**Surat Terakhir Bapak**
*Ada rahasia yang dikubur bersama Bapak. Dan ada yang sudah lama menunggu untuk digali.*
Tiga hari setelah pemakaman Hartono, keluarganya berkumpul untuk mendengar surat wasiat. Harta dibagi rapi, seperti sifat Bapak yang selalu teliti. Tapi di balik segel lilin merah, ada satu pengakuan yang meruntuhkan segalanya: Bapak punya anak lain, seorang pemuda bernama Dimas.
Laras, sulung yang dua belas tahun lari ke Jakarta, harus menghadapi kenyataan bahwa kecurigaannya dulu benar. Bima, yang menjaga toko dan keluarga seorang diri, tak sanggup menerima orang asing berwajah Bapak. Sekar, si bungsu, kehilangan sosok ayah yang ia kira ia kenal. Dan Ibu, yang paling tenang di antara semuanya, ternyata sudah tahu sejak awal.
Ketika satu per satu kebenaran terbuka, mereka sadar luka terbesar bukan pada apa yang Bapak sembunyikan, tapi pada siapa saja yang ikut diam selama dua puluh tiga tahun.
*Surat Terakhir Bapak* adalah kisah tentang pengkhianatan, pengampunan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rachman Santoso, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sebelum Matahari Naik
Laras tidak membalas pesan itu.
Ia menatap tiga titik yang berkedip di layar sampai titik-titik itu menghilang, lalu muncul satu kalimat baru:
*Besok pagi, Nak. Tanyakan sendiri dulu. Saya tidak suka merebut jawaban dari mulut yang berhak.*
Setelah itu, tidak ada lagi. Laras menelepon nomor itu dua kali. Dua-duanya berdering tanpa diangkat, lalu masuk ke kotak suara yang kosong. Ia duduk di tepi ranjang sampai lewat tengah malam, memandangi langit-langit yang sama dengan yang ia pandangi saat SMA, ketika ia belum tahu satu pun dari semua ini.
Jam empat pagi ia menyerah, memakai cardigan, dan turun.
---
Lampu dapur sudah menyala. Ibu berdiri membelakanginya di depan kompor, mengaduk panci sayur lodeh dengan gerakan yang terlalu lambat. Rambutnya masih dikepang, kerudungnya belum dipakai, dan Laras baru sadar betapa putihnya rambut itu sekarang.
"Ibu sudah tahu aku bakal turun," kata Laras.
"Ibu tidak tidur." Ibu mematikan api dan berbalik. "Duduklah. Ibu buatkan teh."
"Aku nggak mau teh, Bu."
"Kalau begitu duduk saja."
Laras duduk. Ibu menaruh dua cangkir di meja, satu untuknya, satu untuk dirinya, lalu duduk di seberang dengan tangan terlipat di atas meja. Dari jendela dapur, langit masih hitam pekat. Di kejauhan, ayam jantan tetangga berkokok sekali, lalu diam.
"Dia kirim pesan ke Ibu juga?" tanya Ibu.
"Ke aku. Dia nanya kenapa aku lahir sembilan bulan setelah hari lamaran." Laras menelan ludah. "Aku nggak mau percaya apa yang dia maksud."
"Kamu pintar, Nak. Kamu pasti sudah menghitungnya sejak semalam."
"Aku ingin Ibu yang mengatakannya."
Ibu menunduk. Jemarinya mengusap tepian cangkir.
"Lamarannya tanggal lima Desember 1992," katanya. "Ibu pergi pagi itu. Tiga minggu kemudian Ibu menikah dengan Bapakmu di rumah Budhe, hanya dihadiri sepuluh orang. Dan kamu lahir bulan September."
"Jadi ..."
"Ibu sudah mengandungmu waktu lari ke bengkel Bapakmu." Suaranya datar, tetapi tangannya bergetar. "Sebulan. Mungkin lebih. Ibu belum bilang ke siapa pun, bahkan belum pasti. Tapi pagi itu, duduk di depan cermin dengan kebaya, Ibu tiba-tiba mual. Dan Ibu sadar kenapa selama ini Ibu merasa bukan Ibu sendiri."
Laras tidak bergerak. Detik di jam dinding terdengar jelas.
"Darmawan?" bisiknya.
"Ibu tidak tahu pasti, Laras." Ibu menatapnya, matanya merah tetapi tak berkedip. "Ibu dan Mas Darma ... kami dekat, dan kami salah melangkah sekali, sebulan sebelum hari lamaran. Hanya sekali. Lalu Ibu mulai ragu pada semuanya, pada dia, pada diri Ibu sendiri. Ibu tidak pernah memastikan lewat dokter atau apa pun. Setelah kamu lahir, Bapakmu bilang, 'Dia anakku.' Dan sejak itu tidak ada yang pernah mempertanyakannya lagi."
"Bapak tahu?"
"Dia tahu sejak malam Ibu datang ke bengkelnya." Ibu tersenyum, dan itu senyum yang membuat dada Laras sakit. "Ibu menceritakan semuanya sambil menangis di bangku kerjanya. Dia mendengarkan sampai habis, lalu bilang, 'Aku nggak peduli darahnya siapa. Yang mau lahir itu, aku yang urus.'"
Laras menutup wajah dengan kedua tangan.
---
Ia teringat hal-hal kecil, yang tiba-tiba terasa berbeda.
Bapak yang tidak pernah absen di pembagian rapor, bahkan saat toko sedang ramai. Bapak yang menunggu di depan sekolah dengan motor tuanya sambil membawa pisang goreng dalam kantong kertas. Bapak yang tidak pernah marah ketika Laras memilih kuliah di Jakarta, hanya bertanya apakah uang saku cukup. Bapak yang menelepon tiga minggu sebelum meninggal dan hanya bertanya apakah ia sudah makan.
Setiap perhatian itu, Laras sadar sekarang, adalah cara Bapak membuktikan sesuatu yang tidak pernah perlu ia buktikan pada siapa pun kecuali pada dirinya sendiri: bahwa ia seorang ayah.
"Kenapa Ibu nggak pernah bilang?" suara Laras tersumbat. "Dua puluh sembilan tahun, Bu."
"Karena kalau Ibu bilang, kamu akan mulai bertanya apakah Bapakmu menyayangimu karena kamu anaknya, atau karena dia sudah berjanji." Ibu mengusap air mata dengan punggung tangan. "Dan jawabannya, Nak, Ibu tidak bisa membedakannya sekarang. Bapakmu sendiri mungkin tidak bisa. Itu sebabnya dia tidak pernah bertanya."
Hening.
Di luar, langit mulai memucat, abu-abu tipis di balik jendela dapur. Suara azan subuh terdengar dari mushala di ujung gang.
"Utang toko itu," kata Laras akhirnya. Pelan, tetapi ia sudah tahu jawabannya sebelum selesai bertanya. "Uang yang dikirim ke perusahaan Darmawan sejak Bapak menikah. Itu bukan soal Dimas. Dimas baru ada dua puluh tiga tahun lalu."
Ibu memejamkan mata.
"Bapak membayar untuk apa, Bu?"
"Darmawan tahu Ibu hamil sebelum lamaran." Suara Ibu nyaris tak terdengar. "Dia tahu tanggalnya, dia bisa menghitung. Dan sebulan setelah Ibu menikah, dia datang ke bengkel Bapakmu. Dia tidak marah. Dia hanya duduk dan menawarkan sesuatu."
"Apa?"
"Kalau ada anak lahir September, dan hitungannya cocok dengan dia, dia bisa mengambil anak itu lewat jalur hukum. Dia punya uang, punya pengacara. Dan Bapakmu hanya tukang mebel yang baru bangkrut." Ibu menatapnya lurus. "Dia menawarkan jalan lain. Setiap bulan, Bapakmu membayar. Selama bayarannya lancar, Darmawan tidak akan mengganggu. Kalau berhenti ..."
"Dia ambil aku."
"Ya."
Laras tertawa kecil, tanpa suara. Terdengar lebih mirip tangis.
"Tiga puluh tahun," katanya. "Bapak bayar tiga puluh tahun supaya aku tetap jadi anaknya."
"Bukan membayar untuk membeli kamu, Nak." Ibu mencondongkan badan, meraih tangannya di seberang meja. "Membayar supaya kamu boleh tetap di sini. Itu bedanya."
Laras membiarkan tangan Ibu menggenggamnya. Hangat, kasar, tak mau lepas.
"Jadi surat pernyataan itu ..." Ia mencoba merangkai. "Yang Dimas ceritakan. Darmawan memeras Bapak dua kali?"
"Kali kedua itu tambahan. Waktu Ratna melahirkan, Darmawan melihat peluang. Dia mengancam Ratna, lalu menekan Bapakmu lagi. Jumlahnya naik terus." Ibu menarik napas panjang. "Dan Bapakmu tidak pernah berhenti membayar, sampai kankernya."
"Kanker?" Laras tersentak. "Bapak sakit kanker?"
Ibu mengerjap, wajahnya berubah. Terlalu terlambat untuk menarik kata-kata itu kembali.
"Bu."
"Itu ..." Ibu menutup mulut dengan tangannya. "Ibu pikir kamu sudah tahu dari Bima."
"Bapak meninggal karena sakit apa, Bu? Kata Bima serangan jantung."
Ibu menggeleng pelan, tanpa menjawab, dan dari bahunya yang jatuh Laras tahu bahwa lapisan terdalam dari semua kebohongan ini baru akan terbuka.
---
Ketukan di pintu depan membuat keduanya tersentak.
Bukan ketukan sopan. Bukan juga gedoran. Tiga kali, teratur, seperti orang yang sudah tahu persis berapa lama harus menunggu.
Laras melirik jam dapur. Jam lima lewat sepuluh.
"Jangan dibuka," bisik Ibu.
"Mungkin Bima."
"Bima tidur di atas."
Mereka saling pandang. Lalu ketukan itu terdengar lagi, kali ini disusul bunyi sesuatu yang diselipkan di bawah celah pintu: sebuah amplop putih, meluncur pelan di atas lantai ubin, berhenti tepat di ujung sandal Laras ketika ia melangkah ke ruang tengah.
Ia membungkuk dan mengambilnya. Tak ada nama pengirim. Hanya satu baris tulisan tangan, tegak dan miring ke kanan.
Tulisan yang ia kenali sejak kecil.
Tulisan Bapak.
*Untuk Laras. Buka kalau Darmawan sudah mulai menghubungimu.*
Tangan Laras gemetar. Di belakangnya, Ibu berdiri dengan wajah memucat, menatap amplop itu seperti menatap hantu.
"Bu," bisik Laras. "Ibu tahu soal surat ini?"
Ibu menggeleng pelan. Sangat pelan.
"Bapakmu meninggal tiga hari lalu," katanya, suaranya kosong. "Siapa yang menyelipkannya sekarang?"