Kepindahan Arumi ke sekolah elit di ibu kota membawanya menjadi wali kelas Azzam dan Azzura, si kembar anak konglomerat yang dikenal paling bermasalah. Dengan ketulusan dan kesabarannya, Arumi berhasil mengubah mereka menjadi pribadi yang lebih baik.
Takdir kemudian mempertemukannya kembali dengan Zaky Tanuwijaya, ayah si kembar sekaligus cinta pertama yang pernah menghancurkan hatinya di ambang pernikahan. Kini, Zaky yang telah menjadi duda ingin menebus kesalahan masa lalu dan memenangkan kembali hati Arumi.
Namun, ibunda Zaky terus menanamkan ketakutan kepada Azzam dan Azzura bahwa ibu tiri hanyalah wanita yang mengincar harta. Di tengah penolakan si kembar dan luka lama yang belum sembuh, mampukah Arumi membuka kembali hatinya dan membuktikan bahwa kasih sayang tulus mampu mengalahkan prasangka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 6
Pagi-pagi sekali, aroma harum masakan sudah menguar dari dapur kontrakan Arumi. Sejak jarum jam menunjukkan pukul tiga subuh, wanita itu sudah sibuk memotong sosis, membentuk nasi, dan menghias sayuran. Kerja kerasnya membuahkan hasil, sepuluh kotak bento cantik kini tersusun rapi di dalam tas kain besar, bersanding dengan puluhan kotak kecil berisi potongan brownies kukus coklat yang tampak legit.
Arumi menatap pantulan dirinya di cermin. Ia sudah rapi mengenakan seragam dinas cokelat khas PNS berlogo DKI Jakarta, lengkap dengan name tag kuningan yang tertera jelas namanya, Arumi Anggraini. Ketika ojek online yang dipesannya tiba di depan halaman kontrakan, Arumi bergegas keluar sambil menjinjing tas besar tersebut.
"Weh, tumben sekali Bu Arumi bawa makanan sebanyak itu? Ada acara ya, Bu, di sekolah?" sapa Ayu, tetangga sebelahnya yang sedang menyapu halaman.
Arumi tersenyum ramah sambil membenarkan posisi tasnya. "Bukan acara sih, Mbak Ayu. Cuma mau ngasih hadiah kecil-kecilan saja untuk anak-anak biar mereka tambah semangat belajar Matematika."
"Wah, pasti anak-anak suka tuh, Bu. Sukses ya, Bu Arumi!" ujar Ayu ikut senang.
Perjalanan membelah jalanan ibu kota memakan waktu lebih dari 60 menit akibat arus berangkat kerja yang padat. Begitu tiba di SMP Chandrakanta, suasana sekolah sudah mulai ramai oleh hilir mudik siswa. Arumi bergegas menuju ruang guru. Kehadirannya yang menenteng bungkusan besar langsung memancing pandangan penasaran dari rekan-rekan sejawatnya.
"Wah, Bu Arumi hebat ya... Dalam waktu singkat sudah mampu menjinakkan anak-anak yang terkenal nakal dan urakan itu. Bagi resepnya dong, Bu!" puji Bu Wati, guru Biologi, setelah mendengar penjelasan Arumi bahwa makanan itu adalah hadiah kuis kemarin.
Arumi terkekeh pelan. "Intinya harus ekstra sabar, Bu. Jangan pernah mengatasi murid seperti mereka dengan kekerasan atau emosi. Kita cukup cari cara kreatif agar mereka jera dengan sendirinya."
Tak lama kemudian, bel masuk sekolah bergaung nyaring. Dari balik kaca ruangannya, Pak Bima sang kepala sekolah memandangi punggung Arumi yang berjalan mantap menuju ruang kelas 7 C. Ada rasa takjub yang mendalam di hati pria itu.
"Anda itu guru yang tangguh dan juga hebat, Bu Arumi. Saya sangat berharap Anda bisa selamanya mengajar di sekolah ini," gumam Pak Bima dalam hati sambil tersenyum seorang diri.
Saat Arumi melangkah masuk ke dalam kelas 7 C, para siswa dan siswi langsung memberikan salam secara serempak. Pagi ini, tidak ada satu pun jebakan atau kejahilan yang disiapkan. Suasana kelas justru diselimuti bisik-bisik penuh kemenangan. Pasalnya, sebelum bel berbunyi, Azzam sudah mengumumkan kepada teman-temannya bahwa ayahnya yang seorang CEO berkuasa telah turun tangan. Mereka yakin hari ini adalah hari terakhir Bu Arumi mengajar di sana sebelum dipecat.
Namun, rasa percaya diri komplotan itu sedikit goyah saat melihat Arumi meletakkan kantong kresek besar di atas meja.
"Selamat pagi semuanya. Sesuai janji Ibu kemarin, Ibu membawa hadiah untuk sepuluh murid yang sudah maju mengikuti kuis tanya jawab," ujar Arumi ramah, mengabaikan tatapan sinis Azzam.
Arumi mulai memanggil nama mereka satu per satu. Saat kotak bento yang masih terasa hangat itu dibagikan, keheningan melanda kelas. Murid-murid yang tidak dipanggil menatap dengan saksama, sementara delapan murid yang menerima kotak itu perlahan membukanya.
Mata mereka langsung berbinar. Di dalam kotak itu, nasi dibentuk karakter beruang yang lucu, dilengkapi dengan sosis berbentuk gurita, selada segar, wortel yang dipotong menyerupai bunga, dan lauk-pauk yang tertata sangat rapi.
Azzura dan Azzam yang juga menerima kotak itu sempat terpaku. Dada mereka berdesir aneh melihat bekal secantik itu di depan mata mereka.
"Maaf ya kalau bentonya kurang menarik. Ibu mengerjakan ini dari jam tiga subuh tadi karena takut tidak keburu. Semoga kalian suka, ya," ucap Arumi tulus. Ia kemudian mengeluarkan kotak-kotak kecil lainnya.
"Oh iya, kebetulan Ibu juga buat kue brownies coklat. Bagi yang tidak kebagian bento, tetap Ibu kasih kue brownies ini, ya!"
Azzam menatap lekat-lekat bento rumahan buatan tangan itu. Seumur hidupnya, belum pernah ada seorang pun yang bersusah payah bangun subuh hanya untuk membuatkan bekal sekreatif dan setulus ini untuknya. Setiap kali ia atau Azzura ingin membawa bekal, ayah mereka selalu menyuruh sekretarisnya memesan layanan delivery dari restoran bintang lima. Kemewahan instan yang mahal, namun terasa dingin dan hampa. Hal yang sama juga dirasakan oleh murid-murid elite lainnya yang orang tuanya terlalu sibuk dengan urusan bisnis.
"Terima kasih banyak ya, Bu Arumi..." ucap beberapa murid pelan, menyentuh bagian terdalam hati mereka yang haus akan perhatian tulus seorang ibu.
Sementara itu, Azzam dan Azzura hanya bisa diam seribu bahasa. Di satu sisi, ego dan rencana busuk mereka untuk menendang guru ini dari sekolah sudah berjalan. Namun di sisi lain, kotak hangat berisi bento buatan subuh ini mendadak meruntuhkan sebagian dinding kebencian yang selama ini mereka bangun.
*
*
Sebuah mobil sedan mewah hitam mengilat membelah keheningan halaman depan SMP Chandrakanta. Begitu berhenti sempurna di depan lobi, kehadiran kendaraan tersebut langsung memicu kegemparan di antara para guru dan staf Tata Usaha yang berada di koridor.
Dari pintu belakang, turunlah sosok Zaky Tanuwijaya. Pria itu adalah donatur terbesar sekaligus pemegang pengaruh kuat di yayasan sekolah ini, namun ia sangat jarang menginjakkan kaki di sana. Di usianya yang telah melewati kepala tiga, Zaky memancarkan kharisma pria matang yang begitu gagah, tegas, berwibawa, dan berparas tampan awet muda. Langkah kakinya yang tegap didampingi oleh Asisten Arya di sisinya seketika menjadi buah bibir, terutama bagi jajaran guru wanita yang masih menyandang status lajang sejati.
Pak Bima, sang kepala sekolah, bergegas turun ke lobi untuk menyambut langsung kedatangan sang konglomerat. Namun, Zaky yang berwajah dingin dan angkuh itu hanya membalas sambutan hangat tersebut dengan seulas senyuman yang teramat tipis.
Beberapa menit kemudian, mereka telah duduk di dalam ruang kerja kepala sekolah yang sejuk. Zaky duduk dengan gestur dominan, melipat kedua kakinya menyilang dan menaruh kedua tangannya di atas dada.
"Wah, sebuah kejutan besar Pak Zaky berkenan datang ke sini tanpa ada pemberitahuan terlebih dahulu," ucap Pak Bima membuka obrolan dengan nada sungkan.
Zaky menatap Pak Bima lurus-lurus. "Kedatangan saya ke sini karena ada hal sangat penting yang ingin saya tanyakan langsung, Pak Bima. Ini soal guru baru yang mengajar dan menjadi wali kelas anak saya, Azzam dan Azzura."
Deg!
Jantung Pak Bima mendadak berdegup kencang. Ia menelan ludahnya dengan susah payah. "Memangnya... ada hal apa sehingga Pak Zaky secara khusus membahas soal guru barunya Azzam dan Azzura?" tanyanya cemas.
Zaky kemudian membeberkan kronologi yang ia dengar dari Azzam tadi malam, tentang dugaan tindakan kasar dan intimidasi fisik yang merusak pakaian putranya tanpa menyebutkan siapa nama guru yang dimaksud.
Mendengar penuturan itu, Pak Bima langsung menggelengkan kepala. "Sepertinya telah terjadi kesalahpahaman yang sangat besar di sini, Pak Zaky. Kejadian di lapangan sama sekali tidak seperti itu. Menurut saya, beliau justru guru yang sangat bagus dalam menangani murid-murid kelas 7C yang terkenal sulit."
"Baiklah, kalau begitu saya ingin bertemu dengan guru baru itu sekarang juga untuk meminta penjelasannya," tukas Zaky dingin, nadanya mutlak tak terbantahkan. "Jika sampai ia terbukti melakukan kekerasan fisik atau psikis terhadap putra saya, saya tidak akan segan meminta pihak yayasan untuk memecatnya secara tidak hormat hari ini juga!"
Melihat situasi yang menegang, Pak Bima segera menekan tombol interkom dan memanggil Roy. Ia memerintahkan staf TU itu untuk menjemput sang wali kelas baru di kelas 7 C. Roy, yang selalu paling gesit dan bersemangat jika ada urusan berkaitan dengan Arumi, langsung melesat pergi.
Sementara itu di kelas 7 C, suasana justru sedang hangat-hangatnya. Arumi tengah duduk bersama beberapa murid perempuan sembari menikmati potongan brownies kukus buatannya. Di sudut lain, Azzam dan Azzura sedang melahap menu bento mereka dengan sangat lahap. Sebenarnya, sejak menyuap sendokan pertama bento rumahan yang lezat itu, ada rasa bersalah yang perlahan menggerogoti hati mereka atas kebohongan yang diadukan pada sang ayah tadi malam. Namun, nasi telah menjadi bubur. Azzam memilih abai dan terus makan karena ia memang melewatkan sarapan lantaran bosan dengan menu koki rumahnya yang terasa hambar di lidahnya.
Tok! Tok! Tok!
"Permisi, Bu Arumi," panggil Roy yang mendadak muncul di ambang pintu kelas. "Ibu diminta untuk segera menghadap Pak Bima di ruangannya sekarang juga. Ada urusan mendesak."
Arumi sedikit terkejut. Ia meletakkan kotak kuenya dengan dahi berkerut. "Ada apa, ya? Kok tumben sekali Pak Kepala Sekolah memanggilku di jam pelajaran begini?" batinnya cemas.
Azzam menghentikan kunyahannya sesaat, menatap punggung Arumi yang mulai merapikan seragamnya. Remaja itu tahu betul siapa yang sedang menunggu gurunya di ruang kepala sekolah.
Arumi pun bergegas melangkah keluar menyusuri koridor bersama Pak Roy. Wajahnya yang cantik tampak diselimuti rona kegelisahan.
Saat mereka berdua berjalan melintasi ruang tunggu teras kepala sekolah, mereka melewati Asisten Arya yang sedang duduk di sofa sembari fokus memeriksa laporan perusahaan di layar tabletnya. Mendengar suara langkah kaki, Arya mendongak pelan. Namun, begitu tatapannya jatuh pada wajah Arumi, Arya seketika terperanjat di tempat duduknya.
Jantung Arya berdegup cepat. “Kenapa... kenapa wajah guru barusan rasanya tidak asing sama sekali? Sepertinya aku pernah melihatnya... Oh iya! Wajah itu mirip sekali dengan foto wanita yang disimpan secara rahasia di dalam laci meja kerja Pak Zaky selama bertahun-tahun! Tapi... tidak mungkin itu dia, kan? Pasti hanya mirip saja,” batin Arya menerka-nerka dalam kekhawatiran.
Di depan pintu ruangan jati itu, Arumi menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan gemuruh di dadanya, lalu mengetuk pintu pelan.
Tok! Tok!
"Masuk," terdengar suara Pak Bima dari dalam.
Arumi membuka pintu perlahan, melangkah masuk ke dalam ruangan yang harum aroma kopi mahal tersebut. Namun, baru dua langkah ia menginjakkan kaki di atas karpet, seluruh pasokan udara di paru-parunya seolah tersedot habis.
Di kursi sofa, seorang pria berpakaian formal hitam perlahan membalikkan tubuhnya untuk melihat siapa guru yang dituduh kasar itu. Saat kedua pasang mata mereka saling beradu, dunia di sekitar mereka seakan berhenti berputar seketika.
Zaky menatap wajah anggun di depannya dengan mata terbelalak sempurna. Seluruh tubuhnya menegang kaku, sementara dadanya bergemuruh hebat diserang rasa bersalah dan kerinduan yang telah ia kubur bertahun-tahun.
Begitu pula dengan Arumi. Tas kecil di genggamannya hampir saja merosot jatuh. Seluruh trauma, luka, dan memori masa lalu yang pahit mendadak bangkit menghantam kesadarannya dalam satu kedipan mata. Wajah pria yang telah mengkhianatinya tepat di ambang pernikahan mereka kini berada tepat di depan matanya.
"Z... Zaky?!" bisik Arumi, bibirnya bergetar hebat dengan raut wajah yang mendadak pias.
"A... Arumi?!" sahut Zaky dengan suara tercekat di tenggorokannya, menyebut nama cinta pertamanya yang tak pernah benar-benar hilang dari hatinya.
Bersambung...
sekarang si tinggal terserah lu
masih mau ga berjuang
Arumi mah udah pasrah Ama takdir
toh...gw juga bisa kok selama ini tanpa lu
dasar nenek lampir
Arumi lawan jgn diam aj, cabein aj mulut kotor Bu Maya klu ga berani suruh othor yg maju duluan ntar aku bantuin doa dari jauh 🤣🤣🤣🤣🤣🤣