NovelToon NovelToon
Indahnya Jatuh Cinta

Indahnya Jatuh Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:24.5k
Nilai: 5
Nama Author: elaretaa

Bagi Ayara, hidup hanya tentang bekerja tanpa pernah mengenal cinta. Namun, saat ia mendaki gunung bersama teman-temannya semuanya berubah. Sebuah pertemuan tak terduga dengan seorang pria di jalur pendakian menjadi awal baru baginya untuk mengenal rasa jatuh cinta.

Bagaimana cerita selanjutnya? Apa yang akan terjadi pada Ayara? Siapa pria yang ditemui Ayara?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jangan Nakutin Ayara

​"Makan yang banyak, Ayara. Jangan sungkan-sungkan, ya. Anggap saja rumah sendiri," ucap Mama Hasna penuh kehangatan, seraya mendaratkan sesendok nasi hangat dan lauk pauk ke atas piring Ayara.

​"Terima kasih, Tante...," cicit Ayara pelan, suaranya terdengar sangat hati-hati.

​"Tante? Panggil Mama saja ya! Sebentar lagi kan kamu mau jadi menantu di rumah ini," potong Mama Hasna cepat dengan mata berbinar-binar ceria, membuat rona merah seketika menjalar membakar pipi Ayara.

​Ayara menelan ludahnya susah payah. Ia melirik sekilas ke arah Papa Aditya, pria paruh baya itu hanya berdehem pelan sembari menyantap makanannya tanpa melontarkan komentar sinis seperti yang dikhawatirkan Ayara sebelumnya.

'Menantu? Ayahnya Mas Althaf saja tidak merestuinya, bagaimana bisa menikah,' batin Ayara.

Setelah hidangan makan malam selesai disajikan dan piring-piring kotor dibereskan oleh pelayan rumah, mereka pindah ke ruang tamu yang luas dan nyaman.

​Althaf dan Ayara duduk berdampingan di atas sofa empuk berbalut kain bludru berwarna krem. Di hadapan mereka, Papa Aditya duduk dengan postur tegap di kursi tunggal, sementara Mama Hasna duduk di sisi suaminya sambil merapikan majalah interior rumah, Kak Indira dan Kak Bima menemani dengan obrolan ringan guna mencairkan suasana.

​Ayara masih merasa tubuhnya kaku, tangannya terus-menerus meremas ujung kardigan rajut yang ia kenakan. Ia tahu, momen penentu dari seluruh ketakutannya malam ini sebentar lagi akan tiba.

​Benar saja, setelah suasana agak tenang, Papa Aditya meletakkan cangkir tehnya di atas meja kecil dengan suara dentingan pelan. Pria paruh baya itu berdehem sekali, lalu mengalihkan seluruh pandangannya langsung ke arah Althaf dan Ayara.

​"Althaf," panggil Papa Aditya dengan suara baritonnya yang tenang dan berwibawa.

​"Iya, Pa," sahut Althaf sigap, tangan kanannya secara refleks terulur merangkul pundak Ayara dengan lembut, memberikan gestur perlindungan yang menenangkan.

​Papa Aditya menatap Ayara lekat-lekat, membuat gadis itu semakin menundukkan kepalanya dalam-dalam. "Ayara, angkat kepalamu. Jangan menunduk terus di depan Papa," ucap Papa Aditya ramah namun tegas.

​Dengan dada berdebar kencang, Ayara perlahan mengangkat wajahnya dan memberanikan diri menatap mata pria paruh baya yang merupakan ayah dari pria yang dicintainya itu.

​"Mengenai perbincangan kita malam ini...," Papa Aditya menjeda kalimatnya sejenak dan menarik napas dalam-dalam.

​"Pertama-tama, Papa ingin meminta maaf secara langsung padamu, Ayara. Atas pertemuan kita yang tidak mengenakkan di kantor hukum tempo hari, Papa waktu itu bersikap dingin dan mungkin membuatmu merasa sedih. Papa hanya... bingung harus bagaimana karena itu pertemuan kita," ungkap Papa Aditya terus terang, sebuah pengakuan yang membuat Ayara maupun Althaf tertegun.

​Mama Hasna tersenyum lebar mendengar suaminya berbicara begitu lapang dada, sementara Ayara merasa tidak enak karena Papa Aditya yang harus meminta maaf terlebih dahulu, harusnya Ayara-lah yang lebih muda meminta maaf terlebih dahulu.

​"Ti-tidak apa-apa, Om... saya mengerti posisi Om sebagai orang tua," jawab Ayara terbata-bata dengan suara parau menahan isak tangis.

​Papa Aditya mengangguk perlahan, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis. "Panggil Papa, jangan Om lagi."

"I-iya, Pa," jawab Ayara.

​"Jadi... Kapan kalian berdua berencana melangkah ke jenjang yang lebih serius? Althaf sudah mendesak Papa untuk menyiapkan semuanya dari minggu lalu," tanya Papa Aditya.

​Ayara membelalakkan mata kaget, ia menoleh ke arah Althaf dengan tatapan memprotes dan Althaf justru tersenyum lebar tanpa rasa bersalah.

​"Secepatnya, Pa. Kalau bisa, bulan depan Althaf udah mulai ngurus berkas di KUA," jawab Althaf mantap tanpa ragu.

​"Wah, gercep banget kamu, Al!" ledek Kak Indira diiringi gelak tawa anggota keluarga lainnya.

​Ayara hanya bisa merona merah padam, menunduk malu di tengah kehangatan keluarga besar Althaf yang ternyata jauh melampaui ekspektasi ketakutannya selama ini.

"Iyalah, Kak. Takut, Ayara berubah pikiran," balas Althaf.

"Emangnya aku udah bilang mau ya?" tanya Ayara.

"Kamu nggak mau nikah sama aku? Kan Papa udah ngasih restu buat kita," tanya Althaf.

"Sayang, kamu jangan takut... Papa sama Mama udah menerima kamu, kami nggak akan mempermasalahkan latar belakang kamu," ucap Mama Hasna.

"Apa kamu masih ragu dengan Althaf?" tanya Papa Aditya.

Ayara melihat tatapan Papa Aditya yang kembali membuatnya takut, Althaf yang melihat hal itupun kembali menatap sang Ayah. "Pa, jangan nakutin Ayara," tegur Althaf.

"Padahal Papa nggak nakutin, Ayara... Papa memang kayak gini ekspresinya, Papa nggak ada marah loh," ucap Papa Aditya.

"Jadi, gimana sayang?" tanya Mama Hasna.

"Apa Ayara bisa bilang dulu ke Ibu, nanti kalau sudah ada keputusan... Ayara kabarin Mas Althaf," jawab Ayara.

"Boleh, kalau bisa dua hari lagi ya... biar minggu depan, aku bisa melamar kamu," ucap Althaf.

"Iya, Mas," jawab Ayara.

.

​Pukul setengah enam pagi, Ayara sudah bangun dan mengenakan seragam pabriknya. Di dapur kecil yang sederhana, ia sibuk membantu ibunya menata beberapa mangkuk sayur dan piring untuk sarapan pagi. Di meja makan yang beralaskan tikar, Arlan sudah duduk menunggu.

​Ibu Yati meletakkan sebaskom nasi hangat di tengah meja, lalu menatap putri sulungnya dengan sorot mata yang penuh kelembutan.

​"Mbak...," panggil Ibu Yati lembut, memecah keheningan pagi. Ayara yang sedang menuangkan air putih ke dalam cangkir langsung menoleh.

​"Iya, Bu?" jawab Ayara sopan.

​Ibu Yati menarik napas pelan, lalu meraih tangan Ayara dan menggenggamnya erat. "Semalam... kamu belum cerita soal bagaimana tanggapan orang tua Nak Althaf waktu kamu ke sana. Apa semuanya baik-baik saja? Tidak ada yang membuatmu bersedih lagi, kan?" tanya Ibu Yati, menyembunyikan cemas seorang ibu di balik senyumannya.

​Ayara tersenyum tipis, ​"Alhamdulillah, semuanya baik, Bu... Bahkan di luar dugaan Ayara," ucap Ayara memulai cerita dengan suara bergetar haru.

​Mendengar penuturan Ayara, mata Ibu Yati berkaca-kaca. Wanita paruh baya itu mengusap lembut punggung tangan putrinya. "Alhamdulillah... doa Ibu selama ini didengar. Nak Althaf memang pemuda yang tulus dan bertanggung jawab, keluarganya juga orang baik."

​Arlan yang sedari tadi menyimak sambil memegang sendok makan langsung bersorak girang. "Wah! Berarti sebentar lagi Mbak nikah sama Bang Althaf!" celetuk Arlan penuh semangat, membuat Ibu Yati dan Ayara tertawa renyah.

​"Kamu ini, ada-ada saja, Lan," tegur Ibu Yati bercanda.

​"Tapi, Bu... minggu depan, keluarga Mas Althaf mau datang ke sini untuk melamar Ayara," ungkap Ayara.

​Ibu Yati dan Arlan saling berpandangan sejenak, Arlan lantas meletakkan sendoknya dan menatap sang kakak dengan sorot mata meyakinkan.

​"Kalau dari Arlan sih, jelas setuju banget, Mbak! Kapan lagi ada cowok sesempurna Bang Althaf yang ngebet pengen nikahin Mbak Ayara? Kalau Mbak tolak, dijamin ntar nyesel," ujar Arlan tanpa ragu.

"Ibu menyerahkan semua keputusan di tanganmu, Mbak. Karena yang akan menjalani rumah tangga itu kamu dan Nak Althaf. Tapi kalau hatimu sudah merasa nyaman, yakin dan mau... jangan ragu lagi. Terimalah lamaran itu," ujar Ibu Yati.

.

.

.

Bersambung.....

1
Asni Mariati
cieeee yg udah punya pacar
merry yuliana
crazy up kak thir💪💪💪🙏🙏🙏😍😍😍
lia juliati
shalat Istikharah neng ara🙏
Aidil Kenzie Zie
nyumbang 1vote tor
Felycia Fernandez
kan waktu di resto juga udah ketemu Lngsung, walaupun cuma sebentar 🤔
Felycia Fernandez
naaah sepemikiran kita Ay...
gimana menghadapi calon mertua yang ngeremehin kita
Nani Haryatiyati
Senin....voteeee
Lala_Syalala
keren Thor,, ditunggu buat kelanjutan ceritanya 💪🏻💪🏻🥰🥰🥰
elaretaa: Terima kasih atas dukungannya Kak🥰🥰🥰🥰❤️
total 1 replies
Indra Reza Zulkifli
jujur li,,,yg beginian cuma ada d dunia novel 🤭
Felycia Fernandez: bener bnget...
dimana mana sekarang orang2 pasti pilih pasangan yang setara,paling tidak setara dalam pekerjaan
total 1 replies
Aidil Kenzie Zie
si Papa pasrah saja sama pilihan anaknya 👍🏻👍🏻👍🏻
lia juliati
semangat althaf 💪
Rizky Manik
apa alasan papa gksukak sama ayara? apa cuman karena beda kasta?
Kaylaa
maksude piye to pak....katane krg suka....apa terpaksa...🤔
Felycia Fernandez: ya terpaksa kk karena takut anaknya marah,gak tulus kan 😆😆😆
total 1 replies
Felycia Fernandez
gak melarang,tapi kamu gak menerima Ayara jadi menantu sama aja boong pak...menantu mana yang mau tiap ketemu mertua tapi mertua nya jutek ke dia😠
Felycia Fernandez
ya gimana nggak minder,bapaknya aja kasar gtu ngomongnya.blom lagi ntar di pernikahan Ayara pasti bakalan sering ketemu mertua nya,pasti dia merasakan takut gak diterima
Felycia Fernandez
kasar ngomongnya,terang terangan mengusir 😠
Aidil Kenzie Zie
terima aja Yara🥰🥰🥰🥰🥰
Aidil Kenzie Zie
Ayara nyerah duluan sebelum berperang 😓😓😓😓 lagian yang mau nikah kan kalian wong Althaf baik banget lagi dimana coba mau cari cowok spek Althaf gitu😓😓😓
Nani Haryatiyati
yaaahhhhh bersambung pemirsa,besok lagiiii
lia juliati
wow..... selamat berjuang althaf
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!