NovelToon NovelToon
Takut Nikah

Takut Nikah

Status: sedang berlangsung
Genre:Berondong / Cintamanis / Romansa
Popularitas:92.7k
Nilai: 5
Nama Author: Yutantia 10

"Kapan nikah?"

"Udah mau 30 loh."

"Jangan pilih-pilih, nanti jadi perawan tua."

Jena muak sekali dengan semua itu. Baginya, menikah bukan kriteria kesuksesan seseorang. Mau nikah atau pun tidak, itu juga bukan urusan mereka, tapi entah kenapa, mereka suka sekali mengurusi hidupnya.

3 kali ia menjalin kasih, endingnya selalu diselingkuhi. Sahabat terbaiknya, jadi janda diusia 25 tahun karena suaminya selingkuh. Dan yang paling gong, Papa yang ia sayang dan sosok yang ia kagumi, diam-diam ternyata punya istri kedua. Lalu, laki-laki seperti apa lagi yang bisa ia percaya.

Baginya, berurusan dengan laki-laki, hanyalah cari penyakit. Entah sekarang atau nanti, pasti endingnya disakiti. Ia tak mau menikah. Kalau sendiri bisa bahagia, untuk apa berdua?

Sampai kejadian tak terduga, mempertemukanmu dia dengan Budi. Laki-laki yang humoris, dan selalu bilang. "Gak semua laki-laki kayak gitu, Mbak."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yutantia 10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 23

Jena mengantar Budi sampai ke halaman, ke dekat laki-laki itu memarkir motornya.

“Maaf, ya, Bud. Kamu jadi ikut terseret ke drama keluarga aku.”

Budi menggeleng kecil. “Nggak apa-apa.”

“Nanti bayaran kamu aku transfer.”

“Gak usah.” Budi mengambil helm lalu mengenakannya.

Jena mengernyit. “Hah?”

“Kali ini gratis.”

Jena menatapnya tak percaya, kemudian terkekeh pelan. “Kamu itu terlalu baik, Bud. Terlalu sering ngasih gratis. Makanya, gak kaya-kaya.”

Budi tertawa kecil. “Kebiasaan kamu, Jen."

“Apa?"

“Orang yang habis dibantu, bukannya terima kasih, malah menghina.”

Jena tertawa cekikikan, namun seketika meringis saat merasa pipinya sakit.

Senyum Budi perlahan menghilang, tatapannya tertuju pada pipi Jena yang masih kemerahan. Ia menatapnya beberapa detik.

“Pipimu masih sakit?”

Jena refleks menyentuh pipinya. “Sedikit.”

“Nanti dikompres pakai air dingin, biar besok nggak bengkak.”

Jena mengangguk.

Budi naik ke atas motor, lalu menyalakan mesin. "Aku pulang dulu."

“Hati-hati.”

Budi hanya mengangkat tangan, kemudian bersama motornya, meninggalkan halaman rumah Jena.

Jena menarik napas panjang lalu kembali masuk ke rumah.

Ruang tamu masih sama. Kedua orang tuanya masih duduk di sana dengan wajah tegang, terutama Papanya.

Jena memilih tidak mengatakan apa-apa. Matanya justru tertuju pada kantong roti bakar yang tadi dibawa Budi. Ia mengambil kantong itu. Daripada mubazir, ia membawa keluar untuk diberikan pada satpam.

“Pak.”

Satpam itu mendekat. “Iya, Non?”

“Ini buat Bapak sama teman di pos, daripada nggak ada yang makan.”

“Wah, terima kasih, Non.”

Jena menyerahkan kantong tersebut. “Dimakan, ya. Orang rumah kayaknya nggak ada yang mau.”

Setelah itu, Jena kembali masuk. Ia berjalan melewati kedua orang tuanya begitu saja tanpa menoleh. Naik ke kamar, menutup pintu, dan menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur.

Ia memang dapat tamparan tadi, tapi rencananya bisa dibilang sukses. Dari awal, ia sudah menduga jika Papanya tak akan mau menerima Budi. Semoga saja setelah ini, tak ada drama perjodohan lagi.

Beberapa menit kemudian, terdengar ketukan pelan.

Tok... tok...

Jena tidak menjawab, pintu terbuka.

Bu Asri masuk. Ia melihat putrinya rebahan di kasur, membelakanginya.

“Jena.” Bu Asri berjalan mendekat, kemudian duduk di sisi tempat tidur.

“Kalau Mama mau marah sama Jena juga, marah aja.”

Bu Asri terdiam.

Jena membalikkan badan, matanya masih menyimpan sisa kekesalan. “Mama juga nggak setuju sama Budi?”

Bu Asri tidak langsung menjawab, tangannya justru mengusap rambut putrinya dengan lembut. “Sudah berapa lama kamu kenal Budi?”

Jena terdiam. Pertanyaan sederhana itu justru membuatnya bingung. Ia membuka mulut, tetapi tidak ada jawaban yang keluar. Karena memang, ia sendiri tidak tahu jawabannya.

Bu Asri memperhatikan wajah putrinya. "Budi...beneran pacar kamu?"

"Ma, maksud Mama apa nanya seperti itu. Ya iyalah, Budi pacar Jena." Jena mulai panik.

“Kamu gak sedang bohongkan, Jen?"

"Bo, bohong gimana?"

Bu Asri tersenyum. "Mama bukan kenal kamu satu atau dua hari. Mama tahu persis, siapa kamu, seperti apa sifat kamu. Kok, rasanya agak janggal ya, kamu yang selalu menolak nikah, tiba-tiba punya calon suami, dan..." Ia sengaja menjeda kalimatnya untuk melihat ekspresi Jena. "Kayaknya, Budi budi bukan tipe kamu."

"Mama ngomong apa sih, emang tipe Jena seperti apa?"

"Kamu hampir tidak pernah jajan makanan di pinggir jalan. Tiba-tiba punya pacar penjual roti bakar pinggir jalan, kok rasanya aneh ya."

Jena menelan ludahnya susah payah. Mampus! Mamanya curiga.

Bu Asri ingat Jena pernah nabrak gerobak roti bakar beberapa waktu yang lalu. Seingatnya belum lama, pas acara lamaran Melisa. Apa jangan-jangan, itu orang yang ditabrak Jena? Atau kalau enggak, mungkin orang lain hanya saja Jena sedang bikin skenario, meminta orang lain untuk pura-pura jadi pacaranya dan berprofesi jualan roti bakar.

"Apa jangan-jangan, dia bukan penjual roti bakar? Kamu sengaja bilang begitu, biar Papa marah. Budi terlihat seperti laki-laki terpelajar, publik speaking nya bagus, dan pembawaannya tenang."

"E... E..."

"Kamu gak sengaja melakukan ini agar gak dipaksa nikahkan?"

Wajah Jena pias. Mamanya terlalu pintar untuk dibohongi.

"Pacar Jena kok, Mah."

"Ah, Mama tetep gak yakin, kamu pacaran sama tukang roti bakar. Kamu itu mirip Papa, gengsinya gede."

Jena tertawa absurd. "Papa aja gak gengsi nikah sama LC."

"Kata siapa gak gengsi? Kalau gak gengsi, gak mungkin disembunyikan. Pelakor itu gak ada yang lebih baik dari istri sah, yang ada lebih murah. Kalau saja Papa masih lajang, masih belum menikah, Mama yakin, gak akan mau sama dia. Dimana-mana, laki-laki akan memilih istri dari kualitasnya, yang bisa bikin dia bangga di depan semua orang. Tapi kalau selingkuhan, syaratnya cuma satu, pandai nyenengin di ranjang aja."

Asri menatap kedua mata putrinya. "Jen, ngaku sama Mama, Budi itu pacar kamu atau bukan."

"Pacar aku, Mah. Sumpah! Dia itu tipe Jena, ganteng, baik, sabar, bisa ngimbangin Jena yang emosian."

"Iya sih, dia ganteng, anaknya juga sopan. Pinter juga, bisa bikin Papa kamu kicep, Tapi...dia bukan penjual roti bakarkan? Ini cuma sandiwarakan?"

Pintu kamar yang terbuka setengah, tiba-tiba di dorong dari luar hingga terbuka lebar. Pak Andika muncul dari ambang pintu, membuat tatapan Jena dan Bu Asri langsung tertuju padanya.

Sekejap, suasana kamar terasa kembali tegang.

Jena langsung duduk tegak. “Papa mau ngomong apa lagi?”

Pak Andika tidak menjawab. Ia melangkah masuk, kemudian berdiri beberapa langkah dari tempat tidur.

Jena sudah bersiap menghadapi ceramah berikutnya, namun sebelum papanya sempat berbicara, Jena lebih dulu angkat suara.

“Kalau Papa nggak merestui Jena sama Budi...” katanya tegas, “Jena nggak akan menikah.”

Bu Asri yang masih duduk di samping Jena, menghela nafas panjang.

Jena menatap papanya. “Papa nggak perlu lagi menjodohkan Jena dengan siapa pun. Jena nggak mau. Jena cuma mau menikah sama Budi." Kalimat itu meluncur begitu saja.

“Baiklah.”

Jena mengernyit. “Hah?”

“Papa setuju.”

Jena membeku.

Bu Asri juga terlihat sama terkejutnya.

Pak Andika melanjutkan dengan wajah datar. “Minggu depan, suruh Budi datang ke sini bersama keluarganya untuk melamar kamu."

Jena masih tidak berkedip. Apa dia salah dengar?

Hening. Jena seperti baru saja kehilangan kemampuan untuk berpikir.

Pak Andika berbalik. “Papa tunggu minggu depan.” Kemudian ia keluar dari kamar.

Pintu tertutup.

Jena masih terpaku.

Beberapa detik kemudian, ia menoleh kepada mamanya dengan wajah pucat.

“Mah...Papa nggak lagi bercanda, kan?”

“Entahlah. Mama juga nggak yakin?” Bu Asri menggeleng pelan. “Yang jelas, wajah Papa tadi nggak kelihatan seperti sedang bercanda.”

Jena langsung memegang kepalanya. “Ya ampun...”

Bu Asri bangkit.

“Mama keluar dulu.” Bu Asri meninggalkan kamar dan menyusul suaminya.

Begitu pintu tertutup, Jena langsung menjatuhkan tubuhnya ke kasur. “Gawat!" Ia menatap langit-langit kamar. “Gawat banget.”

“Budi...” Wajah laki-laki itu langsung terbayang. Kenapa masalahnya jadi makin rumit begini? Ia. gak mungkin meminta Budi datang kemari minggu depan untuk melamar, Budi bukan pacarnya.

Ia mengacak-acak rambutnya. Bagaimana kalau Budi menolak? Ah tidak, masalah utamanya, dia tidak ingin menikah. "Apa yang harus aku lakukan!" Jena bergerak tak karuan di atas ranjang, kakinya menendang ke segala arah.

Jena menelan ludah. “Kenapa Papa malah setuju?”

Ia terdiam. Ada sesuatu yang terasa aneh. Pak Andika bukan tipe orang yang mudah menerima keputusan begitu saja. Terlebih keputusan yang menyangkut masa depan putrinya.

Jena memeluk bantal dan membenamkan wajahnya. “Aku cuma mau bikin Papa berhenti menjodohkan aku...” Ia mengangkat wajahnya lagi. “Kenapa malah jadi begini?”

“Ya Tuhan...”

1
Ass Yfa
,ya ampun...Jena
.Budi itu udah kesemsem sama kamu...emang wanita itu nggk peka gitu...mrnolak kenyataan😁
Auliaharyono@gmail.com Auliaharyono@gmail.com
cerita seru dan ndak sabar nunggu episode berikut nya😍😍
durrotul aimmsh
makin seru kakak
Rahmawati
semoga kena bisa jatuh cinta sama budi
Azda Syafril
seharus qm bersyukur ktmu cwok sprt Budi spek suami idaman lho tanggung jawab,pkrja keras dn mandiri....
hayoo semangatt jena,, jgn takut nikah TDK smw soal pernikahan itu buruk sprt PP mu... yakin dan bismillah za... 💪🙏
Septi
wkwkwkwkwk bisaa aja alesannya..
Septi
nah bagus itu... 😅
mimief
bukan baik Jen
begitulah orang lagi jatuh cinta😔.
susah ketemu makhluk yg ga ngerti kode morse🫣🤣🤣
Hani Ekawati
Baik karena Budi ingin memikat kamu dengan panah asmara 🤣🤣🤣
Linda Gunawan
dijamin sebelum 6 bulan kamu udah falling in love sama Budi, Jen🤣 kamu yg bakal terBudi Budi ntar
Hani Ekawati
Jena takut disaat sudah jatuh cinta nanti sosok laki laki yang dicintainya akan seperti ayahnya yang ternyata punya istri lagi.
novel destiny
aku suka sama jalan cerita nya kaka.. semangat terus berkarya 🫶
novel destiny
karna budi ga mau salah jalan, pernikahan bukan permainan.. kalo dari awal ajah udah salah, gimana kedepannya.. lagian budi cinta nya dari jaman awal kuliah. gimana coba 😁
Endah Puji Lestari
😍
Sastri Dalila
👍👍👍
ahs@
jena, trauma melihat pernikahan kedua orangtuanya.....
Sugiharti Rusli
sepertinya Jena memang harus dibuat sadar dulu sama Budi dengan keyakinan nya kelak tentang pernikahannya yah,,,
Sugiharti Rusli
dan bagusnya Budi bisa meyakinkan Jena mempertimbangkan persyaratan yang dia ajukan dengan batas waktunya,,,
Sugiharti Rusli
dan sikap Budi sudah benar, dia ga pernah akan mempermaikan institusi pernikahan pernikahan karena sikap Jena sekarang
Sugiharti Rusli
memang sih ga ada yang pernah tahu ke depannya akan ada halangan apa, tapi juga bisa diperjuangkan sih kalo ada kemauan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!