“Antara kewajiban keluarga, perjodohan, dan cinta yang tumbuh tanpa rencana…”
Maizara merindukan kebebasan, sementara Dimas hanya peduli pada tahta dan bisnisnya. Ketika perjodohan membawa mereka dalam satu atap, setiap tatapan menjadi perang dingin, dan setiap sentuhan menjadi ancaman bagi hati mereka.
Saat dua dunia menuntut kepatuhan, akankah rasa di antara mereka menyerah pada gengsi, atau tunduk pada cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NinLugas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31: Menuju Gerbang Abadi
Matahari pagi di Yogyakarta menyinari pekarangan rumah Natakusumah dengan kehangatan yang menenangkan. Selepas badai emosi dan keputusan berat yang harus diambil oleh Adam dan Alya beberapa hari lalu, atmosfer di dalam rumah besar berarsitektur Joglo itu berangsur-angsur pulih. Adam memilih tinggal di rumah untuk sementara waktu, menyelesaikan sisa masa cutinya dengan membantu Ibu merawat tanaman, sementara Alya didampingi ibunya tengah memulihkan diri serta bersiap mengurus keberangkatannya melanjutkan sekolah seni di Brooklyn.
Badai telah mereda, menyisakan kebijaksanaan dan kedewasaan batin bagi setiap anggota keluarga. Kini, seluruh perhatian dan energi di rumah ini tercurah pada satu agenda besar yang tinggal menghitung hari. hari pernikahan antara aku dan Dimas Arjowibowo.
Pagi itu, suara deru mobil sedan mewah milik Dimas memasuki halaman pendopo. Pria itu datang tepat waktu, mengenakan kemeja batik tulis tangan bermotif parang dengan celana bahan gelap. Wajah tampannya tampak segar, meski guratan lelah akibat mondar-mandir mengurus perizinan bisnis antara Jakarta dan Jogja masih samar terlihat di sudut matanya.
Namun, begitu manik mata hitamnya menangkap keberadaanku yang sedang duduk di beranda menikmati teh hangat, senyuman manis langsung tersungging di bibirnya.
"Pagi, Maizara," sapa Dimas dengan suara baritonnya yang lembut, melangkah mendekat dan mencium puncak kepalaku sekilas sebelum duduk di kursi rotan di sampingku.
"Pagi juga, Mas," sambutku tersenyum hangat, menuangkan secangkir teh hangat untuknya. "Tidurmu nyenyak semalam? Jangan terlalu diforsir urusan kantornya, acaranya sudah dekat."
Dimas menerima cangkir teh itu, menyeruputnya pelan, lalu menatapku dengan binar mata yang sarat akan rasa cinta. "Bagaimana bisa saya tidak kurang tidur kalau bayangan calon istri saya terus berkelebat di kepala saya tiap malam?" gombalnya dengan nada rendah yang sukses membuat kedua pipiku merona merah.
Aku terkekeh pelan, menggelengkan kepala. "Mulai deh gombalnya."
Dimas meletakkan cangkirnya, lalu meraih jemariku, menggenggamnya erat-erat di atas meja. Jemari hangatnya memberikan rasa aman yang selalu kurindukan.
"Mei," panggil Dimas serius. "Hari ini, kalau kamu tidak sibuk, aku ingin mengajakmu keluar sebentar. Ada tempat di Jogja yang ingin aku tunjukkan padamu."
Alis kiriku terangkat tipis. "Ke mana, Mas? Bukannya hari ini kita harus fitting baju pengantin adat di butik langganan Mami?"
"Fitment bajunya sore nanti. Siang ini, ikut aku dulu," bujuk Dimas lembut, sorot matanya memohon.
Aku menghela napas pendek, lalu mengangguk menyerah. "Baiklah. Sebentar aku ambil tas dulu."
Mobil SUV hitam Dimas membelah jalanan kota Jogja menuju arah utara, melaju tenang meninggalkan hiruk-pikuk pusat kota menuju kawasan kaki Gunung Merapi yang sejuk dan asri. Di sepanjang perjalanan, pemandangan berganti dari deretan ruko perkotaan menjadi hamparan sawah hijau yang membentang luas serta barisan pohon salak yang rindang.
Setelah berkendara sekitar empat puluh menit, mobil berbelok memasuki sebuah kompleks bangunan joglo modern berkonsep terbuka yang dikelilingi taman bunga yang luas dan galeri seni kontemporer. Di papan nama kayu di depan gerbang tertulis. Rumah Singgah & Sanggar Seni Rupa Nusantara.
Aku menoleh ke arah Dimas dengan penuh tanda tanya saat mobil berhenti mulus di area parkir. "Tempat apa ini, Mas?"
Dimas tersenyum misterius, mematikan mesin mobil, lalu keluar untuk membukakan pintu untukku. "Turunlah, kamu akan tahu sebentar lagi."
Kami berjalan berdampingan memasuki area sanggar seni tersebut. Udara pegunungan yang segar langsung menyergap indra penciumanku. Di dalam galeri utama, terpajang puluhan karya lukisan kanvas dengan corak warna-warni yang ekspresif dan penuh jiwa. Beberapa anak muda tampak asyik melukis di sudut ruangan.
Seorang wanita paruh baya berbusana etnik menyambut kedatangan kami dengan senyuman ramah. "Selamat datang, Nak Dimas. Wah, ini ya calon istri yang sering diceritakan?"
Dimas mengangguk sopan. "Igart, perkenalkan, ini Maizara."
Aku membungkuk hormat. Ternyata tempat ini adalah yayasan sanggar seni rupa independen yang didirikan oleh seorang seniman senior untuk menaungi anak-anak muda berbakat dari berbagai daerah yang ingin belajar seni lukis namun terkendala biaya.
Dimas menuntunku berjalan ke sudut galeri yang menghadap langsung ke panorama lembah hijau Gunung Merapi. Di sana, sebuah kanvas besar berdiri tegak tertutup kain putih satin.
"Mas Dimas... apa ini?" tanyaku penasaran, menatap Dimas yang kini berdiri tepat di belakangku, kedua tangannya melingkar santai di pinggangku.
Dimas menunduk, meletakkan dagunya di bahuku, dan membisikkan kalimat di telingaku dengan suara baritonnya yang hangat.
"Buka kainnya, Mei."
Dengan tangan yang sedikit bergetar karena rasa penasaran, aku menarik kain putih satin penutup kanvas tersebut perlahan-lahan.
Srekk...
Jantungku seketika berdegup kencang. Di atas kanvas besar itu, terlukis sebuah pemandangan yang begitu indah dan sarat makna. Lukisan bergaya oil painting itu menggambarkan siluet seorang perempuan berbusana tradisional yang berdiri tegak di tengah padang ilalang, menghadap ke arah cakrawala matahari terbit dengan tangan menengadah bebas, sementara di latar belakangnya berdiri sesosok bayangan pria tegap yang melindunginya dari kejauhan.
Warnanya begitu hidup, sapuan kuasnya tegas, penuh emosi, dan menyiratkan ketangguhan serta kebebasan seorang perempuan.
"Ini..." suaraku tercekat, air mataku mendadak menetes perlahan membasahi pipiku. "Ini lukisan siapa, Mas? Indah sekali..."
Dimas mengeratkan pelukannya di pinggangku, mengecup pipiku dengan penuh kelembutan.
"Ini lukisan yang dipesan khusus dari salah satu seniman muda berbakat binaan sanggar ini," tutur Dimas parau di dekat telingaku. "Aku memesannya khusus untukmu, Mei. Melalui lukisan ini, aku ingin mengabadikan perjalananmu... tentang bagaimana kamu adalah perempuan mandiri yang tidak pernah menyerah pada prinsipmu, yang berdiri tegak di atas duniamu sendiri, dan bagaimana aku ingin selalu ada di sampingmu, bukan untuk mengurungmu, melainkan untuk menjadi rumah tempatmu pulang."
Tangis haru pecah di dadaku. Aku berbalik menghadap Dimas, merangkul lehernya erat-erat, dan membenamkan wajahku di dada bidangnya.
"Terima kasih, Mas... Terima kasih banyak," isakku pelan. "Lukisan ini... ini hadiah terindah yang pernah aku terima."
Dimas mengusap punggungku dengan penuh kasih sayang, mengecup puncak kepalaku berulang kali. Di galeri seni yang tenang di kaki Merapi itu, di hadapan lukisan yang menceritakan jiwa dan perjuanganku, aku merasa menjadi perempuan paling berharga di dunia ini.
Sore harinya, kami kembali ke pusat kota Jogja untuk memenuhi jadwal fitting baju pengantin di butik busana tradisional milik rekan Mami.
Setibanya di butik, Mami dan Ibu ternyata sudah menunggu di ruang tunggu bersama beberapa staf perancang busana. Begitu kami masuk, Mami langsung menyambut kami dengan senyuman lebar.
"Wah, calon pengantin baru yang paling sibuk baru datang!" canda Mami ceria, merangkul bahuku. "Ayo, Mei, coba kebaya pengantin gaya Mataraman Jogja yang sudah disiapkan. Nak Dimas, silakan ganti baju beskapmu di ruang sebelah."
Selama dua jam berikutnya, ruangan fitting dipenuhi oleh kesibukan yang menyenangkan. Aku mengenakan kebaya pengantin berpayet keemasan dengan motif klasik dipadukan kain batik tulis motif sidomukti yang elegan. Ketika aku keluar dari ruang ganti dan berdiri di hadapan cermin besar, bayangan diriku sendiri tampak begitu anggun.
Pintu ruang ganti pria terbuka, dan Dimas melangkah keluar mengenakan beskap hitam beludru lengkap dengan blangkon khas Jogja dan keris terselip rapi di pinggang belakangnya.
Pria itu tampak begitu gagah, berwibawa, dan memancarkan kharisma ningrat yang luar biasa. Manik mata hitamnya terpaku lurus padaku melalui pantulan cermin. Untuk beberapa detik, Dimas seolah kehabisan kata-kata, terpaku menatap kecantikanku dalam balutan kebaya pengantin tradisional.
"Maizara..." gumam Dimas pelan, melangkah mendekatiku hingga jarak kami hanya tersisa beberapa jengkal. Jemari hangatnya menyentuh pundakku dengan sangat hati-hati. "Kamu... kamu terlihat sangat memukau."
Mami dan Ibu yang berdiri di sudut ruangan tertawa kecil melihat ekspresi terpukau dari Dimas.
"Sudah jangan saling tatap-tatapan terus, nanti keburu malam!" canda Mami tersenyum gemas. "Urusan baju sudah beres. Besok kita tinggal gladi bersih akad nikah di pendopo."
Malam harinya, selepas makan malam bersama keluarga di rumah Natakusumah, Dimas mengantarku duduk di teras belakang yang menghadap ke kolam ikan. Suasana malam Jogja begitu damai, ditemani suara jangkrik dan gemercik air mancur kecil.
Dimas duduk di sebelahku, mengenakan kemeja santai, sementara aku menyandarkan kepalaku di bahunya.
"Mei," panggil Dimas pelan.
"Hmm?" sahutku menutup mata, menikmati kehangatan malam itu.
"Besok lusa... kita akan sah menjadi suami istri," ucap Dimas dengan suara baritonnya yang bergetar halus, sarat akan rasa tidak percaya bercampur syukur yang mendalam. "Rasanya seperti mimpi. Lelaki kaku sepertiku akhirnya bisa memenangkan hati perempuan sekeras dan seanggun dirimu."
Aku menegakkan kepalanya, menatap lurus ke dalam manik mata hitam Dimas yang berkilau di bawah temaram lampu taman. Aku merapikan kerah kemejanya, lalu tersenyum manis.
"Mas Dimas bukan lelaki kaku lagi," ralatku lembut. "Mas adalah lelaki berjiwa besar yang mau belajar merendahkan ego, menghargai batasan, dengan ketulusan. Itu jauh lebih berharga dari apa pun."
Dimas meraih tangan kananku, mencium punggung tanganku dengan takzim, lalu menyematkan sebuah kecupan hangat di jemariku.
Di dalam keheningan malam Jogja yang syahdu, sebuah kata mutiara terlintas di dalam batinku, merangkum seluruh perjalanan panjang yang telah kami lalui:
"Cinta sejati bukanlah tentang menemukan seseorang yang sempurna tanpa cela, melainkan tentang dua jiwa yang berani meruntuhkan egonya masing-masing untuk saling menyempurnakan di dalam restu Sang Pencipta."
Dimas memandangi bibirku sekilas, lalu tersenyum tipis. "Tidurlah yang nyenyak malam ini, calon istriku. Besok kita jalani gladi bersih, dan lusa... aku akan resmi mengambil alih seluruh tanggung jawab hidupmu di bawah lindunganku."
Aku mengangguk mantap, memeluk tubuh tegapnya erat-erat. Di pelukan Dimas Arjowibowo, aku tahu persis bahwa seluruh peluh, air mata, dan pertahanan diri yang selama ini kujaga telah berlabuh di tempat yang paling tepat sebuah rumah abadi penuh cinta dan kehormatan.