Saat Arsenio Malik (29) memilih untuk menikahi kakak kandung Seraphina Allena (25) yang bernama Kalani Gianna (27), hati Seraphina saat itu benar-benar patah. Dia diberi pengkhianatan ganda dari dua orang yang tak pernah ia sangka akan tega menusuknya dari belakang. Kalani ternyata sudah hamil. Dan, kedua orangtua mereka malah berdiri di sisi Kalani untuk membela kesalahan anak pertama mereka.
Saat Seraphina merasa ditinggal sendirian di dunia ini, datanglah Kaivan Lyonel Marvin (30) yang menjadi obat bagi luka hati Seraphina. Karena kelembutan dan perhatian Kaivan, Seraphina akhirnya memutuskan untuk menerima lamaran dari pria itu.
Namun, empat tahun setelah pernikahan mereka, Seraphina baru tahu jika ternyata Kaivan menikahinya hanya supaya Seraphina tidak mengusik pernikahan Kalani dan Arsenio.
Pria yang sudah menjadi suaminya itu ternyata juga mencintai Kalani. Dia bahkan rela berkorban dengan menikahi Seraphina hanya demi memastikan agar Sera tidak balas dendam kepada Kalani.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Itha Sulfiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3
"Masih belum berangkat?"
Baik Kaivan maupun Kalani tampak terperanjat kaget saat suara Seraphina yang tak sehangat biasanya terdengar dari belakang mereka.
Keduanya reflek mengikis jarak. Tangan Kaivan yang semula menggenggam erat tangan Kalani juga ikut ditarik secara paksa.
"I-ini baru mau berangkat," balas Kaivan sambil berdiri dari kursinya.
"Kaivan, apa aku boleh menumpang mobilmu?" tanya Kalani. "Mobilku sedang mogok."
"Tentu saja boleh," angguk Kaivan senang.
Baginya, waktu berduaan dengan Kalani adalah momen terindah dalam hidupnya. Walau hanya bisa menjaga Kalani sebagai ipar, namun Kaivan sudah cukup puas.
Setidaknya, dia bisa melihat Kalani. Setidaknya, dia masih bisa memastikan jika Kalani tak kekurangan apapun.
"Sera, kamu tidak keberatan, kan?" tanya Kalani kepada sang adik.
Dia menyentuh pelan lengan Seraphina. Wajahnya mendekat, kemudian bibirnya berbisik pelan di telinga sang adik.
"Aku akan merebut Kaivan kembali."
Seraphina tidak mengamuk seperti biasa. Seraphina hanya diam. Hening.
Hal itu membuat Kalani jadi tidak nyaman.
"Sera, kenapa hanya diam saja? Apa kamu keberatan jika aku menumpang mobil suamimu?"
Wajah Kalani memelas. Berpura-pura sedih.
"Sera..."
"Tidak."
Ucapan Kaivan terpotong saat suara Seraphina terdengar tegas.
"Aku tidak keberatan sama sekali. Kamu kakak iparnya. Wajar, jika suamiku membantumu, kan? Lagipula..."
Seraphina sengaja melilitkan lengannya di lengan sang suami.
"... Aku tahu benar jika suami Kakak memang tidak sehebat suamiku. Arsenio itu, dari dulu memang egois. Dia hanya mementingkan diri sendiri dan tidak pandai memanjakan wanita."
Sudut bibir Seraphina sedikit terangkat. Dia tersenyum mengejek. Tipis sekali.
"Untung Kakak mengambilnya dariku. Kalau tidak, mana mungkin aku bisa bertemu dengan pria sehebat Kaivan."
Telapak tangan Seraphina mengepal kuat. Cemburu membakar seluruh akal sehatnya.
Kenapa?
Kenapa Seraphina selalu mendapatkan yang terbaik sementara dirinya tidak?
"Sera, apa yang kamu bicarakan?" protes Kaivan. Pria itu resah melihat perubahan ekspresi wajah Kalani.
Pasti, wanita yang dia cintai itu terluka akibat kata-kata Seraphina.
"Lihat, kamu membuat kakakmu sendiri jadi sedih," lanjut Kaivan.
"Oh, maaf!"
Seraphina memasang tampang berpura-pura peduli.
"Aku benar-benar tidak peka. Kak, maaf!" ucapnya dengan sorot mata penuh dengan ejekan.
Sebisa mungkin, Kalani tetap berusaha mengontrol emosinya. Dia tak boleh meledak didepan Kaivan. Hal itu hanya akan menghancurkan citra baiknya didepan lelaki itu.
"Tidak apa-apa," sahut Kalani. "Aku mengerti. Kamu hanya terlalu membanggakan Kaivan. Tapi, Seraphina..."
Kalani tersenyum sinis. "... hati-hati!" lanjutnya. "Jangan terlalu sering mengatakan kelebihan Kaivan didepan wanita lain. Takutnya, ada yang tertarik dan malah merebut Kaivan darimu."
Seraphina tertawa.
"Aku hanya mengatakan soal kelebihan Kaivan didepan Kakak saja. Karena, aku percaya... Kakak tidak mungkin tega merebut lelaki ku untuk yang kedua kalinya, kan?"
Udara mendadak terasa panas. Ruangan itu seketika hening.
Kalani mengepalkan kedua tangannya. Kuku-kukunya yang panjang terawat menusuk telapak tangannya sendiri hingga memerah.
********
Malam harinya, Seraphina dan Kaivan diundang ke rumah orangtua Seraphina untuk makan malam. Tak hanya mereka berdua. Kalani, Arsenio, dan Meysha, putri kecil mereka juga ikut diundang.
"Halo, Sayang!"
Begitu sampai, Kaivan langsung menggendong Meysha. Gadis kecil berusia empat setengah tahun itu memang sangat akrab dengan Kaivan.
"Uncle Kai," sapa Meysha riang.
"Kai, lihat! Meysha memang sangat menyukai mu. Dia bahkan terus menanyakan tentangmu saat di rumah tadi. Dia bilang, kapan aku bisa bertemu Uncle Kai?"
Keduanya tertawa.
Kalani dan Kaivan.
Mereka mengobrol dalam posisi yang sangat dekat.
Kaivan duduk memangku Meysha sementara Kalani berada disampingnya sambil memegang bahunya mesra.
Lalu, dimana Seraphina?
Seraphina duduk didepan mereka. Cosplay menjadi pajangan keramik mahal yang tak dipedulikan keberadaannya.
"Sera..."
Arsenio mendekat. Pria itu duduk di sebelah Seraphina.
"... Apa kamu tidak cemburu dengan kedekatan mereka?"
"Untuk apa? Kedekatan mereka wajar-wajar saja. Kakak dan adik ipar, kan?"
Seraphina menyesap wine-nya dengan anggun. Disampingnya, Arsenio tampak begitu frustasi.
"Sera, apa kamu tidak sadar jika mereka saling menyukai?"
Tatapan Seraphina tertuju pada Arsenio. Sisa wine miliknya dia siramkan ke wajah pria itu.
Nada suaranya terdengar meninggi. "Jangan suka menebar fitnah, Arsen. Apalagi, tentang hubungan suami dan kakak kandung ku."
Percakapan di sofa seberang mendadak terhenti. Jarak yang semula begitu dekat, kini reflek terpisah saat suara Seraphina terdengar lantang.
"Arsen, jangan asal bicara!" kata Kaivan sambil menurunkan Meysha dari pangkuannya. "Apalagi, jika berani menghasut istriku agar salah paham dengan hubungan antara aku dan Kalani."
"Iya, Arsen," Kalani ikut menambahkan.
"Aku dan Kaivan sudah kenal lama. Bahkan, jauh sebelum Sera dan Kaivan menikah. Jadi, wajar jika kami sangat akrab, kan? Kalau kamu cemburu, datang saja padaku! Jangan lampiaskan kecemburuan itu dengan cara menghancurkan hubungan rumah tangga antara Sera dan Kaivan."
Arsenio merasa terpojok. Dia marah pada semuanya.
Marah pada Kalani yang ternyata tidak sebaik kelihatannya.
Marah pada Kaivan yang sangat jelas menginginkan istrinya.
Dan, marah pada Seraphina yang jelas-jelas sedang diselingkuhi tapi masih saja membela Kaivan dan juga Kalani.
"Sera, lihat saja nanti! Kaivan dan Kalani tidak sebaik yang kamu pikirkan."
Arsenio memilih pergi. Dia tak peduli lagi dengan agenda makan malam yang lima menit lagi akan diadakan.
Yang dia pedulikan hanya satu. Dia ingin melampiaskan amarahnya tapi tidak ditempat itu.
Makan malam akhirnya dimulai. Untuk pertama kalinya, Seraphina benar-benar makan dengan lahap.
Dia tidak mengupaskan kulit udang lagi untuk suaminya. Dia tidak berusaha mendinginkan sup daging lagi untuk suaminya.
Dia hanya benar-benar makan tanpa berusaha terlibat dalam pembicaraan seru antara kedua orangtuanya, kakaknya, dan juga suaminya.
"Kalian berdua ini memang benar-benar cocok," seru Romi dengan sisa tawa yang masih terdengar dari mulutnya.
"Kamu dengar itu, Kaivan?" Kalani yang duduk disamping Kaivan menepuk pelan lengan pria itu.
"Ayah saja setuju kalau kita berdua ini memang sangat cocok," lanjut Kalani.
Prang.
Seraphina menarik perhatian saat dia tak sengaja menyenggol gelas yang diletakkan pelayan tepat disamping kirinya.
Tawa langsung terhenti. Berganti tatapan penuh kekesalan dari kedua orangtuanya.
"Maaf," ucap Seraphina. "Aku tidak sengaja. Akan ku bereskan."
Dia lekas berjongkok. Memungut pecahan beling itu satu persatu.
"Biar saya bantu, Nona," kata seorang pelayan.
"Tidak usah dibantu!" seru Romi menghentikan gerakan pelayan itu.
"Sejak kecil, dia memang sangat ceroboh. Berbeda sekali dengan Lani. Jadi, biarkan dia membereskan kekacauan yang dia buat sendiri."
Seraphina tersenyum getir. Dia memang sedikit ceroboh sejak kecil. Tapi, setidaknya dia tidak pernah mempermalukan nama keluarga seperti yang dilakukan oleh Kalani.
Tapi, mau seperti apapun dirinya... bagi kedua orangtuanya hanya ada Kalani di mata mereka.
"Argh!"
Seraphina memekik kecil. Salah satu beling menusuk jari telunjuknya hingga berdarah.
Akhirnya, dia punya alasan untuk menangis.
"Sera, kamu tidak apa-apa?"
Kaivan lekas berjongkok. Dia memeriksa luka istrinya lalu tanpa pikir panjang langsung menghi sap telunjuk Seraphina yang berdarah.
"Jangan menangis!" hibur Kaivan. "Walaupun sakit, tapi pasti akan cepat sembuh."
"Tolong ambilkan kotak obat! Lukanya perlu dibersihkan," titah Kaivan pada pelayan.
"Kaivan," panggil Kalani. "Seraphina hanya sedang cari perhatian. Jangan terlalu ditanggapi."
Namun, Kaivan justru menatap Kalani dengan tatapan yang terlihat asing. Seperti ada kemarahan yang tersembunyi.
"Dia benar-benar kesakitan. Bagaimana mungkin kamu menganggapnya hanya cari perhatian?"
cuti mu d tambah pasti😄
menyusun rencana merebut lagi