, ditambah satu nama yang belum pernah Jian Chen dengar. Di samping setiap nama tertulis satu kata yang sama, ditulis berulang: Pil. Dan di bawahnya, dalam tulisan yang sedikit berbeda, lebih bulat dan lebih halus: Dari Tuan. Antar lewat Paman.

"Paman Abu," gumam Jian Chen.

"Atau seseorang yang memakai nama itu." Zhao Feng mengerutkan dahi. "Tuan siapa?"

"Tidak ada namanya."

"Tidak ada nama sama sekali. Hanya Tuan." Zhao Feng mengambil halaman terakhir buku itu, lalu terdiam. "Lihat ini."

Halaman terakhir hanya berisi satu kalimat pendek, ditulis dengan tulisan yang bergetar, seakan penulisnya gemetar saat menulis: Mereka mengancam ibuku. Aku tidak punya pilihan. Maafkan aku.

Hening. Debu tipis melayang di cahaya redup.

"Hu Min punya ibu?" tanya Jian Chen akhirnya.

"Di kampung dekat Bukit Lampion." Zhao Feng menutup buku itu. "Aku akan mencari tahu apakah dia masih hidup."

"Kalau Hu Min dipaksa, berarti Ordo..."

"Aku tidak tahu istilah itu."

Jian Chen menahan napas. Ia telah menyebut sesuatu yang belum pernah ia ceritakan kepada Zhao Feng. "Maksudku, orang-orang yang menyebut diri Tuan dan Paman. Aku menyebut mereka begitu dalam kepalaku."

"Kau selalu punya nama untuk semuanya." Zhao Feng menatapnya tajam sebentar, tetapi tidak mengejar. "Baik. Kita bawa buku ini?"

"Kalau kita bawa dan Tetua Bai tahu, buku itu bisa hilang."

"Tetua Bai?" Zhao Feng mengangkat alis. "Kenapa dia?"

"Pembantunya yang mengubah berat batu penguji di ujianku. Dan dia teman Gu Hong." Jian Chen mengusap tengkuknya. "Aku belum bisa membuktikannya, tapi aku tidak mau mempertaruhkan satu-satunya bukti yang kita punya."

Zhao Feng berpikir sebentar. "Aku akan menyalinnya. Semua halaman. Buku aslinya kutaruh di tempat yang hanya aku tahu."

"Itu lebih baik."

Mereka bekerja dalam hening hampir satu jam. Zhao Feng menyalin halaman demi halaman dengan tulisan tangan yang rapi, sementara Jian Chen berjaga di dekat tangga, mendengarkan langkah di atas. Ketika mereka akhirnya keluar dari lubang jeruji dan menutupnya kembali, langit di timur sudah mulai memucat.

"Besok aku akan menyerahkan salinan ini kepada Tetua Yan," kata Zhao Feng ketika mereka berpisah di tepi tebing. "Bukan buku aslinya. Cukup salinan."

"Dan turnamen?"

"Tetap berjalan." Zhao Feng menatapnya. "Aku tidak bisa menghentikannya. Tetapi sekarang kita tahu apa yang kita hadapi."

"Delapan orang dengan pil."

"Delapan orang dengan pil dan seseorang yang menulis namamu di daftar." Zhao Feng menggeleng. "Hati-hati, Jian Chen."

"Aku selalu begitu."

"Tidak. Kau selalu berusaha. Itu berbeda." Zhao Feng berbalik pergi, lalu berhenti sebentar tanpa menoleh. "Dan satu hal lagi. Jangan pernah menyebut nama yang belum kuketahui di depanku tanpa berniat menjelaskannya."

Jian Chen menatap punggungnya yang menjauh. Di tangannya, ia masih memegang sehelai kertas lipat, salah satu salinan halaman terakhir. Mereka mengancam ibuku. Ia melipatnya lebih kecil dan menyelipkannya ke dalam jubah, di dekat koin perak bergaris yang masih ia simpan.

Dua hari lagi, turnamen akan dimulai.

1
Paw_chan🐾
bagus🤟
Uranenantios: Makasih 😺
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!