Demi amanah terakhir sang kakak, Alana rela menikah dengan kakak iparnya, Gema. Namun selama enam tahun, Alana hanyalah pelengkap. Gema mengunci rapat hatinya, terjebak duka masa lalu, dan memperlakukan Alana hanya sebagai pengasuh berstatus istri. Bahkan sakit maag akut yang diderita Alana pun tak pernah Gema ketahui.
Beruntung, Alana wanita mandiri. Pemilik toko kue besar ini bertahan murni demi sang anak sambung yang menyayanginya sebagai Bunda.
Hingga suatu malam, pertahanan Alana runtuh bersama rasa sakit yang tak lagi bisa disembunyikan. Di saat Gema akhirnya berbalik ingin meraihnya, akankah sisa-sisa cinta Alana masih ada, atau justru sudah habis tak bersisa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
HABISNYA CINTA SUAMIKU
Aroma mint dan antiseptik minyak kayu putih masih tercium samar di sudut ruang tengah rumah mewah bernuansa krem itu. Dua hari berlalu sejak Alana pingsan di dapur toko kue Lumina Bakehouse. Atas permintaannya sendiri yang keras kepala, Alana memutuskan mengambil jalur rawat jalan lebih cepat dari rekomendasi dokter. Dia tidak betah mengurung diri dalam dinginnya kamar rumah sakit VIP, terlebih rasa cemasnya pada Tania yang tak kunjung surut.
Alana duduk bersandar di sofa empuk ruang keluarga. Wajahnya masih menyisakan rona pucat pasi, meski polesan bedak tipis dan pelembap bibir berusaha menyamarkan guratan lelah serta derita yang mengoyak fisik dan jiwanya. Tangan kirinya yang sempat dipasangi selang infus tertutup oleh lengan gaun kain linen longgar berwarna salem.
Di sampingnya, Tania duduk meringkuk, memeluk pinggang Alana dengan erat bagaikan tak mau melepaskan Bundanya sedikit pun. Matanya yang bulat tampak agak sembap.
Kemarin sore, kerahasiaan Alana sempat jebol ketika Maya mengantarkan beberapa obat dan sup hangat ke rumah. Tania yang tak sengaja mendengar percakapan berbisik antara Maya dan Bi Sastro akhirnya tahu bahwa Bundanya baru saja dirawat di rumah sakit. Tangis bocah enam tahun itu pecah seketika. Tania menangis tergugu-gugu, merasa bersalah dan takut kehilangan sosok Bunda yang paling dicintainya.
Namun, Maya dengan sigap merangkul Tania. Dengan suara lembut, Maya membujuk dan memohon pada Tania agar tidak memberitahukan hal ini kepada Ayahnya. Maya beralasan bahwa jika Ayah tahu, Bunda akan dimarahi karena bekerja terlalu keras dan mungkin tidak diizinkan membuat kue lagi. Kepolosan dan rasa sayang Tania yang mendalam pada Alana membuat anak kecil itu akhirnya mengangguk mantap, berjanji memegang rahasia rapat-rapat demi Bundanya.
"Bunda beneran udah nggak sakit perut lagi, kan?" bisik Tania polos, mendongak menatap Alana dengan bibir yang melengkung kebawah. "Bunda jangan pergi ke rumah sakit lagi ya... Tania takut."
Alana tersenyum lembut, mengelus rambut halus putri kecilnya dan mengecup dahi Tania hangat. "Bunda udah sehat, Sayang. Lihat, Bunda udah bisa peluk Tania lagi kan? Tania nggak usah takut lagi ya."
"Tania janji nggak bakal bikin Bunda capek lagi. Tania mau jadi anak penurut..." cicit Tania seraya menyandarkan kepalanya di dada Alana.
"Anak pintar," bisik Alana tulus. Hatinya hangat meluap, rasa sakit akibat pendarahan lambungnya seolah menguap saat merasakan dekapan tulus dari anak yang dilahirkannya dari rahim kasih sayang, walau tanpa ikatan darah langsung.
Tiba-tiba, suara deru mesin mobil mewah yang familiar terdengar memasuki halaman depan.
Vrooam.
Denting rem dan suara pintu mobil terhempas memecah ketenangan sore itu. Alana dan Bi Sastro yang sedang merapikan cangkir teh di meja kecil seketika membeku.
Jantung Alana berdegup kencang secara abnormal. Deru jantungnya menghantam dada, membawa gelombang kecemasan mendadak. Menurut informasi resmi dari sekretaris kantor kemarin, Gema seharusnya berada di Surabaya selama empat hari penuh dan baru kembali lusa. Mengapa pria itu sudah kembali sore ini?
"Bi... itu Mas Gema?" bisik Alana panik, refleks memegang perut bagian atasnya yang mendadak kembali berdenyut ngilu akibat stres yang melonjak instan.
Bi Sastro panik, tergesa-gesa menyapu pandangan ke arah pintu depan.
"A-anu, Bu Alana... sepertinya iya. Kok Pak Gema pulangnya cepat sekali?"
Belum sempat Alana berdiri untuk menata gaunnya dan menetralkan raut wajahnya, pintu jati berukir yang megah itu terbuka lebar.
Sosok tinggi tegap berbalut kemeja formal abu-abu tua tanpa dasi melangkah masuk. Jas kemejanya tersampir di lengan kiri, sementara tangan kanannya memegang koper kecil. Gema. Wajah tampannya terlihat lelah dari perjalanan jauh, tetapi matanya yang tajam bagai elang langsung menyapu isi ruang tengah.
Atmosphere ruangan seketika berubah kaku dan membeku. Kehangatan yang baru saja tercipta antara Alana dan Tania hancur berkeping-keping digantikan oleh hawa dingin yang selalu dibawa pria itu.
"Mas Gema...?" panggil Alana lirih. Suaranya sedikit gemetar. Dia memaksakan diri berdiri dari sofa, menahan tumpuan tubuhnya pada sandaran tangan agar kakinya tidak terlihat goyah.
Gema menghentikan langkahnya di dekat foyer. Matanya yang tajam menatap Alana dari ujung kepala hingga ujung kaki. Tatapan itu terasa begitu menelisik, dingin, dan penuh penilaian yang membuat Alana merasa telanjang di hadapan keputusasaan.
"Kenapa kamu kelihatan kaget melihat saya pulang?" suara Gema meluncur berat dan datar, tanpa ada nada kehangatan sedikit pun.
"N-nggak... bukan begitu, Mas," jawab Alana cepat, mencoba mengatur napasnya yang mendadak dangkal. "Sekretaris Mas bilang agenda di Surabaya sampai lusa. Saya cuma... kaget Mas sudah pulang sore ini."
"Pekerjaan dinas diselesaikan lebih cepat dari perkiraan. Saya tidak suka membuang waktu menunda jadwal," potong Gema dingin. Pria itu menyerahkan koper kecilnya pada Bi Sastro yang mendekat dengan menundukkan kepala dalam-dalam.
"Ayah!" Tania akhirnya bersuara, berlari kecil menghampiri Gema dan memeluk kaki Ayahnya.
Gema mengusap kepala Tania pelan, satu-satunya kelembutan yang bisa dia tunjukkan di rumah ini. Namun, mata Gema tidak berpindah dari wajah Alana. Tatapan pria itu memicing saat menyadari betapa pucatnya rona wajah istrinya, serta aura lelah yang sangat kentara mengelilingi Alana.
"Kenapa wajahmu pucat sekali?" tanya Gema tiba-tiba, intonasinya terdengar seperti sebuah interogasi dingin ketimbang rasa khawatir.
Jantung Alana seolah melompat ke tenggorokan. Dia meremas kain gaunnya erat-erat di balik lipatan tangan. Tania di samping Gema sempat menegang, menatap Alana dengan mata bulatnya yang panik, mengingat janjinya pada Maya untuk diam.
"Saya... saya cuma agak kelelahan, Mas," dalih Alana sehalus mungkin, memaksakan senyum tipis di bibirnya yang kering. "Toko kue dua hari ini lumayan ramai pesanan katering, jadi saya kurang tidur."
Gema mendengus pelan, sebuah kekehan pendek tanpa humor meluncur dari bibirnya. Dia melangkah mendekati Alana, berhenti tepat dua langkah di depan wanita itu. Tinggi tubuh Gema yang menjulang membuat Alana merasa makin mengecil di bawah bayang-bayangnya.
"Kurang tidur?" ulang Gema dengan nada sarkatis. "Kamu selalu punya alasan yang sama, Alana. Kamu sibuk mengurus toko kuemu sampai melupakan kesehatanmu sendiri, lalu tampil lemas seperti orang tertindas di rumah ini."
Kalimat tajam itu menghantam dada Alana bagaikan pukulan telak. Perih di ulu hatinya yang baru mereda kini kembali membakar. Namun, Alana hanya bisa menundukkan kepala, tidak berani membantah atau membela diri. Jika Gema tahu dia baru saja keluar dari rumah sakit, pria ini bukannya kasihan, melainkan akan makin gencar menuduhnya sebagai istri yang tidak kompeten dan suka memicu drama.
"Maaf, Mas..." hanya kata itu yang sanggup keluar dari tenggorokan Alana yang tersekat.
"Saya pulang untuk beristirahat, bukan untuk melihat wajah lesu dan rumah yang penuh ketegangan begini," tegas Gema dingin. Pria itu melonggarkan kancing teratas kemejanya, lalu berbalik menuju arah tangga menuju lantai dua.
"Siapkan air hangat untuk saya mandi. Dan pastikan makan malam siap tepat waktu."
"Baik, Mas," bisik Alana pelan.
Gema melangkah menaiki tangga tanpa sekali pun menoleh kembali. Begitu bayangan suaminya menghilang di balik belokan lantai atas, pertahanan Alana runtuh. Tubuhnya gemetar hebat, kakinya melemas hingga dia terpaksa berpegangan erat pada tepi meja konsol di dekatnya. Napasnya terengah-engah menahan mual dan perih yang kembali mengamuk di lambungnya akibat stres spontan.
"Bunda..." Tania berhimpit mendekat, memegang tangan Alana yang dingin seperti es. Anak kecil itu menahan tangisnya rapat-rapat, takut Ayahnya mendengar dari atas. "Bunda nggak apa-apa?"
Alana menarik napas panjang, mencoba menguasai rasa sakit luar dan dalam yang menggerogoti jiwanya. Dia menunduk, menatap Tania seraya mengelus pipi mungil putrinya.
"Bunda nggak apa-apa, Sayang. Bunda cuma mau ke dapur sebentar," bisik Alana lembut, menyembunyikan retakan hatinya yang makin hancur.
Di balik kemewahan rumah ini dan kepulangan suaminya yang mendadak, Alana sadar betul tidak ada tempat bagi dirinya untuk sakit, tidak ada ruang untuk mengeluh. Dia harus tetap berdiri tegak menjadi benteng bagi Tania, meski dirinya sendiri telah hancur menjadi debu.
kmana aja km 6 th ini🤔🤔🤔
justru alana sdh sangat siap melepas org" yg tak tau diri.....
brtahun lamanya brtahan dlm ksakitan.... akhirnya mmbuat kputusan yg bkal mnnghuncangkn jiwa suami egois dan tak tau diri😅😅
dia perempuan mandiri... sukses & hatinya baik...
tpi memang org" di skitrnya bneran buta mata dan hatinya....