Di balik kesederhanaan hidupnya, Reyna tak pernah menyangka takdirnya berubah hanya karena seikat bunga pengantin. Di pernikahan sahabatnya, Reyna yang merasa minder justru menjadi pusat perhatian saat bunga yang dilempar Agnia mendarat di tangannya, dan kejadian konyol itu berlanjut dengan aksi perjodohan mendadak di atas pelaminan dengan seorang pria yang tidak Reyna kenal.
Bagaimana cerita selanjutnya? Apa yang akan terjadi pada Reyna? Siapa pria yang dijodohkan dengan Reyna?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Reyna Udah Siap Nikah?
Setelah itu, mereka kembali ke penginapan. Deru mesin mobil melintasi jalanan berliku Dieng yang masih terselimut kabut tipis. Begitu tiba di vila, rasa lelah yang sempat tertahan mulai menyergap, mendorong semua orang untuk segera membersihkan diri dan beristirahat sejenak sebelum agenda berlanjut ke Telaga Warna.
Di kamar Bagas dan Agnia, Bagas baru saja selesai membasuh diri dengan air hangat, ia merebahkan diri di tepi ranjang seraya mengeringkan rambut menggunakan handuk kecil. Sementara itu, Agnia duduk di depan cermin dan mengoleskan pelembap wajah sembari memikirkan kejadian di puncak bukit tadi pagi, raut wajahnya masih menyiratkan kejengkelan yang belum sepenuhnya padam.
"Mas," panggil Agnia tiba-tiba, menatap bayangan suaminya dari cermin.
"Hp kamu mana? Coba cek pesan dari Reyna, tadi aku sempat minta dia update kalau udah selesai mandi," ucap Agnia.
"Hp kamu mana?" tanya Bagas.
"Hpku udah masuk tas, tadi aku suruh Reyna chat di hp kamu," jawab Agnia.
Bagas menepuk-nepuk saku celana yang menggantung di balik pintu, lalu merogoh jaketnya dan menepuk jidatnya pelan.
"Astaga, Mas lupa. Tadi pas di warung, hpnya Mas titipin ke Dikta waktu Mas mau ke kamar mandi dan belum sempat diambil lagi," sahut Bagas.
Agnia mendengkus pelan, "Bisa-bisanya lupa," balas Agnia.
Tiba-tiba, ketukan terdengar dari balik pintu kamar mereka.
Tok! Tok! Tok!
Agnia memutar tubuhnya, lalu beranjak dari kursi untuk membuka pintu kamar. Ketika pintu kayu itu ditarik terbuka, sosok Dikta berdiri tegap di ambang pintu.
"Hp-nya Bagas ketingga...," Belum sempat Dikta menyelesaikan perkataannya, Agnia mencengkeram pergelangan tangan pria itu dengan gerakan secepat kilat.
Sret!
"Masuk dulu, Dikta!" seru Agnia tanpa basa-basi sedikit pun.
Dikta yang tak menyangka akan diseret mendadak hanya sempat melebarkan matanya. Tubuh jangkungnya terdorong masuk ke dalam kamar, lalu Agnia langsung menutup pintu kamar rapat-rapat dan menguncinya dari dalam dengan bunyi klik yang bergema tegas.
Bagas yang menyaksikan adegan cepat itu hanya bisa melongo di atas ranjang, memegang handuknya yang menggantung pasrah. Ia tahu betul jika istrinya sudah mengunci pintu seperti itu, maka sesi sidang resmi dimulai.
"Agnia, ada apa?" tanya Dikta datar dan berusaha menguasai keadaan meski pergelangan tangannya baru saja dilepas Agnia, ia menyodorkan ponsel Bagas ke atas meja terdekat.
Agnia berdiri bersedekap dada tepat di depan Dikta dan menatap dokter muda itu dengan pandangan menyelidik yang tajam, "Nggak usah pura-pura bingung, Ta. Gue mau bicara sama lo, dan ini penting, jadi kamu nggak boleh keluar dari kamar ini sebelum jawab jujur!" ucapnya.
Dikta mengembuskan napas pelan, mengalihkan pandangannya ke arah Bagas untuk meminta penjelasan. Namun, Bagas hanya mengangkat kedua tangannya ke udara, memberikan isyarat bahwa ia tidak berani ikut campur jika Agnia sudah mengambil alih kendali.
"Duduk," perintah Agnia menunjuk sofa tunggal di sudut kamar.
Dikta akhirnya menuruti arahan Agnia dan duduk dengan tenang, menyilangkan kakinya seraya menatap Agnia dengan raut wajah khasnya yang sulit ditebak.
"Mau bicara soal apa?" tanya Dikta.
"Lo suka nggak sama Reyna?" tanya Agnia.
"Gue nggak mau pacaran," ucap Dikta.
"Yaudah, kalau nggak mau pacaran sama Reyna. Nikahin Reyna, umurnya udah pas buat nikah kok," balas Agnia.
"Kenapa lo malah nawarin sahabat lo ke gue?" tanya Dikta.
"Karena gue percaya kalau lo sama Reyna berjodoh," jawab Agnia.
"Yang, jangan paksa. Kalau emang Dikta nggak mau, kasihan Reyna jadinya," ucap Bagas.
"Aku tahu, Yang. Makanya sekarang aku mau memastikan dulu ke Dikta, kalau dia emang nggak suka dan nggak mau sama Reyna, jadi aku nggak akan maksa dia lagi," balas Agnia.
Agnia kembali menatap Dikta, "Jadi, jawab jujur. Lo mau atau nggak sama Reyna? Kalau emang lo nggak mau dan nggak suka, gue bakal biarin siapa aja deketin Reyna termasuk Anton," tanya Agnia.
"Lo mau gue jawab apa?" tanya Dikta.
"Terserah lo, lo yang bakal ngejalanin semuanya. Kalau gue mau egois, gue berharap lo sama Reyna, tapi gue nggak mau maksa... semua keputusan ada di tangan lo," jawab Agnia.
"Emang Reyna setuju deket sama gue?" tanya Dikta.
"Kalau Reyna gampang, gue yang bakal bantu lo deket sama Reyna, itupun kalau lo mau," ujar Agnia.
"Reyna udah siap nikah?" tanya Dikta.
Pertanyaan Dikta sontak membuat Agnia dan Bagas terkejut, mereka saling beradu pandang seolah memastikan apa yang mereka dengar tidak salah.
"Maksud lo apa? Kenapa lo tanya soal itu?" tanya Agnia.
"Bukannya lo jodohin gue sama Reyna biar kita nikah kan?" tanya Dikta.
"Iya sih, tapi ya nggak langsung nikah juga. Kalian jalanin hubungan dulu, pacaran satu atau dua tahun gitu," ucap Agnia.
"Gue bilang kan kalau gue nggak mau pacaran, Kalau emang lo mau jodohin gue sama Reyna... ya berarti gue bakal nikahin Reyna, dan nggak ada itu pacar-pacaran," ucap Dikta.
"Tapi, lo belum kenal Reyna, Ta. Kalau ternyata lo sama Reyna nggak cocok dan malah cerai, gimana?" tanya Agnia, tiba-tiba khawatir.
"Kalau gitu, lo jangan jodohin lagi gue sama Reyna," balas Dikta.
Jawaban Dikta yang terucap begitu santai namun penuh penekanan itu seketika membuat kamar menjadi hening. Agnia terpaku di tempatnya, sementara Bagas membelalakkan mata dan tak menyangka respons sepupunya akan se-ekstrem itu.
"Ta, tunggu dulu...," Bagas akhirnya memotong dan beranjak duduk tegak di tepi ranjang.
"Gini deh...lo ada ketertarikan gak sama Reyna? Ada rasa gak? Masa iya lo mau nikahin cewek tanpa ada rasa apa-apa cuma gara-gara disuruh Agnia?" tanya Bagas.
Dikta menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa, menatap Bagas dan Agnia secara bergantian dengan manik mata hitamnya yang tenang.
"Gue gak pernah bilang gue gak ada rasa," ucap Dikta pelan namun tegas.
Agnia mendadak menahan napas, "Maksud lo...?"
"Gue peduli sama Reyna, gue nyaman ada di dekat dia... dan kalau kalian nanya apa gue mau deket sama dia... jawabannya gue bisa deketin Reyna, tapi deketinnya bukan buat main-main atau pacaran tanpa arah yang jelas. Kalau Reyna siap dan mau, gue bakal langsung datengin orang tuanya," ucap Dikta.
"Tapi... lo nggak bakal nyakitin Reyna kan? Maksud gue... lo kan belum kenal Reyna lebih dekat nih, terus pas udah nikah ternyata ada yang nggak lo sukai dari Reyna dan lo tiba-tiba ceraikan Reyna, gimana?" tanya Agnia.
"Kalau soal itu, aku yakin Dikta nggak akan melakukannya. Dikta bukan cowok br*ngsek kayak Anton yang gonta ganti cewek," sahut Bagas.
"Oke! Kalau gitu, gue bakal jodohin lo sama Reyna. Kalau emang lo mau nikahin dia, gue nggak masalah. Btw, Reyna yatim piatu dan dia nggak punya keluarga yang deket sama dia, jadi kemungkinan nggak akan ada penghalang dari sisi keluarga. Tapi, keluarga lo...," ucap Agnia.
"Tenang aja, aku jamin keluarga Dikta nggak akan mempermasalahkannya," ucap Bagas meyakinkan istrinya.
"Kayaknya lo lebih tahu gue, daripada gue sendiri," sahut Dikta.
"Jelaslah, kita udah kenal dari kecil. Orangtua lo juga sering curhat ke kita-kita," balas Bagas.
.
.
.
Bersambung.....
Reyna jg sudah dewasa tdk perlu berlebihan jd ilfil
lanjut thor