Selama bertahun-tahun, Bellona terbiasa menjalani hidup tanpa sosok ayah yang benar-benar hadir. Sampai suatu hari, keadaan memaksanya untuk tinggal bersama lelaki yang selama ini hanya ia kenal dari cerita orang lain.
Pertemuan mereka tidak berjalan seperti yang Bellona bayangkan.
Ada banyak pertengkaran, kecanggungan, dan hal-hal yang terlalu sulit untuk dibicarakan. Mereka bahkan tidak tahu bagaimana caranya menjadi keluarga setelah bertahun-tahun hidup sebagai orang asing.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BUNGA LYONA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
17. Sebuah Saran
Devan melangkah masuk tanpa suara, menjatuhkan dirinya di sofa ruang tamu Raka yang empuk. Pria itu menyandarkan kepala ke belakang, memejamkan mata rapat-rapat sambil memijat pangkal hidungnya yang terasa berdenyut.
Raka berjalan ke dapur kecilnya, kembali dengan dua gelas air putih dingin. Ia meletakkan satu gelas di meja depan Devan, lalu duduk di kursi seberang sambil mengamati sahabatnya itu lekat-lekat.
"Napa lo?" tanya Raka pelan, suaranya nyaris berbisik. "Kaya habis ngeliat setan."
Devan meneguk air putih itu sampai habis setengahnya. Tenggorokannya yang serak perlahan terasa lebih dingin, tapi kepalanya masih terasa sangat bising.
"Gue... mimpi buruk lagi, Rak," gumam Devan lirih. Matanya menatap kosong ke arah gelas kaca di tangannya. "Mimpi pas nyokap gue kecelakaan."
Gerakan Raka yang hendak merogoh saku celananya seketika terhenti. Sebagai sahabat lama, Raka tahu betul seberapa dalam luka masa kecil Devan yang satu itu—trauma ditinggalkan di pasar malam dan menyaksikan ibunya terkapar di jalanan basah adalah alasan utama kenapa Devan tumbuh menjadi pria yang selalu kabur dari komitmen dan emosi serius.
"Terus?" Raka bertanya lagi, nadanya melunak. "Gara-gara itu lo nekat ke sini jam dua pagi?"
Devan menggeleng pelan, menghembuskan napas panjang yang gemetar. "Bukan cuma itu. Tadi malam... si Bellona cerita sama gue."
Devan mengusap tengkuknya kasar, membagi kisah tentang Bellona yang membeberkan kenangan pahitnya saat diabaikan Sarah sejak TK, bagaimana hanya neneknya yang peduli, dan betapa tajamnya penyesalan Devan setelah salah bicara.
"Gue bego banget, Rak," desis Devan penuh penyesalan, mengepalkan tangannya di atas paha. "Dia lagi rapuh banget, buka diri ke gue... eh gue malah sotoy bilang kalau Sarah pasti punya alasan. Dia langsung ngamuk, ngebanting pintu, terus ngunci diri di kamar. Terus pas gue tidur, mimpi itu dateng lagi..."
Devan menengadah menatap Raka dengan mata merahnya yang berkaca-kaca.
"Gue ngeliat muka Bellona pas melotot kesal tadi malam... rasanya persis kaya ngeliat diri gue sendiri waktu kecil, Rak. Sama-sama ngerasa dibuang. Sama-sama kepingin punya orang tua yang beneran peduli. Tapi gue... gue malah bikin dia makin benci sama gue."
Raka mendengarkan dalam hening. Pria itu menyandarkan punggungnya, menatap Devan dengan pandangan prihatin sekaligus iba.
"Van," panggil Raka pelan tapi menusuk. "Lo tahu kenapa ucapan lo tadi malam bikin dia sakit hati?"
Devan diam, menunggu kelanjutan kalimat Raka.
"Karena anak yang lagi terluka itu kagak butuh lo membela orang yang udah menyakiti dia," lanjut Raka tegas. "Dia cuma butuh didengar. Dia butuh dipeluk rasa sakitnya. Lo tuh reflek defensif karena lo kenal Sarah di masa lalu, tapi lo lupa kalau di mata Bellona, Sarah itu cuma sesosok ibu yang kagak pernah menganggap dia ada."
Raka menepuk bahu Devan agak keras.
"Gue tahu lo panik. Lo takut jadi figur bapak yang gagal kaya pengalaman lo sendiri. Tapi dengerin gue... lo bukan ibumu yang meninggal, dan lo juga bukan Sarah yang tega ngebuang anak. Lo itu Devan. Yang sekarang rumahnya lo bukain buat anak itu, lo bela di depan Pak RT, lo anterin ke sekolahnya."
Devan tertegun. Kata-kata Raka menghantam bagian tersudut di dalam dadanya.
"Pulang lo," bisik Raka sambil tersenyum tipis. "Minta maaf besok pagi. Bikin dia tahu kalau lo emang kagak pinter ngomong, tapi lo kagak bakal pergi ninggalin dia."
Devan terdiam cukup lama menatap gelas kosong di tangannya. Kata-kata Raka menusuk tepat di bagian hatinya yang paling keras sekaligus paling rapuh.
Ia mengembuskan napas panjang, meraup wajahnya kasar, lalu berdiri dari sofa.
"Makasih, Rak," gumam Devan pelan, suara seraknya terdengar jauh lebih tenang dibanding saat ia baru datang tadi. "Sorry gue ganggu tidur lo."
Raka ikut berdiri, menepuk bahu Devan pelan. "Kagak napa. Yang penting lo jangan bego lagi besok pagi. Turunin gengsi lo sikit."
***
Subuh belum sepenuhnya terang ketika Devan kembali sampai di rumahnya. Suasana gang masih sepi, diselimuti kabut tipis dan dingin yang menggigit.
Devan mendorong pintu depan pelan-pelan agar tak menimbulkan suara berisik. Rumah tua itu begitu hening. Pandangan Devan otomatis tertuju ke arah pintu kamar belakang yang masih tertutup rapat.
Pria itu melepas jaket kulitnya, menggantungnya di paku dinding, lalu melangkah ke dapur.
Devan berdiri di depan meja semen yang kusam. Ia menatap wajan dan peralatan masak bekas Bellona kemarin. Jemari Devan yang biasanya cuma memegang stang motor atau senar gitar kini merogoh lemari gantung, mengambil beras kemasan satu kilogram yang dibeli Bellona kemarin lusa.
Dengan gerakan canggung dan tidak terbiasa, Devan mulai menanak beras di panci kecil. Ia mencuci beras itu beberapa kali, menyalakan kompor gas satu tungkunya, lalu menunggu airnya mendidih.
Tak berhenti di situ, Devan merogoh kulkas tua, mengambil dua butir telur dan sisa papan tempe. Pria itu mengupas bawang merah dengan irisan yang tebal-tipis tidak beraturan, bahkan sempat meringis karena matanya perih terkena uap bawang.
Ia ingin membuatkan sarapan—sebuah usaha konyol dan kikuk dari seorang Devan untuk menunjukkan penyesalannya tanpa perlu banyak kata-kata puitis yang tak mampu ia ucapkan.
Sekitar jam enam pagi, aroma tumisan telur dan tempe goreng yang sedikit gosong di pinggirannya mulai memenuhi area dapur.
Ctek.
Pintu kamar belakang berderit terbuka.
Bellona keluar dengan seragam SMA yang sudah rapi terpasang di tubuhnya. Rambutnya dikuncir satu, dan tas ransel besarnya sudah tersampir di salah satu bahu. Namun, raut wajahnya masih sedingin es, dengan lingkaran hitam tipis di bawah matanya yang menandakan ia juga tidak tidur nyenyak semalam.
Gadis itu berjalan melewati ruang tamu tanpa menoleh sedikit pun ke arah Devan, bersiap langsung melangkah menuju pintu depan.
"Mau ke mana lo?" panggil Devan dari dapur, suaranya agak kaku.
Bellona menghentikan langkahnya di dekat pintu, membelakangi Devan. "Sekolah."
"Kagak sarapan dulu?"
"Gak nafsu," sahut Bellona ketus, tangannya sudah memegang gerendel pintu.
Devan mematikan kompor gas, merapikan serbet di tangannya, lalu melangkah mendekati Bellona. Pria itu berdiri beberapa langkah di belakang gadis itu, mengusap tengkuknya yang tak gatal dengan raut wajah yang jarang sekali terlihat padanya: rasa canggung bercampur penyesalan yang jujur.
"Soal semalem..." Devan berdehem pelan, menetralkan suaranya yang mendadak berat. "...gue minta maaf."
Gerakan tangan Bellona di gagang pintu seketika membeku.
Devan menunduk menatap lantai semen di antara mereka, menghembuskan napas pendek.
"Gue emang bego kalau soal ngomong," lanjut Devan pelan, menghilangkan semua nada ejekan atau cengiran tengilnya. "Gue kagak maksud membela Sarah. Gue cuma... kagak tahu harus ngerespon gimana pas denger cerita lo. Gue minta maaf udah bikin lo makin sakit hati."
Bellona masih berdiri mematung membelakangi Devan. Tangannya yang memegang gerendel pintu tampak gemetar tipis. Rasa panas kembali menjalar di belakang matanya, namun kali ini bukan karena amarah—melainkan karena terkejut mendengar pria yang biasanya berurat malu tebal itu justru menundukkan kepalanya duluan.
Devan menunjuk ke arah meja dapur dengan ibu jarinya.
"Gue udah gorengin telur sama tempe," gumam Devan kaku, berusaha mengalihkan suasana. "Agak gosong dikit sih, kagak se-enak buatan lo. Tapi makan dulu separo biar lo kagak pingsan di sekolah. Habis itu baru gue anter."
Bellona perlahan memutar tubuhnya. Ia menatap Devan lekat-lekat—meneliti wajah pria itu yang tampak lelah, mata merah kurang tidur, dan noda hitam sisa wajan di ujung jalur pipinya.
Gadis itu merapatkan bibirnya rapat-rapat, menahan sudut bibirnya agar tidak bergetar.
"Muka lo belepotan minyak," bisik Bellona pelan, suaranya tak lagi setajam tadi malam, walau nada ketusnya masih tersisa tipis.
Devan tersentak, refleks mengusap pipinya dengan telapak tangan, yang justru makin membuat noda hitam itu menyebar. "Eh? Masa sih?"
Bellona menghembuskan napas panjang, menurunkan tas ranselnya dari bahu, lalu berjalan melintasi Devan menuju meja dapur. Ia menatap dua piring nasi dengan telur orak-arik dan tempe yang bentuk potongannya tidak beraturan itu.
"Bentukannya aneh banget," cetus Bellona sambil menarik kursi kayu dan duduk di sana.
Devan menyeringai tipis, rasa lega yang amat sangat mendadak memenuhi dadanya saat melihat Bellona akhirnya menyambar sendoknya. Pria itu menyusul duduk di seberangnya, menyambar piringnya sendiri.
"Yee... yang penting mateng, Bocah," kekeh Devan pelan.
Bellona menyuap sendok pertamanya. Rasa telur yang agak terlalu asin dan tempe yang terasa sedikit pahit di pinggirannya menyapa lidahnya. Rasanya jauh dari kata sempurna, tapi anehnya, itu adalah makanan paling hangat yang pernah ia santap di pagi hari.
Ia mengunyah pelan tanpa memprotes rasa asin itu.
Devan melirik Bellona dari balik piringnya, mengamati gadis itu yang makan dalam diam. Pria itu menyuap nasinya sendiri dan meringis pelan. "Buset, asin amat telur buatan gue," batin Devan meringis hambar, tapi ia tetap melahapnya berpura-pura santai demi menjaga gengsi.
Selesai makan, Devan berdiri duluan. Ia menyambar kunci motor dan jaket kulitnya.
"Gue panasin motor dulu. Lo rapi-rapi gih," kata Devan sambil melangkah ke luar.
Bellona mengangguk tipis. Ia meletakkan piring kosongnya di bak cuci, lalu mengelap sisa minyak di meja semen dapur dengan kain lap. Ada perasaan lega yang merayap pelan di dadanya, menggantikan rasa sesak yang bertengger sejak semalam.
Beberapa menit kemudian, Devan sudah bersiap di atas motor tuanya yang meraung-raung di teras. Bellona keluar, mengunci pintu depan, lalu memakai helm kusam Devan tanpa lagi mengeluhkan baunya.
Ia naik ke jok belakang. Saat motor tua itu menarik gas membelah angin pagi gang, Bellona perlahan mengulurkan tangannya, memegang pinggiran jaket kulit Devan agar tidak terjatuh.
Devan merasakan tarikan pelan di jaketnya dari belakang. Sudut bibirnya terangkat tipis di balik kaca helm. Ia tidak mengatakan apa-apa, hanya menambah kecepatan motornya melaju menembus jalan raya kota menuju sekolah Bellona.