-
Di tengah ketenangan Desa Lemah Wungu yang asri dan dikelilingi hamparan sawah hijau, Bagas hidup dalam impian sederhana bersama ibunya. Namun, penyakit parah yang menggerogoti sang ibu memaksa Bagas nekat melanggar pantangan desa: memasuki hutan keramat Sendang Manten untuk mengikat perjanjian gaib dengan Ratu Ular.
Seketika, nasibnya berubah. Kepingan sisik emas melimpah membuat Bagas menjadi pemuda terkaya di desa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 21
🍂🍂🍂🍂
Tepat saat dentang tengah malam Selasa Kliwon berganti, suasana di seluruh penjuru Hutan Keramat Sendang Manten mendadak hening tanpa suara jangkrik maupun desir angin malam. Di kedalaman alam gaib, Danau Utama Sendang Manten memancarkan pendar pencerahan yang amat asing. Air danau yang biasanya hijau pekat kini bergejolak hebat, membentuk pusaran raksasa yang berputar kencang mengelilingi Altar Utama Pualam.
Bagas dan Candra Kirana melangkah perlahan memasuki pusaran air tersebut. Candra Kirana tampil anggun dalam wujud manusianya, mengenakan kemben sutra hijau dengan Mahkota Zamrud Penguasa Ular yang menjulang indah di kepalanya. Namun, pancaran matanya yang keemasan malam ini dipenuhi air mata haru dan kecemasan yang amat sangat.
Kedua telapak kaki mereka berpijak di tengah pualam altar yang terendam air hangat berkilat keemasan.
"Suamiku..." bisik Candra Kirana dengan suara bergetar halus, jemari indahnya yang dingin meremas erat telapak tangan tegap Bagas. "Kita telah sampai di gerbang pelunturan takhta. Begitu mahkota ini kulepas, seluruh racun bisa, kekuasaan, dan energi magis ratusan tahun dari raga Sang Ratu Ular akan tumpah seutuhnya menembus sukmamu. Ini kesempatan terakhirmu untuk mundur, Bagas..."
Bagas menatap dalam-dalam iris mata keemasan istrinya. Di bawah dada kirinya, Rajah Pusaka Sisik Emas berdenyut kencang, menyalurkan kehangatan yang menguatkan jiwanya.
"Aku tidak akan pernah mundur, Kirana," jawab Bagas dengan intonasi rendah yang tegap dan berwibawa. "Lepaskan mahkotamu. Biarkan seluruh rasa sakit itu mengalir ke dalam ragaku. Aku siap menjadi wadah bagimu untuk kembali menjadi manusia biasa."
Candra Kirana menahan napasnya yang sesak, menangis haru menyaksikan keberanian mutlak pria yang dicintainya. Dengan perlahan, kedua tangan halus Candra Kirana terangkat ke atas kepala. Begitu jemarinya menyentuh ukiran Mahkota Zamrud Penguasa Ular, sebuah dentuman gaib yang teramat dahsyat meledak menggetarkan dua alam!
DHOOOMMM!
Di dunia nyata, langit di atas kawasan perbukitan Desa Lemah Wungu yang tadinya cerah mendadak tertutup gumpalan awan hitam pekat. Petir-petir keemasan menyambar-nyambar di udara tanpa henti, membelah malam yang sepi. Angin puting beliung bertiup kencang menerpa atap-atap rumah warga, membawa serta aroma melati yang teramat pekat hingga membuat seluruh warga terbangun ketakutan.
"Gusti Pangeran! Ada apa dengan langit malam ini?!" teriak Kang Saman ketakutan dari balik jendela rumahnya.
Sementara itu, di rumah joglo, Mbok Sumi terbangun dari tidurnya dengan dada yang berdebar kencang. Wanita tua itu memegangi dadanya seraya menatap ke arah kamar Bagas yang terkunci rapat.
"Bagas... kamu di mana, Le...?" gumam Mbok Sumi penuh firasat cemas, menatap kilatan petir keemasan di langit.
Kembali ke kedalaman Danau Utama Sendang Manten, prosesi pelunturan takhta telah mencapai puncaknya.
Candra Kirana menarik Mahkota Zamrud dari kepalanya lalu melemparkannya ke dalam pusaran air danau. Seketika itu pula, tumpahan energi ghaib berwarna hijau tua keemasan yang teramat pekat melonjak keluar dari raga Candra Kirana, membentuk naga raksasa dari tumpahan racun bisa yang langsung meliuk dan menghantam dada bidang Bagas!
SZTSZZZTTT!
"AAAGHHHHHHH!"
Bagas menjerit dahsyat, tubuh tegapnya terangkat melayang beberapa jengkal di atas altar. Rasa panas yang teramat membakar bagaikan lahar mendidih seketika menyebar dari dadanya, merayap cepat menyusuri setiap pembuluh darah, otot, hingga ke sumsum tulangnya. Kulit tubuh Bagas mendadak membara merah, mengeluarkan asap tipis berbau racun sangit.
"BAGAS!" jerit Candra Kirana histeris, menangis sejadi-jadinya melihat penderitaan suaminya.
Penderitaan itu bukan sekadar siksaan fisik. Gelombang energi magis ratusan tahun milik Penguasa Ular dihantamkan langsung ke dalam ingatan Bagas. Kepala Bagas terasa pecah oleh deru ribuan desisan taksaka. Penglihatannya mendadak gelap gulita, dan bayangan-bayangan dalam ingatannya perlahan mengabur dan terkikis.
‘Siapa dirimu...?’ desis suara-suara ghaib dari dalam aliran racun tersebut. ‘Lupakan kehidupan fanamu... Lupakan jiwamu... Serahkan sukmamu pada kegelapan!’
"Nggghhh... Aahhh!" Rintihan berat keluar dari tenggorokan Bagas yang mengering. Pandangan matanya memutih, ingatannya tentang dunia nyata, tentang rumah joglo, dan identitas dirinya perlahan tenggelam di ambang kematian sukma.
Candra Kirana melangkah menerobos pusaran air yang membara, merangkul tubuh tegap Bagas yang bergetar hebat di udara. Tangan halusnya memeluk erat leher suaminya, menyandarkan dahi mulusnya di kening Bagas.
"Bagas! Bertahanlah, Suamiku!" jerit Candra Kirana dengan air mata yang menetes membasahi wajah panas Bagas. "Jangan biarkan racun itu menghapus ingatanmu! Ingatlah aku... ingatlah Ibumu di dunia nyata! Kembalilah padaku, Bagas!"
Di dalam kegelapan batin yang hampir merenggut nyawanya, bisikan histeris Candra Kirana dan hangatnya linangan air mata sang istri menembus dasar sukma Bagas.
Tiba-tiba, di tengah kegelapan pikiran Bagas yang mengabur, berkelebat bayangan senyuman tulus Mbok Sumi yang menangis haru saat mendengar janji pernikanannya. Berkelebat pula kenangan manis saat Candra Kirana menyandarkan kepalanya di atas peraduan jati kamar joglo seraya menyebutkan nama aslinya.
"I-Ibu... Kirana...!" erang Bagas parau dengan sisa kesadaran teragungnya.
Tekad bulat dan cinta yang tak terbagi meledak seketika di dalam batin Bagas. Pemuda tegap itu mengepalkan kedua tangannya hingga buku-buku jarinya memutih, menolak untuk tunduk pada kepunahan sukma.
BOMMM!
Rajah Pusaka Sisik Emas di dada kiri Bagas memancarkan pendar pencerahan hijau keemasan yang teramat murni dan silau, menetralkan tumpahan racun bisa yang membakar raganya. Pusaka sakral itu menyerap seluruh kekuatan takhta Sang Ratu, menampungnya di dalam wadah pencerahan jiwa Bagas.
Namun, akibat tumpahan energi ghaib yang luar biasa besar itu, gelombang ledakan magis memancar keluar dari dasar danau, mengancam akan menghancurkan dimensi Hutan Keramat hingga menyapu pemukiman Desa Lemah Wungu di dunia nyata!
"Tidak...!" geram Bagas dengan mata yang menyala keemasan. "Aku tidak akan biarkan energi ini menghancurkan desa dan Ibuku!"
Dengan sisa kekuatan fisik dan jiwanya yang telah bertransformasi, Bagas melepaskan rangkulan Candra Kirana sejenak. Pemuda tegap itu menghentakkan kedua telapak tangannya ke atas pualam altar. Melalui Mata Batin Indra Ular yang kini membara kuat di keningnya, Bagas mengendalikan seluruh pusaran air danau dan gelombang energi liar di udara, menarik semuanya kembali dan menguncinya rapat-rapat di dalam pendar Pusaka Sisik Emas di dadanya.
SZZZZT...!
Sekejap mata, gemuruh petir di langit perbukitan desa seketika reda. Badai angin kencang berhenti bertiup, meninggalkan aroma melati yang lembut dan udara malam yang kembali tenang dan sejuk di Desa Lemah Wungu.
Di atas Altar Utama Sendang Manten, pusaran air danau perlahan menyurut menjadi riak-riak tenang. Pendar keemasan ghaib yang mendominasi istana bawah tanah itu perlahan luntur, berganti menjadi suasana alami yang tenang.
Bagas terkulai lemas di atas pualam altar, napasnya tersengal-sengal pendek dengan dada bidang yang naik turun beratur. Kulit tubuhnya yang tadinya terbakar kini kembali bersih, tegap, dan memancarkan aura wibawa yang jauh lebih agung.
Di sampingnya, Candra Kirana terhenyak kaku. Wanita jelita itu meraba tubuhnya sendiri dengan jemari yang bergetar hebat.
Tidak ada lagi pendar mata keemasan. Tidak ada lagi sisik zamrud ghaib yang melapisi kulitnya. Hawa dingin ghaib ratusan tahun yang menyelimuti tubuhnya telah lenyap seutuhnya, berganti dengan rasa hangat aliran darah manusia fana. Candra Kirana telah terbebas dari takhta dan wujud Ratu Ular—ia kini sepenuhnya menjadi wanita manusia biasa!
"Bagas... Bagas!" jerit Candra Kirana bahagia seraya memeluk erat tubuh tegap suaminya yang terkulai di atas pualam.
Bagas perlahan membuka matanya. Pandangannya jernih, ingatannya utuh sepenuhnya. Pemuda tegap itu menyunggingkan senyuman paling tulus, membalas pelukan erat istrinya yang kini hangat sebagai manusia fana.
"Kita... kita berhasil, Kirana..." bisik Bagas pelan namun sarat akan kebahagiaan sejati. "Kamu sudah menjadi manusia... dan kita bisa pulang ke rumah joglo."
Candra Kirana menangis gembira di dada Bagas, mencium pipi dan bibir suaminya berulang kali. Ritual berbahaya itu telah mereka lalui dengan kemenangan cinta yang mutlak, membawa Candra Kirana kembali ke wujud fananya untuk memulai kehidupan baru di dunia nyata bersama Bagas dan Mbok Sumi.
Bersambung...