Andika pria miskin asal Makassar yg mencoba mengadu nasib di negara Amerika,tepatnya di los Santos,dia berharap menjadi kaya raya dan dapat hidup dengan layak setelah merantau di sana,akan tetapi dia justru terjerumus ke dalam dunia gelap los Santos
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ANDIKA,312, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
episode 9
Musik bass berdentum keras menggetarkan lantai dansa kelab malam Eclipse di pusat kota Los Santos. Lampu neon berwarna ungu dan biru memantul di atas botol-botol sampanye mahal seharga puluhan juta rupiah yang berjajar di meja VIP.
Di tengah keriuhan itu, Tuu Lee duduk bersandar di sofa kulit. Mengenakan kemeja sutra terbukanya, anak tunggal Lee Dong yang baru berusia 19 tahun itu tampak tertawa lepas, merangkul dua wanita di kanan-kirinya sambil menenggak minuman mahal langsung dari botolnya. Di sekelilingnya, teman-teman prianya yang sesama anak kaya tampak sibuk melemparkan lembaran uang ke udara.
"Ini baru namanya hidup!" teriak Tuu Lee menembus kebisingan musik, tertawa sombong sambil memeluk wanita di sampingnya.
Ia sama sekali tidak memedulikan pesan singkat dari ayahnya yang meminta agar ia tidak keluyuran, apalagi memikirkan bahwa puluhan anggota Ying Long saat ini sedang meluncur membawa senapan otomatis di jalanan. Bagi Tuu Lee, nama besar ayahnya adalah jaminan keamanan mutlak di kota ini.
Sementara itu, puluhan kilometer di sebelah selatan kota, suasana yang bertolak belakang menyelimuti kawasan industri Cypress Flats.
Gudang logistik rahasia milik mereka berdiri dalam remang kegelapan malam. Di dalam ruangan luas beraroma oli dan besi itu, Franklin, Andika, dan Lamar memilih untuk bertahan dan tidak pulang ke rumah masing-masing. Mereka sadar betul, setelah pembakaran Red Dragon Club tadi malam, Lee Dong pasti akan membalas dendam secara brutal. Berpisah dan pulang ke apartemen La Puerta atau rumah di Davis sama saja dengan menyerahkan leher ke pisau jagal.
Lamar duduk di atas salah satu peti amunisi sambil mengasah pisau komandonya, matanya menatap tajam ke arah pintu besi utama. "Pilihan bagus kita menginap di sini. Kalau kita pisah, orang-orang Lee Dong bakal memburu kita satu per satu seperti yang mereka lakukan pada L.J."
"Iya," sahut Franklin yang sedang memeriksa isi sisa magazin AK-47 di atas meja kayu. "Di sini kita punya ribuan peluru, proteksi tembok tebal, dan posisi bertahan yang pas. Begitu mereka berani menginjakkan kaki di kawasan ini, kita buat Cypress Flats jadi kuburan mereka."
Andika bersandar di samping tumpukan peti kayu tempat senjata disimpan. Pakaiannya masih bernoda debu pertarungan sebelumnya, dan dua pucuk Micro Uzi tersisip rapi di balik sabuknya. Ia menarik napas panjang, menghembuskan asap rokoknya perlahan ke udara gudang yang dingin.
"Mereka pasti datang," ujar Andika datar, matanya fokus menatap celah pintu gerbang besi yang sedikit terbuka ke arah jalanan luar yang sepi. "Dan saat mereka datang, tidak ada lagi kata mundur."
Tiga orang itu bersiaga penuh di balik barikade peti-peti amunisi. Di luar gudang, angin malam Cypress Flats berembus makin dingin, menyimpan keheningan tegang beberapa saat sebelum badai pertempuran meletus.
Irama deru mesin yang samar-samar mulai memecah keheningan malam di Cypress Flats. Hanya berjarak sekitar 300 meter dari lokasi, konvoi enam sedan hitam milik Ying Long meluncur meliuk-liuk di antara bangunan pabrik yang sepi. Di dalam sedan terdepan, Shen duduk dengan mata membunuh, cengkeraman tangannya makin erat pada senapan serbu di pangkuannya.
Lamar, yang sedang mengintip dari celah ventilasi gerbang besi gudang sambil menyedot rokoknya, mendadak membeku. Cahaya lampu tembak dari enam mobil sedan yang bergerak beriringan memantul di kaca-kaca jendela bangunan seberang.
"Woy! Mereka datang! Enam mobil!" teriak Lamar setengah berbisik tapi penuh kepanikan yang terukur. "Franklin! Andika! Siapkan senjata kalian, mereka sudah sampai di depan!"
Franklin dan Andika langsung bergerak cepat. Tanpa membuang waktu, ketiganya berlari menaiki tangga besi menuju balkon lantai dua gudang—posisi tertinggi yang memberi mereka sudut pandang sempurna ke arah jalanan utama. Lamar mengacungkan pistol Glock-nya, Andika bersiap dengan Micro Uzi di tangan, sementara Franklin mengunci posisi dengan AK-47 yang sudah terkokang.
Sreeech!
Ban-ban sedan Ying Long memekik nyaring saat berhenti secara melintang, mengepung area halaman depan gudang. Puluhan anak buah Shen melompat keluar dengan senjata teracung. Namun, sebelum mereka sempat mengambil posisi berlindung—
DADA-DADA-DADA-DADA-DAT!
Franklin memuntahkan tembakan pertama dari lantai dua! Peluru berkaliber berat dari AK-47-nya langsung menembus kaca depan sedan terdepan, menghancurkan kap mesin dan membuat dua anak buah musuh roboh sebelum sempat melangkah!
"SERANNGGG!" jerit Shen murka dari balik pintu sedan.
Baku tembak paling berdarah dalam sejarah Cypress Flats pun meletus hebat!
RATATATATATAT! BANG! BANG! BANG!
Suara letusan puluhan senjata api memekik telinga, menggema liar di antara dinding-dinding beton kawasan industri. Asap mesiu tebal membumbung tinggi membalut malam. Puluhan peluru dari senapan MAC-10 dan AK-47 milik anak buah Shen bertubi-tubi menghantam dinding luar lantai dua gudang, meremukkan pembatas semen dan memercikkan api serta pecahan batu ke wajah Andika, Franklin, dan Lamar.
Gumpalan tembakan musuh yang sangat masif membuat mereka bertiga kewalahan. Jumlah 25 lawan tiga orang adalah pertempuran yang hampir mustahil.
"Ancuk! Mereka terlalu banyak!" umpat Andika sambil menembakkan Micro Uzi-nya secara presisi dari balik tiang balkon, menjatuhkan satu anggota Ying Long yang mencoba merayap mendekati gerbang.
"Tahan posisi! Manfaatkan ketinggian dan stok amunisi kita!" raung Franklin menembus kebingakan letusan senjata. Ia terus mengganti magazin AK-47-nya yang kosong dengan magazin baru yang melimpah di sampingnya.
Lamar melepaskan tembakan Glock secara sporadis namun agresif. "Ini buat L.J., bajingan!" teriak Lamar histeris.
Pertempuran berlangsung sangat lama dan melelahkan. Menit demi menit berlalu bagaikan neraka; dentuman peluru, tembakan balasan yang tak membalas ampun, serta bau darah dan bensin yang menyengat memenuhi udara. Namun, ketangguhan mental serta pengalaman tempur Andika, Franklin, dan Lamar di jalanan keras mulai membuktikan kelasnya.
Dari posisi lantai dua yang sangat terlindung, tembakan-tembakan presisi mereka bertiga mulai menumbangkan anak buah Shen satu per satu. Musuh yang panik karena rekan-rekannya tewas bertumpukan di sekitar mobil mulai kehilangan arah pertahanan.
Satu jam pertempuran sengit berlalu, gempuran senjata musuh mendadak mereda.
Hening yang mencekam menyergap. Halaman gudang kini dipenuhi belasan bangkai mobil yang berasap dan puluhan jasad anggota Ying Long yang bergelimpangan tak bernyawa di atas aspal basah.
Shen, yang berdiri gemetar di balik sedan paling belakang, mengokang senjata AK-47-nya. Klik. Senjatanya kosong. Ia merogoh sakunya, menembakkan pistol cadangannya—Klik. Kosong juga.
Melihat seluruh pasukannya telah habis terbantai dan amunisinya habis total, rasa percaya diri Shen runtuh seketika. Dengan napas tersengal dan wajah pucat pasi, Shen berbalik dan mencoba berlari tancap gas menembus kegelapan gang sepi di samping gudang.
"Dia mau kabur!" teriak Lamar dari lantai dua.
Franklin tidak membuang waktu. Ia menyipitkan mata, menyejajarkan pembidik AK-47-nya tepat ke arah kaki Shen yang sedang berlari.
BANG! BANG!
Dua tembakan presisi dilepaskan Franklin secara dingin!
"AARGGHH!"
Shen menjerit histeris saat dua peluru menembus kedua lututnya sekaligus. Tubuhnya terlempar dan tersungkur keras menghantam aspal. Tangan kanan Lee Dong yang dulunya sangat ditakuti itu kini terkapar tak berdaya, mengerang kesakitan sambil memegangi kakinya yang mengucurkan darah segar.
Suara langkah kaki boots yang berat terdengar mendekat. Andika, Franklin, dan Lamar berjalan turun dari gudang, melangkah perlahan menghampiri Shen yang tersungkur di tanah.
Shen merayap mundur dengan tubuh gemetar hebat. Air mata dan keringat dingin mengucur deras membasahi wajahnya yang pucat. Pria yang dulu mengeksekusi L.J. tanpa ampun itu kini menangis histeris seperti anak kecil yang ketakutan.
"T-tolong... jangan bunuh saya..." ratap Shen dengan suara serak dan terbata-bata, mengatupkan kedua tangannya memohon ampun. "Saya cuma menjalankan perintah Lee Dong... Tolong, ampun!"
Lamar menatap Shen dengan mata merah membara, menyisipkan senjatanya. Franklin menatap dingin tanpa sedikit pun rasa kasihan di matanya. Andika melangkah paling depan, mencengkeram pistolnya erat-erat dengan rahang mengeras.
"Waktu kau membunuh L.J., apa kau dengar dia memohon?" ujar Andika dengan suara dingin yang menusuk tulang.
"Tidak ada ampun untuk pembunuh kawan kami," tambah Franklin datar.
Tanpa memberi kesempatan lagi bagi Shen untuk meratap, ketiganya secara serempak mengarahkan moncong senjata mereka tepat ke dada dan kepala Shen dari jarak beberapa sentimeter saja!
DADA-DADA-DADA-DADA-DAT! BANG! BANG! BANG!
Hujan peluru dari jarak dekat memuntahkan dendam mereka secara brutal dan tanpa henti. Shen tewas seketika secara sangat mengenaskan di atas jalanan Cypress Flats yang dingin, membayar tuntas kematian Little Jacob malam itu.