Latifah, seorang guru di pondok pesantren, menjalani kehidupan sederhana dengan mengabdikan dirinya untuk mendidik para santri.
Setahun lalu, seorang anak perempuan berusia lima tahun bernama Kahiyang Ayudia datang dan menetap di pesantren tersebut. Kahiyang adalah putri seorang Mayor TNI bernama Abimanyu Wicaksono yang sedang bertugas di Lebanon.
Atas perintah sang ayah, Kahiyang dititipkan kepada Neneknya agar tumbuh menjadi anak yang mandiri dan berakhlak mulia.
Seiring berjalannya waktu, Latifah semakin menyayangi Kahiyang dan menganggapnya seperti anak sendiri. Namun, kebahagiaan itu terusik ketika kedua orang tuanya berniat menjodohkannya dengan seorang duda beranak satu. Latifah tentu saja menolak karena belum siap menjadi seorang istri sekaligus ibu sambung.
Tanpa sepengetahuannya, pria yang dijodohkan dengannya ternyata adalah Abimanyu, ayah dari Kahiyang, anak yang begitu disayanginya.
Akankah Latifah menerima takdir tersebut dan membuka hatinya untuk sang Mayor?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Percakapan di bawah langit malam
Malam itu, setelah selesai melaksanakan salat Isya berjamaah, suasana kediaman Ustaz Malik di Lembang terasa semakin tenang. Udara dingin menyelinap dari sela-sela jendela, sementara Kaning yang sejak tadi berusaha menahan kantuk akhirnya mulai menguap berkali-kali.
Latifah yang duduk di sampingnya tersenyum kecil.
“Sudah mengantuk, Sayang?” tanyanya lembut.
Kaning mengangguk sambil mengucek matanya. “Iya, Bunda. Tapi Kaning mau ditemani Bunda sebelum tidur.”
Latifah sempat terdiam mendengar panggilan itu, tetapi kemudian mengusap kepala Kaning dengan penuh kasih sayang.
“Baiklah. Ayo, kita tidur. Bunda temani, ya.”
Di kamar tamu, Latifah membaringkan Kaning di atas ranjang, lalu mengambil sebuah buku cerita anak yang tersedia di meja kecil. Ia mulai membacakan cerita dengan suara lembut, sesekali menjelaskan bagian yang membuat Kaning penasaran.
“Bunda, besok Bunda ikut pulang sama Kaning, kan?” tanya Kaning dengan mata yang mulai terpejam.
Latifah tersenyum tipis. “Besok Bunda pulang bersama Abi dan Umi dulu, Sayang. Nanti kalau waktunya tepat, kita bertemu lagi.”
Kaning mengerucutkan bibir, tetapi kantuknya lebih kuat daripada keinginannya untuk protes.
“Janji jangan lupa sama Kaning.”
“Bunda tidak akan melupakan Kaning.”
Tak lama kemudian, napas Kaning mulai teratur. Gadis kecil itu tertidur pulas dengan satu tangannya menggenggam jemari Latifah.
Latifah memandangi wajah polos tersebut beberapa saat sebelum mengecup keningnya.
“Semoga Allah selalu menjaga kamu, Sayang,” bisiknya.
Setelah memastikan Kaning tidur dengan nyaman, Latifah keluar dari kamar dan menutup pintu perlahan.
Di ruang tengah, Bima yang mengenakan kaos santai berwarna gelap dan celana bahan sudah menunggunya. Ia berdiri ketika melihat Latifah mendekat.
“Bu Latifah,” panggilnya sedikit ragu.
Latifah menoleh. “Iya, Pak Bima?”
“Kalau tidak keberatan, bolehkah kita mengobrol sebentar di balkon belakang? Ada beberapa hal yang ingin saya bicarakan.”
Latifah mengangguk pelan. “Tentu, Pak.”
Balkon belakang rumah itu menghadap taman kecil yang diselimuti udara dingin khas Lembang. Lampu taman menyala temaram, sementara suara jangkrik terdengar dari kejauhan.
Bima berdiri di dekat pagar balkon, sedangkan Latifah duduk di kursi kayu yang tersedia. Sesaat, keduanya terdiam, seolah sama-sama mencari cara untuk memulai percakapan.
Akhirnya, Bima membuka suara.
“Saya rasa, setelah keputusan yang kita ambil tadi sore, sudah waktunya kita membicarakan rencana pernikahan.”
Latifah mengangguk. “Saya juga memikirkan hal yang sama.”
“Saya tidak ingin terburu-buru menentukan tanggal tanpa mempertimbangkan kesiapan Bu Latifah. Bagaimana kalau kita membicarakannya bersama keluarga besok?”
“Itu lebih baik, Pak. Saya ingin semuanya dipersiapkan dengan baik, bukan sekadar cepat terlaksana.”
Bima mengangguk memahami.
“Ada satu hal lagi yang ingin saya tegaskan. Saya menerima perjodohan ini bukan hanya karena Kaning menyayangi Bu Latifah. Saya juga ingin mengenal Bu Latifah sebagai calon istri saya. Namun, saya tidak bisa menjanjikan perasaan yang belum saya miliki.”
Latifah menatapnya. Kejujuran itu membuatnya sedikit lega.
“Saya menghargai keterbukaan Bapak. Saya pun belum bisa mengatakan bahwa saya mencintai Bapak. Jadi, mungkin kita bisa memulai semuanya dengan saling mengenal dan menghormati.”
“Setuju.” Bima terdiam sejenak sebelum melanjutkan, “Saya juga ingin Bu Latifah tahu bahwa almarhumah istri saya, Alika, akan selalu menjadi bagian dari hidup saya dan Kaning.”
Latifah tersenyum lembut.
“Saya mengerti, Pak. Saya tidak pernah berniat menggantikan posisi almarhumah. Jika suatu hari saya menjadi bagian dari keluarga Bapak, saya hanya ingin memberikan kasih sayang kepada Kaning tanpa membuatnya melupakan ibunya.”
Tatapan Bima melunak. Ia tak menyangka Latifah memahami hal yang selama ini menjadi salah satu kekhawatiran terbesarnya.
“Terima kasih. Saya harap kita bisa membangun rumah tangga dengan kejujuran seperti ini.”
“Aamiin,” jawab Latifah pelan.
Angin malam berembus, membuat Latifah sedikit merapatkan kerudungnya. Bima menyadarinya dan segera mengakhiri percakapan agar perempuan itu tidak terlalu lama berada di luar.
“Sepertinya sudah cukup malam. Sebaiknya Bu Latifah beristirahat.”
“Baik, Pak. Bapak juga jangan tidur terlalu larut.”
Bima mengangguk, lalu tersenyum tipis. “Selamat malam, Bu Latifah.”
“Selamat malam, Pak Bima.”
Latifah melangkah masuk lebih dahulu, meninggalkan Bima yang masih berdiri sejenak di balkon.
Malam itu, mereka belum saling mencintai. Namun, setidaknya mereka mulai memahami bahwa pernikahan yang akan dijalani bukan sekadar memenuhi harapan keluarga, melainkan sebuah tanggung jawab yang harus dibangun bersama.
Dan esok hari, langkah baru mereka akan dimulai.
*
*
Keesokan paginya, setelah sarapan bersama keluarga Ustaz Malik, Bima kembali berbincang dengan Latifah di ruang tamu. Sebelum mereka berpisah dan kembali ke tempat masing-masing, ada beberapa hal penting yang ingin Bima sampaikan.
“Bu Latifah, ada sesuatu yang perlu Anda ketahui sebelum kita melangkah lebih jauh,” ujar Bima serius.
Latifah menatapnya. “Tentang apa, Pak?”
“Tentang aturan pernikahan di lingkungan TNI. Menikahi seorang prajurit tidak sesederhana pernikahan pada umumnya. Ada prosedur administrasi dan persyaratan kedinasan yang harus kita penuhi.”
Latifah mengangguk, menyimak dengan saksama.
“Jadi, setelah ini kita harus mengurus berkas pernikahan, meminta persetujuan sesuai ketentuan kesatuan, dan menjalani sidang pernikahan. Dalam proses itu, kita akan ditanya mengenai kesiapan, latar belakang, serta kesanggupan menjalani kehidupan rumah tangga.”
Latifah sedikit terkejut. “Sidang pernikahan, Pak? Apakah saya juga harus hadir dan menjawab pertanyaan?”
“Tentu. Anda akan menjadi calon istri saya, jadi Anda perlu mengikuti proses yang diwajibkan. Saya akan mendampingi dan menjelaskan apa saja yang perlu dipersiapkan. Anda tidak perlu merasa takut, tetapi kita harus serius menjalaninya.”
Latifah menghembuskan napasnya perlahan. “Baik, Pak. Terus terang, saya belum pernah mengetahui proses pernikahan dengan seorang prajurit secara terperinci.”
“Itulah sebabnya saya ingin menjelaskannya sejak awal.” Bima berhenti sejenak sebelum melanjutkan, “Kehidupan saya sebagai prajurit juga memiliki konsekuensi. Saya bisa mendapat penugasan mendadak, waktu bersama keluarga mungkin terbatas, dan ada tanggung jawab yang tidak bisa saya tinggalkan begitu saja.”
“Saya memahami pekerjaan Bapak adalah amanah. Saya tidak bisa meminta Bapak meninggalkan tanggung jawab hanya demi saya.”
Bima menatap Latifah dengan sedikit rasa hormat yang semakin tumbuh.
“Terima kasih. Saya juga tidak ingin Anda merasa harus menerima semuanya tanpa memahami konsekuensinya. Kalau ada sesuatu yang ingin ditanyakan, silakan katakan.”
Latifah tersenyum tipis. “Untuk saat ini, saya hanya berharap kita bisa menjalani semua prosesnya dengan baik.”
“Aamiin. Kalau begitu, nanti saya akan berkoordinasi dengan kesatuan untuk mengetahui persyaratan dan jadwal sidangnya. Setelah itu, kita bicarakan bersama keluarga.”
Percakapan mereka berakhir ketika Bu Almira dan Umi Aisyah datang menghampiri. Mereka kemudian membicarakan rencana keberangkatan serta persiapan administrasi pernikahan.
Latifah menyadari bahwa jalan menuju pernikahan mereka ternyata tidak sesederhana yang dibayangkan. Ada banyak hal yang harus dipersiapkan, termasuk kesiapan dirinya menjadi pendamping seorang prajurit.
Sementara itu, Bima merasa sedikit lega. Setidaknya, calon istrinya mulai memahami dunia yang selama ini menjadi bagian terbesar dari kehidupannya.
Kini, sebelum mengucapkan janji suci di hadapan penghulu, mereka harus lebih dahulu melewati serangkaian proses yang akan menguji kesiapan keduanya.
Bersambung...
huuh bikin jengkel aja ,mau merusak rumah tangga orang ya , 😡😡