Dulu Queen cuma anak manja yang hidupnya aman di bawah sayap orangtuanya. Sampai malam itu, kedua orangtuanya dibunuh berdarah dingin oleh rival keluarga, Don King. Queen selamat, tapi dunianya hancur. 15 tahun kemudian dia kembali, bukan sebagai korban. Dengan taktik licik, pasukan setia, dan dendam yang membara, Queen merebut satu demi satu apa yang menjadi haknya dari musuhnya sampai seluruh dunia bawah berlutut di kakinya. Tapi dendam yang dia jalankan harus dia korban juga dengan darah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nina1708, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jebakan Tuan Herman
Happy Reading
❤❤❤❤❤❤❤
Pukul 05.00 pagi, vila Tuan Herman masih gelap. Tapi Queen sudah duduk di depan meja rias mendiang ibu nya, sisir di tangan, cermin di depan.
Wajah nya di cermin bukan wajah gadis 22 tahun yang ketakutan. Wajah nya adalah wajah Nyonya Amanda. Dingin. Tenang. Tanpa emosi.
Semalam Tuan Herman mengirim pesan:
💌" Aku tahu kau tidak tidur."
Artinya satu hal. Permainan boneka sudah selesai. Sekarang permainan raja dan ratu.
Queen membuka laci rahasia di meja rias ibu nya. Dulu ibu nya pernah menunjukkan tempat itu saat Queen umur 7 tahun. "Kalau Mommy kenapa kenapa, di sini ada kunci kecil ya, sayang." Ucap sang ibu.
Laci itu masih ada. Dan kunci nya masih ada. Kunci kecil berkarat dengan liontin mawar.
Queen mengambil nya. Bukan kunci pintu. Ini kunci brankas kecil di bawah lantai kamar. Queen mencongkel karpet bulu putih, menemukan tutup kayu. Dia buka.
Di dalam nya bukan uang. Bukan perhiasan. Di dalam nya ada buku harian bersampul kulit merah milik Nyonya Amanda. Dan sebuah USB warna emas yang berbeda dari flashdisk Queen.
Tangan Queen gemetar. Selama 15 tahun dia mencari ini. Buku harian ibu nya yang hilang di malam kebakaran.
Halaman pertama, tulisan ibu nya yang cantik..
"Untuk Queen ku. Jika kau membaca ini, berarti Mommy gagal melindungi mu. Maafkan Mommy sayang."
Queen tidak sempat membaca semua nya. Suara Ibu Rita mengetuk pintu.
"Nona Queen? Tuan Herman menunggu di bawah. Ada sarapan penting. Dewan Keluarga akan datang jam 9 pagi." Seru Ibu Rita di luar kamar.
Queen menutup lantai itu lagi, menyembunyikan buku dan USB emas itu di dalam balik baju nya, di ikat dengan korset. Dia sudah tidak punya BH untuk sembunyikan barang, karena BH nya di pakai untuk flashdisk palsu kemarin. Sekarang dia pakai cara ibu nya dulu: korset.
"Turun sebentar lagi, Ibu Rita," jawab Queen dengan suara manja yang di buat buat.
Di bawah, ruang makan sudah seperti ruang sidang. Tuan Herman duduk di kepala meja, mengenakan setelan jas tiga lapis abu abu mahal. Di kanan kiri nya sudah duduk 6 orang pria tua berjas hitam. Dewan Keluarga Alessandro. Mereka semua adalah paman paman, sepupu jauh ayah Queen. Semua wajah yang Queen ingat dari masa kecil. Wajah wajah yang dulu mencium pipi nya dan bilang, "Queen kecil tumbuh jadi putri cantik."
Sekarang semua wajah itu menatap Queen seperti menatap hantu.
"Ah, Queen! Putri ku sudah bangun. Sini, duduk di sebelah Paman," kata Tuan Herman dengan senyum lebar yang terlalu lebar. Senyum yang semalam menonton rumah kakak nya terbakar.
Queen berjalan pelan, gaun putih sederhana yang di siapkan Tuan Herman membuat nya terlihat seperti malaikat yang salah masuk ke sarang iblis.
"Selamat pagi, Paman Herman. Selamat pagi, Paman Cito, Paman Sandi, Paman Edi," Sapa Queen sambil mencium pipi mereka satu per satu. Akting gadis polos yang haus kasih sayang.
Paman Cito, yang paling tua, 78 tahun, memegang tangan Queen lama. "Kau mirip sekali dengan ibu mu, nak. Persis Amanda." Ucap nya.
Tuan Herman menyela cepat. "Itulah kenapa aku sangat menyayangi Queen. Dia adalah Amanda kedua untuk keluarga ini." Ujar nya.
Sarapan di mulai. Pelayan menuang kopi. Tapi tidak ada yang makan. Semua menunggu.
Akhirnya Tuan Herman berdehem. Dia berdiri, mengangkat gelas anggur.
"Saudara saudara ku, Dewan yang terhormat. Hari ini aku kumpulkan kalian bukan untuk bisnis. Tapi untuk keluarga. Seperti kalian tahu, 15 tahun lalu kita kehilangan Steven Alessandro dan Amanda Allesandro. Tragedi. Kebakaran. Kita semua berduka." Ucap nya.
Queen menatap piring nya. Menahan diri untuk tidak melempar pisau ke leher Tuan Herman.
"Tapi hari ini, Tuhan mengembalikan darah Alessandro kepada kita. Queen. Putri tunggal Alessandro. Dia sudah kembali. Dan sesuai wasiat asli Steven Alessandro yang dulu di simpan di notaris keluarga, 60 persen saham Alessandro Group adalah milik nya. Bukan 30 persen." Ucap nya lagi.
Ruangan hening. Semua kaget. Termasuk Queen. Selama ini Tuan Herman bilang 30 persen. Kenapa sekarang dia bilang 60 persen di depan Dewan?
Paman Sandi langsung protes. " Herman! Apa maksud mu? Wasiat yang kita baca 15 tahun lalu bilang 60 persen itu di bagi dua! 30 untuk mu sebagai wali, 30 untuk Queen! Kenapa sekarang kau bilang 60 untuk Queen?"
Tuan Herman tersenyum. Senyum licik yang baru Queen lihat hari ini.
"Karena aku sudah tua, Sandi. Aku lelah. Aku ingin pensiun. Aku ingin Queen yang meneruskan tahta. Bukankah itu yang kalian semua inginkan? Darah asli Alessandro memimpin?" Jawab Tuan Herman.
Ini jebakan. Queen langsung tahu ini jebakan terbesar Tuan Herman.
Jika Queen menerima 60 persen sekarang, di depan Dewan, maka dia akan menjadi Allesandro resmi. Tapi dia baru 22 tahun. Tidak punya pengalaman, tidak punya pasukan, tidak punya dukungan. Dewan akan langsung memangsa dia. Dan Tuan Herman akan terlihat sebagai paman pahlawan yang mengembalikan tahta. Setelah itu, Tuan Herman tinggal membunuh Queen secara "kecelakaan", dan 60 persen itu akan kembali ke Tuan Herman secara sah karena Tuan Herman adalah wali keluarga terdekat. Pintar. Sangat pintar. Queen harus menolak. Tapi menolak juga jebakan.
Jika Queen menolak 60 persen, maka Dewan akan berpikir Queen tidak menghormati wasiat ayah nya. Atau lebih buruk, Dewan akan berpikir Queen sudah di suap Tuan Herman untuk menolak.
Tuan Herman menatap Queen. "Bagaimana, Queen? Apakah kau bersedia menerima warisan ayah mu? 60 persen saham, vila ini, dan gelar pewaris tunggal Alessandro yang baru?" Tanya Tuan Herman.
Semua mata menatap Queen. 6 pasang mata tua yang lapar kekuasaan. Queen berdiri pelan. Dia mengambil gelas air putih, bukan anggur.
"Paman Herman, para Paman Dewan yang aku hormati," suara Queen bergetar, di buat bergetar. Dia memposisikan diri nya sebagai gadis kecil yang bingung.
"Aku... Aku tidak mengerti soal saham. Aku cuma anak 22 tahun yang 15 tahun tinggal bersama bibi dan paman. Aku tidak sekolah bisnis. Aku tidak bisa pimpin perusahaan sebesar ini. Kalau daddy masih hidup, daddy pasti tidak akan kasih semua ini ke aku sekarang. Daddy pasti mau aku belajar dulu." Jawab Queen.
Paman Cito mengangguk. "Anak ini jujur. Dia benar." Ujar Tuan Cito.
Queen melanjutkan, air mata di buat jatuh satu tetes, teknik yang di ajarkan Marco. Satu tetes lebih mematikan dari banjir air mata.
"Tapi... Aku juga tidak mau mengecewakan Daddy. Jadi... Bolehkah aku minta sesuatu yang lain?" Lanjut Queen.
Tuan Herman mengerutkan kening. Ini tidak ada di skenario nya. "Minta apa, sayang?" Tanya tuan Herman.
"Bolehkan aku tidak terima 60 persen saham nya dulu... Tapi aku terima jabatan lain? Jabatan yang dulu Mommy pegang?" Jawab Queen.
"Jabatan apa?" Tanya Paman Edi.
"Ketua Yayasan Amal Alessandro," Jawab Queen.
DEG//
Ruangan kembali hening. Ketua Yayasan Amal? Itu jabatan tanpa kekuasaan bisnis, tanpa saham, cuma urus panti asuhan dan sumbangan. Jabatan yang di anggap sampah oleh Dewan.
*******
Happy Reading Guys. 🤗🥰