NovelToon NovelToon
Tuan Muda Kota Terjebak Di Desa

Tuan Muda Kota Terjebak Di Desa

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Romansa / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Sibee

Gara gara terlibat balapan liar berujung skandal di ibu kota, Arkananta Dewangga Tuan muda berusia 25 tahun yang tampan, angku, dan gila hormat. Harus menerima hukuman paling gila dalam hidupnya. Sang ayah membekukan fasilitas mewahnya dan membuangnya ke sebuah desa terpencil. Perintahnya mutlak: "Jangan kembali ke Jakarta sebelum bisa hidup mandiri."

Di Desa Sukmawarna, semua uang dan keangkuhan Arkan tidak berlaku, alih-alih hidup manja. ia harus menghadapi di siplin ketat dari Pak Barkah, yang tidak mempan di sogok. Dirumah pedesaan yang sederhana itu, Arkan di paksa turun ke ladang berlumpur jika tidak ingin kelaparan dan tidur di teras bersama nyamuk kebun.

Di tengah siksaan fisik dan kejutan budaya yang menguras emosi, takdir mempertemukannya dengan Nayla Rahmadania, gadis desa lulusan sarjana yang mandiri dan begitu tegas.

sanggupkah sang tuan muda bertahan melewati ujian berat ini, ataukah ia memilih menyerah dan memilih cara untuk kabur kembali ke kemewahan kota?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sibee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 17: Sabun Batangan dan Kaus Berlumpur

Pagi hari di halaman belakang rumah Mbah Harjo terasa sejuk. Sinar matahari baru saja menembus sela-sela daun pohon mangga yang rimbun. Hari ini Pak Barkah memberikan kelonggaran bagi Arkan untuk tidak turun ke ladang. Luka melepuh di telapak tangan kanannya harus diistirahatkan total agar kain kasa pembalutnya tidak kotor terkena tanah basah lagi.

Namun, Arkan tidak bisa tenang. Duduk diam di dalam kamar sederhana yang pengap justru membuatnya bosan setengah mati. Tatapannya tertuju pada ember plastik hitam di sudut teras belakang. Di dalamnya, ada kaus oblong putih mahalnya yang kini sudah berubah warna menjadi cokelat pekat akibat cipratan lumpur sawah dua hari lalu.

Arkan mendesak pelan. Sambil membawa sabun batangan murah yang kemarin sore ia beli di Warung Tika, ia melangkah menuju pancuran air semen di sudut halaman. Air jernih mengalir tanpa henti dari bilah bambu yang terhubung langsung dengan mata air perbukitan.

Arkan berjongkok di depan ember. Menggunakan tangan kirinya yang sehat, ia membasahi kaus kotor tersebut. Masalah besar langsung muncul saat ia mencoba menggosokkan sabun batangan ke atas kain. Sabun yang licin itu berulang kali merosot dari genggaman tangan kirinya, jatuh berdentang ke lantai semen pancuran.

"Sialan," umpat Arkan kesal.

Ia mengambil kembali sabun itu, mencoba menahan kaus dengan ujung kaki kirinya yang telanjang, lalu mulai mengucek sekadarnya. Bukannya bersih, noda lumpur cokelat itu justru semakin melebar ke bagian kain yang lain karena cara mengucek-Nya yang asal-asalan. Otot lengan kirinya mulai terasa pegal, dan napasnya mulai memburu menahan dongkol. Mantan direktur muda Jakarta yang biasa tinggal di apartemen serba otomatis ini benar-benar tidak berkutik di depan sebuah ember dan sabun batang.

"Mencuci baju itu pakai tenaga tangan, Pria Kota, bukan diinjak-injak pakai kaki seperti itu." Sebuah suara jernih yang familier mendadak terdengar dari arah samping teras rumah.

Arkan menoleh dengan cepat. Nayla sedang berdiri di sana sambil memegang sebuah keranjang anyaman kecil berisi beberapa butir telur ayam kampung. Pagi ini Nayla tampil kasual dengan blus katun polos berwarna putih dan celana panjang santai berwarna hitam. Rambut panjangnya di kuncir kuda dengan rapi. Rupanya, ia baru saja datang berkunjung untuk mengantarkan telur titipan Ibu Aminah kepada Bude Lastri.

Arkan langsung menghentikan gerakannya, buru-buru berdiri tegap untuk menutupi rasa malunya yang tertangkap basah sedang bertingkah konyol. "Jangan ikut campur. Saya sedang mencoba mencuci baju saya sendiri," balas Arkan ketus, memalingkan wajahnya yang sedikit merona merah.

Nayla berjalan mendekati pancuran, menaruh keranjang telurnya di atas dipan bambu terdekat. Ia menatap ember plastik hitam, lalu beralih menatap wajah Arkan yang tampak bersungut-sungut. "Kalau caramu mencuci seperti itu, kaus mahalmu itu tidak akan bersih sampai tahun depan. Yang ada malah kainnya robek semua."

"Lalu saya harus bagaimana?" suara Arkan meninggi, emosinya mulai terpancing rasa frustrasi. "Tangan kanan saya dibalut kasa begini, tidak bisa dipakai untuk memeras atau mengucek kain tebal ini. Jangan cuma bisa mengkritik, kalau kamu pintar, lakukan saja sendiri!"

Nayla menaikkan sebelah alisnya, menerima tantangan itu dengan senyuman tipis yang menantang. Tanpa ragu, gadis itu menggulung lengan blus putihnya hingga sebatas siku. Ia melangkah mendekati pancuran air, lalu ikut berjongkok di depan ember plastik hitam tersebut.

"Sini sabunnya," pinta Nayla sambil mengulurkan tangan.

Arkan tertegun sejenak, namun akhirnya ia menyerahkan sabun batangan di tangan kirinya kepada Nayla.

Nayla menarik kaus kotor milik Arkan keluar dari air. Dengan gerakan yang sangat cekatan dan terlatih, ia menggosokkan sabun batang itu tepat di bagian noda lumpur yang paling pekat. Setelah busanya melimpah, Nayla mulai mengucek kain tersebut dengan ritme yang konstan dan kuat. Suara gesekan kain yang basah terdengar nyaring di halaman belakang yang sepi.

Arkan terdiam mematung, berdiri mengawasi gerakan tangan Nayla dalam bisu. Ada rasa kikuk sekaligus heran yang merayap di benak Tuan Muda metropolitan itu. Gadis di depannya ini kemarin-kemarin ketus setengah mati, tapi sekarang justru dengan sukarela mengucek baju kotor penuh lumpur miliknya di bawah pancuran air terbuka.

"Arkan, jangan cuma berdiri menonton saja seperti mandor proyek," tegur Nayla tanpa mendongak, fokus tangannya masih mengucek kain. "Bantu saya pegang ujung kerah kaus ini dengan tangan kirimu. Tarik yang kencang supaya saya bisa menyikat bagian pundaknya yang terkena noda membandel."

Arkan mengerjapkan matanya, lalu buru-buru kembali berjongkok di sebelah Nayla. Karena jarak mereka yang mendadak menjadi sangat dekat, Arkan bisa mencium kembali aroma wangi bedak dingin bayi yang menenangkan dari tubuh gadis itu. Tangan kiri Arkan bergerak meraih ujung kerah kaus putihnya, menariknya sesuai instruksi Nayla.

"Tarik lebih kuat lagi," perintah Nayla.

Arkan menariknya lebih kencang, namun karena lantai semen pancuran yang licin terkena tumpahan busa sabun, keseimbangan tubuh jangkung Arkan mendadak goyah. Kaki kirinya terpeleset sedikit ke arah samping.

"Eh!" pekik Arkan kaget.

Tubuh tegap Arkan reflek condong ke depan. Untuk menghindari agar dirinya tidak jatuh terjerembah ke dalam ember penuh busa, Arkan secara tidak sadar menggunakan lengan kirinya yang sehat untuk mencengkeram pundak mungil Nayla sebagai tumpuan tubuhnya.

Gerakan mendadak itu membuat tubuh Nayla ikut tertarik ke belakang. Dalam sekejap, punggung Nayla bersandar rapat pada dada bidang Arkan yang kokoh. Tangan kiri Arkan masih mendekap erat pundak gadis itu dari belakang, menahan posisi mereka agar tidak terjatuh bersama ke lantai semen yang basah.

Waktu seolah-olah berhenti berputar sesaat di halaman belakang rumah Mbah Harjo. Suara aliran air pancuran bambu terdengar semakin jelas di tengah kesunyian yang mendadak mencekam. Nayla mematung dengan mata melotot lebar, napasnya tertahan di tenggorokan akibat kejutan fisik yang begitu tiba-tiba. Sementara Arkan bisa merasakan dengan sangat jelas bagaimana detak jantungnya sendiri mendadak berpacu dengan ritme yang luar biasa cepat, berdegup kencang tepat di balik dadanya yang menempel pada punggung Nayla.

Arkan tertegun, sepasang matanya menatap leher bagian belakang Nayla yang putih bersih dari jarak yang teramat dekat. Hawa panas mendadak menjalar naik dari dadanya hingga membakar seluruh permukaan wajah tampannya.

Menyadari posisi mereka yang terlampau dekat dan tidak pantas, Nayla buru-buru berdehem keras dan menggerakkan pundaknya dengan kikuk. "A-Arkan... lepaskan tanganmu. Saya... saya tidak bisa bernapas," bisik Nayla dengan nada suara yang mendadak bergetar samar, wajah putih bersihnya kini sudah merona merah padam hingga ke daun telinga.

Arkan tersentak sadar dari lamunannya. Bagaikan tersengat aliran listrik, ia langsung menarik kembali tangan kirinya dengan gerakan yang sangat salah tingkah. Pria berusia dua puluh lima tahun itu buru-buru berdiri, mundur dua langkah ke belakang sambil berulang kali berdeham demi menguasai diri.

"Maaf. Lantainya... lantainya terlalu licin tadi," gumam Arkan dengan nada suara beratnya yang mendadak terdengar gugup, pandangannya beralih menatap barisan pohon mangga di sudut halaman demi menghindari tatapan mata Nayla.

Nayla ikut berdiri dengan canggung, merapikan blus katun putihnya yang sedikit kusut di bagian pundak. Gadis itu menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan debaran aneh di dalam dadanya yang masih belum mau mereda. "I-iya, tidak apa-apa. Kaus mu sudah bersih, tinggal dibilas dan diperas saja nanti oleh Bude Lastri," ucap Nayla terbata-bata, menunjuk ember plastik yang kini airnya sudah berubah menjadi putih penuh busa bersih.

Tanpa berani menatap wajah Arkan lagi, Nayla buru-buru menyambar keranjang berisi telur di atas dipan bambu, lalu melangkah kaki dengan tergesa-gesa masuk melalui pintu dapur belakang untuk mencari Bude Lastri.

Arkan tetap berdiri mematung di dekat pancuran air, menatap kepergian gadis itu dengan sisa debaran jantung yang masih bergemuruh hebat di dalam dadanya. Kejadian konyol di depan ember tadi memicu sebuah getaran emosional baru yang sangat kuat, sebuah rasa yang perlahan mulai meruntuhkan sisa-sisa keangkuhan di dalam dirinya.

1
Tina
Hallo semuanya... semoga suka sama bukunya ya, kalo ada masukan ataupun kritikan dari kalian Author sangat menerima ya, kedepannya nanti bakal diperbaiki, soalnya Author juga baru belajar nih🥰🫶🏻
Tina
Hallo semuanya... semoga suka sama bukunya ya, kalo ada masukan ataupun kritikan dari kalian author sangat menerima ya, kedepannya nanti bakal diperbaiki, soalnya author juga baru belajar nih🥰🫶🏻
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!