NovelToon NovelToon
Curriculum Of Death (Rahasia Di Balik Dinding Sekolah)

Curriculum Of Death (Rahasia Di Balik Dinding Sekolah)

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Kutukan / Mata Batin
Popularitas:366
Nilai: 5
Nama Author: Z. F. Werr

Tiga dekade tersimpan rapi, rahasia kelam SMA Bhakti Mulia akhirnya meminta bayaran.

Tepat tengah malam, dentang lonceng kuno ke-13 bergema. Gerbang sekolah terkunci gaib, sinyal ponsel lenyap, dan enam murid—Revan, Anya, Bima, Sasha, Dika, dan Nisa—terjebak di dalam labirin maut berdarah.

Sebuah kotak hitam kuno terkuak, menyisakan enam simbol aneh yang persis dengan tanda lahir mereka, beserta pesan berdarah:

"Selesaikan Kurikulum Maut ini sebelum fajar, atau jadilah bagian dari dinding sekolah untuk selamanya!"

ATURAN BERTAHAN HIDUP:
1. Jangan pernah berpencar.
2. Selesaikan teka-teki sebelum jam pasir habis.
3. Jangan percayai apa yang kamu lihat, entitas bisa meniru wujud temanmu!

Mampukah mereka selamat dari dosa besar tahun 1996?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Z. F. Werr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

​Bab 17 - Bayangan di Balik Gerbang Graha Sentosa

​Matahari pagi yang seharusnya membawa kehangatan justru terasa hampa dan menusuk tulang saat Revan dan kelima sahabatnya melangkah keluar dari gerbang utama SMA Bhakti Mulia. Langit di atas Gresik tampak mendung kelabu, seolah ikut meratapi kepergian Kak Yudha dan sisa-sisa kengerian yang baru saja mereka lalui di Sektor 02.

​Revan mengenakan jaket hoodie hitam tebal untuk menutupi bagian dada kirinya. Meskipun begitu, rasa panas dari ukiran simbol Sektor 00 sesekali masih berdenyut nyeri, seolah mengirimkan sinyal konstan dari pusat yayasan yang menanti kedatangan mereka.

​"Kita gak bisa langsung nyelonong masuk ke SMA Graha Sentosa siang-siang begini," ujar Dika sambil melirik layar gawainya di atas motor matic pinjaman Bima.

"Dari data peta digital yang berhasil gue unduh lewat jaringan darurat semalam, sekolah itu dijaga ketat oleh sistem keamanan swasta dan punya struktur bangunan yang jauh lebih luas dari Bhakti Mulia. Tempat itu pusat yayasan induk."

​Bima, yang berdiri di samping motornya sambil mengusap lengan kirinya, mendengus pelan. Punggung tangan kirinya masih menyisakan garis samar dari tanda perisai yang sempat aktif saat melawan tangan tengkorak.

"Terus kita mau nunggu apa lagi, Dik? Kalau kita kelamaan, bulan purnama keburu datang, dan Revan bakal—” Bima menghentikan kalimatnya, melirik sekilas ke arah Revan.

​"Bima benar," sahut Anya dengan suara tenang namun tegas. Gadis itu menatap pergelangan tangan kanannya yang dihiasi perban kain; di baliknya, ukiran Kunci Perak berdenyut pelan setiap kali ia menghadap ke arah barat daya—arah di mana SMA Graha Sentosa berdiri.

"Kita tidak punya banyak waktu. Tapi Nisa ada benar-benarnya, kita butuh strategi. Kita tidak tahu jebakan apa lagi yang dipasang yayasan di sana."

​Nisa merapikan tas ranselnya yang penuh dengan catatan fisik dari arsip Sektor 02.

"Berdasarkan dokumen yang gue temukan di lab bawah tanah sebelumnya, SMA Graha Sentosa menggunakan sistem keamanan berlapis sandi harian yang hanya dipegang oleh dewan pengurus inti. Pintunya tidak bisa dibuka pakai kekerasan fisik biasa. Kita butuh akses kode atau menyusup lewat jalur utilitas pembuangan lama."

​Sasha, yang sejak tadi berdiri agak menjauh sambil memeluk kedua lengannya, tiba-tiba terkesiap. Tubuhnya bergidik ngeri, dan ia menunduk menatap tanah. Tengkuknya yang ditutupi rambut panjang mendadak terasa panas.

​"Sha? Lo kenapa?" tanya Anya cepat, langsung merangkul pundak Sasha yang bergetar.

​Sasha mengangkat wajahnya, mata indra keenamnya memerah dan menatap kosong ke arah jalan raya utama.

"Mereka... mereka tahu kita selamat dari Sektor 02," bisik Sasha dengan suara gemetar ketakutan. "Ada... ada mata-mata yayasan yang ngawasin kita dari seberang jalan."

​Seketika itu juga, Revan memutar tubuhnya. Naluri kepemimpinannya langsung bangkit. Di seberang jalan raya, sebuah mobil sedan hitam bergeming di bawah naungan pohon angsana besar.

Kaca jendela mobil itu separuh terbuka, memperlihatkan kilatan lensa kamera kecil yang mengarah tepat ke arah mereka sebelum mobil tersebut langsung tancap gas meninggalkan tempat.

​"Sial! Kita terekam," geram Revan, rahangnya mengeras. Ukiran di dadanya mendadak berdenyut lebih cepat, seolah merespons kehadiran pengintai tersebut.

​"Artinya, pergerakan kita udah dipantau sejak kita keluar dari palka," kata Dika panik, memasukkan gawainya ke dalam saku.

"Kalau kita tunda lebih lama, mereka bakal siapin penyergapan sebelum kita sempat menginjakkan kaki di halaman Graha Sentosa."

​Revan menarik napas dalam-dalam. Keputusan harus diambil detik itu juga. Ia menatap teman-temannya satu persatu—Anya yang setia mendampinginya,

Bima yang siap bertarung habis-habisan, Dika dan Nisa dengan analisis logisnya, serta Sasha yang menahan rasa sakit psikis demi memberi peringatan. Mereka telah melewati batas hidup dan mati bersama, dan tidak ada kata mundur lagi.

​"Kita berangkat sekarang," tegas Revan. Suaranya tidak menyisakan keraguan sedikit pun.

"Kita bagi tugas. Bima dan Dika cari jalur masuk alternatif lewat saluran utilitas belakang seperti kata Nisa. Gue, Anya, dan Sasha bakal memancing perhatian dari gerbang utama menggunakan identitas pengurus OSIS lama."

​"Gila, lu mau jadi umpan, Van?" protes Bima cepat. "Itu bunuh diri!"

​"Bukan bunuh diri, Bim. Ini taktik," jawab Revan sambil menepuk bahu sahabat bertubuh bongsor itu.

"Yayasan mengira kita bakal lari ketakutan. Kalau kita datang langsung ke depan pintu mereka dengan kepala tegak, mereka bakal kehilangan ritme permainannya."

​Anya menatap Revan lekat-lekat, ada kilat kekhawatiran di manik matanya yang jernih, namun ia mengangguk perlahan tanda mendukung keputusan Revan. Gadis itu menggenggam erat pergelangan tangannya, merasakan denyut Kunci Perak yang kian menghangat.

"Aku ikut kamu di depan, Revan."

​Sasha menarik napas panjang, mencoba menenangkan debar jantungnya sebelum mengangguk.

"Gue bakal jaga indra gue tetap fokus. Kalau ada energi gelap mendekat di gerbang utama, gue bakal langsung kasih aba-aba."

​Dua jam kemudian...

​Taksi online yang membawa Revan, Anya, dan Sasha berhenti tepat di depan gerbang megah berpagar besi tempa hitam tinggi dengan plang nama berkilau keemasan: SMA GRAHA SENTOSA - YAYASAN PUSAT PENDIDIKAN UNGGUL.

​Dari luar, sekolah ini tampak jauh lebih mewah dan modern dibanding SMA Bhakti Mulia. Gedung-gedung bertingkat dengan arsitektur klasik bercat putih bersih berdiri megah di balik pagar kokoh, dikelilingi oleh taman yang tertata rapi. Namun, di balik kemegahan arsitektur tersebut, aura dingin yang menyesakkan langsung menyelimuti kulit begitu kaki mereka menapak di trotoar depan gerbang.

​Pihak satpam di pos penjagaan utama langsung berdiri tegak saat melihat kedatangan tiga remaja berseragam sekolah dengan atribut lengkap. Seorang pria paruh baya berseragam satpam berbadan tegap melangkah mendekati pagar gerbang yang terkunci rapat.

​"Ada keperluan apa? Hari ini SMA Graha Sentosa tidak menerima kunjungan luar," ujar satpam itu dengan nada datar, tatapannya menyelidik tajam ke arah Revan.

​Revan melangkah maju, berdiri tepat di balik jeruji besi gerbang. Ia membuka sedikit risleting jaketnya, memperlihatkan ID card OSIS miliknya dengan kepala tegak.

​"Kami perwakilan dari siswa Sektor Cabang Bhakti Mulia," ucap Revan dengan suara tenang yang berwibawa.

"Kami datang untuk memenuhi undangan langsung dari pihak dewan yayasan... mengenai kelanjutan kurikulum yang belum selesai."

​Mendengar kata kurikulum, mata sang satpam melebar sesaat. Ekspresi wajah pria paruh baya itu berubah drastis dari curiga menjadi seringai dingin yang mengerikan.

​"Ah... kalian tamu istimewa yang sudah ditunggu-tunggu oleh Direktur Utama," bisik satpam itu pelan.

​Tanpa aba-aba lagi, ia menekan tombol pengendali di dalam pos.

​CERRRRT—!

​Gerbang besi raksasa SMA Graha Sentosa perlahan terbuka lebar, memperkenankan Revan, Anya, dan Sasha melangkah masuk ke dalam kawasan yayasan yang menyimpan sejuta teror dan misteri masa lalu.

​Di tempat terpisah, Bima dan Dika yang mengendap-endap di balik tembok belakang sekolah berhasil melompati pagar kawat berduri saluran utilitas.

"Kita masuk," bisik Bima pada Dika melalui earphone kecil.

"Permainan sesungguhnya baru dimulai."

​[CATATAN AUTHOR]

Terima kasih sudah membaca Bab 17! Revan dan kawan-kawan resmi menjejakkan kaki di SMA Graha Sentosa. Apa yang menanti mereka di dalam benteng yayasan pusat ini? Jangan lupa klik tombol Favorit/Rak Buku, tinggalkan komentar terbaikmu, dan beri rating bintang 5 ya! Sampai jumpa di Bab 18!

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!