Di dunia tempat Surga mengendalikan takdir dan kekuatan menentukan segalanya, Gu Chenxiao adalah anomali yang tidak pernah tercatat dalam Kitab Surga.
Dengan bantuan Arsip Pengamat Abadi, ia menapaki Dao Iblis yang menentang hukum kosmos. Ia bukan pahlawan yang menyelamatkan dunia, melainkan manipulator yang mempermainkan takdir, memanfaatkan pengkhianatan, dan menjadikan musuh sebagai bidak dalam rencana jangka panjangnya.
Namun, ketika Fondasi Asal mulai mengoreksi keberadaannya, Gu Chenxiao menyadari bahwa dunia yang ia kenal hanyalah sebagian kecil dari rahasia kosmos.
**Jika Surga menentukan takdir semua makhluk, siapa yang berani menentukan takdir Surga?**
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bagas Hirmawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16 — Tanda Terima yang Tidak Pernah Ditulis
Pagi setelah penemuan tiga peti arsip, Gu Chenxiao tidak mengirim siapa pun untuk mencari peti ketiga.
Keputusan itu membuat Paman Fu sedikit heran.
“Jika peti tersebut memang tidak pernah sampai ke penyimpanan pusat, bukankah lebih baik kita segera memeriksa gedung lama?”
“Belum tentu.”
Gu Chenxiao meletakkan dua dokumen di atas meja. Yang pertama adalah daftar pengangkutan dari gedung lama. Yang kedua merupakan catatan penerimaan penyimpanan pusat.
“Lihat tanda pengesahan di sini.”
Paman Fu menunduk. “Pengiriman dinyatakan selesai.”
“Benar. Tetapi siapa yang mengesahkannya?”
“Petugas pengawas pengangkutan.”
“Dan apakah orang itu bertanggung jawab memastikan setiap peti benar-benar diterima oleh penyimpanan pusat?”
Paman Fu memeriksa kembali dokumennya. “Menurut prosedur, ia bertanggung jawab atas keberangkatan dan keamanan pengangkutan. Penerimaan akhir merupakan tanggung jawab bagian penyimpanan.”
“Jadi, tanda pengesahan ini membuktikan apa?”
Paman Fu terdiam sebentar sebelum menjawab, “Bahwa proses pengangkutan dinyatakan selesai oleh petugas yang berwenang. Bukan bahwa ketiga peti sudah diterima.”
Gu Chenxiao mengangguk.
“Bagus. Jangan biarkan sebuah tanda tangan menjawab pertanyaan yang tidak pernah menjadi tanggung jawab penandatangannya.”
Ia mengambil dokumen tersebut lalu menunjuk bagian bawah daftar penerimaan.
“Periksa siapa yang bertugas di bagian penyimpanan pada hari itu. Cari juga apakah petugas yang sama menerima pengiriman lain. Kita perlu mengetahui apakah selisih ini merupakan kejadian tunggal atau bagian dari kebiasaan pencatatan.”
“Bagaimana jika petugasnya sudah meninggal atau meninggalkan keluarga Gu?”
“Cari catatan tugasnya terlebih dahulu. Kita tidak perlu berbicara dengan orang yang belum tentu relevan.”
Paman Fu menerima dokumen itu.
Gu Chenxiao tidak menahannya.
Ia memahami godaan untuk langsung berlari menuju gedung lama, membuka pintu yang telah lama tertutup, lalu berharap menemukan jawaban di antara debu dan peti usang. Namun, tindakan seperti itu hanya akan memuaskan rasa ingin tahu.
Ia belum tahu apakah peti ketiga berisi dokumen penting, perlengkapan biasa, atau bahkan tidak pernah meninggalkan gedung lama.
Jika ia bergerak terlalu cepat, orang-orang akan mengetahui bahwa pengiriman tersebut menarik perhatiannya. Bila ada pihak yang memang mengawasi penyelidikannya, mereka akan memperoleh kesempatan untuk mengubah sesuatu sebelum ia mengetahui apa yang harus dicari.
Untuk saat ini, catatan yang ada masih cukup untuk bekerja.
Dan selama catatan itu masih dapat berbicara, ia tidak membutuhkan pintu yang didobrak.
Menjelang siang, hasil pemeriksaan awal tiba.
Petugas pengangkutan bernama Luo Qiming masih tercatat sebagai anggota keluarga Gu pada saat itu. Ia telah pensiun tiga tahun lalu dan kini tinggal di kediaman cabang sebelah timur.
Petugas penerimaan penyimpanan pusat bernama Wei Cheng juga masih hidup, tetapi sudah tidak lagi bertugas dalam urusan arsip.
Yang lebih menarik, kedua nama itu muncul dalam beberapa pengiriman pada periode yang sama.
Luo Qiming mengawasi lima pengiriman dalam satu minggu. Wei Cheng menerima empat di antaranya.
Pada tiga pengiriman, jumlah barang yang dikirim dan diterima cocok.
Pada satu pengiriman, daftar pengangkutan mencatat delapan peti, sementara catatan penerimaan menyebut delapan peti serta dua gulungan tambahan yang tidak terdapat dalam daftar keberangkatan.
Tidak ada laporan kehilangan ataupun kelebihan barang.
Perbedaan itu mungkin merupakan kesalahan pencatatan. Bisa juga dua gulungan tersebut merupakan dokumen yang disertakan belakangan.
Satu pengiriman lainnya memiliki jumlah yang cocok, tetapi deskripsi isi petinya berbeda antara catatan pengangkutan dan catatan penerimaan.
Dengan kata lain, selisih dalam pengiriman ketiga peti bukan satu-satunya ketidaksesuaian pada masa tersebut.
Namun, itu tidak otomatis membuat semuanya berkaitan.
Gu Chenxiao membaca ringkasan yang disusun Paman Fu.
“Apakah ketidaksesuaian lain itu diperbaiki?”
“Untuk pengiriman dengan dua gulungan tambahan, ditemukan catatan susulan yang menyatakan bahwa gulungan tersebut merupakan lampiran dari bagian administrasi. Tetapi tidak ada nomor registrasi individual.”
“Bagaimana dengan pengiriman yang deskripsinya berbeda?”
“Belum ditemukan catatan perbaikan. Namun, jumlah petinya cocok.”
Gu Chenxiao menyandarkan punggungnya.
Sistem lama tampaknya memang memiliki kelemahan. Pengangkutan barang dan pencatatan dokumen tidak selalu berjalan dengan ketelitian yang sama.
Ini memperlemah satu dugaan: bahwa selisih jumlah pada pengiriman ketiga peti pasti merupakan hasil tindakan yang disengaja.
Namun, ada hal lain yang justru menjadi lebih jelas.
Tanda pengesahan pengangkutan tidak sama dengan tanda penerimaan akhir.
Dalam satu kasus, dua gulungan tambahan dapat dijelaskan melalui catatan susulan. Dalam kasus lain, perbedaan deskripsi belum pernah diperbaiki.
Artinya, arsip lama tidak sepenuhnya konsisten, tetapi ketidakkonsistenan itu juga tidak memiliki satu penyebab yang sama.
“Paman Fu, cari catatan penerimaan untuk tiga peti tersebut dalam daftar kelompok, bukan hanya dalam daftar pengiriman.”
“Jika catatan kelompok juga hanya menyebut dua peti?”
“Kita perlu mengetahui apakah peti ketiga pernah masuk ke penyimpanan mana pun. Jangan menganggap tujuan akhirnya pasti penyimpanan pusat.”
Paman Fu mengangguk.
“Dan apakah kita perlu menghubungi Luo Qiming?”
“Belum. Kita masih memiliki dokumen yang bisa diperiksa tanpa bergantung pada ingatan seseorang.”
Gu Chenxiao menutup ringkasan.
Ingatan manusia adalah sumber informasi yang berguna, tetapi juga sumber kekeliruan. Setelah delapan tahun, seseorang mungkin mengingat urutan peristiwa dengan benar tetapi keliru mengenai tanggal. Ia mungkin mengingat tiga peti tanpa mengingat isinya. Ia mungkin pula mengingat sesuatu yang baru diketahui kemudian, lalu tanpa sadar menganggapnya sebagai bagian dari kejadian awal.
Gu Chenxiao tidak berniat membangun kesimpulan dari ingatan yang belum dibandingkan dengan bukti lain.
Ia akan berbicara dengan mereka jika waktunya tiba.
Dan ketika itu terjadi, ia ingin mengetahui lebih dahulu pertanyaan mana yang benar-benar penting.
Sore harinya, permintaan mengenai buku register surat keluar wilayah barat akhirnya memperoleh jawaban.
Pemeriksaan kondisi fisik buku telah selesai. Bagian administrasi mengizinkan penyalinan halaman yang relevan, tetapi mengharuskan petugas arsip hadir selama proses berlangsung.
Gu Chenxiao tidak keberatan.
Ia mengirim Paman Fu bersama seorang pencatat yang tidak memiliki hubungan langsung dengan pengelolaan aset wilayah barat. Tujuannya sederhana: mendapatkan salinan yang dapat diverifikasi, bukan sekadar mendengar penjelasan lisan.
Dua jam kemudian, mereka kembali membawa enam halaman salinan.
Tidak ada instruksi yang secara langsung menyebut gudang nomor tujuh.
Namun, pada halaman keempat, terdapat sebuah surat penataan arsip dengan nomor yang cocok dengan kode kategori lama pada formulir pemindahan lampiran pemeriksaan aset wilayah barat.
Surat tersebut dikeluarkan oleh bagian pengelolaan aset dan ditujukan kepada kelompok pemindahan arsip.
Isinya singkat.
Dokumen-dokumen yang telah selesai menjalani pemeriksaan administrasi harus dipindahkan ke penyimpanan pusat berdasarkan kategori baru. Lampiran yang tidak memiliki identitas terpisah dapat dicatat di bawah nomor berkas induk, selama hubungan keduanya dapat dipastikan melalui daftar kelompok.
Di bagian bawah, terdapat tanda pengesahan pejabat yang berwenang.
Nama itu masih dapat dibaca.
Gu Hengyuan.
Paman Fu menatap Gu Chenxiao.
“Tuan Muda, ini—”
“Jangan terburu-buru.”
Gu Chenxiao mengangkat satu jari, menghentikannya sebelum kalimat itu selesai.
“Surat ini membuktikan bahwa Gu Hengyuan mengesahkan instruksi penataan arsip. Surat ini tidak membuktikan bahwa ia mengetahui isi setiap peti, apalagi bahwa ia menyebabkan ketidaksesuaian dalam penerimaan.”
Paman Fu menunduk. “Saya mengerti.”
Gu Chenxiao membaca surat itu sekali lagi.
Kali ini, tanda tangan Gu Hengyuan bukan sekadar nama yang muncul pada dokumen lama. Ia terhubung dengan sebuah prosedur yang memang berkaitan dengan pemindahan arsip wilayah barat.
Tetapi kewenangannya harus dipahami secara tepat.
Ia mengesahkan penataan arsip.
Ia belum tentu mengawasi pengangkutan.
Ia belum tentu menerima peti.
Dan ia belum tentu mengetahui bahwa salah satu dokumen kehilangan rujukan registrasinya setelah pembaruan sistem.
Gu Chenxiao tidak membutuhkan seseorang untuk menjadi bersalah hanya agar penyelidikannya memiliki arah.
Ia membutuhkan bukti yang dapat bertahan setelah semua penjelasan diperiksa.
“Paman Fu, cari lampiran dari surat ini. Terutama daftar kelompok yang disebutkan dalam instruksinya.”
“Apakah daftar itu berbeda dari daftar pengangkutan tiga peti?”
“Mungkin. Kita belum tahu.”
Gu Chenxiao menunjuk kalimat tentang lampiran yang tidak memiliki identitas terpisah.
“Jika ada dokumen yang dipindahkan di bawah nomor berkas induk, daftar kelompok seharusnya menjelaskan dokumen mana yang berada di dalamnya. Jika daftar itu tidak ditemukan, kita harus mencari tahu apakah ia tidak pernah dibuat atau hanya tersimpan di tempat lain.”
Paman Fu menerima salinan surat.
“Dan jika nama gudang nomor tujuh muncul di sana?”
“Barulah kita memiliki hubungan yang lebih langsung.”
Gu Chenxiao tersenyum tipis.
“Jangan memberikan kepadaku kesimpulan sebelum dokumennya sendiri siap berbicara.”
Malam itu, sebuah undangan datang dari kediaman Gu Hengyuan.
Sang tetua mengundang Gu Chenxiao untuk minum teh keesokan harinya. Undangan tersebut ditulis dengan bahasa yang sopan, tanpa menyebutkan penyelidikan atau dokumen apa pun.
Paman Fu meletakkan surat itu di meja.
“Apakah Tuan Muda akan datang?”
“Tentu.”
Paman Fu tampak ragu.
“Apakah kita perlu mempersiapkan pertanyaan mengenai surat penataan arsip?”
“Tidak.”
Gu Chenxiao memandang undangan tersebut.
“Jika ia ingin membicarakan surat itu, biarkan ia memulainya. Jika ia hanya ingin minum teh, kita akan minum teh.”
“Namun, jika ia bertanya tentang penyelidikan?”
“Aku akan menjawab sesuai kebutuhan.”
Ia mengangkat surat itu, lalu meletakkannya kembali.
Gu Hengyuan adalah tetua keluarga Gu yang memiliki pengalaman panjang dalam pengelolaan aset. Ia telah mengesahkan instruksi penataan arsip delapan tahun lalu, meminjam sebuah buku tujuh bulan sebelumnya, dan menyetujui pemindahan sebuah rak enam bulan lalu.
Semua itu merupakan fakta yang dapat diverifikasi.
Tetapi ketiga hal tersebut tidak otomatis membentuk satu rangkaian kejahatan.
Bisa saja semuanya merupakan bagian dari pekerjaan rutinnya.
Bisa pula ada satu keputusan di antara semuanya yang memiliki arti lebih besar daripada yang terlihat.
Gu Chenxiao belum mengetahui jawabannya.
Namun, undangan tersebut menawarkan kesempatan untuk mengamati bagaimana Gu Hengyuan berbicara ketika tidak sedang menjawab pertanyaan resmi.
Bukan untuk menebak kebenaran dari gerak-gerik kecil.
Ia tidak percaya pada permainan semudah itu.
Sebaliknya, ia ingin mengetahui apakah Gu Hengyuan akan membahas urusan administrasi dengan sendirinya, apakah ia memiliki pertanyaan mengenai prosedur baru, atau apakah pertemuan itu sama sekali tidak berkaitan dengan penyelidikan.
Apa pun hasilnya, ia akan memperoleh informasi mengenai cara tetua itu memandang keadaan saat ini.
Dan informasi semacam itu memiliki nilai.
Keesokan harinya, Gu Chenxiao tiba di kediaman Gu Hengyuan tepat pada waktunya.
Kediaman sang tetua berada di bagian timur kompleks keluarga Gu, jauh dari arena latihan generasi muda. Halamannya sederhana, tetapi setiap benda diletakkan pada tempatnya. Tidak ada hiasan berlebihan, hanya bebatuan tua, pohon bambu, dan sebuah meja batu di bawah atap terbuka.
Gu Hengyuan menyambutnya dengan senyum tipis.
“Kau semakin jarang terlihat di paviliun latihan.”
“Akhir-akhir ini saya memiliki beberapa urusan administrasi.”
“Urusan administrasi?” Gu Hengyuan menuangkan teh. “Untuk seseorang yang masih berada di tahap Pembangunan Fondasi, kau tampaknya lebih tertarik pada tumpukan kertas daripada pil dan teknik.”
Gu Chenxiao menerima cangkirnya.
“Teknik dapat dipelajari kembali. Catatan yang salah terkadang menimbulkan masalah yang jauh lebih lama.”
Gu Hengyuan tertawa pelan.
“Kalimat yang cukup dewasa.”
Mereka membicarakan beberapa urusan keluarga, keadaan generasi muda, dan persiapan ujian berikutnya. Gu Hengyuan sesekali mengajukan pertanyaan mengenai latihan Gu Chenxiao, tetapi tidak menunjukkan minat berlebihan pada kemampuan bertarungnya.
Tidak ada yang mencurigakan dari percakapan tersebut.
Setelah beberapa saat, Gu Hengyuan meletakkan cangkirnya.
“Aku mendengar bagian pengelolaan aset sedang memperbarui prosedur inventaris gudang nonaktif.”
“Benar. Pemeriksaan itu merupakan bagian dari pembaruan administrasi.”
“Apakah semua gudang akan diperiksa secara fisik?”
“Bergantung pada status dan kelengkapan catatan masing-masing gudang. Prosedur yang berlaku tetap menjadi dasar.”
Gu Hengyuan mengangguk.
“Bagus. Jangan sampai pembaruan aturan membuat petugas menganggap semua keputusan lama sebagai kesalahan. Banyak keputusan dibuat berdasarkan informasi yang tersedia pada masa itu.”
Gu Chenxiao menatapnya.
“Keputusan lama harus dinilai berdasarkan prosedur dan informasi yang tersedia ketika keputusan dibuat. Namun, jika catatannya tidak lengkap, kita juga tidak boleh menganggap semua hal telah selesai hanya karena ada tanda pengesahan.”
Gu Hengyuan tidak segera menjawab.
Kemudian ia tersenyum.
“Benar. Catatan yang tidak lengkap memang harus diperiksa. Tetapi pemeriksaan harus memiliki batas. Jika tidak, setiap ketidaksesuaian kecil akan menghabiskan waktu keluarga.”
“Karena itu saya meminta pemeriksaan dilakukan secara bertahap.”
“Pendekatan yang baik.”
Gu Hengyuan mengangkat cangkirnya.
Percakapan itu berlangsung tenang. Tidak ada ancaman, tidak ada pengakuan, tidak ada kalimat yang dapat dijadikan bukti mengenai gudang nomor tujuh.
Gu Chenxiao juga tidak mengungkit surat penataan arsip.
Ia datang untuk minum teh.
Dan ia telah mendapatkan apa yang bisa diperoleh dari pertemuan tersebut tanpa memaksakan makna yang tidak ada.
Ketika ia berpamitan, Gu Hengyuan mengantarnya sampai ke halaman.
“Chenxiao,” kata sang tetua, “jangan terlalu cepat menganggap orang yang membuat kesalahan sebagai orang yang ingin menyembunyikan sesuatu.”
Gu Chenxiao berhenti sebentar.
“Saya setuju, Tetua.”
“Bagus.”
Gu Chenxiao membungkuk hormat, lalu pergi.
Sepanjang perjalanan kembali, ia mengingat kalimat itu.
Bukan karena kalimat tersebut membuktikan bahwa Gu Hengyuan bersalah.
Justru sebaliknya.
Kalimat itu merupakan nasihat yang masuk akal, terutama bagi seseorang yang telah lama menangani administrasi. Kesalahan pencatatan memang tidak selalu berarti niat buruk.
Namun, ia juga mencatat bahwa Gu Hengyuan telah membicarakan pembaruan inventaris tanpa ditanya.
Itu mungkin sekadar kabar yang beredar di antara para tetua.
Mungkin pula Gu Hengyuan memang memperhatikan perubahan prosedur.
Gu Chenxiao tidak akan memilih salah satu penjelasan hanya berdasarkan percakapan singkat.
Ia hanya menambahkan satu catatan di dalam pikirannya:
Gu Hengyuan mengetahui bahwa pembaruan inventaris sedang berlangsung, tetapi belum diketahui seberapa banyak ia mengetahui tentang pemeriksaan gudang nomor tujuh secara khusus.
Itulah batas pengetahuannya saat ini.
Dan batas semacam itu harus dijaga.
Ketika Gu Chenxiao kembali ke kediamannya, Paman Fu sudah menunggu.
Mereka belum menemukan daftar kelompok yang disebutkan dalam surat penataan arsip. Namun, bagian administrasi pusat menemukan sebuah buku penerimaan lama yang memuat catatan mengenai tiga peti tersebut.
Buku itu mencatat bahwa dua peti diterima di penyimpanan pusat pada hari pengiriman.
Peti ketiga tidak tercantum.
Di bagian bawah halaman terdapat tanda pengesahan bahwa seluruh pengiriman untuk hari itu telah diperiksa.
Nama pengesahnya bukan Gu Hengyuan.
Nama itu milik seorang pejabat administrasi pusat yang telah meninggal enam tahun lalu.
Dengan demikian, surat Gu Hengyuan dan catatan penerimaan berada pada dua tahapan yang berbeda. Ia mengesahkan instruksi penataan arsip, sementara pejabat lain mengesahkan pemeriksaan penerimaan.
Tidak ada dasar untuk menyatukan tanggung jawab keduanya tanpa bukti tambahan.
Paman Fu menunggu instruksi.
Gu Chenxiao memeriksa catatan penerimaan sekali lagi.
“Cari daftar kelompok yang digunakan oleh petugas penerima. Jika daftar itu tidak ada, periksa apakah ada laporan pemeriksaan susulan untuk pengiriman hari tersebut.”
“Baik.”
“Dan Paman Fu?”
“Ya, Tuan Muda?”
“Jangan mencari nama seseorang yang bisa disalahkan. Cari dokumen yang seharusnya ada jika prosedurnya benar-benar dijalankan.”
Paman Fu membungkuk dan pergi.
Gu Chenxiao duduk sendirian di ruang kerja.
Tiga peti telah dikirim.
Dua peti diterima.
Satu tanda pengesahan menyatakan pengiriman hari itu telah diperiksa.
Namun, ia masih tidak tahu apakah peti ketiga berisi lampiran pemeriksaan aset wilayah barat, dokumen biasa, atau sesuatu yang sama sekali tidak berkaitan dengan gudang nomor tujuh.
Ia juga belum tahu apakah selisih tersebut merupakan kesalahan, kelalaian, atau tindakan yang disengaja.
Tetapi sekarang, penyelidikannya tidak lagi bergantung pada satu nomor arsip yang hilang.
Ia memiliki urutan tindakan yang dapat ditelusuri: instruksi penataan, pengangkutan, penerimaan, dan pengesahan akhir.
Setiap tahap memiliki orang yang berbeda, tanggung jawab yang berbeda, dan catatan yang seharusnya berbeda.
Jika sesuatu memang telah hilang, maka ada kemungkinan bahwa orang-orang yang terlibat tidak semuanya mengetahui hal yang sama.
Seseorang mungkin telah mengirim tiga peti dengan benar.
Seseorang mungkin hanya menerima dua.
Seseorang mungkin mengesahkan laporan berdasarkan daftar yang diserahkan kepadanya.
Dan seseorang mungkin tidak pernah menyadari bahwa satu dokumen penting tidak lagi memiliki tempat yang dapat ditemukan.
Atau, mungkin tidak ada seorang pun yang sengaja menghilangkannya.
Gu Chenxiao memandang api lampu minyak di sudut ruangan.
Ia tidak peduli penjelasan mana yang paling dramatis.
Ia hanya ingin mengetahui penjelasan mana yang dapat bertahan setelah seluruh catatan diperiksa.
Di buku catatannya, ia menulis satu kalimat terakhir sebelum menutupnya.
Seseorang dapat mengesahkan sebuah proses tanpa mengetahui hasil akhirnya. Tetapi siapa yang pertama kali mengetahui bahwa hasil akhirnya berbeda dari yang seharusnya?
Pertanyaan itu tidak menyebut nama.
Belum.
Namun, untuk pertama kalinya, Gu Chenxiao tidak lagi sekadar mencari dokumen yang hilang.
Ia mulai mencari momen ketika seseorang seharusnya menyadari bahwa sesuatu telah hilang.
Dan terkadang, momen itulah yang jauh lebih sulit disembunyikan daripada benda yang lenyap.