NovelToon NovelToon
Sumur Ajaib Penghubung Dua Dunia

Sumur Ajaib Penghubung Dua Dunia

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyeberangan Dunia Lain / Pulau Terpencil
Popularitas:6k
Nilai: 5
Nama Author: Nurul Senggrong

Xiao Luo membeli sebuah rumah tua bergaya kuno yang sudah terbengkalai. Ia terpaksa membeli rumah itu karena harganya yang murah.

Selain rumah bobrok yang tak terawat, rumah itu memiliki halaman yang luas. Entah kenapa tidak ada yang mau membeli rumah itu. Mungkin karena rumor yang beredar diluar tentang rumah itu berhantu.

Entah itu keberuntungan atau justru kesialan, Xiao Luo jatuh ke dalam sumur.

Ia pikir hidupnya sudah berakhir, namun ternyata ia muncul di dunia yang berbeda.

Sumur itu seperti lorong waktu yang menghubungkan dua dunia. Xiao Luo bisa pergi ke dua dunia itu dengan mudah melewati sumur tua itu.

Apakah Xiao Luo bisa terus seperti itu atau justru terjebak di dunia lain?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurul Senggrong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SUMPAH DIBAWAH CAHAYA TEMARAM

Nyonya Shen dan Shen Tingting menatap Pelayan Ma dengan tajam, memberi isyarat tegas agar wanita paruh baya itu menahan diri dan tidak berteriak.

Pelayan Ma yang menyadari kekeliruannya segera mengangguk cepat dengan wajah pucat, tangannya masih membekap mulutnya sendiri erat-erat.

​"Bi Ma, dengarkan aku baik-baik," bisik Nyonya Shen dengan nada suara yang sangat dingin dan penuh penekanan. "Apa yang kamu dengar di ruangan ini malam ini, jangan pernah melintas di bibirmu kepada siapa pun di luar sana. Termasuk kepada penghuni enam rumah di sekitar kita. Jiwa kita semua—termasuk nyawa Yujin—dipertaruhkan di sini."

​Pelayan Ma berlutut pelan, matanya berkaca-kaca seraya berbisik lirih, "Nyonya Muda, Hamba bersumpah demi langit dan bumi... Hamba tidak akan membocorkan sepatah kata pun. Jika Hamba melanggar, biarlah tersambar petir."

​Nyonya Shen menghela napas lega lalu membantunya berdiri. Ia kemudian beralih menatap Xiao Luo dengan pendar pemahaman yang mendalam.

Sebagai wanita yang pernah mengenyam kehidupan kelas atas sebelum jatuhnya keluarga Shen, Nyonya Shen bukanlah orang yang bodoh. Kehadiran barang-barang aneh, obat ajaib, hingga fakta bahwa Xiao Luo muncul dari sumur tua mati itu jelas menandakan satu hal: Xiao Luo membawa rahasia besar yang melampaui Nalar manusia biasa.

​"Aku mengerti maksudmu, Xiao Luo," ucap Nyonya Shen pelan, suaranya kembali tenang dan teratur.

"Jika keberadaanmu tercium oleh penjaga pengasingan atau tetangga sekitar, mereka bukan hanya akan menganggapmu penyusup, tapi bisa saja mencurigaimu sebagai mata-mata atau bahkan siluman. Kita harus membuat cerita yang rapat."

​"Betul, Nyonya," puji Xiao Luo atas kecerdasan Nyonya Shen. "Kematian Nian-nian sudah diketahui oleh enam keluarga lain. Jika aku tiba-tiba muncul menggunakan namanya, tetangga yang melihatku pasti akan gempar."

​Shen Tingting, yang sejak tadi menyimak dengan cermat, tiba-tiba memberanikan diri bersuara.

​"Kak Xiao Luo... bagaimana jika kita katakan bahwa Nian-nian sebenarnya belum meninggal?" bisik Tingting penuh harap. Namun dengan cepat ia menggelengkan kepalanya sendiri, meragukan idenya.

"Tapi tidak... jasad Nian-nian sudah kita kuburkan secara sembunyi-sembunyi dua hari lalu di balik bukit."

​"Bukan begitu, Tingting," potong Nyonya Shen dengan mata berbinar, sebuah ide mulai terbentuk di benaknya. Ia memandang Xiao Luo dari ujung kepala hingga ujung kaki.

​"Kita bisa mengatakan kepada orang luar bahwa yang sakit keras dan dikira tewas waktu itu adalah saudari kembar Nian-nian yang terpisah sejak kecil—atau sepupu jauh dari garis keluarga ibunya yang kebetulan datang menyusul untuk mencari perlindungan," usul Nyonya Shen.

​Ia pause sejenak, lalu memperhalus rencananya. "Namun, skenario paling aman adalah memanfaatkan kesamaan wajahmu. Di tempat pengasingan yang penuh penderitaan ini, orang-orang tidak akan terlalu peduli pada detail kecil selama ada alasan logis. Kita katakan bahwa gadis yang meninggal dua hari lalu memang Nian-nian, tetapi kamu adalah Xiao Luo—saudara sepupu Nian-nian yang selamat dari pembantaian keluarga asalnya dan berhasil menyelinap masuk ke pulau ini untuk mencari kita."

​Xiao Luo mempertimbangkan usulan tersebut. Skenario bahwa ia adalah saudara sepupu yang menyelinap masuk cukup masuk akal untuk menjelaskan mengapa ia memegang barang-barang asing, sekaligus memberi alasan jika kelak ia harus menghilang tiba-tiba melewati sumur tua itu.

​"Skenario itu sangat bagus, Nyonya Shen," setuju Xiao Luo. "Jika ada tetangga yang bertanya mengapa wajahku sangat mirip dengan Nian-nian, katakan saja kami adalah sepupu dari garis ibu yang memang seperti pinang dibelah dua sejak kecil. Namun bagaimana dengan keluarga Nian-nian yang asli? "

"Betul juga. Kenapa Aku sampai lupa. Sepertinya Kita tidak bisa menyembunyikan hal ini dari keluarga Xin. Menurutmu bagaimana? "

"Kalau boleh tahu, apa keluarga Xin itu baik? "

"Mereka keluarga yang baik dan jujur. Jika tidak suamiku tidak akan membiarkan putraku menikah dengan keluarga mereka. "

"Sikap mereka terhadap Nian-nian bagaimana? "

"Baik. Mereka sangat sedih saat Nian-nian meninggal. Setelah itu setiap hari keluarga mereka akan memberikan sedikit makanan kepada Kami. Padahal keluarga mereka juga kekurangan."

"Kalau begitu ceritakan saja pada mereka. Kalian bisa berbagi cerita dan mencari solusi yang baik untuk kedepannya. "

​"Baik, besok aku akan pergi ke keluarga Xin untuk bercerita. Nanti mungkin mereka ingin bertemu denganmu. Apakah Kamu bersedia?" " tegas Nyonya Shen.

"Tentu saja. "

​Sementara mereka merencanakan langkah ke depan, Yujin yang berada di pangkuan Xiao Luo sudah mulai mengantuk. Perutnya yang kenyang oleh bubur hangat dan vitamin membuat matanya semakin berat.

Dengan napas yang halus dan teratur, balita itu akhirnya tertidur lelap, menyandarkan kepala kecilnya di lengan Xiao Luo.

​Melihat Yujin tertidur tenang tanpa henti menangis seperti malam-malam sebelumnya, dada Nyonya Shen rasanya sesak oleh rasa haru yang tak terhingga.

​"Tingting, bantu Bi Ma merapikan sisa makanan ini dan simpan rapat-rapat di tempat tersembunyi. Jangan sampai ada bau makanan lezat yang tercium ke luar rumah," perintah Nyonya Shen seraya bangkit berdiri.

​Mereka bertiga bergegas bekerja dengan sigap dan cekatan. Makanan tersisa disimpan di wadah kedap udara yang dibawakan Xiao Luo, sementara selimut tebal bernuansa hangat disebarkan di atas pembaringan kayu yang semula keras dan dingin.

​Ketika Xiao Luo memindahkan Yujin ke atas selimut lembut tersebut, balita itu hanya bergumam kecil sebelum makin meringkuk nyaman di dalam kehangatan.

Tingting pun menyentuh permukaannya sekali lagi, matanya berbinar bahagia. Ini adalah pertama kalinya setelah bertulan-bulan mereka bisa merasakan tidur tanpa menggigil disiksa angin malam pulau pengasingan yang menusuk tulang.

​Xiao Luo merapikan pakaiannya dan melirik jam tangan digital yang melingkar di pergelangan tangannya. Di dunia modern, waktu sudah menunjukkan pukul dua dini hari. Ia harus segera kembali karena besok ia masih harus bekerja.

​"Nyonya Shen, Tingting... aku harus kembali sekarang," pamit Xiao Luo halus.

​Langkah Nyonya Shen terhenti. Ada kilat kecemasan di matanya, takut jika kepergian gadis ini adalah mimpi indah yang tak akan terulang lagi. "Kamu... apakah kamu akan kembali lagi, Xiao Luo?"

​Xiao Luo tersenyum hangat, menepuk pelan tangan Nyonya Shen yang gemetar.

​"Tentu saja. Ini baru permulaan. Salep di wajah Tingting harus dioleskan lagi besok malam, dan persediaan obat Yujin perlu dipantau. Selama sumur tua itu masih menghubungkan kita, aku tidak akan membiarkan kalian menderita di sini sendirian."

​Airmata Nyonya Shen menetes lagi, kali ini bukan karena duka, melainkan rasa syukur yang amat mendalam. "Hati-hati di jalan, Xiao Luo... Langit pasti membalas semua kebaikanmu."

​Dengan dipandu oleh lampu senter kecil dari gawai Xiao Luo, Nyonya Shen dan Pelayan Ma mengawalnya hingga ke pelataran belakang rumah yang gelap gulita. Angin malam bertiup kencang, menggoyangkan dedaunan kering di sekitar sumur tua yang ditutupi lumut tebal.

​Xiao Luo mendekati bibir sumur, menatap ke dalam kegelapan dasar sumur yang menyimpan rahasia besar antar-dimensi ini. Sebelum memanjat turun, ia menoleh sekali lagi ke arah wanita-wanita yang penuh ketabahan itu.

​"Kunci pintu rumah kalian erat-erat, dan ingat... tetaplah bertahan hidup," bisik Xiao Luo tegas.

​Nyonya Shen mengangguk mantap. Untuk pertama kalinya sejak dibuang ke pulau terkutuk ini, ada pendar harapan yang menyala terang di dalam matanya.

1
Fauziah Daud
lanjuttt
kaylla salsabella
😍😍😍😍😍
Wahyuningsih
upnya jgn lma2 thor yg busnyk n hrs tiap hri sehat sellu n jga keshtn tetp 💪💪💪 n makacih tuk upnya
Wahyuningsih
💪💪💪💪 thor
Wahyuningsih
💪💪💪💪 thor
kaylla salsabella
lanjut thor
kaylla salsabella
yeeeee berhasil
kaylla salsabella
kasihan xiao Lou
Fauziah Daud
trusemangattt n lanjuttt
kaylla salsabella
aku mampir thor😍😍
Fauziah Daud
trusemangattt
Dinta Anikmah
bagus ceritanya, walaupun namanya susah banget buat nyebutinya
Wahyuningsih
💪💪💪💪 thor dlm upnya
Wahyuningsih
menarik
Wahyuningsih
thor xiao luo dpt ruang dimensi biar mkin sru
Wahyuningsih
q mampir thor
Fauziah Daud
lanjuttt
Fauziah Daud
trusemangattt n lanjuttt
Fauziah Daud
seru
Aisyah Suyuti
menarik
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!