“Pernikahan ini hanya ikatan di atas kertas. Jangan pernah berharap aku akan menyentuhmu, apalagi mencintaimu.”
Duka membeku di hati Arjuna. Sejak kepergian istri tercintanya, jenderal muda yang disegani itu mengubur rapat hatinya untuk siapa pun. Namun, sebuah wasiat terakhir memaksanya menikahi Arunika, perempuan yang sama sekali tak pernah ia bayangkan menjadi pendamping hidupnya.
Di mata Arjuna, Arunika hanyalah wanita bertubuh gemuk, sederhana dan tak pantas berjalan di sisinya. Ia menerima pernikahan itu semata demi menghormati pesan terakhir mendiang istrinya dan memberikan seorang ibu bagi putra kecil mereka.
Saat Arunika perlahan menaklukkan hati putra kecilnya, sang Jenderal pun mulai goyah.
Bisakah Arjuna mempertahankan dinding esnya ketika wanita yang ia remehkan justru menjadi satu-satunya alasan jantungnya berdetak kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 6
"Mama?" gumam Nakula.
Nakula mendongak, menatap sosok Arunika dengan manik mata yang masih digenangi air mata. Bibir mungilnya bergetar hebat, seolah ia sedang meragu dan takut mengucapkan satu kata sakral yang telah lama direnggut dari hidupnya.
Belum sempat Arunika membalas tatapan itu, Wina sudah lebih dulu menyela.
"Kau tidak boleh sembarangan memanggil perempuan asing dengan sebutan mama, Nakula!" bentakan melengking Wina memecah keheningan.
Refleks, tubuh kecil Nakula tersentak dan menciut. Bocah malang itu kembali menundukkan kepala.
Wina melangkah maju dengan penuh murka, lalu menarik paksa putranya, Damar, untuk berdiri rapat di sampingnya.
"Perempuan ini bukan ibumu, Nakula! Dia cuma orang aneh yang tak tahu malu dan baru menjejakkan kaki di rumah ini beberapa jam lalu."
Arunika perlahan bangkit dari jongkoknya. Senyum lembut di bibirnya lenyap seketika, tergantikan oleh sorot mata dingin setajam es yang sanggup membekukan siapa pun yang memandangnya.
"Mulai hari ini, aku memang ibunya," ucap Arunika dengan tenang.
Wina tertawa sinis. "Ibu? Jangan membuatku tertawa! Kau itu cuma istri di atas kertas! Arjuna bahkan sama sekali tidak menganggap mu ada. Kalau dia menganggapmu, dia tidak akan mungkin pergi di malam pertama kalian. Lagipula, Mana mungkin adikku sudi menikahi wanita gendut sepertimu kalau bukan karena kau memakai guna-guna!" maki Wina dengan tatapan meremehkan.
Damar ikut-ikutan menyeringai. "Iya, Ma! Om Arjuna pasti sudah disihir sama dia!"
Alih-alih tersinggung atau terpancing emosi, Arunika justru melipat kedua tangan di dada dengan santai. "Terserah apa kata Kakak Ipar. Yang jelas, di mata hukum dan agama statusku tetap ibu Nakula secara sah."
Wajah Wina langsung berubah merah padam. "Kurang ajar kau gendut keras kepala!"
"Aku tidak sedang meminta validasi darimu." Arunika memangkas jarak, lalu dengan cepat menepis cengkeraman tangan Wina dari pergelangan tangan Nakula. "Menjauh dari putraku."
Wina berang, mencoba kembali meraih lengan Nakula. "Kibulang jangan ikut campur urusan keluarga inti kami!"
"Justru ini sudah jadi urusanku."
"Sejak kapan?!"
"Sejak Arjuna resmi menikahi ku hari ini."
Kalimat telak itu membuat Wina tertegun sejenak. Memanfaatkan celah itu, Arunika langsung bergeser berdiri tepat di depan Nakula, memasang badannya menjadi tembok pelindung paling kokoh bagi bocah tak berdosa tersebut.
Melihat pertahanannya runtuh, Wina beralih menyerang mental Nakula.
"Nakula, dengarkan bibi. Nanti kalau ayahmu pulang dari tugas, laporkan padanya kalau perempuan gendut ini sudah memukulmu. Dan katakan juga kalau dia menarik tanganmu dengan kasar sampai sakit!"
"Tapi... Bibi..."
"Katakan saja seperti itu, jangan membantah! Kalau kau berani membangkang, malam ini dan seterusnya kau tetap akan tidur di gudang tikus itu!" ancam Wina.
Nakula menggigit bibirnya sendiri hingga nyaris berdarah. Ia mendongak menatap Arunika dengan tatapan bingung dan bimbang luar biasa.
Haruskah ia berbohong lagi? Haruskah ia menuruti ancaman bibinya demi menyelamatkan diri sendiri agar tidak lagi di siksa?
Arunika tentu mendengar setiap kata ancaman busuk itu. Namun di luar dugaan siapa pun, ia sama sekali tidak marah pada keraguan sang anak sambung. Ia justru berlutut kembali, lalu tersenyum.
"Kalau memang itu bisa membuatmu tidak dimarahi katakan saja begitu pada ayahmu nanti, Nakula." Arunika mengusap pelan puncak kepala Nakula.
Mata Nakula membelalak sempurna. "Apa katamu?"
"Aku tidak apa-apa disalahkan. Aku sudah terbiasa diperlakukan tidak adil oleh keluargaku dulu," bisik Arunika lembut. "Anak kecil sepertimu tidak seharusnya hidup dalam teror dan ketakutan setiap detik. Kalau berbohong bisa membuatmu selamat malam ini, lakukan saja."
Nakula terpaku. Dadanya mendadak terasa sesak oleh gelombang emosi yang teramat asing. Selama enam tahun ia hidup di rumah ini, belum pernah ada satu pun orang dewasa yang rela berkorban atau membiarkan dirinya disalahkan demi melindunginya. Bahkan ayahnya sendiri. Pria yang akrab dipanggil jendral itu lebih sibuk dengan pekerjaannya.
Air mata yang sempat surut kembali tumpah membasahi pipinya. "Kenapa kau melakukan itu?" tanya Nakula.
"Karena aku benci melihat anak kecil tidak bersalah disakiti," balas Arunika tersenyum tulus.
Kalimat sederhana itu bagai palu godam yang menghancurkan benteng es di hati Nakula yang selama ini membeku.
Wina menggertakkan giginya kesal, kehilangan kendali. "Cukup sandiwaranya!" ia kembali maju hendak menarik paksa Nakula.
Tetapi gerakan Arunika jauh lebih cepat. Ia menepis tangan Wina dengan kasar hingga terpental menjauh dari lengan Nakula.
"Kubilang, jangan sentuh Nakula mulai malam ini!" seru Arunik berubah sedingin es di kutub.
"Kau tidak berhak melarang ku!" teriak Wina histeris.
"Silakan saja kalau mau mencoba. Malam ini, Nakula tidur di kamarku." Arunika menatap tajam manik mata Wina tanpa gentar sedikit pun.
"Apa?!" seru Wina dan Damar bersamaan, nyaris jantungan.
"Mana bisa begitu!"
"Siapa yang melarang?"
"Arjuna!"
Arunika mengangkat sebelah alisnya menantang. "Lucunya, tadi sebelum berangkat tugas, Arjuna sendiri yang menegaskan padaku bahwa aku adalah ibu dari Nakula. Dan sebagai ibunya, aku punya hak penuh memastikan anakku tidur dengan aman."
Tanpa menunggu persetujuan dari mulut busuk iparnya, Arunika menggenggam jemari mungil Nakula yang dingin.
"Ayo, Nakula ikut Mama."
Nakula masih terpaku di tempat. Ia menatap tangan hangat Arunika yang menggenggam erat telapak tangannya. Entah dorongan dari mana, bocah itu membalas genggaman tersebut dengan erat, seolah menyalurkan seluruh sisa kekuatannya.
Arunika tersenyum tipis, lalu menuntun langkah Nakula meninggalkan lorong mencekam itu.
Di belakang mereka, wajah Wina memerah padam menahan amarah yang meledak-ledak. Damar mengepalkan kedua tangannya hingga buku-buku jarinya memutih.
"Awas kalian! Kalian pasti akan menyesal karena sudah berani melawanku!" teriak Wina penuh kebencian membara.
Bantai aja Nika, mumpung Arjuna lagi tugas, jadi ga perlu akting2an kalian
udh pindah aj ke dapur itung2 latihan nanti kalo makan di penjara ,, 🤭🤭🤣🤣🤣 ,, biar gx kaget