NovelToon NovelToon
Setelah Cerai Dokter Itu Berkuasa

Setelah Cerai Dokter Itu Berkuasa

Status: tamat
Genre:Identitas Tersembunyi / Penyesalan Suami / Dokter / Tamat
Popularitas:414.7k
Nilai: 5
Nama Author: Ayu Lestari

"
Lima tahun Naira menyusun kerajaan bisnis suaminya dari balik bayang, tapi lelaki itu malah memberikan undangan kongres penting kepada cinta lamanya. Lalu Dimas membatalkan janji menjemput ayahnya sendiri demi perempuan itu. Naira tidak berteriak. Ia hanya melepas cincinnya, mengajukan cerai, dan mengambil kembali seluruh aset yang ia bangun.

Keluarga Mahendra panik. Mereka tidak tahu bahwa Naira adalah putri tunggal Atmadja yang kekayaannya bisa membeli seluruh perusahaan mereka. Tepat saat segalanya kacau, Raka Wiratama muncul. Penguasa bisnis paling ditakuti itu bersumpah melindungi Naira dengan satu alasan: lima tahun lalu, perempuan itu menyelamatkan nyawanya. Dan Raka tidak pernah main-main soal utang nyawa."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 23

Bab 23

Kongres Bedah dan Genomik Nusantara dimulai dua hari lagi.

Hotel tempat acara berlangsung sudah dipenuhi spanduk, meja registrasi, dan staf panitia yang bergerak seperti tidak pernah cukup tidur. Tahun itu kongres menjadi lebih besar dari biasanya karena ada sesi khusus tentang terapi gen untuk kelainan vaskular langka.

Sesi yang dulu seharusnya menjadi panggung Dr. Sari Anggraini.

Naira menerima undangan resminya lewat surel terenkripsi dari sekretariat kongres. Bukan undangan umum. Bukan tiket peserta. Statusnya tertulis jelas.

Pembicara Utama Tertutup

Sesi: Koreksi Genetik dan Etika Uji Klinis

Nama: Dr. Naira Salsabila Atmadja

Ia membaca surel itu di laboratorium rumah Menteng.

Di meja, undangan biru tua yang dulu dirusak Clara masih disimpan dalam plastik bukti. Kertasnya sudah kering, tetapi noda sup dan nama yang luntur tetap terlihat.

Bagas pernah bertanya kenapa Naira tidak membuangnya.

Naira tidak menjawab.

Beberapa benda tidak disimpan karena masih berharga. Beberapa disimpan agar seseorang tidak lupa kapan ia berhenti percaya.

Maya datang membawa berkas. "Panitia meminta konfirmasi kedatangan. Mereka juga menanyakan apakah Ibu ingin keamanan tambahan."

"Tidak perlu diumumkan."

"Mereka ingin mencantumkan nama Ibu di rundown final."

"Tunda sampai hari H."

Maya mengangkat alis. "Untuk menghindari serangan?"

"Untuk melihat siapa yang mencoba masuk lewat pintu lain."

Bagas meletakkan tablet di meja. "Non, sistem registrasi kongres mencatat permintaan akses khusus atas nama Clara Larasati."

Naira menatap layar.

Status: Pending verification.

Kategori: Invited Clinical Presenter.

Sponsor: Cakradinata Farma.

Maya membaca dan wajahnya berubah. "Clinical presenter? Dia tidak ada di daftar program."

"Karena itu daftar palsu."

Bagas berkata, "Panitia belum menolak karena sponsor Cakradinata masih tercatat sebagai pendukung lama kongres."

Naira menyentuh layar. "Biarkan pending."

Maya menatapnya. "Ibu ingin menangkap di pintu?"

"Aku ingin panitia melihat sendiri siapa yang mencoba memalsukan jalur masuk."

Di sisi lain kota, Clara sedang duduk di salon hotel, membiarkan rambutnya ditata. Di depannya, undangan digital terbuka di ponsel. Logo kongres terlihat resmi, lengkap dengan QR code dan status presenter.

Pria dari Cakradinata mengirim pesan.

Datang lewat meja sponsor. Jangan lewat registrasi umum.

Clara mengetik.

Statusku masih pending.

Balasan datang cepat.

Akan berubah sebelum acara. Tugasmu hanya masuk, duduk di baris pembicara, dan biarkan kamera melihatmu.

Clara menatap layar.

"Bu Clara, riasannya mau natural?" tanya stylist.

"Natural, tapi terlihat segar."

"Baik, Dok."

Panggilan itu membuat Clara sedikit tenang.

Dok.

Ia masih dokter. Ia masih punya wajah, pendidikan, koneksi. Naira mungkin punya nama besar yang tiba-tiba muncul, tetapi publik belum tahu cerita penuh. Kalau Clara bisa berdiri di panggung yang sama, orang akan kembali membandingkan.

Dan dalam perbandingan, selalu ada celah.

Ponselnya bergetar.

Dimas.

Clara menatap nama itu beberapa detik sebelum mengangkat.

"Mas."

"Kamu di mana?"

"Salon. Besok ada kongres, aku harus tampil rapi."

Hening di ujung sana.

"Kamu hadir sebagai apa?"

Clara tersenyum kepada bayangannya di cermin. "Sebagai presenter klinis."

"Siapa yang mengundang?"

"Panitia."

"Clara."

Nada itu membuat tangan Clara menegang.

"Kenapa Mas menanyaku seperti tersangka?"

"Karena namamu muncul di akses sponsor Cakradinata."

Clara diam.

Dimas melanjutkan, "Aku baru mendapat info dari salah satu kenalan panitia. Statusmu belum terverifikasi."

"Mas memata-mataiku?"

"Aku mencoba mencegah kamu melakukan hal bodoh."

Clara tertawa pendek. "Hal bodoh? Menghadiri kongres medis sesuai bidangku hal bodoh?"

"Memakai sponsor Cakradinata saat nama mereka sedang muncul di arsip Dr. Sari itu berbahaya."

"Atau Mas takut aku berdiri di tempat yang sama dengan Naira?"

Dimas tidak langsung menjawab.

Clara menangkap celah itu dan menekan lebih jauh.

"Mas, kamu berubah sekali. Dulu kamu yang bilang aku harus punya kesempatan. Dulu kamu yang memberiku undangan itu."

Kalimat itu menusuk Dimas.

Ia memang memberinya.

Undangan yang bukan miliknya.

"Dan itu salah," kata Dimas.

Clara membeku.

"Aku tidak menelepon untuk bertengkar. Aku hanya bilang, jangan gunakan akses itu kalau tidak sah."

"Kalau aku tetap datang?"

"Maka kamu tanggung sendiri."

Telepon terputus.

Clara menatap layar gelap.

Stylist di belakangnya pura-pura tidak mendengar, tetapi tangannya bergerak lebih hati-hati.

Clara menggenggam ponsel.

Dulu, Dimas tidak pernah bicara seperti itu kepadanya.

Naira merusak semuanya.

Malam sebelum kongres, Naira datang ke hotel untuk memeriksa ruang sesi tertutup. Prof. Hadi dan panitia inti menunggunya di ruang rapat kecil. Mereka membahas alur presentasi, perlindungan data pasien, dan daftar pertanyaan yang boleh dibuka di depan publik.

Ketua panitia, Dr. Lestari, tampak tegang.

"Dr. Naira, soal akses Clara Larasati..."

"Biarkan sistem bekerja."

"Cakradinata menekan sekretariat. Mereka bilang Clara bagian dari panel sponsor."

"Apakah panel sponsor punya hak duduk di baris pembicara?"

"Tidak."

"Kalau begitu jawabannya jelas."

Dr. Lestari menghela napas. "Kami hanya tidak ingin kongres berubah menjadi konflik hukum."

Naira menatapnya. "Kongres ini sudah menjadi konflik hukum sejak sponsor yang diduga memalsukan persetujuan pasien masih diberi meja."

Ruangan diam.

Prof. Hadi berkata pelan, "Lestari, lakukan sesuai prosedur."

Dr. Lestari mengangguk. "Baik."

Setelah rapat, Naira keluar ke balkon hotel. Jakarta di bawah tampak penuh lampu. Ia menerima pesan dari Raka.

Clara akan datang besok. Cakradinata menyiapkan fotografer sendiri.

Naira membalas.

Aku tahu.

Raka:

Mau dicegah sebelum masuk?

Naira:

Tidak.

Raka:

Kamu suka membiarkan orang masuk perangkapnya sendiri.

Naira menatap layar beberapa detik.

Aku tidak membuat perangkap. Aku hanya tidak menutup lubang yang mereka gali.

Balasan Raka datang setelah jeda.

Itu lebih menakutkan.

Naira menyimpan ponsel.

Di ruang sekretariat lantai bawah, sistem registrasi berkedip. Pada akses Clara Larasati, status berubah sebentar dari pending menjadi active.

Lalu sistem pusat mengirim notifikasi merah ke akun panitia inti.

Anomali akses sponsor terdeteksi.

Dr. Lestari menatap layar dan langsung menghubungi Naira.

Naira hanya berkata, "Besok pagi, jangan hapus jejaknya."

Clara belum tahu bahwa QR code di ponselnya sudah menjadi bukti.

Di kamar hotelnya, Clara mencoba tidur dan gagal.

Ia membuka undangan digital itu berkali-kali. Statusnya kini terlihat aktif, tetapi setelah telepon Dimas, keyakinannya tidak lagi sekuat tadi sore.

Ia mengirim pesan kepada nomor Cakradinata.

Kalau sistem menolak di pintu?

Balasan datang beberapa menit kemudian.

Jangan terlihat takut. Kalau ditolak, tuduh Naira mempermainkan aksesmu.

Clara membaca kalimat itu sampai hafal.

Tuduh Naira.

Selama ini ia melakukan itu dengan mudah. Jika Dimas terlambat pulang, itu karena Naira membuat rumah tidak nyaman. Jika Bu Ratna marah, itu karena Naira tidak pandai mengambil hati.

Tapi setelah melihat Prof. Hadi, Arman, dan cara orang-orang kongres menyebut nama Naira, Clara tahu tuduhan biasa tidak akan cukup.

Ia berdiri di depan cermin.

"Aku hanya mengambil kesempatan," bisiknya.

Kalimat itu terdengar seperti pembelaan.

Ia mengulanginya lagi.

Masih terdengar seperti kebohongan.

Di lantai lain hotel, Naira menutup laptop setelah memeriksa ulang presentasi. Ponselnya bergetar.

Pesan dari Dimas.

Clara mungkin memakai akses Cakradinata. Aku sudah memperingatkannya.

Naira membaca pesan itu lama. Untuk pertama kali, Dimas memberi informasi sebelum terlambat.

Ia membalas singkat.

Tercatat.

Dimas menatap balasan itu di mobilnya.

Satu kata.

Tetapi baginya, itu lebih baik daripada tidak dibaca.

Ia menyimpan ponsel, lalu meminta sopir berputar ke kantor.

Rendi menunggu di lobi dengan beberapa berkas sponsor. "Pak, kita masih jadi tamu kongres?"

"Ya."

"Kalau Dokter Clara membuat masalah..."

"Kita tidak menutupinya."

Rendi terdiam.

Dimas menatap pintu lift yang terbuka. "Sudah cukup lama aku menutupi hal yang salah karena terlihat lebih mudah."

Malam itu ia bekerja sampai lewat tengah malam, tetapi pikirannya kembali pada balasan Naira.

Tercatat.

Bukan terima kasih. Bukan maaf. Bukan pulang.

Namun setidaknya kali ini, ia berada di sisi catatan yang benar sebelum semuanya terlambat.

Itu kemajuan kecil.

Terlalu kecil untuk menebus apa pun.

Tapi cukup untuk membuatnya tidak tidur.

Di kamar hotel, Clara juga tidak tidur. Bedanya, ia tidak sedang menyesal.

Ia sedang menghitung wajah mana yang harus ia pakai besok pagi.

Korban.

Dokter muda.

Perempuan yang disingkirkan.

Ia memilih ketiganya.

1
say't
busyet nih clara sdh tdr sm siapa ja y 🤪 kok berani skl
Sumiyatun Martoyo
iya. ini sudah dilewati
say't
kalo aq jd naira aq racun ni 3 org menjijikkn 🤪
Tuti irfan
seru cerita nya , ak suka ceritanya TDK melulu tentang romansa Ceo penuh intrik dan misteri 😍😍👍👍👍
Katherina Ajawaila
mending pakai topeng langsung aja Dimas, cabut 5 hurup
Katherina Ajawaila
makin seru aja thour, cara dan ibunya sama ja penjahat berkedok mana ada ibu mau membunuh anak nya sendiri. dasar pelakor ngk mutu
Debbie Teguh
seru banget!
Katherina Ajawaila
Clara kamu itu ibarat anak ayam yg BB aru netes jgn sombong di pites juga modar. Dimas mau di andalan, Domas aja parasit yg ngumpet di kaki rok Naira 🫣
Katherina Ajawaila
maka nya jd Suami harus bisa adil kalau sdh brani melangkah kedepan, dasar nya aja kere, mau sombong kacang lupa kulit nya, kalau smua di tarik sm Naira, jadi apa parasit
Katherina Ajawaila
kere tapi belagu, biasa parasit
Ken L
kenapa cerita diulang2 ya...supaya kelihatan isi bab ceritanya penuh?
Abie Mas
raka love naira
Heni Setiyaningsih
heran ya,pemili perusahaan kok gk mau beli rumah sendiri,gk malu apa numpang dirumah calon mantan istri 🤭
Wahyu Kasep
jalan ceritanya bagus menarik tegang tapi sepi pembaca gak ada yang komentar
Nengs
bagus cerita wlpun harus benar2 paham
yuqana
bagus banget novelnya 😍😍😍🥰🥰🥰
Dewa Nara
astagaaaaa... pengulangan lagiiiii
Dewa Nara
kok ada pengulangan lagi 🤭
Dewa Nara
ada pengulangan alinea Thor
Dewa Nara
wah ceritanya bukan hanya masalah rumah tangga nih 😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!