NovelToon NovelToon
Cegil Berhenti Terobsesi

Cegil Berhenti Terobsesi

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Ketos / Balas Dendam
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: Rofiwan

"Gue capek jadi badut. Mulai hari ini, lo bebas dari gue."

Selama tiga tahun di SMA Nusantara, semua orang tahu kalau Elsa Nur Cahyani adalah cegil (cewek gila) garis keras yang bucin mati-matian ke Muhammad Firdaus, Ketua OSIS sempurna yang sedingin es. Elsa rela dipermalukan, jadi seksi sibuk OSIS tanpa dibayar, sampai dihukum lari keliling lapangan demi cari perhatian Firdaus. Hasilnya? Nol besar. Firdaus tetap menganggap Elsa gangguan yang tidak punya harga diri.

Titik balik itu datang di hari ulang tahun Firdaus. Setelah kuenya dihancurkan dan cintanya ditolak mentah-mentah di depan satu sekolah, Elsa sadar: dia sudah selesai. Elsa memutuskan pensiun jadi budak cinta. Dia berubah total—menjadi cuek, fokus pada ujian, dan benar-benar menganggap Firdaus tidak ada.

Tapi anehnya, saat Elsa melangkah pergi, justru Firdaus yang mulai kehilangan arah. Cowok yang tadinya antipati itu mendadak sadar kalau dunia tanpa gangguan Elsa ternyata terasa sangat sepi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rofiwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pertengkaran 06.

Elsa menatap mata Firdaus tanpa binar cinta lagi.

"Gue keluar, bukan minta izin, tapi ngasih tahu."

Firdaus tertegun. Cengkeraman tangannya di pergelangan tangan Elsa perlahan melonggar, bukan karena dia ingin melepaskannya, melainkan karena syok mendengar nada dingin yang belum pernah dia dengar dari bibir gadis itu.

Selama tiga tahun, Elsa adalah definisi dari kata 'patuh' di hidup Firdaus. Elsa yang selalu tersenyum meski dibentak. Elsa yang tetap datang membawa kotak bekal meski Firdaus sering berakhir memberikannya pada Reno.

Melihat Elsa yang sekarang menatapnya seolah dia hanya orang asing di koridor sekolah membuat dada Firdaus mendadak dihantam rasa hampa yang luar biasa.

"Sa, lo nggak bisa egois begini," cetus Firdaus, mencoba mengembalikan wibawanya yang runtuh. Suaranya terdengar agak serak. "OSIS punya aturan. Lo nggak bisa datang dan pergi sesuka hati lo cuma karena masalah pribadi."

Elsa menarik tangannya dengan satu sentakan kuat. Kali ini berhasil. Dia melangkah mundur satu tapak lagi, menatap potongan-potongan kertas surat pengunduran dirinya yang berserakan di lantai semen.

Sebuah tawa renyah lolos dari bibir Elsa. Tawa yang terdengar sangat sinis.

"Masalah pribadi?" Elsa menunjuk dirinya sendiri, lalu beralih menunjuk dada Firdaus. "Lo sebut kepedulian gue selama tiga tahun ini sebagai 'masalah pribadi', Daus? Oke. Kalau gitu, anggap aja gue udah sembuh dari penyakit pribadi gue itu."

"Elsa!"

"Besok gue bakal serahin surat formal yang baru langsung ke pembina OSIS, lengkap dengan tanda tangan orang tua gue," ucap Elsa tenang. "Lo ketua OSIS, Daus, bukan pemilik sekolah. Lo nggak punya hak buat nahan hak akademik gue."

Firdaus mengepalkan tinjunya di sisi celana. Rahangnya mengeras. Dia terbiasa mengatur ratusan siswa, memimpin rapat besar, dan dihormati oleh para guru. Namun di depan Elsa yang bertubuh jauh lebih kecil darinya ini, Firdaus merasa sama sekali tidak punya kekuatan.

"Kenapa harus sampai kayak gini?" tanya Firdaus, suaranya melembut, menyiratkan keputusasaan yang disembunyikannya rapat-rapat. "Kalau karena omongan gue di hari ulang tahun itu kasar... gue minta maaf. Gue nggak bermaksud bilang lo begitu."

"Tapi itu kenyataannya, kan?" potong Elsa cepat. Tatapannya lurus, menusuk tepat ke manik mata Firdaus. "Di depan anak-anak lain lo selalu bersikap seolah gue ini beban yang nempel di punggung lo. Lo malu kan punya pacar—ah, sori, maksud gue, punya cewek yang ngejar-ngejar lo tapi nggak selevel sama otak pintar lo?"

"Gue nggak pernah mikir kayak gitu!"

"Tapi tindakan lo yang ngomong gitu, Daus!" Suara Elsa akhirnya naik satu oktav, menumpahkan sedikit sesak yang dia pendam sejak tadi siang. "Gue capek. Gue capek masak pagi-pagi blind-testing resep cuma buat lo bilang 'taruh aja di meja'. Gue capek nungguin lo rapat sampai magrib cuma buat lo bilang 'gue pulang bareng sopir'. Gue capek jadi badut di sekolah ini!"

Napas Elsa memburu. Dadanya naik turun. Sepasang matanya mulai berkaca-kaca, tapi dia menolak untuk menumpahkan air mata itu di depan Firdaus. Cukup sudah tiga tahun dia terlihat lemah.

Koridor sekolah semakin temaram. Lampu-lampu selasar mulai menyala otomatis, memantulkan bayangan kedua remaja itu yang tampak semakin berjarak.

Firdaus melangkah maju, berniat menghapus jarak di antara mereka. "Gue bakal berubah, Sa. Gue janji. Lo boleh bawain bekal lagi, gue bakal makan sampai habis. Gue bakal anter lo pulang tiap hari. Tapi tolong... jangan kayak gini."

Elsa menatap Firdaus dengan tatapan tidak percaya. "Lo mau gue balik jadi budak cinta lo lagi, cuma karena ego lo kegores pas gue mutusin buat pergi?"

Sebelum Firdaus sempat menjawab, suara langkah sepatu yang kasual terdengar bergema dari arah tangga koridor. Kedua remaja itu menoleh serentak.

Seorang cowok dengan seragam yang sengaja dikeluarkan, dasi yang dilonggarkan, dan tas ransel yang hanya dicangklongkan di satu bahu berjalan mendekat. Wajahnya yang rupawan terlihat santai, namun matanya yang tajam langsung mengunci situasi di antara Elsa dan Firdaus.

Aris.

"Sore, Pak Ketua," sapa Aris dengan nada malas yang khas. Dia berhenti tepat di sebelah Elsa, lalu melirik serpihan kertas di lantai. "Wah, ada sampah berserakan di koridor. Ketua OSIS teladan kok malah nyampah?"

Firdaus langsung memasang wajah defensif. Aura permusuhan mendadak menguar pekat di antara kedua cowok itu. "Ini bukan urusan lo, Ris. Mending lo pulang."

Aris tidak mengindahkan ucapan Firdaus. Dia justru menatap Elsa, menyipitkan matanya menyadari mata gadis itu yang memerah. Senyum santai di wajah Aris mendadak hilang, digantikan oleh garis wajah yang menegang serius.

"Lo diapain sama dia, Sa?" tanya Aris, suaranya mendalam dan protektif.

"Gak apa-apa, Ris. Cuma salah paham sedikit," jawab Elsa, mencoba meredam ketegangan.

Aris beralih menatap Firdaus, melangkah satu tapak ke depan hingga posisinya kini sedikit menghalangi Elsa dari pandangan Firdaus. "Gue nggak tahu apa masalah OSIS kalian. Tapi kalau lo bikin dia nangis, urusannya bakal beda, Daus."

Firdaus terkekeh sinis, egonya kembali tersulut. "Lo siapa berani ngatur gue? Elsa itu staf gue. Dan dia..." Firdaus menggantung kalimatnya, ingin mengatakan 'dia cewek yang suka sama gue', namun kata-kata itu mendadak kelu di tenggorokannya.

"Dia apa?" tantang Aris, menatap Firdaus dengan tatapan meremehkan. "Dia cewek yang selama ini lo sia-siain? Lo pikir karena dia selalu ada di belakang lo, dia nggak bakal bisa pergi?"

Aris berbalik, meraih pergelangan tangan Elsa dengan gerakan yang jauh lebih lembut daripada yang dilakukan Firdaus tadi. "Ayo pulang, Sa. Angkot sore udah lewat, gue anter pake motor."

Elsa sempat ragu sejenak. Dia menatap Firdaus yang berdiri mematung dengan wajah pucat dan rahang berkedut menahan amarah sekaligus luka. Untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, Elsa memilih untuk memalingkan wajahnya dari Firdaus.

"Yuk, Ris," kata Elsa pelan.

Kedua orang itu berbalik dan berjalan meninggalkan koridor. Langkah kaki mereka terdengar beriringan, meninggalkan Firdaus sendirian di kegelapan koridor yang semakin mencekam.

Firdaus menatap punggung Elsa yang semakin menjauh bersama Aris. Tangannya yang terkepal mulai bergetar. Serpihan kertas di lantai seolah menjadi saksi bisu bahwa mulai hari ini, garis batas yang selama ini dia jaga dengan ego tingginya... telah hancur total oleh keputusannya sendiri.

Di parkiran sekolah, Aris menyerahkan sebuah helm cadangan berwarna hitam kepada Elsa.

"Makasih ya, Ris. Dan sori... lo jadi harus terlibat drama kayak gini," ucap Elsa sambil memakai helmnya.

Aris naik ke atas motor besarnya, menyalakan mesin yang menderu halus, lalu menoleh ke belakang lewat spion. "Nggak usah minta maaf. Gue malah seneng."

"Seneng kenapa?"

Aris tersenyum tipis, sebuah senyuman yang membuat jantung Elsa mendadak melewatkan satu detakan. "Seneng karena akhirnya lo sadar kalau cowok di sekolah ini bukan cuma Firdaus doang."

......................

...****************...

Tbc,

1
falea sezi
🤣🤣 lagii kurang q kirim sebanyak-banyaknya bunga🤭 buat Elsa gk menye
falea sezi
kurang kejam thor buat donk cegil di sukai cogan lain🤣
Queen Aisyah
/Drool//Drool/
falea sezi
🤣🤣 kasian di cuekin
Rofiwan: cegil ini lebih kejam dari pada Livy
total 1 replies
falea sezi
lanjut q krim hadiah
falea sezi
lanjut q kirim hadiah
falea sezi
btw author nya cwek apa cowok🤭
falea sezi
🤣 suka deh jangan jd cegil ngenes ya move on🤣
falea sezi
jangan ngemis ke cowok ya girl jd cwek mahal👍
Luna
US,,,US sadar woy , jangan dipaksa nanti malah kabur 🤣🤣🤣🤣🤣
Luna
jujur penasaran dengan author nya umur berapa yh? tema cerita novel nya semua kebanyakan sekolah,,,GK apa apa sih malah lebih enak gitu GK terlalu berbobot lebih ceritanya ( mafia, pelakor,drama warisan,) ,jadi bisa mengenang masa putih abu-abu dulu,🤭🤭🤭🤭
Luna: jujur yh semua novel mu yg aku baca keren keren,GK terlalu ribet dan drama anak sekolah itu keren,,,sudah sering baca novel sejenis ini tapi yg bener bener sesuai dengan kehidupan anak sekolah yh novel mu ini,,, semangat Thor ,,,saya tunggu kelanjutannya💪
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!