Luo Chen tidak punya air mata untuk ditangisi saat ibunya meninggal; ia hanya punya ingatan sempurna yang merekam setiap detail wajah pembunuhnya. Berbekal satu foto tua, ia menyusup ke sarang Shen Mo, penguasa mafia paling ditakuti di Yucheng. Alih-alih dibunuh sebagai penyusup, kecerdasan brilian Chen justru memukau sang raja mafia. Bersama-sama, mereka membentuk aliansi maut melawan sindikat pengkhianat yang haus darah. Tanpa kekuatan fisik, Chen menjadi otak di balik setiap langkah balas dendam, membuktikan bahwa musuh paling berbahaya di dunia bukan lah orang yang memegang senjata, melainkan anak kecil yang tahu seluruh rahasia gelapmu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aksara Handini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9: ARSIP MEDIS TERLARANG
Deru mesin perahu cepat membelah ombak malam Teluk Yucheng dengan kecepatan penuh, meninggalkan buih putih berkilau di bawah temaram cahaya bulan yang tertutup awan kelabu tebal. Di dalam kabin tertutup yang bergetar hebat, angin laut yang dingin mendesing kencang di luar dinding kaca antipeluru, namun atmosfer di dalam ruangan terasa jauh lebih membeku akibat informasi satelit yang baru saja diterima.
Luo Chen duduk terpaku di atas kursi aluminium yang dingin; jemari kecilnya mencengkeram erat jam saku antik milik ayahnya hingga buku-buku jarinya memutih sempurna. Layar konsol digital di hadapannya masih memancarkan garis-garis koordinat terenkripsi yang berkedip merah terang benderang, menunjukkan sebuah lokasi terpencil di pinggiran distrik industri pelabuhan utara.
Pesan sandi darurat itu bukan sekadar ancaman kosong dari sisa-sisa sindikat yang kocar-kacir, melainkan sebuah pintu rahasia menuju masa lalu ibunya yang selama ini disembunyikan rapat-rapat dari dunia hitam.
Shen Mo berdiri tegak di samping konsol kendali utama, bayangan tubuh tegapnya menutupi pendar cahaya layar monitor yang menyilaukan mata. Tatapan mata pria itu tajam menyapu setiap baris data koordinat yang terpampang di sana, sementara rahangnya mengeras menahan gelombang kecurigaan yang bergejolak di dalam dadanya.
Sebagai seorang raja mafia yang menguasai seluruh penjuru Kota Yucheng selama bertahun-tahun dengan tangan besi, Shen Mo tahu betul bahwa tidak ada satu pun jengkal tanah di kota ini yang luput dari jangkauan mata-matanya—kecuali satu tempat yang sengaja dihapus dari peta resmi pemerintahan.
Pangkalan bawah tanah militer peninggalan era sembilan puluhan yang kini menjadi titik tujuan pesan tersebut. Pria itu menoleh perlahan, memperhatikan profil samping wajah bocah tujuh tahun di depannya yang tampak begitu tenang di luar, namun menyimpan badai emosi yang siap meledak kapan saja di balik sorot mata jernih itu.
"Koordinat ini mengarah langsung ke sektor karantina medis terbengkalai di bawah pabrik pengolahan baja lama," suara Shen Mo memecah keheningan kabin, berat dan bernada rendah penuh pertimbangan matang. "Tempat itu telah ditutup total oleh pemerintah sejak tujuh tahun lalu setelah insiden keracunan kimia massal yang dirahasiakan dari publik. Tidak seorang pun, bahkan orang-orang kepercayaanku di lingkaran inti organisasi, yang memiliki akses legal ke dalam fasilitas bawah tanah tersebut."
Chen mendongakkan kepalanya perlahan, menatap lurus ke dalam mata gelap sang raja mafia tanpa secercah keraguan.
"Karena tempat itulah satu-satunya fasilitas medis darurat tempat ibuku bekerja sebagai perawat sukarelawan pada malam ayahku dibunuh," jawab Chen datar, suaranya jernih dan dingin namun menusuk relung hati siapa pun yang mendengarnya. "Dan jika pesan sandi itu benar, arsip medis yang membuktikan bahwa ibuku bukan wanita biasa—melainkan pemegang kunci sandi biologis sistem Aegis Corp—masih tersimpan utuh di ruang penyimpanan dingin bawah tanah."
Perahu cepat itu mulai melambat ketika haluannya menepi perlahan ke dermaga beton tua yang berlumut di ujung distrik industri. Di sekeliling tempat itu, bangunan-bangunan pabrik baja tua berdiri membisu bagaikan raksasa besi berkarat yang tertelan kegelapan malam tanpa cahaya.
Setelah mesin perahu dimatikan sepenuhnya, keheningan malam langsung menyergap mereka, hanya menyisakan suara tetesan air laut yang membasahi tiang pancang pelabuhan. Shen Mo memberikan isyarat tangan kepada dua orang pengawal setianya untuk turun lebih dulu dan mengamankan perimeter luar dari segala potensi penyergapan musuh.
Dengan gerakan sigap, pria itu meraih jaket taktisnya, menyisipkan beberapa magazin peluru cadangan ke dalam saku, lalu mengulurkan tangannya untuk membantu Chen melompat turun ke atas permukaan dermaga yang licin.
Mereka bergerak menyusuri jalan setapak berkerikil di antara tumpukan kontainer tua yang gelap gulita, menuju sebuah bangunan terbengkalai dengan lambang fasilitas medis darurat yang sudah pudar catnya dimakan usia. Pintu masuk bunker bawah tanah tersebut berupa sebuah palka baja tebal seberat dua ton yang dilengkapi dengan sistem kunci pemindai biometrik kuno.
Shen Mo berhenti di depan pintu baja itu, mengerutkan keningnya melihat kondisi sekitar yang tampak terlalu bersih untuk sebuah tempat yang ditinggalkan selama tujuh tahun.
"Sistem daya listrik di fasilitas ini masih aktif," bisik Shen Mo tajam, jarinya menunjuk ke arah lampu indikator kecil berwarna hijau yang berkedip pelan di samping panel kontrol palka. "Artinya, ada seseorang yang sengaja menyalakan generator utama dari dalam, atau kita sedang berjalan masuk dengan sukarela ke dalam perangkap maut yang sudah disiapkan oleh musuh."
Sebelum Shen Mo sempat menarik mundur kelompoknya untuk menyusun strategi penyusupan yang lebih aman, Luo Chen justru melangkah maju mendahului pria dewasa tersebut. Bocah itu mengeluarkan sebuah flashdisk kecil yang ia ambil dari konsol ruang kerja The Crown Tower pada malam pertama pelarian mereka.
Dengan tangan kecilnya yang terampil, Chen membuka penutup panel port data darurat di bawah papan tombol biometrik palka baja, lalu menyambungkan perangkat tersebut ke sistem jaringan bunker.
"Sistem keamanan biometrik ini menggunakan algoritma enkripsi generasi lama yang dirancang khusus oleh departemen riset ayahku," ucap Chen tenang; jemarinya mengetikkan serangkaian kode sandi pemrogram dengan kecepatan luar biasa di atas papan tombol portabel. "Kunci aksesnya bukan berdasarkan sidik jari pengurus gedung, melainkan pola denyut frekuensi suara sandi biologis yang hanya bisa dibuka menggunakan garis keturunan langsung dari darah keluarga kami yang sah dan diakui sistem."
Bip!
Suara dengung elektronik berderit nyaring memenuhi ruangan ketika lampu indikator di panel berubah menjadi biru terang benderang. Palka baja raksasa seberat dua ton itu perlahan bergeser terbuka ke samping dengan suara gesekan logam tua yang memekakkan telinga, memuntahkan embusan udara dingin berbau obat antiseptik dan cairan kimia pengawet dari dalam lorong bawah tanah yang gelap gulita.
Bau itu langsung menusuk hidung, membawa memori kelam masa lalu yang terkubur dalam-dalam di benak sang bocah. Shen Mo segera mengokang senjatanya, berdiri di barisan paling depan untuk melindungi Chen, sementara cahaya senter taktis menyapu lorong panjang berlantai putih steril yang membentang di hadapan mereka.
Dinding lorong tersebut dipenuhi oleh jejak goresan benda tajam dan bercak noda gelap yang menyerupai sisa pertumpahan darah masa lalu, menciptakan atmosfer mencekam bagaikan adegan film horor psikologis yang sangat nyata dan menegangkan jiwa setiap orang.
Mereka melangkah masuk menyusuri koridor bawah tanah dengan kewaspadaan tingkat tinggi; langkah kaki mereka bergema monoton di antara dinding keramik putih yang dingin dan lembap. Semakin jauh mereka berjalan ke dalam fasilitas tersebut, suhu udara terasa semakin merosot drastis hingga napas mereka mengepulkan uap putih tipis di udara malam yang sunyi.
Di sisi kiri dan kanan koridor, deretan pintu kamar steril berpanel kaca tebal tampak tertutup rapat, sebagian besar kacanya retak seribu dengan tulisan peringatan bahaya biologis yang disemprot cat merah menyala di atasnya. Di balik kaca-kaca buram tersebut, bayangan-bayangan bentuk tabung inkubator medis raksasa tampak berdiri membisu dalam kegelapan pekat, menyimpan rahasia kelam yang tidak pernah tersentuh oleh dunia luar.
Chen berjalan dengan langkah mantap tanpa ragu sedikit pun, seolah ada kompas tak kasat mata di dalam hatinya yang memandu arah menuju ruang arsip terdalam bunker rahasia ini.
Namun, tepat ketika mereka melewati persimpangan lorong menuju sektor laboratorium utama, langkah Chen tiba-tiba terhenti secara mendadak. Bocah itu mendongakkan kepalanya, mengarahkan pandangannya ke atas langit-langit koridor tempat sebuah kamera pengawas digital model terbaru terpasang rapi di sudut ruangan—sebuah anomali yang sama sekali tidak cocok dengan fasilitas tua yang diklaim terbengkalai sejak tujuh tahun lalu.
Lensa kamera kecil itu berkedip perlahan memancarkan cahaya merah tajam, menandakan ada mata yang sedang mengawasi setiap gerak-gerik mereka dari ruang kendali tersembunyi di lantai bawah.
Sebelum Shen Mo sempat menembak hancur kamera pengawas tersebut, suara derit berat dari pintu besi di ujung lorong mendadak terbuka lebar dengan paksa, dan gelombang gas putih tebal menyembur keluar dengan sangat cepat, memenuhi seluruh koridor dalam hitungan detik serta merenggut kesadaran mereka satu per satu dalam cengkeraman gelap gulita yang mematikan.