"Kamu sudah menganggap anak kita adalah sebuah kutukan, maka suatu hari nanti dia akan benar benar menjadi sebuah kutukan untuk keluarga kamu mas!"
Itu adalah kata kata terkahir Riyanti yang bisa di dengar oleh suaminya Raditya ketika di tepi jurang.
Apa yang terjadi sebenarnya? kenapa bisa seseorang bisa menjadi terkutuk?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ridwan01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Membawa peti mati
Di ruang tamu, Sultan sudah mulai sadar, boneka miliknya juga sudah tidak hitam lagi dan mulai menguning sama dengan boneka lain yang sudah di amankan oleh Adrian.
"Terus bisikan ayat ayat suci Al-Qur'an di telinganya sampai warna boneka itu jadi putih kembali, baru kita bakar" ucap Adrian
"Baik Abah yai" jawab Shaquilla yang sekarang membantu Adrian supaya Sultan cepat sadar.
"Terima kasih " lirih Sultan dan di angguki Adrian
"Assalamu'alaikum"
"Wa'alaikumussalam... Alhamdulillah bagaimana Kanaya?" Tanya Adrian
"Kanaya kena infeksi saluran pernafasan dan detak jantungnya sempat lemah, masih dalam pantauan dokter" jawab Irsyad memberikan rambut Gita pada Adrian.
"Ayo kita mulai memusnahkan guna guna ini, menguburkan peti itu, dan setelah itu kita ke rumah sakit" ucap Adrian
Adrian mulai mengumpulkan boneka boneka santet itu setelah berubah menjadi putih semuanya, bahkan Abidzar juga sudah mengumpulkan buhul buhul yang ada di sekeliling rumah tempat Kanaya dan teman temannya berada, kemudian mengumpulkan semuanya dalam satu wadah dan membakarnya setelah membaca ta'awudz dan basmallah.
Pyar. Pyar. Pyar.
Dhuar. Dhuar.
Percikan api itu terlihat memercik ke segala arah, di setiap sudut rumah pondok, bahkan suara ledakan itu sampai membuat para santri dan beberapa tetangga terkejut mendatangi pesantren, Adrian hanya mengatakan kalau itu adalah ledakan dari kembang api yang rusak dan mereka percaya lalu memilih kembali ke rumah mereka.
"Ayo kita ke air terjun mayat karena hanya para manusia yang harus melakukan ini"
"Abidzar, telepon Aariz untuk membersihkan rumah ini" ucap Adrian
"Iya Opa" jawab Abidzar
Peti mulai di angkat ke dalam mobil box yang di sewa Mirza, mereka berangkat setelah Gerhana tiba dan membawa alat alat seperti cangkul dan juga linggis, tak hanya mereka, ada satu orang lagi yang di minta Adrian datang sejak dua hari yang lalu dia melihat keanehan di dalam tubuh Gita.
Orang itu adalah Dimas, dia ikut dengan mereka karena tenaganya di butuhkan untuk membawa peti mati itu sampai ke air terjun dengan aman dan tidak ada gangguan.
Aryasatya dan Arthayasa mengawal mereka agar mereka tidak di berhentikan di jalan tol menuju ke tempat itu, tempat dimana dulu Langit sempat terjebak di dunia gaib. Sedangkan Irsyad akan tetap di sana untuk menjaga Kanaya.
Delapan jam perjalan mereka terus mendapatkan gangguan berupa jalan yang berkabut, banyaknya ular yang melintas di jalan dan juga hujan yang tiba tiba turun dengan derasnya membuat jalan ke air terjun itu terganggu, mereka banyak terpeleset dan hampir jatuh ke jurang yang berada di bawah jalan setapak menuju ke air terjun
"Bertahan, ini gangguan dari mereka agar kita menyerah!" Teriak Adrian yang masih mengangkat peti itu agar tidak terjatuh.
Gerhana, Dimas, Mirza dan Aryasatya yang ikut mengangkat peti itu mengangguk meski kaki mereka juga terasa berat, karena peti itu lebih tepatnya jasad Gita terasa seperti batu besar yang sulit di angkat.
"Kita bahkan tidak bisa mengangkat meski sedikitpun peti itu, mereka hebat" bisik Arthayasa yang mengawasi di belakang bersama Azam adiknya.
"Itu sebabnya mereka punya kelebihan di banding kita bang, dan Opa Adrian memilih mereka" jawab Azam
Dua jam perjalanan mereka akhirnya sampai di air terjun itu, tidak ada mayat lagi yang ada di sana, bahkan air terjun itu sekarang terlihat jernih dan tidak ada lagi bau mayat di sana
"Mulai gali"
Arthayasa dan Azam mulai mengambil alat alat dan menggali di tempat yang di tunjuk Adrian, di sisi batu besar yang tersembunyi dengan semak semak yang menjalar dari arah atas tebing di sisi air terjun itu, di samping kuburan sesosok iblis bernama Maya.
Bruk. Bruk. Bruk.
Suara benturan cangkul yang menghantam tanah juga linggis terdengar bersahutan dengan derasnya hujan di tempat itu, peti juga masih terus bergerak meski energi Adrian dengan kuat menahannya, sepertinya ular itu tahu dia sekarang akan di kuburkan di tempat yang tidak mungkin di datangi manusia.
"Ssstttt..."
Suara desisan ular terdengar di dalam peti itu, ular itu sudah bisa keluar dari perut Gita dan terus berusaha mendobrak peti mati agar terbuka dan dia bisa bebas.
"A'udzubiilaahiminassyaitoonirrojiim" Adrian menyentuh peti itu dan kembali membacakan wirid pengunci seperti dia mengunci sosok anak kecil yang ada di dalam mobil Sagara beberapa tahun yang lalu.
"Selesai Opa, lubangnya sudah cukup besar dan dalam" ucap Arthayasa ketika dia selesai menggali lubang untuk mengubur peti itu.
Adrian dan yang lain kembali mengangkat peti itu yang beratnya semakin bertambah, bahkan mereka sampai sedikit menyeretnya agar bergerak.
"Bismillahirrahmanirrahim... Allahu Akbar!" ucap mereka bersamaan ketika memasukkan peti itu kedalam lubang.
"Segera kubur dengan terus membaca ayat kursi jangan putus sampai tanah ini kembali rata" ucap Adrian segera memasukkan tanah tanah itu ke dalam lubang yang sudah di isi peti jasad Gita dan ular itu.
Srak. Srak. Srak.
Gerhana bahkan menggunakan tangannya agar semuanya segera selesai dan dia bisa menemui Kanaya juga mengetahui Kondisinya di rumah sakit.
Hening......
Hanya suara hujan yang terdengar setelah proses penguburan itu selesai, mereka terduduk dengan nafas terengah engah sambil menatap satu sama lain.
"Alhamdulillahirobbil aa'lamiin" ungkap mereka mengusap wajah mereka yang letih.
"Setelah hujan reda baru kita turun, tunggu adzan subuh berkumandang dan kita pulang" ucap Adrian
"Tapi Abah yai.."
"Insya Allah Kanaya baik baik saja, teman teman kamu juga kamu juga" potong Dimas dan Gerhana mengangguk.
Dimas memeluk Gerhana yang mulai terisak lagi, dia tahu perasaan cemas dan khawatir yang di rasakan Gerhana saat ini, karena dulu dia juga pernah mengalaminya saat Almarhum ibunya harus meninggal setelah melahirkan adiknya Satria, bahkan kejadian itu membuat Gerhana sering merasa takut jika ada seorang perempuan yang terluka apalagi kalau perempuan itu adalah orang yang dia sayangi.
"Tidak apa apa, menangislah, setelah ini kamu harus kuat agar saat melihat Kanaya, kamu bisa menguatkan dia juga" ucap Dimas
"Om tahu tentang Kanaya?" tanya Gerhana
"Ayah Hala mengatakan semuanya pada Om" jawab Dimas
Yang lain juga ikut memeluk Gerhana agar dia bisa lebih tenang dan tidak kembali menangis, terutama Mirza yang merasa seharusnya sekarang bersama Shaquilla dan memberikan energi miliknya agar Kanaya bisa segera pulih, tapi kondisi tidak memungkinkan, jika dia egois menemani Shaquilla, maka pengorbanan Kanaya akan sia sia, Sultan akan tetap ada dalam pengaruh guna guna Gita begitupun yang lain.
"Kita Pagari tempat ini sebelum pergi agar tidak ada dukun ataupun orang yang bisa di jebak ular itu" ungkap Adrian menghentakkan tongkatnya dan keluarlah Samen.
"