NovelToon NovelToon
Cinta Tanpa Syarat.

Cinta Tanpa Syarat.

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Penyesalan Suami
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: atikah@72

sejak lahir, dia tak sempurna.
ibunya ditinggalkan pergi oleh sang ayah, saat ia masih dalam kandungan.

sang ibu mengandung seorang diri, karena bapaknya pergi mencari nafkah dan biaya persalinan sang ibu.

sampai ia lahir ayahnya tak menghendakinya dan datang membawa madu untuk ibunya.
sejak lahir penduduk desa mengatakannya pembawa petaka, karena ia lahir tak sempurna. kini ia hidup berdua bersama sang ibu.

sementara sang ayah pergi dengan wanita lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon atikah@72, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sidang Di Waingapu

Jam tujuh masih pagi, tapi terasa panas dihalaman pengadilan sudah panas duluan.

Bukan karena matahari, tapi karena tiga puluh warga Kolorai datang pakai truk kayu pengangkut.

bawa spanduk tulisan tangan pakai cat warna hitam "TANAH WARISAN BINTANG BUKAN TAMBANG LIMA MILIAR". Catnya masih basah, masih menetes.

Di depan spanduk itu Sari jalan pelan. Hamil tiga bulan dua minggu. Gandeng Bintang. Bintang umur satu tahun delapan belas hari, pakai baju putih bersih. Baju baru, dibelikan Ibu Ani semalam di toko Waingapu dekat pasar.

Johan di kursi roda pinjaman Mama Leni. Kaki diperban, masih sakit. Tongkat bambu patah kemarin sudah ganti tongkat baru, juga dibelikan Ibu Ani.

Ibu Ani di samping Johan. Kemarin dia berlutut di tanah Kolorai pakai rok mahal. Hari ini dia pakai baju putih polos, sandal jepit putih penuh debu. Tidak pakai tas LV coklat. Tidak pakai sepatu hak tinggi.

Di tangannya cuma ada plastik kecil, di dalam plastik itu ada bunga kuning layu. Bunga yang kemarin dikasih Bintang, sudah layu tapi masih disimpan.

Di depan gedung pengadilan sudah parkir dua Pajero hitam plat B Jakarta dan satu Fortuner putih juga plat Jakarta. Dari Fortuner putih turun lima orang jas hitam rapi, bawa map hitam tebal tulisannya PT NIKEL SEJAHTERA JAKARTA. Di belakang mereka ada satu orang helm hitam.

Helm hitam itu sekarang buka helmnya. Rambut gondrong, leher ada tato naga, mata merah.

Dia jalan langsung ke Ibu Ani.

"Bu Ani, ketemu lagi. Sidang jam delapan. Hakimnya teman bos saya Jakarta. Tanah dua hektar itu sudah pasti jadi milik PT Nikel lima miliar. Anak itu robek cek lima ratus juta kemarin, tidak apa-apa. Hari ini kita bawa cek satu miliar asli untuk Ibu kalau Ibu mau tanda tangan," suaranya pelan tapi semua dengar.

Ibu Ani langsung berdiri di depan Bintang. Tutupi Bintang.

"Tanah itu bukan punya saya lagi. Tiga puluh tahun lalu sudah almarhum Harman tulis untuk cucu. Untuk Bintang. Saya tidak akan tanda tangan."

Pria tato naga itu ketawa.

"Bu Ani lupa? Tujuh tahun lalu Ibu yang telepon bos saya suruh usir Sari dari Jakarta? Sekarang mau jadi pahlawan Kolorai?"

Sari yang gandeng Bintang kaget. Lihat Ibu Ani.

Ibu Ani pelan-pelan ngangguk ke Sari. Matanya merah.

"Iya, Sari... Ibu yang telepon... karena Ibu takut Johan dilumpuhkan... Ibu salah..."

Jam delapan tepat, pintu sidang dibuka. Pak Frans rambut putih masuk duluan. HP-nya masih merekam, merah tanda nyala.

Di dalam ruang sidang dingin AC. Hakim umur lima puluh tahun baju hitam sudah duduk. Di mejanya ada palu kayu.

"Sidang tanah warisan nomor dua belas Kolorai tahun dua ribu dua enam, penggugat PT Nikel Sejahtera Jakarta melawan tergugat keluarga Harman Kolorai, tanah dua hektar, dibuka," hakim ketok palu sekali.

Pengacara PT Nikel langsung berdiri. Buka map hitam tebal. Kasih sepuluh lembar surat ke hakim.

"Yang Mulia, tanah dua hektar Kolorai sudah dibeli PT Nikel seharga lima miliar dari ahli waris sah yaitu Ibu Ani istri almarhum Harman. Ini buktinya, cek lima ratus juta sudah diterima keluarga Kolorai kemarin, tapi dirobek anak kecil. Ini foto cek dirobek, sudah viral. Itu bukti mereka terima uang tapi tidak mau serah tanah. Kami minta hakim putuskan tanah sah milik PT Nikel."

Johan di kursi roda mau berdiri, tapi Pak Frans tahan bahunya.

Pak Frans berdiri pelan. Kasih amplop coklat tua yang lusuh tiga puluh tahun yang kemarin dibawa Ibu Ani ke sabana.

"Yang Mulia, ini foto asli tahun sembilan puluh enam, almarhum Harman berdiri di tanah dua hektar itu, tanam bunga kuning untuk cucunya. Dan ini surat wasiat tulisan tangan almarhum Harman tahun sembilan puluh enam, sebelum meninggal. Tulisnya jelas, 'Tanah dua hektar Kolorai untuk cucu saya, bukan untuk dijual tambang, apalagi lima miliar'. Surat ini disimpan Ibu Ani tiga puluh tahun, baru dibuka kemarin setelah Bintang robek cek lima ratus juta dan kasih bunga kuning ke Neneknya."

Hakim terima foto lama dan surat wasiat itu. Dilihat lama.

Pria tato naga PT Nikel langsung berdiri, teriak.

"Itu surat palsu! Foto lama bisa edit! Yang Mulia jangan percaya keluarga miskin Kolorai rumahnya gosong setengah!"

Waktu pria tato naga itu teriak, Bintang yang dari tadi diam di pangkuan Sari, tiba-tiba turun. Jalan tiga langkah kecil ke depan meja hakim.

Semua kaget. Satpam mau tahan Bintang, tapi hakim angkat tangan.

"Biarkan anak itu."

Bintang tidak bawa apa-apa. Cuma bawa bunga kuning layu yang kemarin dikasih ke Nenek, yang hari ini Nenek kasih balik ke Bintang sebelum masuk sidang.

Bintang taruh bunga kuning layu itu di atas meja hakim. Tepat di atas surat wasiat kakeknya Harman.

"Bunga kakek... untuk Pak Hakim... tanah ini rumah Bintang... bukan tambang..." suara Bintang kecil, tapi di ruang sidang sunyi AC, semua dengar jelas.

Hakim umur lima puluh itu lihat bunga kuning layu di atas surat wasiat. Matanya berkaca-kaca. Dia lihat foto almarhum Harman yang mirip Bintang.

"Pak Hakim juga punya cucu umur satu tahun di Waingapu... cucu Pak Hakim juga suka bunga kuning di sabana..." hakim bicara pelan, suaranya getar.

Pengacara PT Nikel panik.

"Yang Mulia, jangan terpengaruh anak kecil! Ini sidang tanah lima miliar!"

Pria tato naga maju ke meja hakim, mau ambil bunga kuning layu itu dan buang.

Tapi sebelum tangannya pegang bunga, pintu ruang sidang dibuka keras dari luar!

BRAK!

Semua lihat ke pintu.

Masuk wanita tua umur tujuh puluh tahun, rambut putih semua, pakai baju adat Sumba tenun merah, jalan pelan pakai tongkat kayu. Di belakangnya ada dua polisi Waingapu bawa borgol.

Wanita tua itu Mama Lema, ibu kandung almarhum Harman, nenek buyut Bintang. Sepuluh tahun tinggal di gunung Kolorai tidak pernah turun ke Waingapu.

"Mama Lema..." Ibu Ani kaget berdiri, sandal jepitnya lepas satu.

Mama Lema jalan ke depan meja hakim. Tidak lihat PT Nikel, tidak lihat hakim, cuma lihat Bintang.

Dia buka kain tenun merahnya, keluarkan kotak kayu kecil hitam. Kotak sudah empat puluh tahun umurnya.

Dari kotak itu dia keluarkan sertifikat tanah asli. Warna biru. Cap asli BPN Sumba Timur tahun delapan puluh lima. Tulisan tangan. Nama pemilik: HARMAN ANAK LEMA, bukan Ibu Ani.

Di bawah sertifikat itu ada kaset video kecil tahun sembilan puluh enam.

"Ini tanah anak saya Harman, bukan tanah menantu saya Ani. Harman sudah tulis sebelum mati, tanah untuk cucu. Saya simpan sertifikat asli empat puluh tahun di gunung. Saya turun gunung karena lihat video Bintang lari seratus meter dan robek cek lima ratus juta di HP cucu saya.

Saya tidak mau tanah cucu buyut saya jadi tambang," Mama Lema bicara pakai bahasa Sumba campur Indonesia, tapi hakim mengerti.

Pria tato naga yang mau buang bunga tadi, lihat sertifikat asli biru itu, mukanya langsung pucat, mundur dua langkah.

Pengacara PT Nikel juga diam, map hitam tebalnya jatuh ke lantai. Kertasnya berantakan.

Hakim pegang sertifikat biru asli itu. Pegang surat wasiat tulisan tangan. Pegang foto sembilan puluh enam. Dan pegang bunga kuning layu dari Bintang.

Hakim angkat palu kayu tinggi-tinggi.

Semua di ruang sidang tahan napas. Tiga puluh warga Kolorai di luar yang lihat dari jendela juga diam. Sari peluk Bintang erat, perutnya yang hamil sakit lagi. Johan di kursi roda kepalkan tangan. Ibu Ani yang sandal jepitnya lepas, berdiri telanjang kaki satu.

Apakah hakim akan ketok palu untuk keluarga Bintang dan tanah dua hektar tetap jadi Rumah Bintang? Atau hakim yang katanya sudah dibeli PT Nikel lima miliar akan ketok palu untuk PT Nikel dan Bintang harus pindah dari Kolorai besok pagi?

Dan siapa Mama Lema yang tiba-tiba turun gunung bawa sertifikat asli empat puluh tahun itu? Benar nenek buyut Bintang atau orang suruhan?

Palu hakim sudah di atas...

Bagi pembaca yang setia temani bintang sejak lahir, bagaimana pendapat kalian tentang ketuk palu hakim? Jawaban kalian Bintang tunggu untuk di jadikan cerita di bab selanjut.

1
Saint, SN
👋🏻👋🏻
atikah@72: makasih kak, sudah mampir di kolorai🙏🙏
total 1 replies
Paulus Waruwu
kak jnagan lupa mampir di akun aku juga ya
atikah@72: iya kak, salam kenal ya, moga kakak sukses selalu🫰
total 1 replies
oding's
haii ka aku mampir nih semangat yaa😍 yuk mampir jga di karya ku xixi
oding's: semangat trs yaa✨
total 4 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!