NovelToon NovelToon
Takut Nikah

Takut Nikah

Status: sedang berlangsung
Genre:Berondong / Cintamanis / Romansa
Popularitas:384k
Nilai: 5
Nama Author: Yutantia 10

"Kapan nikah?"

"Udah mau 30 loh."

"Jangan pilih-pilih, nanti jadi perawan tua."

Jena muak sekali dengan semua itu. Baginya, menikah bukan kriteria kesuksesan seseorang. Mau nikah atau pun tidak, itu juga bukan urusan mereka, tapi entah kenapa, mereka suka sekali mengurusi hidupnya.

3 kali ia menjalin kasih, endingnya selalu diselingkuhi. Sahabat terbaiknya, jadi janda diusia 25 tahun karena suaminya selingkuh. Dan yang paling gong, Papa yang ia sayang dan sosok yang ia kagumi, diam-diam ternyata punya istri kedua. Lalu, laki-laki seperti apa lagi yang bisa ia percaya.

Baginya, berurusan dengan laki-laki, hanyalah cari penyakit. Entah sekarang atau nanti, pasti endingnya disakiti. Ia tak mau menikah. Kalau sendiri bisa bahagia, untuk apa berdua?

Sampai kejadian tak terduga, mempertemukanmu dia dengan Budi. Laki-laki yang humoris, dan selalu bilang. "Gak semua laki-laki kayak gitu, Mbak."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yutantia 10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 23

Jena mengantar Budi sampai ke halaman, ke dekat laki-laki itu memarkir motornya.

“Maaf, ya, Bud. Kamu jadi ikut terseret ke drama keluarga aku.”

Budi menggeleng kecil. “Nggak apa-apa.”

“Nanti bayaran kamu aku transfer.”

“Gak usah.” Budi mengambil helm lalu mengenakannya.

Jena mengernyit. “Hah?”

“Kali ini gratis.”

Jena menatapnya tak percaya, kemudian terkekeh pelan. “Kamu itu terlalu baik, Bud. Terlalu sering ngasih gratis. Makanya, gak kaya-kaya.”

Budi tertawa kecil. “Kebiasaan kamu, Jen."

“Apa?"

“Orang yang habis dibantu, bukannya terima kasih, malah menghina.”

Jena tertawa cekikikan, namun seketika meringis saat merasa pipinya sakit.

Senyum Budi perlahan menghilang, tatapannya tertuju pada pipi Jena yang masih kemerahan. Ia menatapnya beberapa detik.

“Pipimu masih sakit?”

Jena refleks menyentuh pipinya. “Sedikit.”

“Nanti dikompres pakai air dingin, biar besok nggak bengkak.”

Jena mengangguk.

Budi naik ke atas motor, lalu menyalakan mesin. "Aku pulang dulu."

“Hati-hati.”

Budi hanya mengangkat tangan, kemudian bersama motornya, meninggalkan halaman rumah Jena.

Jena menarik napas panjang lalu kembali masuk ke rumah.

Ruang tamu masih sama. Kedua orang tuanya masih duduk di sana dengan wajah tegang, terutama Papanya.

Jena memilih tidak mengatakan apa-apa. Matanya justru tertuju pada kantong roti bakar yang tadi dibawa Budi. Ia mengambil kantong itu. Daripada mubazir, ia membawa keluar untuk diberikan pada satpam.

“Pak.”

Satpam itu mendekat. “Iya, Non?”

“Ini buat Bapak sama teman di pos, daripada nggak ada yang makan.”

“Wah, terima kasih, Non.”

Jena menyerahkan kantong tersebut. “Dimakan, ya. Orang rumah kayaknya nggak ada yang mau.”

Setelah itu, Jena kembali masuk. Ia berjalan melewati kedua orang tuanya begitu saja tanpa menoleh. Naik ke kamar, menutup pintu, dan menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur.

Ia memang dapat tamparan tadi, tapi rencananya bisa dibilang sukses. Dari awal, ia sudah menduga jika Papanya tak akan mau menerima Budi. Semoga saja setelah ini, tak ada drama perjodohan lagi.

Beberapa menit kemudian, terdengar ketukan pelan.

Tok... tok...

Jena tidak menjawab, pintu terbuka.

Bu Asri masuk. Ia melihat putrinya rebahan di kasur, membelakanginya.

“Jena.” Bu Asri berjalan mendekat, kemudian duduk di sisi tempat tidur.

“Kalau Mama mau marah sama Jena juga, marah aja.”

Bu Asri terdiam.

Jena membalikkan badan, matanya masih menyimpan sisa kekesalan. “Mama juga nggak setuju sama Budi?”

Bu Asri tidak langsung menjawab, tangannya justru mengusap rambut putrinya dengan lembut. “Sudah berapa lama kamu kenal Budi?”

Jena terdiam. Pertanyaan sederhana itu justru membuatnya bingung. Ia membuka mulut, tetapi tidak ada jawaban yang keluar. Karena memang, ia sendiri tidak tahu jawabannya.

Bu Asri memperhatikan wajah putrinya. "Budi...beneran pacar kamu?"

"Ma, maksud Mama apa nanya seperti itu. Ya iyalah, Budi pacar Jena." Jena mulai panik.

“Kamu gak sedang bohongkan, Jen?"

"Bo, bohong gimana?"

Bu Asri tersenyum. "Mama bukan kenal kamu satu atau dua hari. Mama tahu persis, siapa kamu, seperti apa sifat kamu. Kok, rasanya agak janggal ya, kamu yang selalu menolak nikah, tiba-tiba punya calon suami, dan..." Ia sengaja menjeda kalimatnya untuk melihat ekspresi Jena. "Kayaknya, Budi budi bukan tipe kamu."

"Mama ngomong apa sih, emang tipe Jena seperti apa?"

"Kamu hampir tidak pernah jajan makanan di pinggir jalan. Tiba-tiba punya pacar penjual roti bakar pinggir jalan, kok rasanya aneh ya."

Jena menelan ludahnya susah payah. Mampus! Mamanya curiga.

Bu Asri ingat Jena pernah nabrak gerobak roti bakar beberapa waktu yang lalu. Seingatnya belum lama, pas acara lamaran Melisa. Apa jangan-jangan, itu orang yang ditabrak Jena? Atau kalau enggak, mungkin orang lain hanya saja Jena sedang bikin skenario, meminta orang lain untuk pura-pura jadi pacaranya dan berprofesi jualan roti bakar.

"Apa jangan-jangan, dia bukan penjual roti bakar? Kamu sengaja bilang begitu, biar Papa marah. Budi terlihat seperti laki-laki terpelajar, publik speaking nya bagus, dan pembawaannya tenang."

"E... E..."

"Kamu gak sengaja melakukan ini agar gak dipaksa nikahkan?"

Wajah Jena pias. Mamanya terlalu pintar untuk dibohongi.

"Pacar Jena kok, Mah."

"Ah, Mama tetep gak yakin, kamu pacaran sama tukang roti bakar. Kamu itu mirip Papa, gengsinya gede."

Jena tertawa absurd. "Papa aja gak gengsi nikah sama LC."

"Kata siapa gak gengsi? Kalau gak gengsi, gak mungkin disembunyikan. Pelakor itu gak ada yang lebih baik dari istri sah, yang ada lebih murah. Kalau saja Papa masih lajang, masih belum menikah, Mama yakin, gak akan mau sama dia. Dimana-mana, laki-laki akan memilih istri dari kualitasnya, yang bisa bikin dia bangga di depan semua orang. Tapi kalau selingkuhan, syaratnya cuma satu, pandai nyenengin di ranjang aja."

Asri menatap kedua mata putrinya. "Jen, ngaku sama Mama, Budi itu pacar kamu atau bukan."

"Pacar aku, Mah. Sumpah! Dia itu tipe Jena, ganteng, baik, sabar, bisa ngimbangin Jena yang emosian."

"Iya sih, dia ganteng, anaknya juga sopan. Pinter juga, bisa bikin Papa kamu kicep, Tapi...dia bukan penjual roti bakarkan? Ini cuma sandiwarakan?"

Pintu kamar yang terbuka setengah, tiba-tiba di dorong dari luar hingga terbuka lebar. Pak Andika muncul dari ambang pintu, membuat tatapan Jena dan Bu Asri langsung tertuju padanya.

Sekejap, suasana kamar terasa kembali tegang.

Jena langsung duduk tegak. “Papa mau ngomong apa lagi?”

Pak Andika tidak menjawab. Ia melangkah masuk, kemudian berdiri beberapa langkah dari tempat tidur.

Jena sudah bersiap menghadapi ceramah berikutnya, namun sebelum papanya sempat berbicara, Jena lebih dulu angkat suara.

“Kalau Papa nggak merestui Jena sama Budi...” katanya tegas, “Jena nggak akan menikah.”

Bu Asri yang masih duduk di samping Jena, menghela nafas panjang.

Jena menatap papanya. “Papa nggak perlu lagi menjodohkan Jena dengan siapa pun. Jena nggak mau. Jena cuma mau menikah sama Budi." Kalimat itu meluncur begitu saja.

“Baiklah.”

Jena mengernyit. “Hah?”

“Papa setuju.”

Jena membeku.

Bu Asri juga terlihat sama terkejutnya.

Pak Andika melanjutkan dengan wajah datar. “Minggu depan, suruh Budi datang ke sini bersama keluarganya untuk melamar kamu."

Jena masih tidak berkedip. Apa dia salah dengar?

Hening. Jena seperti baru saja kehilangan kemampuan untuk berpikir.

Pak Andika berbalik. “Papa tunggu minggu depan.” Kemudian ia keluar dari kamar.

Pintu tertutup.

Jena masih terpaku.

Beberapa detik kemudian, ia menoleh kepada mamanya dengan wajah pucat.

“Mah...Papa nggak lagi bercanda, kan?”

“Entahlah. Mama juga nggak yakin?” Bu Asri menggeleng pelan. “Yang jelas, wajah Papa tadi nggak kelihatan seperti sedang bercanda.”

Jena langsung memegang kepalanya. “Ya ampun...”

Bu Asri bangkit.

“Mama keluar dulu.” Bu Asri meninggalkan kamar dan menyusul suaminya.

Begitu pintu tertutup, Jena langsung menjatuhkan tubuhnya ke kasur. “Gawat!" Ia menatap langit-langit kamar. “Gawat banget.”

“Budi...” Wajah laki-laki itu langsung terbayang. Kenapa masalahnya jadi makin rumit begini? Ia. gak mungkin meminta Budi datang kemari minggu depan untuk melamar, Budi bukan pacarnya.

Ia mengacak-acak rambutnya. Bagaimana kalau Budi menolak? Ah tidak, masalah utamanya, dia tidak ingin menikah. "Apa yang harus aku lakukan!" Jena bergerak tak karuan di atas ranjang, kakinya menendang ke segala arah.

Jena menelan ludah. “Kenapa Papa malah setuju?”

Ia terdiam. Ada sesuatu yang terasa aneh. Pak Andika bukan tipe orang yang mudah menerima keputusan begitu saja. Terlebih keputusan yang menyangkut masa depan putrinya.

Jena memeluk bantal dan membenamkan wajahnya. “Aku cuma mau bikin Papa berhenti menjodohkan aku...” Ia mengangkat wajahnya lagi. “Kenapa malah jadi begini?”

“Ya Tuhan...”

1
Kar Genjreng
mendengar ucapan Bud kenapa tenggorokan rasa nya nyesek ya,,,yakin Jen. ga menyesal seandainya. 6 pisah
justru nanti mendapatkan banyak cemooh dari teman teman,,,dan janji sebelum tiga bulan hamil Lo Jen untuk mendapatkan pengalihan milik pa Andika,,,dan Bu Hana pasti sangat sedih' mengapa putranya menikah hanya itungan bulan,,belajar menerima ke kurangan dan kelebihan pasangan Jena,,,ga usah menggunakan kata orang ,,, orang kan hanya mau menjatuhkan yang tidak suka jangan terpancing ya Jena,,,umur ,,,jodoh dan rezeki sudah di takar sama yang kuasa,,,
Sastri Dalila
🥺😅
Kar Genjreng
Selamat menempuh hidup baru,,,ya Budiman dan Jena semoga menjadi pasangan shikinah mawadah warohmah
Aamiin 🙏🙏,,,, sekarang saya dah sah ya bukan salah hee Budi mau Cup cup Ajinomoto Jen rasanya beda ya Jen kremyesss???? sejuk apa sudah mau amboxing. kabarin ya Bud. mau siap siap
Jena maksudnya,,,ganti baju saringan dulu apa ga Jen. biar trawang gitu gemeteran ya maklum kan pemula jadi ,,,Alon alon,,
pelan pelan takut langsung tergelincir tapi beneran deg deg degan,,, terpenting sudah sah tinggal melanjutkan pokonya jangan dengerin orang yang sirik dan dengki ya
Bud dan Jena,,,,, kayanya ada yang lagi kepanasan di sana di lain tempat bukan gerah tapi kesel dan TREMOSI,, lope yuuuuuu sekebon bunga' buat pasangan baru 🌹🌹🌹🌹❤️❤️❤️❤️🌹🌹🌹🌹❤️❤️❤️
Endah Puji Lestari
😍😍💪💪💪
Patrick Khan
sempet mikir bakal di ancurin muara nikahan nya jena...😭😭😭tp ternyata gk. kak othor baik sama jena👏👏👏👏😍
Patrick Khan
sah sahhhh
Sugiharti Rusli
tapi yang mungkin Jena dan teman" nya tahu dan sadari adalah ayah Budi dahulu adalah pengusaha besar dan sukses, Budi hanya perlu diberi kesempatan dan itu sekarang ada di depan matanya yah,,,
Sugiharti Rusli
mungkin sekarang Budi masih merintis jadi pengusaha kafe kecil dan itu juga dimodali oleh ayah Jena,,,
ione
/Smile/
Sugiharti Rusli
sejatinya Jena sudah mencintai Budi juga dengan segala kelebihan dan kekurangan nya yah, tapi dia kan gengsinya besar sih
jumirah slavina
tenang Bud... klo JeJen smp mo pisah., Aku yang gantiin

🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Sugiharti Rusli
ah kenapa jadi baper yah sama apa yang Budi utarakan ke Jena tentang perasaannya dan semua yang dia putuskan kalo Jena ga pernah mencintainya,,,
Sugiharti Rusli
justru kamu yang akan menyesal Jen kalo kamu melepaskan laki" spek seperti Budi sih,,,
jumirah slavina
awas ya klo Kamu marah sm Budi.,
kebohongan itu Kamu yang ciptain bukan Budi...
Sugiharti Rusli
dan kamu beruntung lho Jen, sepertinya Budi pacar dan jadi suami kamu yang ga pernah pacaran, mungkin dulu ada kali yah saat masih sekolah😁😁😁
jumirah slavina
gak usah marah... Kamu kudu minta Budi unboxing Kamu Jen...

JeJen : ko' Aku minta Jum... ya Budi lh yang ngelakuin

🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Sugiharti Rusli
malah antara Budi dan Jena bagus sìh, nanti mereka bisa memulai pacaran setelah halal dan ga takut kebablasan sih
Sugiharti Rusli
tidak pernah ada pernikahan yang mudah sih sejatinya yah, mau keduanya sudah saling cinta lama sekalipun sih,,,
jumirah slavina
kita bisa melakukan HO'A HO'E

🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Sugiharti Rusli
meski wajar kalo gugup saat akad, namanya juga proses kalo bisa sekali semumur hidup yah,,,aamiin🤲🤲🤲
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!