Ini menceritakan kisah seorang pemuda yang memiliki sembilan Akar Spiritual, yang dianggap sebagai sampah oleh dunia kultivasi. Namun, tanpa sengaja, ia justru dibimbing oleh dua sosok legendaris yang telah berdiri di puncak dunia kultivasi.
Membawa dua cincin warisan tersegel yang menyimpan kekayaan dari dua sekte besar, Shen Luo memulai perjalanannya di dunia kultivasi.
Di tengah perjalanan, ia harus terseret ke dalam perselisihan masa lalu kedua gurunya, berhadapan dengan seorang Iblis Suci yang mematikan, serta terikat dalam perjodohan dengan seorang Putri Es yang telah mencintai pria lain.
Dengan sembilan Akar Spiritual yang dianggap sebagai kelemahan, Shen Luo harus bertahan hidup dan mengungkap rahasia kekuatannya, hingga suatu hari segel kedua cincin warisan itu terbuka dan takdirnya mulai berubah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3: Dua Cincin Kusam
Shen Luo kembali ke gubuk dengan langkah mantap. Udara pagi terasa dingin, tetapi tubuhnya tidak lagi menggigil seperti dahulu. Qi Suci dan Qi Iblis mengalir tenang di dalam nadinya, membawa kehangatan serta kekuatan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Begitu membuka pintu, ia mendapati Sikong Jian dan Yan Wusheng telah menunggunya.
Tidak ada omelan ataupun wajah galak seperti biasanya. Kedua lelaki tua itu hanya memandang Shen Luo dengan kebanggaan yang sulit disembunyikan.
Shen Luo segera membungkuk.
"Kakek Putih, Kakek Hitam. Berkat bimbingan kalian, aku berhasil menyatukan kedua energi itu dan menembus Tahap Pengumpulan Qi."
Sikong Jian mengelus janggutnya sambil tersenyum tipis.
"Kami melihatnya, Luo'er. Sembilan Akarmu telah bangkit. Kau berhasil melakukan sesuatu yang selama ini dianggap mustahil. Qi Suci dan Qi Iblis yang seharusnya saling bertentangan kini dapat hidup berdampingan di dalam tubuhmu."
Yan Wusheng mendengus.
"Jangan cepat berbangga. Menembus batas fana baru permulaan. Sembilan Akar Spiritual membuat Dantian-mu seperti jurang tanpa dasar. Kau memang mampu menampung Qi sembilan kali lebih banyak daripada kultivator biasa, tetapi untuk menembus setiap tingkatan, kau juga membutuhkan sumber daya sembilan kali lebih banyak."
Sikong Jian mengangguk.
"Desa ini sudah tidak cukup untukmu. Qi alam di sini terlalu tipis. Sekalipun kau berlatih seratus tahun, belum tentu kau mampu menembus Pembentukan Fondasi."
Tatapannya menjadi serius.
"Sudah waktunya kau keluar, Luo'er. Dunia kultivasi sangat luas dan penuh bahaya. Jika ingin terus tumbuh, kau harus mencari kesempatanmu sendiri."
Hati Shen Luo bergetar.
Ia tahu hari ini pasti akan tiba. Namun mendengarnya langsung dari dua orang yang telah membesarkannya selama sepuluh tahun tetap membuat dadanya terasa berat.
"Aku mengerti, Guru."
Untuk pertama kalinya, Shen Luo memanggil mereka dengan sebutan yang sebenarnya.
Sikong Jian dan Yan Wusheng terdiam.
Selama sepuluh tahun, mereka telah menjadi kakek sekaligus guru baginya. Mendengar panggilan itu membuat kedua lelaki tua tersebut saling berpandangan sebelum akhirnya tersenyum tipis.
Tanpa banyak bicara, mereka mengambil sesuatu dari balik jubah masing-masing.
Di telapak tangan Sikong Jian terdapat sebuah cincin perunggu kusam dengan ukiran bintang yang hampir pudar. Sementara itu, Yan Wusheng memegang cincin hitam kemerahan yang tampak seperti besi tua.
Namun begitu kedua cincin itu muncul, suasana di dalam gubuk seketika berubah.
Aura kuno yang samar merembes dari permukaannya.
"Mendekatlah, Luo'er," ujar Sikong Jian.
Shen Luo maju lalu berlutut dengan satu kaki.
Sikong Jian menyerahkan cincin perunggu itu kepadanya.
"Di dalamnya tersimpan warisan Sekte Bintang Jatuh. Teknik rahasia, pusaka, dan berbagai harta yang kami kumpulkan selama hidup."
Kemudian Yan Wusheng menyerahkan cincin hitamnya.
"Yang ini menyimpan warisan Lembah Darah Neraka."
Tatapannya menjadi tajam.
"Kami telah menyegelnya dengan inti jiwa kami. Dengan kultivasimu sekarang, jangan berharap dapat membuka segelnya. Segel tersebut baru akan terbuka setelah kau mencapai Tahap Inti Emas."
Sikong Jian melanjutkan dengan suara tenang.
"Sebelum saat itu tiba, kedua cincin ini tidak lebih dari benda biasa. Tak seorang pun akan mampu mengetahui apa yang tersimpan di dalamnya."
Ia menatap Shen Luo dalam-dalam.
"Ini adalah warisan kami. Jagalah baik-baik. Jangan sampai kau mati sebelum sempat membukanya."
Shen Luo menerima kedua cincin itu dengan kedua tangan.
"Aku akan menjaganya dengan nyawaku, Guru. Suatu hari nanti, aku pasti kembali setelah mencapai puncak."
Ia kemudian mengenakan cincin perunggu di telunjuk kanan dan cincin hitam di telunjuk kiri.
Begitu terpasang, kedua cincin itu menyusut mengikuti ukuran jarinya. Aura kuno yang sebelumnya terpancar pun lenyap, membuat keduanya tampak seperti cincin besi biasa.
Keesokan paginya, kabut masih menyelimuti Desa Tanpa Nama.
Shen Luo berdiri di depan gubuk dengan mengenakan jubah abu-abu tambalan yang telah dicuci bersih. Pedang kayunya tergantung di pinggang, sementara sebuah kantung kain tersampir di bahu. Di tangan kanannya, ia membawa tongkat dari Pinus Besi yang telah diserutnya sendiri.
Ia berdiri cukup lama di depan pintu.
Tempat sederhana itu telah menjadi rumahnya selama sepuluh tahun.
Di sinilah ia dibesarkan. Di sinilah ia belajar berkultivasi. Dan di sinilah dua lelaki tua yang dahulu merupakan tokoh besar dunia kultivasi telah mengajarinya segala sesuatu yang mereka ketahui.
Shen Luo menarik napas panjang sebelum akhirnya berlutut.
Bugh!
Kepalanya menyentuh tanah.
Bugh!
Sujud kedua.
Bugh!
Sujud ketiga.
Tiga kali sujud itu menjadi penghormatan terakhir kepada dua orang yang telah membesarkannya selama sepuluh tahun.
"Terima kasih atas segalanya, Kakek Putih, Kakek Hitam. Luo'er pamit."
Ia bangkit, mengusap matanya sebentar, lalu berbalik dan berjalan menembus kabut.
Dari balik jendela, Sikong Jian dan Yan Wusheng memandangi punggung Shen Luo hingga sosoknya perlahan menghilang di antara pepohonan.
"Dunia kultivasi belum tahu badai seperti apa yang akan datang," gumam Yan Wusheng sambil menyeringai.
Sikong Jian menghela napas panjang.
"Semoga Hati Dao-nya cukup kuat untuk menghadapi kebusukan dunia, Yan Tua."
Jalan menuju Kota Gerbang Besi membelah Hutan Bayangan Hitam. Jalurnya terjal dan jarang dilalui manusia. Para bandit dan kultivator sesat sering menjadikan kawasan itu sebagai tempat berburu.
Matahari baru saja naik ketika Shen Luo berjalan menyusuri jalur hutan dengan langkah tenang.
Sejak Sembilan Akarnya bangkit, panca indranya menjadi jauh lebih tajam. Ia dapat mendengar kepakan burung dari kejauhan, desir angin di antara dedaunan, bahkan suara napas manusia yang bersembunyi di balik pepohonan.
Karena itulah ketika sampai di sebuah jalan sempit di antara dua tebing, Shen Luo segera menyadari bahwa ada sesuatu yang tidak beres.
Ia berhenti.
Dari balik pepohonan terdengar siulan tajam.
Lima sosok melompat turun dan langsung mengepungnya.
Mereka adalah bandit gunung. Tubuh mereka dipenuhi bekas luka, sementara golok di tangan masing-masing masih menyisakan noda darah.
Pemimpin mereka adalah lelaki kekar dengan penutup mata sebelah. Ia memandang Shen Luo dari atas ke bawah sebelum menyeringai.
"Cih, hanya seorang gembel."
Tatapannya berhenti pada jubah Shen Luo.
"Jubahnya masih lumayan. Sepatunya juga bisa dijual."
"Bos, bunuh saja langsung," ujar salah seorang anak buahnya. "Biar cepat."
"Potong lehernya, ambil barangnya, lalu buang mayatnya ke jurang."
Kelima bandit itu berada di Tahap Pengumpulan Qi Tingkat 2. Bagi mereka, seorang pemuda dengan pedang kayu dan tongkat di tangan tidak lebih dari mangsa yang mudah ditelan.
Namun Shen Luo tetap berdiri tenang.
Ia merasakan niat membunuh yang terpancar dari tubuh mereka. Ini adalah pertama kalinya ia benar-benar berhadapan dengan manusia yang berniat merenggut nyawanya.
Sumpah yang diucapkannya semalam kembali terngiang dalam Hati Dao.
Tatapannya perlahan menjadi dingin.
"Kalian ingin membunuhku hanya demi jubah dan sepatu?"
"Banyak bicara! Mati kau!"
Dua bandit langsung menerjang dari belakang.
Golok mereka menebas leher dan punggung Shen Luo.
Namun sesaat sebelum kedua bilah itu mengenai tubuhnya, Shen Luo bergerak.
Tubuhnya berubah menjadi bayangan yang melesat di antara kedua tebasan.
Wusss!
Golok mereka hanya membelah udara.
Sebelum sempat berbalik, Shen Luo telah berada di sisi salah seorang bandit. Tongkat Pinus Besi di tangannya bergerak seperti kilat dan menghantam leher lawannya.
Krak!
Tulang leher bandit itu patah. Tubuhnya langsung roboh tanpa sempat mengeluarkan suara.
Wajah keempat bandit lainnya berubah pucat.
"D-Dia bukan orang biasa! Serang bersama!"
Tiga bandit yang tersisa segera mengalirkan Qi ke dalam golok mereka dan menerjang dari tiga arah.
Shen Luo tetap tenang.
Kakinya bergeser, lalu tubuhnya menyelinap di antara tebasan yang datang dari segala arah. Dalam sekejap, tangannya telah mencengkeram tenggorokan salah seorang bandit.
Krak!
Lehernya remuk.
Pada saat yang sama, Shen Luo memutar tubuh dan menghantam dada bandit lainnya dengan kakinya.
Dhuak!
Tulang rusuknya patah dan tubuhnya terlempar hingga menghantam tebing.
Bandit terakhir mundur dengan wajah pucat.
Kini hanya pemimpin mereka yang tersisa.
Golok di tangannya perlahan terlepas dan jatuh ke tanah.
"A-Ampun... Tuan, ampuni aku. Aku punya istri dan anak..."
Shen Luo berjalan mendekat dengan tongkat masih berada di tangannya.
"Ketika kau memilih merenggut nyawa orang lain, kau harus siap kehilangan nyawamu sendiri."
Pemimpin bandit itu menundukkan kepala.
Namun saat Shen Luo lengah sesaat, ekspresinya tiba-tiba berubah buas.
Sebuah belati beracun melesat dari balik lengan bajunya dan menusuk ke arah perut Shen Luo.
Namun Shen Luo sudah menduganya.
Tongkat Pinus Besi di tangannya terangkat dan menghantam kepala sang pemimpin.
Prak!
Tubuh lelaki itu roboh tanpa suara.
Jalan setapak kembali sunyi.
Shen Luo berdiri di antara lima mayat. Ia mengusap percikan darah di ujung tongkatnya dengan selembar kain, lalu menyimpan kembali kain tersebut tanpa sedikit pun perubahan pada tatapannya.
Tidak ada penyesalan.
Di dunia kultivasi, hukum rimba adalah hukum yang paling nyata.
Jika seseorang ingin hidup, ia harus memiliki kekuatan untuk mempertahankan hidupnya.
Shen Luo mengangkat pandangan.
Di kejauhan, bayangan Kota Gerbang Besi mulai tampak di balik pegunungan.
Ia membetulkan kantung kain di bahunya, menggenggam tongkat Pinus Besi, lalu kembali melangkah.
Moga2 MC nya ga kegatelan ma cewek2, dan ga punya banyak bini /Facepalm//Facepalm/