Di usianya yang baru menginjak 25 tahun, Rania mengambil keputusan besar dalam hidupnya. Ia menerima pinangan Arkan, seorang duda kaya raya berparas rupawan yang berusia 38 tahun. Kehidupan barunya tidak hanya membawanya pada gelimang kemewahan, tetapi juga menuntut Rania untuk beradaptasi dengan peran barunya sebagai ibu sambung bagi dua putra Arkan yang memiliki kepribadian sangat bertolak belakang.
Zidan, putra sulung Arkan ternyata bersahabat baik dengan keponakannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noona Rara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dijemput Arkan
"Apaan sih, duda dua anak ini? Kok ngegas banget." Rania bergumam, sementara pipinya tanpa sadar merona merah.
Rania menghela napas panjang, menatap layar ponselnya dengan alis bertaut. Kenapa juga dia asal balas tadi? Sekarang, malah benar-benar harus ketemu Arkan.
"Ya udahlah." Gumamnya, lalu menyalakan mobil dan mulai berkendara.
Sepanjang perjalanan, pikirannya terus dipenuhi pertanyaan. Kenapa dia deg-degan? Kenapa malah mikirin Arkan? Ini bukan kali pertama mereka bertemu, tapi entah kenapa rasanya gugup untuk kali ini.
Sesampainya di rumah, Rania langsung merebahkan diri di sofa sambil memainkan ponselnya sebentar. Setelah beberapa menit scrolling tanpa tujuan, ia pun beranjak ke kamar untuk bersiap.
Begitu selesai berdandan, ia menatap pantulan dirinya di cermin. Dress sederhana berwajah lembut membalut tubuhnya dengan pas, membuatnya terlihat segar dan menawan.
"Cantik." Gumamnya, mengagumi hasil usahanya sendiri.
Namun, beberapa detik kemudian, ia justru mengerutkan kening dan berdecak pelan. Kenapa juga dia harus secantik ini?
"Eh, napa gue malah sok kecentilan gini, sih?" Gerutunya sambil berkacak pinggang.
"Elah... kenapa gue pakai baju cantik? Gimana kalau tuh duda mikir gue tebar pesona?"
Tapi kemudian, ia mengangkat dagunya dengan percaya diri. "Tapi kan tampil rapi dan cantik itu wajib. Biarin aja!"
Dengan itu, Rania mengambil tasnya dan bersiap menunggu Arkan menjemputnya.
Klunting.
Tak lama kemudian, sebuah pesan dari Arkan masuk ke ponsel Rania.
Arkan: Saya di depan gerbang kamu.
Rania yang membacanya sempat tersenyum tipis, tapi buru-buru menggeleng, menepis rasa aneh yang tiba-tiba muncul. Ia segera membalas pesannya.
Rania: Ngapain di depan gerbang, Pak? Mau cosplay jadi satpam, ya?
Tak butuh waktu lama, balasan dari Arkan masuk lagi.
Arkan: Satpam hati kamu? Boleh... saya jagain seumur hidup.
"Anjir!" Seru Rania spontan. Matanya langsung membelalak, wajahnya memanas, dan jari-jarinya hampir terpeleset dari ponsel.
Refleks, ia mendelik ke layar dengan ekspresi setengah tak percaya.
"Zidan, bapakmu, Zidan... bener-bener." Gerutunya, tapi bibirnya tanpa sadar menyunggingkan senyum kecil.
Tanpa sadar, Arkan tersenyum kecil saat melihat centang biru di pesan terakhirnya. Ia bisa membayangkan dengan jelas bagaimana ekspresi Rania saat membaca balasan isengnya mungkin mendelik, mengumpat pelan, lalu diam-diam senyum-senyum sendiri seperti kemarin.
Pria itu menyandarkan tubuhnya ke jok mobil, menyilangkan tangan sambil menatap gerbang rumah Rania dari balik kaca depan.
"Pasti sekarang dia lagi ngomel-ngomel sendiri." Gumamnya pelan, geli sendiri dengan bayangan itu.
Ada rasa ringan di dada Arkan. Perempuan yang baru beberapa waktu ia kenal itu entah bagaimana bisa menyelipkan warna ke dalam hari-harinya yang biasanya datar. Bahkan dengan perangai judes dan komentarnya yang tajam, Rania justru terasa menyenangkan.
Arkan mengusap dagunya pelan. "Rania..." Ucapnya lirih, seolah menguji bagaimana nama itu terdengar jika disebut dengan lembut. Manis juga.
Pintu pagar terbuka.
Arkan menoleh, dan benar saja Rania muncul dari balik gerbang dengan wajah setengah kesal, setengah malu, dan... ya, tetap cantik dengan dress sederhana yang justru membuat napasnya sedikit tercekat.
"Cantik." Gumam Arkan tanpa sadar, sebelum buru-buru turun dari mobil.
Arkan tanpa berkata sepatah kata pun membukakan pintu mobil untuk Rania.
"Makasih." Ucap Rania singkat, lalu masuk dan duduk di kursi penumpang.
Arkan hanya mengangguk pelan sebelum berjalan memutar dan masuk ke sisi kemudi.
Sesaat, ia melirik Rania yang tengah mengenakan sabuk pengaman, lalu ikut melakukan hal yang sama.
Klunting.
Sebuah pesan masuk ke ponselnya.
Nathan: Meeting jam 13.00. Jangan lupa. Gue nggak lihat lu di ruangan lu.
Arkan membaca sekilas dengan wajah datar, lalu membalas cepat.
Arkan: Lu yang handle. Gue lagi di luar.
Balasan dari Nathan datang tak lama kemudian.
Nathan: Ke mana? Ada jadwal ku yang gue nggak tahu?
Arkan: Jadwal pribadi.
Nathan: ??
Arkan tersenyum tipis, lalu mengunci layar ponselnya. Tangan bergerak menyalakan mesin mobil.
"Udah?" Tanyanya sekilas pada Rania, menahan tawa kecil yang hampir lolos karena wajah heran perempuan itu sepertinya tak jauh beda dari ekspresi Nathan barusan.
Rania hanya mengangguk pelan. Dengan tenang, Arkan mulai menginjak pedal gas, membawa mobil perlahan meninggalkan area rumah.
"Mau makan di mana?" Tanya Arkan tanpa menoleh, fokus pada jalan.
"Em... yang enak. Aku belum sarapan. Pak Arkan aja yang pilih." jawab Rania santai.
"Pak Arkan?" Arkan mengulang, menoleh sekilas dengan alis terangkat dan ekspresi tak begitu suka mendengar panggilan itu.
Rania langsung sadar dan meralat cepat, "Maksudku... kamu aja yang pilih."
Arkan hanya tersenyum kecil, puas dengan perbaikan itu. "Yang bener kalau manggil."
"Iya. Lupa."
Suasana di dalam mobil sempat hening beberapa detik. Hanya suara lembut musik dari radio yang mengalir sebagai pengisi keheningan.
"Maunya makan berat atau yang ringan dulu?" Tanya Arkan lagi, kali ini nada suaranya lebih santai.
"Yang penting bukan bubur," jawab Rania cepat.
Arkan terkekeh. "Masih trauma ya?"
"Trauma dimintain masak sih iya,m." cetus Rania sambil melirik tajam penuh arti.
"Padahal enak banget." balas Arkan pura-pura ngambek.
Rania tertawa kecil, menoleh ke luar jendela. Tapi dalam diam, pipinya bersemu pelan.
"Kita mau ke tempat makan yang gimana? Fancy? Cafe? Atau warteg pinggir jalan?" Goda Rania.
"Kalau sama kamu, warteg juga terasa fancy." Ucap Arkan enteng, membuat Rania langsung mendelik.
"Wah, modus kamu udah makin rapi ya, Pak Duda."
Arkan hanya tertawa pelan, tak menyangkal. Mobil pun terus melaju, membawa mereka ke arah kawasan makan favorit Arkan tempat yang tenang, dengan makanan enak, dan suasana cukup nyaman untuk ngobrol berdua.
Setelah beberapa menit berkendara, Arkan akhirnya membawa mobilnya ke sebuah restoran dengan konsep semi-outdoor yang cukup nyaman. Begitu mereka turun, aroma masakan yang menggugah selera langsung menyambut.
"Lumayan juga tempatnya." komentar Rania sambil mengedarkan pandangannya. "Sering ke sini?"
"Lumayan." jawab Arkan santai. "Makanan di sini enak, nggak terlalu ramai juga."
Seorang pelayan menghampiri mereka dan mengantar ke meja yang berada di sudut dengan pemandangan taman kecil yang asri. Setelah duduk, mereka mulai melihat menu.
"Aku mau iga bakar." kata Rania setelah menimbang-nimbang.
"Saya sop buntut." timpal Arkan. "Minumnya?"
"Es jeruk aja."
Arkan mengangguk lalu memberikan pesanan mereka kepada pelayan.
Setelah pelayan pergi, Rania menatap Arkan dengan ekspresi penasaran. "Jadi, ada apa ngajak aku makan siang?"
Arkan menautkan jemarinya di atas meja dan menatap Rania serius. "Nggak boleh kalau cuma pengen ngajak kamu makan?"
Rania menyipitkan mata. "Cuman itu aja? Nggak mungkin."
Arkan tersenyum kecil. "Oke, ada yang mau saya bahas. Tapi kita makan dulu aja."
Rania mendengus kecil, tapi akhirnya mengangguk. "Apaan sih? Bikin penasaran aja."
Arkan terkekeh. "Abis makan kita ngobrol."
Mau ngobrolin apa? Batin Rania.