Dewi Anjani yang baru saja dipecat dan nyaris bangkrut, tiba-tiba dipeluk erat oleh bocah tiga tahun bernama Elvan yang menangis dan memanggilnya "Mama" di pinggir jalan. Belum hilang rasa kagetnya, ayah anak itu—Raka Mahardika, sang CEO Grup Lentera yang terkenal sedingin es—muncul dan menyodorinya sebuah kontrak gila untuk menjadi ibu bayaran. Keadaan menjadi semakin tak masuk akal ketika sebuah suara mekanis mendadak berbunyi di kepala Dewi: "Ding! Sistem Ibu Super Hebat diaktifkan!" Kini, berbekal misi-misi ajaib dari sistem dan tingkah menggemaskan Elvan, Dewi tidak hanya perlahan mencairkan hati beku sang CEO, tapi juga bersiap memberikan tamparan paling telak pada mantan istri Raka yang gila harta saat wanita itu berani kembali untuk mengacaukan keluarga barunya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2
Namun reaksi Elvan sungguh di luar dugaan semua orang.
Elvan memutar tubuhnya, menyembunyikan wajahnya di perpotongan leher Dewi dan menepis tangan pria itu.
"Tidak mau! Papa jahat! Elvan mau sama Mama!" teriak anak itu histeris.
Wajah pria yang tadinya sedingin es itu kini menunjukkan sedikit raut frustrasi dan kebingungan.
"Elvan Mahardika, jangan membuat Papa marah, ayo pulang sekarang," ancam pria itu dengan nada yang ditekan dalam-dalam.
"Bapak ini ayahnya?" sela Dewi yang akhirnya berani membuka mulut.
"Bukan urusanmu, wanita aneh. Berapa banyak uang yang kau minta agar kau melepaskan anakku?" balas pria itu tajam.
Dewi melebarkan matanya, merasa harga dirinya baru saja diinjak-injak layaknya sampah.
"Jaga mulut Anda ya Tuan Jas Mahal!" balas Dewi dengan suara lantang yang membuat kerumunan orang terkejut.
"Anda pikir saya sengaja menculik anak Anda demi uang?"
"Anak Anda sendiri yang tiba-tiba datang berlari lalu memeluk saya dan memanggil saya Mama!"
Pria itu, Raka Mahardika, menatap Dewi dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan tatapan meremehkan.
"Aku bisa saja memanggil polisi detik ini juga atas tuduhan percobaan penculikan, Nona."
"Panggil saja! Panggil polisinya sekarang biar kita periksa rekaman CCTV di jalan ini!" tantang Dewi sambil menunjuk ke arah tiang lampu jalan.
Raka terdiam sejenak, tampaknya dia tidak menyangka wanita gelandangan penjual kue ini berani melawannya.
"Mama, Elvan takut sama Papa..." bisik Elvan yang tubuhnya mulai gemetar di pelukan Dewi.
Dewi langsung memeluk anak itu lebih erat, rasa keibuannya yang entah datang dari mana tiba-tiba muncul.
"Lihat? Anak Anda bahkan takut pada Anda. Jangan-jangan Anda yang penculiknya?" tuduh Dewi balik tanpa pikir panjang.
Rahang Raka mengeras hebat mendengarnya.
"Ajudan, amankan wanita gila ini dan ambil anakku dari tangannya," perintah Raka tanpa menoleh ke belakang.
Dua orang pria berbadan besar berjas hitam tiba-tiba muncul dari belakang Raka dan berjalan maju mendekati Dewi.
"Tunggu! Jangan berani mendekat atau aku akan berteriak minta tolong!" ancam Dewi sambil memeluk Elvan erat-erat dan melangkah mundur.
Kerumunan warga mulai berbisik-bisik, beberapa bahkan sudah mengeluarkan ponsel untuk merekam kejadian tersebut.
"Tuan Raka, terlalu banyak saksi mata di sini, ini bisa berdampak buruk pada saham perusahaan kita," bisik salah satu ajudan itu ke telinga Raka.
Raka mengusap wajahnya dengan kasar, terlihat sangat kelelahan menghadapi situasi konyol ini.
Dia menatap wajah Dewi lekat-lekat, mencoba mencari celah kebohongan, namun hanya menemukan kemarahan dan ketulusan di mata wanita miskin itu.
"Dengar, aku akan memberimu lima puluh juta rupiah tunai saat ini juga."
"Masuk ke dalam mobilku, bantu aku menenangkan anak ini sampai dia tidur, lalu kau boleh pergi membawa uangnya."
Dewi menelan ludah dengan susah payah mendengarkan nominal uang yang baru saja disebutkan pria itu.
"Lima puluh juta?" batin Dewi mengulang nominal itu, jumlah yang bisa memberinya modal usaha besar dan tempat tinggal layak.
"Kau pikir aku wanita murahan yang bisa disogok dengan uang?" balas Dewi, meski suaranya sedikit bergetar menahan godaan.
"Seratus juta, dan itu tawaran terakhirku sebelum aku benar-benar menggunakan kekerasan," potong Raka dingin tanpa ekspresi.
Otak Dewi langsung berhenti berfungsi seketika.
Seratus juta untuk menenangkan anak kecil yang bahkan sedari tadi sudah sangat nyaman di pelukannya?
Saat Dewi sedang melamun menimbang tawaran gila tersebut, pandangannya mendadak mengabur.
Waktu di sekitarnya seolah berhenti bergerak.
Orang-orang yang berkerumun, debu yang berterbangan, hingga helaan napas Raka tampak diam mematung.
Sebuah layar holografik berwarna biru terang mendadak muncul mengambang tepat di depan wajah Dewi.
Ding!
[Mendeteksi gelombang kasih sayang yang tulus dari seorang anak kecil]
[Menganalisis kecocokan DNA emosional... Tingkat kecocokan 99,9%]
[Sistem Ibu Super Hebat berhasil diaktifkan!]
Dewi memundurkan kepalanya, mencoba mengusir layar transparan yang dia pikir adalah halusinasi akibat belum sarapan pagi ini.
"Apa-apaan ini? Halusinasi macam apa ini?" gumam Dewi panik.
Layar biru itu kembali berkedip dan memunculkan sederet tulisan baru lengkap dengan suara mekanis di kepala Dewi.
[Tuan Putri Dewi Anjani terikat dengan target asuhan: Elvano Mahardika]
[Misi Pemula: Terima tawaran pria dingin di depan Anda dan masuklah ke dalam mobil mewahnya!]
[Hadiah Penyelesaian Misi: 10 Juta Rupiah tunai, Resep Susu Penenang Bayi Tingkat Dewa, dan Poin Kasih Sayang +10]
[Hukuman Kegagalan Misi: Bisul di ujung hidung selama satu bulan penuh!]
"Bisul di hidung? Sistem sialan macam apa ini!" teriak Dewi refleks.
Waktu mendadak berjalan normal kembali.
Raka dan kedua ajudannya menatap Dewi dengan dahi berkerut, mengira wanita di depannya ini benar-benar sudah gila.
"Sistem apa? Bisul apa? Apa kau sedang mencoba mengulur waktu, Nona?" tanya Raka dengan nada sinis.
Dewi buru-buru menutupi mulutnya sendiri dan menatap Raka sambil tersenyum canggung.
"Oke Tuan Jas Mahal, aku terima tawaran seratus jutamu."
"Bawa aku ke mobilmu sekarang juga sebelum anak ini pingsan karena kepanasan di jalanan ini."
Raka mendengus pelan, senyum meremehkan kembali terbit di bibirnya yang tipis.
"Semua wanita memang sama saja, ujung-ujungnya uang juga," gumam Raka pelan yang masih bisa didengar jelas oleh Dewi.
Dewi hanya bisa menahan umpatan di dalam hati demi seratus juta rupiah dan menghindari ancaman bisul dari sistem aneh ini.
"Ayo sayang, kita masuk ke mobil besar punya Papa ya?" ucap Dewi lembut kepada Elvan.
Elvan mengangguk lucu, menyandarkan kepalanya yang berat di bahu Dewi sambil memasukkan jempol ke dalam mulutnya.
Tanpa Dewi sadari, roda takdirnya baru saja berputar dengan sangat cepat.
Dia bukan lagi sekadar Dewi si penjual kue jalanan yang miskin.
Dia adalah calon Nyonya Besar dari Grup Lentera, dan hari-hari penuh kejutan bersama Sistem Ibu Super Hebat baru saja dimulai.
cuma sekedar tandatangan kayak nya
mampir thor, saking asik nya baca lupa interaksi🤭