NovelToon NovelToon
Aku Hanya Bidak, Lalu Membunuh Pemainnya

Aku Hanya Bidak, Lalu Membunuh Pemainnya

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Fantasi / Epik Petualangan
Popularitas:116
Nilai: 5
Nama Author: Bagas Hirmawan

Gu Chen hanyalah pemuda biasa yang keluarganya dihancurkan oleh kekuatan misterius. Namun, sebelum kematian menjemputnya, ia menemukan sebuah rahasia mengerikan: dunia tempatnya tinggal hanyalah papan permainan bagi makhluk-makhluk di luar pemahamannya.

Perang, kehancuran sekte, bahkan nasib para jenius ternyata telah diatur oleh tangan tersembunyi. Manusia hanyalah bidak, sementara para kultivator terkuat pun tidak lebih dari pion yang bisa dikorbankan kapan saja.

Gu Chen tidak memiliki bakat luar biasa ataupun kekuatan yang mampu mengguncang langit. Ia hanya memiliki kecerdasan, kesabaran, dan keberanian untuk menentang aturan permainan.

Namun, semakin jauh ia melangkah, semakin mengerikan kebenaran yang ditemukannya.

Jika dunia ini adalah papan permainan, maka Gu Chen akan menemukan para pemainnya—dan membunuh mereka satu per satu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bagas Hirmawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14 — Kota yang Tidak Pernah Ada

Tujuh hari perjalanan menuju Tanah Tanpa Nama.

Begitulah perkiraan lelaki berjubah abu-abu yang kini berjalan beberapa langkah di belakang Gu Chen dan Lin Yue. Namanya masih menjadi misteri, meskipun Gu Chen sudah tiga kali mengancam akan memotong lidahnya jika terus menyembunyikan informasi.

Anehnya, lelaki itu sama sekali tidak tampak khawatir.

“Setidaknya berikan kami nama panggilan yang bisa digunakan,” kata Gu Chen sambil berjalan melewati jalan berbatu.

“Kau boleh memanggilku Bai.”

“Itu nama asli?”

“Bukan.”

“Bagus. Aku akan memanggilmu Pembohong Tua.”

Bai menghela napas. “Kau selalu berbicara seperti ini?”

“Tidak. Kadang-kadang aku lebih menyebalkan.”

Lin Yue yang berjalan di samping Gu Chen mendengus. “Akhirnya ada satu hal tentang dirimu yang kau sadari.”

Gu Chen mengangguk serius. “Kesadaran diri adalah langkah pertama menuju kesempurnaan.”

“Langkah kedua?”

“Membuat orang lain menderita.”

Lin Yue menggeleng, lalu kembali memperhatikan jalan.

Mereka telah meninggalkan Desa Qingyuan sejak pagi. Setelah kejadian lonceng, penduduk desa mulai mengingat kembali orang-orang yang pernah dihapus dari ingatan mereka. Namun, tidak semua ingatan pulih dengan sempurna. Ada yang mengingat nama anggota keluarga tanpa mengingat wajahnya, ada pula yang mengingat sebuah rumah tanpa mengetahui siapa yang pernah tinggal di dalamnya.

Gu Chen tidak dapat tinggal lebih lama. Lonceng hitam masih berada dalam tasnya, dan setiap kali ia melewati tempat yang memiliki hubungan dengan masa lalu ayahnya, benda itu bergetar pelan.

Seolah sedang menunjukkan jalan.

Namun, ada sesuatu yang lebih mengganggunya daripada lonceng tersebut.

Pesan yang ditinggalkan Gu Yuan.

JIKA ANAK ITU KEMBALI, JANGAN BIARKAN IA MENEMUKAN PEMILIK NAMA PERTAMANYA.

Gu Chen tidak tahu siapa pemilik nama pertamanya. Ia bahkan tidak yakin apakah nama Gu Chen benar-benar miliknya sejak lahir.

Tetapi satu hal semakin jelas: ada seseorang yang memiliki wajahnya, mengetahui masa lalunya, dan menginginkan kematiannya.

Seseorang yang duduk di hadapan papan raksasa.

Seseorang yang disebut Pemain Pertama.

“Bai,” panggil Gu Chen.

“Ya?”

“Berapa banyak pemain yang ada di dunia ini?”

Bai terdiam sejenak.

“Yang masih memiliki hak untuk mengamati dunia, sembilan.”

“Bukankah sebelumnya kau mengatakan ada pemain kedua?”

“Ada perbedaan antara seseorang yang disebut pemain dan seseorang yang benar-benar memiliki hak atas permainan. Gelar pemain bisa diwariskan, dicuri, bahkan dipalsukan. Namun, hak yang sesungguhnya jauh lebih sulit diperoleh.”

“Jadi, sembilan orang mengendalikan dunia?”

“Tidak sepenuhnya. Mereka hanya memiliki otoritas atas bagian-bagian tertentu dari aturan dunia.”

Gu Chen memandangnya dengan curiga. “Kalau mereka hanya mengendalikan sebagian aturan, mengapa mereka bisa menghapus orang dari sejarah?”

“Karena sejarah bukan sekadar catatan. Dalam dunia ini, sejarah menentukan apa yang diakui sebagai sesuatu yang pernah ada.”

Bai berhenti berjalan dan menunjuk sebuah pohon di tepi jalan.

“Misalnya, pohon itu. Jika semua ingatan, catatan, dan hubungan sebab-akibat yang membuktikan keberadaannya dihapus, dunia perlahan akan kehilangan alasan untuk mengakuinya. Pada akhirnya, pohon itu akan lenyap.”

Gu Chen mengamati pohon tersebut.

“Lalu jika ada seseorang yang masih mengingatnya?”

“Penghapusan menjadi tidak sempurna.”

“Dan jika orang itu menolak melupakan?”

Bai menatapnya.

“Maka orang tersebut akan menjadi gangguan bagi dunia.”

Gu Chen tersenyum tipis.

“Sepertinya aku sudah menemukan pekerjaan yang cocok.”

“Jangan terlalu bangga. Menjadi gangguan tidak berarti kau bisa menang.”

“Aku tidak perlu menang hari ini. Aku hanya perlu membuat mereka menyesali keputusan untuk menggangguku.”

Bai tidak menjawab. Ia hanya kembali berjalan, tetapi Gu Chen sempat melihat ekspresi aneh di wajahnya.

Seolah kalimat itu pernah diucapkan seseorang kepadanya.

Menjelang sore, mereka tiba di sebuah persimpangan. Jalan di sebelah timur menuju kota perdagangan, sedangkan jalan di utara menanjak menuju pegunungan berkabut.

Menurut Bai, jalur utara adalah jalan menuju Tanah Tanpa Nama.

Namun, tidak ada seorang pun yang tampak menggunakannya.

Rumput liar menutupi sebagian jalan. Batu-batu penunjuk arah telah retak, dan pada salah satu batu terdapat ukiran yang nyaris terhapus.

Gu Chen membersihkan permukaannya dengan tangan.

Di sana tertulis dua kata.

KOTA WUMING.

“Bukankah Wuming adalah nama dinasti yang telah lenyap tiga ribu tahun lalu?” tanya Lin Yue.

Bai mengangguk. “Kota ini merupakan salah satu pusat wilayah Dinasti Wuming sebelum kehancurannya.”

“Kalau begitu, mengapa namanya masih ada di sini?”

“Karena penghapusan tidak selalu sempurna.”

Gu Chen mengamati ukiran itu. “Kau terus mengatakan hal yang sama. Apa sebenarnya yang terjadi pada kota ini?”

Bai menatap jalan berkabut.

“Kota Wuming tidak dihancurkan oleh perang atau bencana alam. Kota itu dihapus karena menyimpan sesuatu yang tidak boleh diketahui dunia.”

“Papan Kesepuluh?”

“Mungkin.”

“Dan ayahku bersembunyi di sana?”

“Menurut catatan terakhir yang berhasil kuselamatkan, ya.”

Gu Chen melangkah ke jalan utara.

“Kalau begitu, kita masuk.”

Lin Yue segera menyusul. “Kau bahkan tidak ingin memeriksa apakah jalan itu aman?”

“Kalau aman, kita tidak akan menemukan apa-apa.”

“Itu bukan cara berpikir yang masuk akal.”

“Benar. Tapi sejauh ini, cara berpikir yang masuk akal hanya membawaku ke masalah yang lebih besar.”

Bai mengikuti mereka sambil menggeleng pelan.

Semakin jauh mereka berjalan, semakin tebal kabut yang menyelimuti jalan. Pepohonan di kedua sisi tampak semakin tua. Beberapa batang pohon memiliki ukiran berupa nama manusia, tetapi semua nama itu telah dicoret dengan garis hitam.

Setelah berjalan sekitar satu jam, mereka menemukan sebuah gerbang batu.

Gerbang itu berdiri sendirian di antara pepohonan. Tidak ada tembok yang menghubungkannya, tidak ada jalan yang terlihat melewati bagian belakangnya. Di atas lengkungannya terdapat tulisan yang terukir dalam bahasa kuno.

Bai berhenti.

“Jangan melewati gerbang itu sebelum kalian memahami aturannya.”

Gu Chen menoleh. “Akhirnya. Sebuah peringatan yang terdengar masuk akal.”

“Gerbang ini tidak memeriksa kekuatan atau identitas. Ia memeriksa ingatan. Orang yang melewatinya akan kehilangan satu ingatan yang dianggap tidak diperlukan oleh kota.”

Lin Yue mengerutkan kening. “Bagaimana menentukan ingatan yang tidak diperlukan?”

“Tidak ada yang tahu.”

“Lalu bagaimana kita melewatinya?”

Bai memandang Gu Chen.

“Kita tidak punya pilihan lain.”

Gu Chen tertawa hambar. “Kau baru saja mengatakan bahwa gerbang ini bisa mengambil ingatan kita, lalu menyimpulkan bahwa kita tidak punya pilihan lain. Aku mulai memahami mengapa ayahku tidak mempercayai orang sepertimu.”

Ia mengeluarkan lonceng hitam dari tasnya.

Retakan di permukaannya tidak bertambah sejak mereka meninggalkan desa, tetapi benda itu masih terasa hangat ketika disentuh.

“Jika gerbang ini mengambil ingatan, apakah lonceng bisa mengembalikannya?”

“Mungkin. Namun, jangan membunyikannya di sini.”

“Kenapa?”

“Karena jika kau membunyikannya di dalam wilayah kota, semua ingatan yang dihapus oleh kota ini mungkin akan kembali sekaligus.”

Gu Chen menatap gerbang.

“Dan itu buruk?”

Bai tidak segera menjawab.

“Bayangkan ribuan orang yang telah mati selama tiga ribu tahun tiba-tiba diakui kembali oleh dunia. Bayangkan tempat-tempat yang telah dihapus muncul tanpa peringatan. Bayangkan sejarah yang saling bertentangan berusaha menempati ruang yang sama.”

Ia menarik napas.

“Kita tidak tahu apa yang akan terjadi.”

Gu Chen memasukkan kembali lonceng ke tasnya.

“Baiklah. Kita tidak membunyikannya.”

Lin Yue tampak lega.

Gu Chen melanjutkan, “Setidaknya sampai kita benar-benar membutuhkannya.”

“Gu Chen!”

“Apa? Aku bilang kita tidak akan membunyikannya.”

“Itu bukan yang kau maksud!”

Gu Chen berjalan mendekati gerbang.

Bai memperingatkan mereka sekali lagi agar bersiap kehilangan ingatan. Kemudian, tanpa menunggu jawaban, Gu Chen melangkah melewati batu lengkung tersebut.

Dunia berubah.

Kabut lenyap dalam sekejap.

Di hadapannya terbentang sebuah kota yang luas, dengan bangunan batu, menara tinggi, dan jalan-jalan yang dipenuhi manusia. Lentera tergantung di sepanjang jalan. Pedagang menawarkan makanan, anak-anak berlarian, dan suara palu terdengar dari bengkel pandai besi.

Kota itu tampak hidup.

Terlalu hidup untuk sebuah kota yang seharusnya telah lenyap tiga ribu tahun lalu.

Gu Chen berdiri membeku.

Lin Yue muncul di sampingnya beberapa detik kemudian. Bai menyusul dari belakang.

Tidak ada seorang pun yang memperhatikan kedatangan mereka.

Seorang pedagang bahkan berjalan menembus tubuh Gu Chen tanpa menyadarinya.

Gu Chen menunduk.

Tubuhnya tampak transparan.

“Aku punya firasat buruk,” katanya.

Bai mengamati keadaan mereka. “Kita telah memasuki lapisan ingatan kota. Penduduk ini bukan manusia yang hidup, melainkan rekaman dari masa lalu yang masih bertahan.”

Lin Yue mengulurkan tangan ke arah seorang anak yang sedang berlari. Tangannya menembus tubuh anak itu.

“Jadi, mereka hanya bayangan?”

“Bukan sekadar bayangan,” jawab Bai. “Bagi kota ini, mereka adalah penduduk yang sebenarnya.”

Gu Chen memperhatikan sebuah papan pengumuman di dekat alun-alun. Tulisan-tulisan di atasnya tampak jelas, tetapi ketika ia mencoba membaca nama penguasa kota, huruf-huruf itu berubah menjadi noda hitam.

Kemudian ia melihat sesuatu yang membuatnya berhenti.

Di tengah alun-alun berdiri sebuah patung.

Patung seorang lelaki berjubah hitam dengan pedang di pinggangnya. Rambutnya panjang, wajahnya tampak sangat mirip dengan Gu Chen, dan tangan kirinya menggenggam sebuah lonceng hitam.

Di bawah patung terdapat sebuah prasasti.

GU CHEN, PENGHANCUR DINASTI WUMING.

ORANG YANG MEMBUNUH RAJA DAN MEMUSNAHKAN SEJARAH KOTA.

Lin Yue membaca tulisan itu dua kali.

“Gu Chen… patung itu memakai namamu.”

Gu Chen tidak menjawab.

Ia berjalan mendekati prasasti, berharap menemukan keterangan tambahan. Di bagian bawah terdapat tulisan lain yang hampir tertutup lumut.

DIA DATANG UNTUK MENYELAMATKAN SATU ORANG.

DAN MEMBUNUH RATUSAN RIBU LAINNYA.

Gu Chen merasakan tengkuknya dingin.

Sosok dalam patung itu bukan sekadar orang yang memiliki wajah serupa dengannya. Ia juga membawa lonceng yang sama.

“Bai,” katanya pelan. “Apakah kota ini benar-benar dihapus tiga ribu tahun lalu?”

“Menurut sejarah resmi, ya.”

“Lalu bagaimana mungkin aku tercatat sebagai orang yang menghancurkannya?”

Bai tidak menjawab.

Sebelum Gu Chen sempat mendesaknya, lonceng di dalam tasnya bergetar.

Satu kali.

Prasasti di bawah patung mendadak berubah. Tulisan hitam memudar, digantikan oleh kalimat baru yang muncul perlahan.

KOREKSI SEJARAH DIMULAI.

NAMA PENGHANCUR: TIDAK DIKENAL.

NAMA PENYELAMAT: GU CHEN.

Lin Yue terbelalak.

“Sejarahnya berubah?”

Bai menatap lonceng di tas Gu Chen.

“Bukan sejarahnya yang berubah. Lonceng itu sedang mengungkapkan catatan yang sebelumnya disembunyikan.”

Gu Chen memandang patung tersebut.

“Kalau aku adalah penyelamatnya, mengapa catatan awal menyebutku penghancur?”

“Karena seseorang ingin memastikan kau membenci dirimu sendiri sebelum mengetahui kebenaran.”

Gu Chen mengusap wajahnya.

“Luar biasa. Jadi, selain menghapus ingatanku, mereka juga menulis sejarah palsu tentangku. Apa ada hal lain yang ingin mereka lakukan? Mengganti wajahku? Mengubahku menjadi seekor babi?”

Lin Yue mengangkat bahu. “Kalau menjadi babi, mungkin kau akan lebih pendiam.”

“Pengkhianatan seperti ini tidak akan kulupakan.”

“Kau bahkan tidak tahu apakah ingatanmu masih utuh.”

“Benar. Jadi, aku akan mencatatnya.”

Gu Chen mengeluarkan selembar kertas dan menuliskan nama Lin Yue di bagian atas.

Lin Yue menatapnya curiga. “Apa yang kau lakukan?”

“Daftar orang yang akan kuhindari setelah semua ini selesai.”

Ia menambahkan satu kalimat di bawah nama itu.

Jangan pernah memberikan makanan kepadanya. Ia tidak menghargai penderitaanku.

Lin Yue merebut kertas tersebut dan merobeknya.

Untuk sesaat, ketegangan di antara mereka mencair.

Namun, suara lonceng dari kejauhan segera mengembalikan keseriusan suasana.

Dong.

Seluruh penduduk kota berhenti bergerak.

Pedagang membeku di tengah kalimat. Anak-anak terdiam dengan kaki terangkat. Lentera yang bergoyang di udara berhenti sepenuhnya.

Kemudian, semua orang menoleh ke arah Gu Chen secara bersamaan.

Wajah mereka berubah.

Mata mereka menjadi hitam, dan mulut mereka terbuka tanpa suara.

Beberapa saat kemudian, ribuan suara berbicara serempak.

“Penghancur telah kembali.”

“Pengkhianat telah kembali.”

“Pembunuh raja telah kembali.”

Gu Chen menggenggam pisau.

Dari ujung jalan, seorang gadis kecil muncul. Ia mengenakan pakaian putih sederhana dan membawa lentera merah. Tidak seperti penduduk lainnya, matanya masih memiliki warna.

Gadis itu berjalan menghampiri Gu Chen.

“Apakah kau benar-benar tidak mengingatku?” tanyanya.

Gu Chen menatapnya dengan waspada.

“Siapa kau?”

Gadis itu tersenyum sedih.

“Kau berjanji akan membawaku keluar dari kota ini.”

Ia berhenti tepat di depan Gu Chen, lalu mengangkat lentera.

Di dalam lentera tersebut terdapat sebuah benda kecil.

Sebuah bidak hitam.

Bentuknya sama seperti bidak yang pernah dimiliki Gu Chen sebelum hancur menjadi debu.

Namun, di permukaan bidak itu terdapat sebuah nama yang terukir jelas.

GU YUAN.

Gu Chen merasa napasnya tertahan.

Gadis kecil itu mengangkat wajah dan mengucapkan kalimat yang membuat seluruh dunia di sekeliling mereka retak.

“Ayahmu tidak mati di dunia luar, Gu Chen.”

Ia menunjuk ke arah menara tertinggi kota.

“Dia masih berada di dalam sini.”

Lalu ia berbisik, “Tetapi jika kau ingin menemukannya, kau harus membunuh orang yang sedang menggunakan wajahnya.”

Bersambung ke Bab 15.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!