"Kurang ajar! Beraninya kalian mengotori rumah tangga kita!" bentak Sandra dengan suara bergetar hebat, air matanya akhirnya tumpah membasahi pipi.
Sebelum Sandra bisa memberikan pelajaran lebih jauh kepada wanita itu, sebuah benturan keras mendarat di pipi kirinya.
Plak!
Tamparan itu begitu kuat hingga kepala Sandra terpelanting ke samping. Rasa perih langsung menjalar di pipinya, meninggalkan sensasi panas yang membakar. Pelaku pemukulan itu tidak lain adalah Anton sendiri. Suami yang selama empat tahun ini ia layani dengan sepenuh hati, kini berdiri tegak dengan mata melotot dan tangan mengepal.
"Seharusnya kamu sadar, kamu wanita lusuh, jelek, tidak bisa menjaga tubuhmu, aku muak denganmu!" teriak Anton dengan suara menggelegar, melampiaskan seluruh kebencian yang selama ini ia pendam.
Kata-kata itu menghujam jantung Sandra jauh lebih tajam daripada pisau bermata dua. Wanita lusuh? Jelek? Selama ini ia mengorbankan waktu istirahatnya demi mengurus rumah, sementara Anton
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dalam Pelukan Sang Penguasa
Suasana di aula utama mansion terasa begitu hangat dan penuh kedamaian. Elzard berlari-lari kecil mendekati sang ayah yang masih menggendong Sandra di dalam dekapannya. Bocah lima tahun itu mendongak dengan mata berbinar-binar, siap mengajak ibu barunya bermain bersama seperti yang sudah ia janjikan sejak di kamar main.
Namun, sebelum Elzard sempat menarik-narik ujung gaun Sandra, Dante berlutut sedikit untuk menyamakan tinggi pandangannya dengan sang putra, sementara lengan kokohnya tetap melindungi Sandra dengan erat.
"Elzard, Ibu Baru butuh istirahat dulu ya, jangan diganggu," ucap Dante dengan suara beratnya yang lembut dan penuh pengertian. "Biar Ibu Baru bisa memulihkan tenaganya, dan nanti setelah sembuh total, beliau bisa mengajak putra kesayangan Ayah ini bermain sepuasnya."
Mendengar penjelasan sang ayah, binar antusias di wajah Elzard sedikit meredup, digantikan oleh ekspresi menggemaskan khas anak kecil yang berusaha memahami keadaan. Ia melirik ke arah Sandra yang tersenyum hangat padanya, lalu mengangguk patuh.
"Baik, Ayah..." jawab Elzard dengan nada manis yang tulus. "Aku akan menunggu dengan sabar sampai Ibu Baru benar-benar sembuh."
Sandra merasakan dadanya berdesir hangat luar biasa. Ia menunduk dan mencium pelan pipi tembam Elzard. "Anak pintar... Terima kasih ya, Sayang. Tunggu sebentar lagi, nanti kita main sepuasnya."
Dante tersenyum puas melihat kedewasaan kecil yang mulai tumbuh pada diri putranya. Ia kembali menegakkan tubuhnya, lalu melangkah membawa Sandra menaiki anak tangga marmer menuju kamar pribadi wanita itu di lantai dua.
Sesampainya di dalam kamar yang harum dan bernuansa hangat, Dante dengan sangat hati-hati membaringkan Sandra di atas tempat tidur berseprai sutra. Ia merapikan selimut hingga menutupi pinggang Sandra, memastikan posisi wanita itu senyaman mungkin.
"Istirahatlah," bisik Dante lembut sambil merapikan helai rambut Sandra yang jatuh di dahi. "Aku akan menemani Elzard di lantai bawah sebentar, lalu kembali ke sini untuk menemanimu."
Sandra mengangguk perlahan dengan senyuman manis di bibirnya. Kehadiran Dante dan Elzard telah mengubah dunianya yang gelap gulita menjadi terang benderang. Di dalam pelukan keamanan mansion ini, Sandra memejamkan mata dengan tenang, menyambut hari baru yang penuh harapan.
"Uhhh... perih sekali," ucap Sandra sedikit meringis pelan. Tangannya refleks meremas seprai sutra di bawah tubuhnya saat sengatan rasa panas dari luka bakar di pahanya kembali menyapa di tengah efek obat yang mulai memudar.
Dante, yang baru saja hendak melangkah menuju pintu untuk keluar, seketika menghentikan langkahnya. Pria itu berbalik dengan cepat, merapatkan kembali jarak di antara mereka. Sorot mata elangnya dipenuhi kekhawatiran yang tak mampu ia sembunyikan.
Dante berlutut di tepi tempat tidur, meraih telapak tangan Sandra yang dingin dan mengusapnya dengan penuh kelembutan. "Tahan sebentar, Sandra... Rasa sakitnya akan segera mereda," bisiknya dengan suara berat yang mengalun menenangkan.
Ia tak beranjak sedikit pun dari sisi tempat tidur. Dengan telaten, Dante mengusap helai demi helai rambut hitam Sandra, membiarkan jemari mewahnya menjadi tumpuan penenang bagi wanita itu. Rasa hangat dari sentuhan Dante dan harum aroma kayu cendana dari tubuh pria itu perlahan-lahan mengikis rasa perih yang dirasakan Sandra.
Dada Sandra berdesir hangat. Di tengah rintihan kesakitannya, rasa aman yang begitu pekat merengkuh jiwanya. Perlahan-lahan, napas Sandra mulai teratur, kelopak matanya yang berat tak lagi sanggup menahan kantuk, dan lama-lama akhirnya dia tertidur lelap dalam kedamaian.
Dante memandangi wajah lelap Sandra yang tampak begitu polos dan pasrah. Garis-garis ketegangan yang tadi menghiasi wajah cantik itu kini sirna sepenuhnya. Dante merendahkan tubuhnya, mendaratkan kecupan lembut yang penuh perlindungan di dahi Sandra.
"Tidurlah dengan tenang, Sandra," gertak batin Dante penuh janji mutlak. "Tidak akan ada lagi orang yang bisa menyakitimu di bawah naunganku."
Pria itu kemudian duduk di kursi samping tempat tidur, membiarkan tangannya tetap menggenggam jemari Sandra, siap mengawal tidur nyenyak sang ibu baru hingga pagi menjelang.
tapi cocok sih, laki-laki pengecut seperti kamu punya istri pelacur murahan yang ga tahu diri 🤣🤣😂😂 dan kalian berdua siap-siap mati