Maya cuma cewek biasa yang nggak sengaja masuk ke lingkaran kehidupan Reza, bos mafia paling ditakuti di kota. Awalnya, Maya cuma cari aman. Tapi lama-lama, pesona Reza yang dingin tapi protektif bikin Maya luluh. Masalah utamanya? Reza sudah punya istri sah, Sora—wanita berkelas dari keluarga terpandang yang rela melakukan apa saja demi mempertahankan posisinya.
Di mata orang luar dan lingkaran mafia, Maya digelari sebagai pelakor yang merusak kedamaian. Tapi bagi Maya, ini bukan sekadar cinta terlarang. ini soal bertahan hidup di dunia gelap yang penuh pengkhianatan.
Ketika rahasia besar Reza dan Sora terkuak, Maya harus memilih: tetap bertahan di samping pria paling berbahaya walau dicap perusak rumah tangga, atau kabur sebelum nyawanya sendiri yang melayang.
Cinta terlarang, perebutan kekuasaan, dan intrik berdarah. akankah Maya mendapatkan hati Sang Mafia, atau justru jadi korban berikutnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naelong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
maya menjaga jarak
Suara berat Tuan Burhan yang mendesak lewat intercom membuat suasana di dalam mansion mendadak tegang luar biasa.
Ayah kandung Sora itu bukan orang sembarangan; ia adalah tetua besar di balik yang memegang kendali atas jaringan keuangan dan politik yang membesarkan nama Reza selama ini.
Reza mengepalkan tangannya erat-erat, rahangnya mengeras tajam.
"Jangan keluar dari kamar belakang, Maya," bisik Reza tegas pada Maya yang berdiri mematung karena ketakutan.
"Tapi... tapi itu ayah Nyonya Sora..." suara Maya bergetar hebat, air matanya nyaris tumpah lagi. "Dia pasti mau melenyapkan aku..."
"Percaya sama saya," potong Reza cepat sambil memegang kedua bahu Maya dengan mantap.
"Tetap di dalam. Apapun yang terjadi di luar, jangan buka pintu."
Tanpa menunggu jawaban Maya, Reza melangkah lebar menuju pintu utama. Pria itu menekan tombol otomatis untuk membuka pintu besi tebal tersebut, memperlihatkan Tuan Burhan yang berdiri tegak dengan tatapan penuh kemarahan didampingi empat pengawal bersenjata di belakangnya.
"Berani sekali anda membuat keributan di tempat saya," sambut Reza dingin, langsung berdiri menghalangi jalan masuk tanpa sedikit pun menunjukkan rasa gentar.
Tuan Burhan mendengus sinis. Pria paruh baya itu melangkah maju, memindai interior mewah mansion dengan pandangan meremehkan.
"Keributan? Kamu sendiri yang memicu kekacauan ini, Reza! Apa benar berita di luar sana? Kamu membawa seorang pelayan rendahan dan menempatkannya di istana milik putriku?"
"Ini urusan pribadi saya," jawab Reza datar.
"Pribadi kepalamu!" bentak Tuan Burhan dengan suara menggelegar, wajahnya memerah karena emosi.
"Putriku, sudah menderita bertahun-tahun demi menjaga nama baik keluarga kita dan posisimu! Dan sekarang kamu malah memelihara perempuan murahan untuk menginjak-injak harga diri keluarga kami?!"
Mendengar kata-kata makian itu dari luar, Maya yang mengintip dari celah pintu kamar belakang merasakan dadanya seperti dihantam palu besar.
Kata-kata "perempuan murahan" dan "pelayan rendahan" menusuk tajam langsung ke ulu hatinya. Air mata Maya menetes deras dalam keheningan.
Ia sadar, bagaimanapun Reza melindunginya, fakta bahwa dirinya hanyalah seorang cewek biasa dari kalangan bawah tidak akan pernah bisa diubah. Perbedaan dunia mereka terlalu jauh, bagai langit dan bumi.
Di ruang depan, Reza tidak bergeming sedikit pun menghadapi gertakan sang tetua.
"Jaga mu*ut Anda," ucap Reza dengan nada suara rendah yang sangat berbahaya, membuat suhu di sekitar mereka seakan membeku.
"Hubungan saya dan Sora tidak pernah didasari rasa hormat sejak awal. Anda tahu itu lebih baik dari siapa pun."
Tuan Burhan tertawa sinis, matanya melotot tajam.
"Jangan karena kamu memegang senjata dan menguasai jalanan, kamu bisa melupakan siapa yang mengangkatmu ke posisi ini! Tanpa dukungan dana dan pengaruh keluargaku, kamu bukan apa-apa, Reza! Kamu hanya anak jalanan yang kebetulan beruntung!"
"Kalau begitu, silakan ambil kembali semuanya kalau Anda bisa," tantang Reza tanpa ragu sedikit pun, membuat Tuan Burhan tertegun sejenak karena tidak menyangka Reza akan berani melawan secara terbuka.
"Kamu benar-benar sudah kehilangan akal karena perempuan jalang itu!" geram Tuan Burhan sambil melirik ke arah lorong kamar. "Bawa perempuan itu keluar! Dia harus diberi pelajaran agar tahu diri!"
Keempat pengawal di belakang Tuan Burhan langsung bergerak maju, berniat menerobos masuk melewati Reza. Namun, sebelum mereka sempat melangkah, Reza sudah menarik pistol dari balik jasnya dan mengarahkan moncongnya tepat ke arah dada Tuan Burhan tanpa sedikit pun keraguan.
"Silakan maju satu langkah lagi," ujar Reza dingin, matanya menyala penuh ancaman maut.
"Dan saya pastikan peluru ini menembus dada Anda sebelum anak buah Anda sempat menyentuh pintu."
Suasana mendadak hening mencekam. Empat pengawal Tuan Burhan langsung menghentikan langkah mereka, menelan ludah dengan susah payah melihat kesiap-siagaan Reza.
Tuan Burhan sendiri membelalakkan mata, tidak percaya pria yang selama ini dibesarkannya di dunia mafia kini berani menodongkan senjata ke arahnya.
"Kamu... kamu benar-benar anak durhaka!" caci Tuan Burhan dengan napas memburu.
"Kamu mempertaruhkan seluruh Kerajaan bisnismu hanya demi seorang pelayan tak berharga?!"
"Dia bukan pelayan tak berharga," balas Reza tegas. "Dan ini peringatan terakhir saya: jangan pernah menginjakkan kaki di tempat ini lagi, atau Anda tidak akan keluar hidup-hidup dari gedung ini."
Tuan Burhan mengepalkan tangan, menahan amarah yang luar biasa besar. Menyadari situasi tidak menguntungkan dan nyawanya benar-benar terancam, ia akhirnya memberi gestur kepada anak buahnya untuk mundur.
"Kita lihat sampai kapan kamu bisa melindungi pelayan murahan itu, Reza!" ancam Tuan Burhan penuh kebencian sebelum berbalik badan dan melangkah pergi dengan langkah berat menyusuri lift.
Pintu mansion tertutup rapat secara otomatis setelah rombongan itu pergi. Reza menghela napas panjang, memasukkan kembali senjatanya, lalu berbalik dan berjalan cepat menuju kamar belakang tempat Maya bersembunyi.
Ia membuka pintu kamar perlahan. Di sudut ruangan, Maya duduk meringkuk di lantai sambil memeluk kedua lututnya, menangis sesenggukan tanpa suara.
Reza berlutut di hadapan Maya, meraih tangan gadis itu yang terasa dingin. "Maya... semuanya sudah pergi. Kamu aman."
Maya mendongak, menatap wajah Reza dengan mata sembap dan senyum getir di bibirnya.
"Reza... apa yang dibilang ayah Nyonya Sora tadi benar..." suara Maya parau menahan tangis.
Reza mengerutkan keningnya. "Apa maksud kamu?"
"Aku cuma cewek biasa... pelayan restoran yang tidak punya apa-apa," bisik Maya, menarik pelan tangannya dari genggaman Reza.
"Keberadaanku di sini cuma bikin kamu memusuhi semua orang, bikin keluarga besar kamu marah, dan menghancurkan masa depan kamu... Mulai sekarang, Tolong... biarkan aku pergi dari sini."
Bersambung.....