Di dunia fantasi yang kejam, di mana hierarki ditentukan oleh kekuatan dan kemurnian garis keturunan, terlahir sebagai seekor Goblin adalah sebuah kutukan. Mereka adalah ras terendah-lemah, kotor, diburu sebagai ajang latihan para petualang amatir, dan dibantai tanpa ampun oleh umat manusia.
Namun, dari kedalaman keputusasaan ras yang nyaris punah di Hutan Misti, lahirlah sebuah anomali.
Bukan dengan kulit hijau menjijikkan atau tubuh bungkuk yang menyedihkan, melainkan dengan paras rupawan bagai seorang High Elf yang agung. Berambut pirang keemasan, bertelinga runcing yang elegan, dan dianugerahi ingatan serta kecerdasan dari dunia modern, ia adalah Altair-Sang Goblin Emperor pertama.
menyadari ras nya di ambang kepunahan altair pun bertekad membangkitkan kembali ras goblin yang hina, menjadi penguasa dunia dengan bantuan sistem manipulasi genetik dan kekuatan reproduksi nya sebagai sang kaisar goblin. bisakah dia menghadapi segala rintangan di depan nya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PrinceArslan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13: Gema Keputusasaan dan Penyatuan Kaum Terbuang
Di luar batas Hutan Misti, puluhan mil dari sarang para monster, suasana di dalam ruang kerja utama kediaman Viscount Rejerson dipenuhi oleh ketegangan yang menyesakkan napas.
Brak!
Sebuah meja kayu ek tebal retak akibat hantaman tinju berlapis baja perak. Baron Cass, seorang pria paruh baya dengan rambut keperakan dan rahang tegas, menatap Viscount Rejerson dengan mata menyala penuh amarah dan kesedihan.
"Kau memintaku mengirim putriku! Kau memohon padaku karena kedekatan keluarga kita, Rejerson!" bentak Baron Cass, suaranya bergetar menahan luapan emosi. "Cassvia adalah pewaris utamaku, ksatria kebanggaan wilayah kita. Dan sekarang... kau mengatakan bahwa pasukan kavaleri elitku hilang tanpa jejak di hutan terkutuk itu demi mencari putrimu?!"
Viscount Rejerson, ayah dari Lyra, duduk merosot di kursinya dengan wajah pucat dan mata sembab. "Maafkan aku, Cass... Demi para dewa, aku tidak tahu bahwa hutan itu telah berubah menjadi neraka. Lyra... putri kecilku..."
Di sudut ruangan yang remang, Khaelar duduk dengan tubuh penuh perban berdarah. Petualang veteran berjanggut tipis itu adalah satu-satunya manusia yang berhasil keluar hidup-hidup dari wilayah perburuan Warcraft Overlord, meski ia harus mengorbankan seluruh pasukannya—termasuk ksatria muda Luthar—sebagai umpan untuk melarikan diri.
"Hormat saya, Tuan-tuan Bangsawan," Khaelar berbicara dengan suara parau dan napas tersengal. "Jangan salah paham. Bukan goblin yang menghancurkan pasukan pertama kami. Ada sesuatu yang janggal di sana. Hama hijau itu... mereka tidak menyerang secara membabi buta seperti biasanya. Mereka dengan sengaja memancing kami masuk ke teritori Penguasa Hutan. Dan untuk pasukan Nyonya Cassvia... kabut beracun muncul entah dari mana, mengisolasi mereka secara taktis."
Baron Cass menyipitkan matanya yang tajam. "Taktis? Kau bilang hama tanpa otak itu menggunakan taktik militer untuk mengalahkan kavaleri perakku?"
"Saya hanya mengatakan apa yang saya lihat, My Lord," Khaelar menunduk. "Ada anomali yang memimpin mereka sekarang. Sesuatu yang jauh lebih cerdas dari Hobgoblin atau Shaman biasa."
Kedua bangsawan itu terdiam. Kehilangan Lyra adalah sebuah tragedi, tetapi hilangnya Cassvia—seorang komandan ksatria dengan peringkat B+—bersama seluruh pasukannya adalah sebuah tamparan keras bagi militer manusia.
"Kumpulkan para tetua Asosiasi Petualang. Kirim surat darurat ke ibu kota," geram Baron Cass dingin, matanya memancarkan niat membunuh yang pekat. "Butuh berminggu-minggu untuk memobilisasi pasukan gabungan berskala besar, tapi aku tidak peduli. Aku akan meratakan Hutan Misti. Aku akan membakar setiap jengkal pohonnya sampai aku menemukan putriku!"
Sementara amarah dan birokrasi perang mulai bergejolak di dunia manusia, jauh di dalam kegelapan gua Hutan Misti, fajar menyingsing dengan suram.
Cassvia terbaring lemas di dalam selnya, kesadarannya mengambang antara rasa malu, kelelahan ekstrem, dan keputusasaan absolut. Di dalam rahimnya, benih dari sang Kaisar mulai bereaksi, memompa nutrisi dengan rakus dari tubuh sang ksatria wanita.
Di aula utama gua, Altair duduk tenang di atas takhtanya. Napas sang Kaisar Goblin terasa lebih berat dan jauh lebih bertenaga dari malam sebelumnya. Ia memejamkan mata, merasakan aliran energi asing yang mendidih di dalam pembuluh darahnya setelah menaklukkan wanita berdarah murni dan berkedudukan tinggi.
Altair membuka mata merah rubinya. Panel antarmuka transparan segera berkedip di hadapannya:
[ [ Altair : Ras Goblin (Goblin Kaisar)
Umur : 1 tahun (Tak terbatas)
Jenis kelamin : Laki-laki / Jantan
Peringkat Kekuatan : Rank A+ Hunter
Serangan: 65 (+15)
Vitality: 45 (+42)
Mana: 75 (+85)
Kecerdasan: 100 (+31)
Ketahanan benturan: 75 (+15)
Ketahanan magic: 88 (+26)
Attribute: Api, Kabut, Angin, Aura Fisik Ksatria (Diserap dari Cassvia)
Pekerjaan : Goblin Kaisar
Genetic Talent: Reproduksi ] ]
Seringai tipis terbentuk di bibirnya. Serangan fisik dan ketahanannya melonjak drastis berkat genetika disiplin militer Cassvia. Ia mengepalkan tangannya, merasakan otot-ototnya memadat dengan kekuatan yang mengerikan.
"Yang Mulia," suara parau Anrus memecah keheningan.
Tetua ungu itu merangkak mendekat. Di samping Anrus, Zyrus sang pangeran ungu yang baru lahir semalam tengah duduk di tanah berlumpur. Pertumbuhan mutasinya sangat ekstrem; meski baru berumur satu hari, Zyrus kini memiliki ukuran tubuh setara dengan anak balita manusia. Zyrus belum bisa berbicara lancar, namun kecerdasannya terlihat nyata saat bayi ungu itu tengah fokus menggerakkan jari-jarinya yang mungil, memanipulasi setitik percikan api kecil dari mana di udara, mengulangi apa yang diajarkan Anrus padanya.
Altair menatap putranya sejenak, lalu mengalihkan pandangannya pada Anrus. Pikirannya beralih pada strategi bertahan hidup jangka panjang. Khaelar—manusia yang lolos itu—pasti akan membawa tentara yang jauh lebih besar.
"Anrus," panggil Altair dingin. "Sistemku merekam kekuatan ras ini. Tapi populasi kita di sarang ini kurang dari seribu ekor. Menunggu para wanita tahanan melahirkan ratusan kasta petarung elit akan memakan waktu terlalu lama. Kita butuh prajurit perisai daging sekarang juga."
Anrus menunduk. "Benar, Yang Mulia. Sarang kita ini tidak akan mampu menahan serbuan militer manusia berskala penuh."
"Katakan padaku," mata Altair menyipit, "Hutan ini sangat luas. Di mana sisa kaum kita yang lain? Apakah kelompok kita satu-satunya yang bertahan hidup di Hutan Misti?"
Mata keruh Anrus sedikit melebar sebelum ia menjawab. "Tidak, Yang Mulia. Ada beberapa suku goblin liar yang terisolasi di pinggiran barat dan timur Qirwood. Mereka memisahkan diri ratusan tahun lalu, hidup nomaden dan bersembunyi dari para Penguasa Hutan. Mereka dipimpin oleh para White Goblin tua atau Hobgoblin cacat. Suku-suku itu primitif, tidak terorganisasi, dan saling memangsa jika kelaparan."
Seringai di wajah Altair perlahan melebar, memancarkan pesona sekaligus kekejaman seorang tiran.
Ini adalah solusi yang paling logis. Sebelum manusia datang membawa kiamat ke pintu depan mereka, Altair harus memperkuat fondasi kekaisarannya.
"Kumpulkan seratus prajurit Hobgoblin terbaik kita, dan panggil sepuluh Goblin Hijau pengintai yang paling cepat," perintah Altair, bangkit berdiri dari takhtanya. Jubah hitamnya berkibar seiring dengan aura kekuatannya yang memancar tajam. "Mulai hari ini, Hutan Misti bukan lagi tempat persembunyian. Kita akan memburu suku-suku liar itu satu per satu. Aku akan membuat mereka berlutut menyatukan kaum kita, atau memusnahkan mereka yang menolak tunduk pada Kaisarnya."