Lula, bocah 5 tahun yang hidup luntang-lantung di kerasnya jalanan Jakarta, mendadak jadi putri bungsu kesayangan keluarga konglomerat Ayodhya setelah kekuatan supernya menyelamatkan nyawa sang istri CEO. Kini, dengan kemampuannya berbicara dengan hewan dan melihat kabut nasib buruk, Lula bukan cuma jadi jimat penyelamat Grup Lentera, tapi juga pusat dunia bagi empat kakak laki-lakinya yang kelewat protektif.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
Bu Risa berjalan mendekat dan ikut terkejut melihat kumbang itu merayap sehat di tangan Lula.
"Astaga, ternyata kumbangnya hanya pingsan, syukurlah Riko," ucap Bu Risa lega.
Riko mengambil kumbangnya dari tangan Lula dengan wajah yang sangat berbinar-binar.
"Kamu hebat sekali Lula! Kamu seperti dokter hewan!" puji Riko sambil melompat-lompat senang.
Anak-anak lain yang awalnya mengabaikan Lula kini langsung berkerumun mengelilinginya.
"Lula bisa sembuhkan hewan? Wah keren sekali!"
"Lula, nanti main ayunan sama aku ya di luar!"
"Lula mau cokelat tidak? Aku punya banyak di tas!" Dalam sekejap, Lula yang awalnya dianggap aneh langsung menjadi bintang di kelas itu.
Lula tertawa senang karena dia mendapat banyak sekali teman baru di hari pertamanya.
Sementara itu, di seberang jalan raya depan gerbang sekolah, sebuah mobil kijang berwarna perak sedang terparkir diam.
Kaca jendelanya sengaja digelapkan agar orang dari luar tidak bisa melihat ke dalam.
Dua orang pria berbadan kekar dan berwajah garang sedang mengawasi gerbang TK itu menggunakan teropong kecil.
"Kau yakin ini sekolahnya?" tanya pria bertato di lehernya.
"Sangat yakin, Bos Surya sudah melacak mobil Baskoro sampai ke sini," jawab pria yang memegang kemudi.
Pria bertato itu mendecih kesal sambil menurukan teropongnya.
"Pengawalan mereka terlalu ketat, ada dua orang berjas hitam yang terus berdiri di samping gerbang," keluhnya.
"Kalau kita memaksa masuk sekarang, satpam dan pengawal itu pasti akan langsung meringkus kita."
Pria pengemudi itu menyalakan rokoknya dan tersenyum licik.
"Bos bilang kita tidak perlu buru-buru, pelajari dulu jadwal penjemputan anak itu."
"Nanti siang kakak-kakaknya yang masih remaja yang akan menjemputnya."
"Remaja ingusan pasti lebih mudah dikelabui daripada pengawal profesional," tambah pengemudi itu yakin.
Kedua preman suruhan Surya itu tertawa pelan dan kembali mengawasi gerbang sekolah dengan sabar.
Mereka sedang mencari celah terkecil untuk bisa membawa lari malaikat kecil keluarga Ayodhya itu.
Teng teng teng!
Suara lonceng sekolah berbunyi nyaring menandakan waktu pulang telah tiba.
Anak-anak berlarian keluar kelas dengan riang gembira sambil menggendong tas mereka.
Lula berjalan keluar kelas dengan digandeng oleh Bu Risa.
Dari kejauhan, Lula langsung melihat sosok Cakra yang melambaikan tangan dengan heboh di balik pagar sekolah.
Di sebelah Cakra, Dewa berdiri dengan wajah ditekuk dan kedua tangan dilipat di dada.
"Itu Kak Cakra dan Kak Dewa!" seru Lula sambil menunjuk ke arah mereka.
Bu Risa tersenyum dan mengantarkan Lula sampai ke luar gerbang sekolah.
"Terima kasih sudah menjaga adik kami Bu Guru," ucap Cakra ramah sambil mengedipkan sebelah matanya.
Bu Risa hanya tertawa kecil melihat tingkah Cakra yang suka tebar pesona.
"Sama-sama, Lula anak yang sangat pintar dan langsung punya banyak teman hari ini," puji Bu Risa.
Dewa mengambil tas punggung Lula dan membawakannya tanpa disuruh.
"Ayo pulang, di sini panas," ajak Dewa ketus.
Cakra langsung mengangkat tubuh Lula dan mendudukkannya di atas bahunya seperti biasa.
"Ayo kita meluncur pulang! Pesawat Cakra siap terbang!" seru Cakra sambil berlari kecil menuju mobil van mereka.
Lula tertawa lepas sambil memegangi kepala Cakra dengan kedua tangannya.
Namun tawa Lula tiba-tiba terhenti saat matanya tidak sengaja melihat ke arah mobil kijang perak di seberang jalan.
Dari mobil itu, Lula melihat ada gumpalan asap hitam kemerahan yang melayang tipis di atas atapnya.
Asap itu tidak sebesar kabut kematian Adrian, tapi itu jelas menunjukkan niat jahat yang membahayakan.
"Kak Dewa," panggil Lula pelan sambil menunjuk ke arah mobil kijang itu.
Dewa yang berjalan di belakang Cakra langsung menoleh ke arah yang ditunjuk adiknya.
"Ada apa? Kau mau beli es krim di seberang sana?" tanya Dewa bingung.
"Bukan es krim, di dalam mobil perak itu ada monster asap jahat," bisik Lula dengan wajah tegang.
"Monster asapnya terus melihat ke arah Lula."
Langkah Dewa langsung terhenti seketika.
Naluri jalanan yang sering dia pakai saat berkelahi tiba-tiba berteriak memperingatkan adanya bahaya.
Dewa menajamkan matanya menatap mobil kijang perak yang kaca jendelanya sangat gelap itu.
Dewa menyadari mesin mobil itu menyala tapi tidak bergerak sama sekali sejak tadi.
"Cakra, cepat masuk ke dalam mobil dan kunci pintunya," perintah Dewa dengan nada yang tiba-tiba berubah sangat rendah dan dingin.
Cakra yang menyadari perubahan nada suara adiknya langsung menuruti tanpa banyak tanya.
Cakra menurunkan Lula dan langsung memasukkannya ke dalam mobil van yang pintunya dibukakan oleh sopir.
"Kau mau ke mana Dewa? Ayo naik!" teriak Cakra dari dalam mobil.
Dewa menutup pintu van itu dengan kuat dari luar.
"Kalian jalan duluan saja, aku ada urusan sebentar dengan sampah yang berserakan di jalan," jawab Dewa santai.
Dewa berbalik dan berjalan perlahan menyeberangi jalan raya menuju mobil kijang perak tersebut.
Kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celana abu-abunya dengan santai.
Di dalam mobil kijang perak, kedua preman itu mulai panik melihat remaja itu berjalan ke arah mereka.
"Gawat, anak SMA itu menyadari keberadaan kita," umpat pria bertato.
"Cepat injak gasnya, kita harus pergi dari sini sebelum ketahuan!" perintahnya panik.
Namun sebelum mobil itu sempat melaju, Dewa sudah berdiri tepat di depan kap mobil mereka.
Brak!
Dewa menginjak bumper depan mobil kijang itu dengan satu kaki lalu menatap lurus menembus kaca gelap di depannya.
Meskipun dia tidak bisa melihat ke dalam, tatapan matanya tajam seperti elang yang siap menerkam mangsanya.
Dewa menggesekkan ibu jarinya ke lehernya sendiri, memberikan isyarat ancaman potong leher yang sangat jelas.
Pesan tanpa suara itu sangat sederhana: Jika kalian berani menyentuh adikku, aku akan membunuh kalian.
Kedua preman dewasa di dalam mobil itu menelan ludah dengan susah payah karena merasa terintimidasi oleh anak sekolah.
"Mundur pelan-pelan dan putar balik sekarang," perintah pria bertato dengan keringat dingin.
Mobil kijang perak itu akhirnya memundurkan kendaraannya dan melarikan diri dari depan sekolah dengan kecepatan tinggi.
Dewa menurunkan kakinya dari bumper dan mendecih kesal.
"Cih, dasar pengecut kelas teri," gumam Dewa sambil merapikan seragamnya.
Dewa menoleh ke belakang dan melihat mobil van keluarganya masih menunggunya di ujung jalan.
Dewa berjalan kembali menuju mobil vannya dengan senyum puas.
Rencana pengintaian penculikan dari Surya berhasil digagalkan bahkan sebelum mereka sempat keluar dari mobil.
Dan kali ini, bukan hanya kekuatan sihir yang menyelamatkan Lula, melainkan insting buas dari kakak bungsunya.