NovelToon NovelToon
Kembali Menemukan Cinta

Kembali Menemukan Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:320
Nilai: 5
Nama Author: bammoon

**"Bagaimana jika seseorang yang ingin kau sembuhkan justru menjadi alasan hatimu sendiri terluka?"**

Setiap orang memiliki masa lalu yang ingin dilupakan. Namun, tidak semua orang mampu melepaskan kenangan yang pernah membuatnya bahagia.

Begitu pula dengan seorang lelaki yang masih terjebak dalam penyesalan masa lalunya. Di balik sikap dingin dan tatapan kosongnya, tersimpan sebuah kisah cinta yang belum selesai. Ia terus menunggu seseorang yang entah akan kembali atau tidak, seolah waktu berhenti sejak hari ketika ia kehilangan sesuatu yang paling berharga dalam hidupnya.

Hingga suatu hari, seorang murid baru datang ke sekolahnya.

Gadis pendiam yang awalnya hanya ingin menjalani kehidupan sekolah dengan tenang itu tanpa sengaja menaruh rasa penasaran pada sosok lelaki yang selalu terlihat menyendiri.

"Aku datang karena pena dengan kisahmu. Namun tanpa sadar, aku justru ingin menjadi bagian dari kisah yang baru dalam hidupmu"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bammoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rasa penasaran

Keesokan harinya, Hikari sudah berada di sekolah sekitar pukul 06.30 pagi. Suasana sekolah masih cukup lengang, meskipun beberapa siswa mulai terlihat berdatangan. Hikari berjalan menyusuri koridor menuju kelasnya, tetapi ketika melewati kelas XII-A1, langkahnya tanpa sadar melambat. Dia sedikit melirik ke dalam ruangan tersebut, berusaha memastikan apakah Keiran sudah datang atau belum.

Namun, karena merasa malu jika sampai ketahuan sedang mencari seseorang, Hikari segera mengalihkan pandangannya dan melanjutkan langkah menuju kelasnya sendiri. Sebenarnya, dia masih merasa kesal jika mengingat kejadian kemarin. Keiran sudah berjanji akan mentraktirnya sebagai bentuk permintaan maaf setelah tidak sengaja memukulnya ketika terjadi pertengkaran dengan Agatha. Hikari yang awalnya ragu akhirnya menerima ajakan tersebut, tetapi ketika dia datang ke taman sesuai waktu yang dijanjikan, Keiran justru tidak muncul.

Hikari bahkan menunggu cukup lama, berharap laki-laki itu hanya terlambat. Namun, sampai akhirnya dia memutuskan pulang, Keiran sama sekali tidak datang ataupun memberikan kabar. Hal tersebut membuat Hikari merasa kecewa karena menganggap Keiran hanya mempermainkannya dengan janji yang tidak ditepati.

Setibanya di kelas, Hikari langsung melihat Neta yang sudah duduk di bangkunya. Gadis itu melambaikan tangan ketika melihat kedatangannya. Hikari membalas dengan senyuman kecil sebelum berjalan menghampiri dan duduk di sampingnya. Seperti biasa, mereka menghabiskan waktu sebelum pelajaran dimulai dengan mengobrol ringan mengenai tugas sekolah, mata pelajaran pertama, dan guru yang akan mengajar hari ini.

Neta juga sempat menanyakan keadaan pipi Hikari yang kemarin memar. Dia ingin memastikan apakah lukanya sudah membaik dan apakah Hikari sudah mengganti plester yang menempel di pipinya. Hikari hanya menjawab seadanya, mengatakan bahwa kondisinya sudah jauh lebih baik meskipun terkadang masih terasa sedikit sakit.

Sebenarnya, suasana hati Hikari hari ini sedang tidak begitu baik. Dia lebih banyak diam dan mendengarkan pembicaraan teman-temannya sambil sesekali melirik ke arah jendela. Pikirannya masih dipenuhi kejadian kemarin, terutama mengenai Keiran yang tidak datang menemuinya.

Selain itu, Hikari juga masih memikirkan pertengkaran antara Keiran dan Agatha. Dia tidak bisa melupakan bagaimana Agatha mengatakan kata "pembunuh" hingga membuat Keiran begitu marah. Hikari tidak mengetahui apa yang sebenarnya dimaksud Agatha dengan perkataan tersebut, tetapi dia merasa ada sesuatu yang belum diketahuinya.

Kemarin, Neta sempat mengatakan bahwa Fio merupakan salah satu teman yang cukup dekat dengan Keiran. Karena itulah, Hikari berpikir mungkin gadis tersebut mengetahui sesuatu tentang laki-laki itu. Dia sebenarnya sudah berniat menanyakannya sejak kemarin, tetapi belum mendapatkan kesempatan.

Tak lama kemudian, bel masuk berbunyi. Hikari segera mengeluarkan buku pelajarannya dan berusaha memusatkan perhatian pada kegiatan belajar, meskipun sesekali pikirannya masih teralihkan.

Waktu berlalu hingga akhirnya bel istirahat berbunyi. Suasana kelas yang sebelumnya tenang langsung berubah ramai. Beberapa siswa bergegas menuju kantin, sementara sebagian lainnya masih sibuk membereskan perlengkapan sekolah mereka.

Neta sempat mengajak Hikari pergi bersama, tetapi gadis itu menolak dengan alasan ingin ke toilet terlebih dahulu dan akan menyusul nanti. Setelah Neta pergi, Hikari masih duduk beberapa saat sebelum akhirnya bangkit dari kursinya.

Sebenarnya, dia tidak benar-benar ingin pergi ke toilet. Ada seseorang yang ingin ditemuinya, yaitu Fio. Hikari merasa sedikit canggung karena mereka tidak terlalu dekat, tetapi rasa penasarannya mengenai Keiran membuatnya memberanikan diri.

Saat melewati koridor, Hikari akhirnya melihat Fio sedang berdiri bersama beberapa temannya. Gadis itu tampak asyik mengobrol sambil sesekali tertawa menanggapi candaan orang-orang di sekitarnya. Hikari sempat ingin menghampiri, tetapi langsung mengurungkan niat ketika melihat begitu banyak siswa yang mengelilinginya.

Fio memang dikenal sebagai gadis yang mudah bergaul. Kepribadiannya yang cukup ekstrover membuatnya memiliki banyak teman, sehingga tidak mengherankan jika dia hampir selalu terlihat bersama seseorang. Bahkan ketika beberapa temannya pergi, selalu ada orang lain yang datang menghampirinya.

Hikari yang sejak tadi memperhatikan dari kejauhan mulai merasa bingung. Dia tidak mungkin tiba-tiba menyela pembicaraan mereka hanya untuk menanyakan sesuatu yang cukup pribadi. Karena itu, dia memilih menunggu sambil berpura-pura memperhatikan suasana koridor.

Setelah beberapa menit berlalu, akhirnya teman-teman Fio mulai meninggalkannya. Gadis itu kini berdiri sendirian sambil memeriksa ponselnya. Melihat kesempatan tersebut, Hikari segera memberanikan diri mendekat.

"Fio..."

Fio langsung mengangkat wajah ketika mendengar namanya dipanggil. Begitu melihat Hikari, dia tersenyum ramah dan menyapanya dengan santai. Sambutan tersebut membuat Hikari sedikit lega, meskipun rasa canggung masih terlihat dari caranya berdiri.

Hikari kemudian mengatakan bahwa dia ingin menanyakan sesuatu. Fio yang memang memiliki sifat terbuka langsung mempersilakannya tanpa banyak bertanya. Sikap santai gadis itu perlahan membuat Hikari merasa lebih nyaman.

Awalnya, Hikari masih bingung bagaimana harus memulai pembicaraan. Dia beberapa kali menundukkan pandangan sebelum akhirnya memberanikan diri menanyakan apakah Fio memang cukup dekat dengan Keiran. Fio membenarkan hal tersebut dengan santai. Dia memang sudah cukup mengenal Keiran, sehingga tidak merasa keberatan ketika Hikari ingin menanyakan sesuatu tentang laki-laki itu.

"Kalau boleh tahu... Keiran punya pacar nggak?" tanya Hikari sedikit ragu.

Mendengar pertanyaan tersebut, Fio langsung mengangkat sebelah alisnya. Senyuman jahil perlahan muncul di wajahnya, membuat Hikari mulai merasa tidak nyaman dengan tatapan gadis itu.

"Wah, tumben banget nanyain pacarnya Keiran. Kenapa nih?" goda Fio sambil tersenyum lebar.

Hikari sedikit terkejut. Dia sama sekali tidak menyangka Fio akan menanggapi pertanyaannya seperti itu. Dengan cepat, dia menggeleng dan berusaha menjelaskan bahwa dirinya hanya penasaran.

Fio yang melihat reaksi tersebut justru semakin ingin menggodanya. Namun, sebelum Hikari semakin salah tingkah, dia akhirnya menjawab bahwa setahunya Keiran memang tidak memiliki pacar.

"Oh... gitu, ya," gumam Hikari sambil mengangguk kecil.

Fio memperhatikan ekspresi Hikari yang terlihat sedikit lega. Hal tersebut membuat senyum jahilnya kembali muncul. Dia kemudian sedikit mendekatkan wajahnya, seolah hendak membisikkan sesuatu yang penting.

"Jangan-jangan... lo suka sama Keiran, ya?"

"Hah? Nggak!" Hikari langsung membantah dengan cepat. "Bukan gitu, Fio. Aku cuma penasaran aja, sumpah."

Melihat reaksi Hikari yang begitu panik, Fio langsung tertawa. Gadis itu tampak terhibur melihat bagaimana Hikari berusaha keras menjelaskan sesuatu yang sebenarnya hanya dia tanyakan sebagai bahan candaan.

"Hahaha! Santai, Ki. Gue cuma bercanda, kali."

Hikari tersenyum canggung sambil menundukkan wajahnya. Dia merasa sedikit malu karena sudah menanggapi candaan Fio dengan begitu serius. Apalagi gadis itu masih sesekali tertawa kecil ketika melihat ekspresinya.

Meskipun demikian, Hikari tidak merasa tersinggung. Sikap Fio yang ramah dan mudah bercanda justru membuat suasana di antara mereka terasa lebih santai. Setelah tawanya mereda, Fio kembali bersikap seperti biasa, seolah pertanyaan mengenai perasaan Hikari terhadap Keiran tadi bukanlah sesuatu yang perlu dibahas lebih jauh.

Sementara itu, Hikari hanya bisa menghela napas kecil. Dia mulai menyesal karena sudah menanyakan sesuatu yang membuat dirinya menjadi sasaran godaan Fio. Namun, setidaknya rasa penasarannya mengenai Keiran sudah sedikit terjawab.

Setelah mendapatkan jawaban tersebut, Hikari sebenarnya berniat mengakhiri pembicaraan. Akan tetapi, sebelum benar-benar pergi, dia kembali teringat sesuatu yang sejak pagi mengganggu pikirannya.

"Fio, Keiran hari ini nggak masuk, ya?"

Fio mengangguk santai sebelum menjelaskan bahwa Keiran memang tidak masuk sekolah karena sedang sakit. Mendengar hal tersebut, Hikari langsung terdiam. Dia sempat memastikan kembali keadaan laki-laki itu, dan Fio mengatakan bahwa Keiran mengalami demam. Menurut kabar yang diterimanya, kondisi Keiran memang sudah kurang baik sejak kemarin.

Jawaban tersebut membuat Hikari seketika kehilangan kata-kata. Dia tidak menyangka bahwa alasan Keiran tidak terlihat di sekolah hari ini ternyata karena sakit.

Pikirannya langsung kembali pada kejadian kemarin ketika dirinya menunggu di taman. Saat itu, Hikari benar-benar merasa kesal karena Keiran tidak datang sesuai janji. Dia bahkan sempat menganggap laki-laki tersebut sengaja mempermainkannya dengan berpura-pura ingin meminta maaf.

Namun, setelah mengetahui bahwa Keiran sedang sakit, Hikari mulai mempertanyakan pemikirannya sendiri. Mungkinkah kemarin Keiran tidak datang karena kondisinya memang sedang tidak baik? Jika benar begitu, berarti selama ini dia sudah salah menganggap laki-laki tersebut berbohong.

Hikari menundukkan wajahnya. Perasaan bersalah perlahan muncul ketika mengingat bagaimana dirinya sempat berpikir buruk tentang Keiran. Padahal, dia sama sekali belum mengetahui alasan sebenarnya mengapa laki-laki itu tidak datang.

Fio yang menyadari perubahan ekspresi Hikari sempat menanyakan apakah ada sesuatu yang terjadi. Namun, Hikari hanya menggeleng dan mengatakan bahwa dirinya sedikit terkejut mengetahui Keiran sedang sakit.

Fio tidak terlalu mempermasalahkan jawaban tersebut. Dia justru kembali menjelaskan dengan santai bahwa dirinya juga belum mengetahui kondisi Keiran secara pasti karena belum sempat menemuinya. Hikari hanya mengangguk sambil mendengarkan.

Sebelum pergi, Hikari sempat menanyakan apakah sakit Keiran cukup parah. Pertanyaan itu membuat Fio sedikit penasaran, tetapi dia tidak menggodanya secara berlebihan. Fio hanya mengatakan bahwa dirinya belum mengetahui keadaan Keiran lebih jauh dan akan memberi tahu jika mendapatkan kabar.

Hikari mengucapkan terima kasih sebelum akhirnya berpamitan. Fio membalasnya dengan senyuman ramah, kemudian kembali memperhatikan ponselnya.

Sepanjang perjalanan menuju kantin, Hikari terus memikirkan percakapan mereka. Informasi mengenai Keiran memang sempat menjawab rasa penasarannya, tetapi sekarang justru ada hal lain yang jauh lebih mengganggu pikirannya.

Keiran sakit.

Hikari tidak mengetahui apakah kondisi laki-laki itu sudah membaik atau justru semakin buruk. Dia juga tidak tahu apakah Keiran benar-benar tidak datang ke taman kemarin karena sakit. Namun, mengetahui bahwa laki-laki tersebut sedang tidak sehat sudah cukup membuatnya merasa tidak enak hati.

Dia teringat bagaimana dirinya menunggu dengan penuh harapan, kemudian pulang dengan perasaan kecewa. Bahkan sampai tadi pagi, Hikari masih merasa kesal karena menganggap Keiran sengaja mengingkari janjinya.

Sekarang, rasa kesal itu perlahan berubah menjadi kekhawatiran.

Hikari sebenarnya ingin mengetahui keadaan Keiran secara langsung. Namun, dia tidak memiliki nomor telepon laki-laki tersebut. Mereka juga belum cukup dekat untuk saling menghubungi hanya untuk menanyakan kabar.

Meminta nomor Keiran kepada Fio sempat terlintas dalam pikirannya, tetapi Hikari segera mengurungkan niat tersebut. Dia merasa sudah terlalu banyak bertanya mengenai Keiran hari ini dan takut Fio akan salah memahami rasa penasarannya.

Setibanya di kantin, Hikari langsung menghampiri Neta yang sudah menunggunya di salah satu meja. Neta sempat mengeluh karena Hikari datang cukup lama, tetapi gadis itu hanya meminta maaf sambil tersenyum kecil.

Ketika Neta menanyakan ke mana saja dirinya sejak tadi, Hikari hanya mengatakan bahwa dia sempat bertemu dan berbicara dengan Fio. Neta terlihat sedikit penasaran, tetapi Hikari tidak menjelaskan lebih jauh mengenai pembicaraan mereka.

Selama berada di kantin, Hikari kembali lebih banyak diam. Sesekali dia menanggapi cerita Neta, tetapi pikirannya masih tertuju pada Keiran.

Dia mulai mengingat kembali bagaimana laki-laki itu meminta maaf kepadanya setelah kejadian di koridor. Saat itu, Keiran terlihat benar-benar menyesali perbuatannya. Bahkan ajakan untuk mentraktir Hikari datang dari laki-laki tersebut sebagai bentuk tanggung jawab atas kesalahannya.

Hikari sebenarnya sudah mulai percaya bahwa Keiran memang bersungguh-sungguh ingin memperbaiki hubungan mereka. Namun, ketika laki-laki itu tidak datang ke taman, kepercayaan tersebut kembali menghilang.

Sekarang dia justru merasa bingung harus bersikap bagaimana.

Di satu sisi, Hikari masih kecewa karena sudah dibiarkan menunggu tanpa kepastian. Namun, di sisi lain, dia juga merasa bersalah karena terlalu cepat menganggap Keiran telah membohonginya.

Hikari menghela napas pelan sambil memperhatikan minuman di hadapannya. Dia berharap Keiran segera sembuh dan kembali masuk sekolah.

Setidaknya, jika mereka bertemu lagi, Hikari ingin menanyakan alasan sebenarnya mengapa laki-laki itu tidak datang ke taman kemarin.

Bukan karena ingin memperpanjang masalah ataupun menuntut janji traktiran yang belum ditepati, melainkan karena dia ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.

Dan jika memang Keiran tidak datang karena sakit, Hikari merasa dirinya juga perlu meminta maaf karena sudah salah menilai laki-laki tersebut.

Namun, untuk sekarang, dia hanya bisa menunggu sampai Keiran kembali masuk sekolah.

Tanpa Hikari sadari, rasa penasaran yang awalnya muncul karena janji yang tidak ditepati kini perlahan berubah menjadi kekhawatiran yang terus memenuhi pikirannya.

1
Paw_chan🐾
wah
Im Human
lanjut penasaran banget
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!