Terjebak dalam pernikahan tanpa cinta bersama Arthur Bond, Rexana Nycekerh hidup bagai pajangan mahal di dalam sangkar emas. Demi menyelamatkan perusahan ayahnya yang terancam runtuh, Rex terpaksa menelan bulat-bulat dinginnya penghinaan dan tuduhan atas rahasia masa lalu yang enggan ia bocorkan. Namun, ketika kembali ke New York, takdir memainkan lelucon paling kejam.
Lexana, kakaknya sendiri, secara terang-terangan memamerkan kekasih barunya—Diedrick Glodereus Ashford.
Pria itu adalah pemilik masa lalu Rex, cinta pertamanya yang kini hadir kembali membawa dendam dan kepahitan.
Di tengah kepungan tuntutan keluarga yang tak berhati dan intrik kekuasaan, Rex harus berdiri sendirian di antara dua pria yang membencinya.
Akankah rahasia di balik perpisahan masa lalu mereka terkuak, atau justru Rex akan benar-benar hancur dalam permainan pembalasan dendam ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#12
Napas Diedrick terdengar teratur, berat dan dalam, tenggelam dalam keletihan yang pekat setelah malam panjang penuh gairah dan luapan emosi yang membakar.
Di atas sprei sutra kelabu yang berantakan, pria itu tertidur lelap, wajah tegasnya melunak dalam keheningan malam New York yang mulai meredup menuju fajar.
Rexana bergerak sangat perlahan.
Dengung halus pendingin udara dan rintik hujan di balik jendela kaca menjadi satu-satunya suara yang menemani geraknya.
Dengan rasa nyeri yang masih menjejaki persendian tubuhnya, Rexana bangkit dari tepi ranjang.
Matanya menyapu lantai, meraih kemeja putih oversized dan celana bahan milik Diedrick, lalu mengenakannya ke tubuhnya yang polos.
Kain kemeja itu tenggelam di tubuh rampingnya, memancarkan aroma kayu cendana dan tembakau hangat yang sangat khas.
Dia tidak akan lama di sini.
Dia tahu betul batas waktu permainan ini.
Rexana tidak akan pernah kembali kepada Arthur Bond—suami bajingan yang telah bersumpah demi hukum dan gengsi bisnisnya untuk membebaskan Rexana jika dia berhasil menyelesaikan tugas malam ini.
Klik.
Menggunakan ponselnya sendiri yang tergeletak di atas meja nakas, Rexana mengambil foto tajam keadaan kamar, sudut ranjang yang berantakan dengan Diedrick yang tertidur tanpa busana di balik selimut, serta gaun sutra hitamnya yang terkoyak di lantai.
Tanpa keraguan sedikit pun, tombol Send ditekan.
Foto itu terkirim langsung ke nomor pribadi Arthur Bond, disertai pesan singkat yang dingin dan lugas:
"Aku sudah melakukan apa yang kau minta. Kontrak kerja sama dengan Ashford sudah ditandatangani dan ditinggalkan di meja kerja Penthouse malam ini. Sesuai janjimu, kita usai. Bebaskan aku, dan jangan pernah cari aku lagi."
Jari-jarinya bergetar pelan, namun dadanya terasa melonggar.
Berkas-berkas perjanjian bisnis yang tadinya dibuat Arthur telah dilabuhkan dan ditandatangani oleh Diedrick secara sadar sebelum malam panas mereka memuncak.
Kini, transaksi itu tuntas.
Rexana telah bebas dari ikatan pernikahan yang selama empat tahun ini mencekik leher dan jiwanya.
Jika dahulu dia takut melangkah pergi dari neraka Arthur karena tidak memiliki uang sepeser pun dan menggantungkan biaya pengobatan ayahnya, maka malam ini dia mengambil keputusan gila: dia mengambil biaya atas malam yang dia lewati bersama Diedrick.
Rexana tidak mau keluarga Nycekerh kembali memanfaatkan Diedrick—pria yang sejak empat tahun lalu rela dia dorong jauh-jauh agar tidak hancur oleh ketamakan ayahnya.
Biarlah kali ini dia sendiri yang menjadi jahat di mata dunia.
Rexana meraih ponsel mewah milik Diedrick di atas meja nakas.
Dengan jantung berdegup kencang, dia memasukkan enam digit angka kata sandi.
161099.
Layar ponsel terkunci itu terbuka seketika.
Kode angka itu tidak pernah berubah sejak empat tahun lalu—tanggal Anniversary mereka sejak di bangku High School.
Rasa nyeri kembali menghantam dada Rexana, namun dia menahan air matanya dengan cepat.
Menggunakan aplikasi perbankan pribadi Diedrick, Rexana mentransfer sejumlah nominal uang yang cukup besar langsung ke rekening pribadinya yang tersembunyi.
Uang ini adalah modal awal untuk melarikan diri, menyembunyikan keberadaannya, dan membayar pengobatan ayahnya tanpa bergantung pada keluarga Bond lagi.
Dia tahu, setelah pengaruh alkohol dan obat perangsang itu surut sepenuhnya, Diedrick yang sadar esok hari pasti akan memaki dan membencinya habis-habisan.
Diedrick akan menganggapnya sebagai wanita oportunis yang mengobral tubuh demi uang.
Tidak apa-apa, batin Rexana lirih, menatap wajah lelap Diedrick untuk terakhir kalinya.
Kau pantas membenciku. Lebih baik kau membenciku sebagai pencuri daripada kau terseret dalam kehancuran hidupku.
Di layar ponsel Diedrick, Rexana meninggalkan sebuah pesan terketik di kolom Notes:
"Uang ini kupinjam sebagai imbalan malam ini. Aku berjanji akan mengganti setiap sennya begitu aku mendapatkan kehidupanku kembali. Terimakasih."
Rexana meletakkan ponsel itu kembali, lalu melangkah pelan menuju kamar mandi utama untuk membersihkan sisa-sisa peluh di tubuhnya.
Namun, saat pintu kaca kamar mandi tergeser terbuka, langkah kaki Rexana membeku seketika.
Deg.
Mata bulatnya membelalak lebar, napasnya tertahan di kerongkongan.
Di dalam kamar mandi yang serba marmer hitam itu, tepat di dinding utama yang berhadapan dengan cermin besar, terpampang sebuah cetakan foto berukuran close-up raksasa yang memenuhi hampir seluruh dinding.
Foto itu memperlihatkan gambar mereka berdua saat remaja di SMA—Rexana dengan rambut panjang terurai sedang tertawa lepas, dan Diedrick yang merangkul bahunya sembari menatapnya dengan binar cinta murni.
Demi Tuhan, Rexana terkejut setengah mati.
Apakah semua racauan, bisikan cinta, dan penderitaan yang diucapkan Diedrick di sela-sela penyatuan mereka tadi adalah isi hatinya yang jujur?
Kenapa foto ini ada di sini? Dan kenapa... kenapa harus dipasang di dalam kamar mandi privatnya?
Sialan!
Rexana menggelengkan kepalanya kuat-kuat, berusaha keras membuang pemikiran gila yang mulai mengoyak ketetapan hatinya.
Tidak, Rexana... jangan bodoh, bisiknya pada pantulan dirinya di cermin.
Pria ini sudah berubah. Dia telah tidur dengan banyak wanita selama empat tahun ini, memacari gadis-gadis cantik New York, termasuk kakakmu sendiri. Tentu saja dia sudah melupakanmu!
Rexana mengepalkan tangannya kencang, menatap foto raksasa itu dengan sudut mata yang membasah.
Lihat... dia menyimpan fotomu di dalam kamar mandi. Itu bukti bahwa tempatmu di hidupnya sekarang tak lebih dari sebatas area privat dan tubuh tel*njangmu.
Sadarlah! Dia tidak mungkin masih mencintaimu. Pengakuannya semalam hanyalah igauan pria mabuk yang dikuasai obat!
Rexana mengakui dirinya kini bertingkah tak ubahnya seorang pencuri.
Sebelum melangkah keluar dari kamar mandi, dia melirik ke arah lemari jam tangan koleksi Diedrick yang terbuka.
Rexana meraih sebuah jam tangan bermerek Rolex edisi terbatas milik Diedrick, menatap langsung ke arah kamera CCTV di sudut atas ruangan, lalu berbisik pelan seolah berbicara pada rekaman kamera:
"Totalkan semuanya... uang dan jam tangan ini. Aku akan menggantinya nanti."
Tanpa menoleh lagi, Rexana melangkah keluar dari penthouse.
Pintu depan tertutup pelan dengan bunyi klik yang halus.
Di luar gedung, sebuah taksi yang dipesannya dari aplikasi telah menunggu di tepi jalan, siap membawanya pergi menghilang di bawah temaram fajar New York.
Sementara itu, di dalam mobil sports yang melaju gila-gilaan menembus jalanan Manhattan, Arthur Bond mencengkeram kemudi hingga buku-buku jarinya memutih dan retak.
BZZZ!
Notifikasi foto yang masuk dari Rexana di layar ponsel yang terpasang di dashboard membuat pandangan Arthur makin memerah murka.
Foto ranjang itu... foto istrinya yang tertidur di samping Diedrick Ashford!
"Sialan! Sialan kau, Rexana!" jerit Arthur hysteris di dalam kabin mobil, menekan pedal gas hingga kecepatan maksimal.
Pria yang dipenuhi cemburu buta dan kegilaan itu mengendarai mobilnya bagaikan kesetanan menuju gedung penthouse Ashford.
Istrinya telah ditiduri oleh pria dari masa lalunya—pria yang selama empat tahun ini coba dihilangkan Arthur dari ingatan Rexana!
***
Di dalam kamar penthouse yang sunyi, keheningan mendadak pecah oleh suara dering hening alarm biologis.
Pria yang tengah tertidur lelap di atas ranjang itu mendadak tersentak bangkit.
Mata Diedrick terbuka lebar, napasnya memburu halus saat kesadarannya kembali secara bertahap. Pengaruh obat dan alkohol telah surut, menyisakan rasa pening di kepala dan kehangatan bekas dekapan di dadanya yang kini terasa kosong.
Diedrick menoleh ke samping.
Sisi ranjangnya kosong.
Sprei sutra di sebelahnya sudah dingin.
"Ballerina...?" panggil Diedrick dengan suara seraknya yang khas bangun tidur, matanya menyapu sekeliling kamar yang temaram. "Ballerina, kau di dalam?"
Tidak ada jawaban.
Hanya desir angin di luar jendela.
"Honey?!"
Diedrick melompat turun dari ranjang tanpa memedulikan tubuhnya yang polos.
Dengan langkah cepat dan panik, dia menerobos masuk ke dalam kamar mandi.
Kosong.
Hanya ada aroma wangi sabun dan sisa embun air hangat di cermin.
Deg.
Mata Diedrick tertuju pada meja nakas di samping ranjang.
Ponselnya tergeletak di sana dengan catatan Notes yang terbuka, serta pemberitahuan transfer bank dalam jumlah besar yang baru saja keluar dari rekeningnya.
"Ballerina...!" pekik Diedrick, dadanya dihantam kepanikan murni yang membakar.
Tanpa membuang waktu untuk memakai pakaian lengkap, Diedrick secara acak menyambar celana jeans dan kaos hitam di atas kursi.
Dengan langkah lebar yang kacau, dia menyambar kunci mobil dan bergerak cepat membuka pintu utama penthouse-nya, berniat mengejar taksi atau keberadaan Rexana di bawah gedung.
Namun, tepat saat daun pintu kayu mahoni itu terdorong terbuka lebar—
BUGH!
Sebuah pukulan mentah berkecepatan tinggi menghantam keras rahang kiri Diedrick!
Tubuh tegap Diedrick terdorong ke belakang, menabrak meja konsol di lorong pintu masuk hingga vas bunga kristal jatuh dan hancur berkeping-keping di atas lantai.
Diedrick mengusap sudut bibirnya yang pecah dan mengeluarkan darah segar.
Dia mendongak dengan tatapan membunuh, dan matanya mendapati Arthur Bond berdiri di ambang pintu dengan napas memburu, wajah memerah padam, dan tangan kanan yang terkepal gemetar oleh amarah murni.
"Pria brengsek!" raung Arthur penuh dengki, matanya melotot gila menatap kemeja kotor dan dada Diedrick yang penuh bercak bekas merah.
"Kau meniduri istriku, Ashford! Kau meniduri istri sah orang lain di dalam ruangan harammu ini!"
Diedrick perlahan berdiri tegap.
Rasa sakit di rahangnya tidak ada apa-apanya dibandingkan amarah yang kini meledak di dadanya saat melihat sosok pria yang telah menyiksa Bellerina-nya selama empat tahun terakhir.
Diedrick membuang ludah berdarahnya ke lantai, menyunggingkan senyum paling dingin dan paling beracun yang pernah ada.
"Istrimu?" desis Diedrick dengan suara berat yang menggetarkan lorong.
"Kau menyebut wanita yang kau siksa dan kau jual di pesta dansa sebagai 'istrimu', Bond?"
"Dia milikku! Rexana milikku!" gertak Arthur, melangkah maju dan mencoba melayangkan pukulan kedua ke wajah Diedrick.
Namun kali ini, Diedrick tidak bergeming.
Dengan refleks secepat kilat, tangan tegap Diedrick mencengkeram pergelangan tangan Arthur di udara, memutarnya secara kasar hingga suara tulang berderak terdengar nyaring!
"Argh!" jerit Arthur kesakitan.
Sebelum Arthur sempat melepaskan diri, Diedrick menghantamkan lututnya keras-keras ke perut Arthur, lalu mencengkeram kerah jas pria itu dan menghempaskannya menghantam dinding marmer penthouse dengan kekuatan penuh!
BUK!
"Dengarkan aku baik-baik, suami tak berguna," bisik Diedrick tepat di depan wajah Arthur yang meringis kesakitan, matanya menyala bagai iblis dari neraka.
"Empat tahun lalu aku membiarkanmu membawanya karena kebohongannya. Tapi malam ini... di atas ranjang itu... aku tahu bahwa dia tidak pernah menjadi milikmu. Dia tidak pernah menyuruhmu menyentuhnya!"
Wajah Arthur memucat hebat, campur aduk antara rasa terhina dan kaget yang melumpuhkan.
"Kau... kau sudah tahu?" bisik Arthur dengan suara gemetar.
"Ya, aku tahu segalanya," geram Diedrick, mencengkeram leher Arthur kian kencang hingga pria itu kesulitan bernapas.
"Dan jika kau berani menyentuh sehelai rambutnya lagi setelah hari ini... kupastikan nama keluarga Bond akan hilang dari peta New York sebelum matahari terbenam!"
Diedrick menghempaskan tubuh Arthur ke lantai corridor luar seperti melempar seonggok sampah.
Tanpa memedulikan Arthur yang terbatuk-batuk memegang lehernya, Diedrick memutar tubuhnya dan berlari kencang menuju lift.
boleh up lagi gak Thor 🤭
dan diedrick pria ashford paling bar" gak bisa tahan🤣