Tanda tangani ini. Ingat, kita menikah hanya di atas kertas. Jangan pernah bermimpi aku akan menyentuhmu, apalagi mencintaimu!"
Demi melunasi biaya pengobatan ibunya yang kritis, Naura Ayu terpaksa menjual kebebasannya. Dia setuju menandatangani kontrak pernikahan satu tahun dengan Adrian Mahendra, seorang CEO tampan yang terkenal dingin, kejam, dan tidak tersentuh wanita.
Bagi Adrian, Naura hanyalah 'istri pajangan' demi memuaskan tuntutan sang kakek agar posisinya sebagai pewaris tahta perusahaan aman.Awalnya, semua berjalan sesuai kesepakatan. Mereka hidup dalam dinding pembatas yang dingin. Namun, pesona Naura yang mandiri, tegar, dan tidak silau akan hartanya perlahan mulai mengusik pertahanan hati Adrian.
Saat kontrak hampir berakhir dan Naura bersiap untuk pergi, Adrian justru mengunci pintu rapat-rapat. Tatapan dingin pria itu berubah menjadi kilat obsesi yang membara."Siapa yang mengizinkanmu pergi? Kontrak bisa berakhir, tapi kamu... selamanya milikku!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S RIANA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pelukan
Pintu mobil tertutup dengan suara debuman yang diredam. Namun, kesunyian yang tercipta di dalam mobil justru terasa memekakkan telinga. Naura duduk di kursi penumpang dengan tubuh yang masih gemetar hebat. Kedua tangannya meremas tas ransel usangnya kuat-kuat, sementara pandangan matanya kosong, menatap lurus ke arah depan.
Rahasia pernikahan kontrak mereka telah bocor ke tangan Gavin. Kenyataan itu menghantam dada Naura bagaikan pisau. Dia ketakutan. Bukan hanya karena nasib pengobatan ibunya yang terancam, tapi juga karena dia merasa bersalah telah menjadi titik lemah yang bisa menjatuhkan Adrian dari posisinya di perusahaan.
Di kursi kemudi, Adrian tidak langsung menjalankan mobilnya. Pria itu mencengkeram setir dengan sangat kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Amarah yang membakar dadanya sejak di lorong rumah sakit tadi masih menyisakan hawa panas yang pekat. Tatapan matanya yang kelam menatap lurus ke depan, mencoba menata kembali logikanya yang sempat berantakan karena melihat Gavin berani menyudutkan wanita miliknya.
Perlahan, Adrian menoleh ke samping. Ketika dia melihat bahu ringkih Naura yang sedikit berguncang dan wajah gadis itu yang pucat pasi, ada rasa perih yang asing yang tiba-tiba menusuk ulu hati sang CEO. Dinding es di hatinya runtuh, digantikan oleh dorongan protektif yang tidak bisa lagi dia sangkal.
Adrian melepaskan sabuk pengamannya, memiringkan tubuhnya mendekati Naura. "Naura," panggilnya, suaranya melembut, sangat jauh berbeda dari nada mengintimidasi yang biasa dia gunakan.
Naura tidak menjawab. Setitik air mata yang sejak tadi dia tahan akhirnya luruh, membasahi pipinya yang halus. Dia merasa sangat tidak berdaya.
Melihat air mata itu, Adrian tidak bisa menahan dirinya lagi. Dia mengulurkan kedua tangan kekarnya, meraih pundak Naura, dengan satu gerakan lembut namun pasti, dia menarik tubuh ramping gadis itu ke dalam pelukannya.
Naura tersentak kaget saat wajahnya menempel di dada bidang Adrian yang dibalut kemeja mahal. Kehangatan tubuh Adrian dan aroma maskulin bercampur wangi mint yang familier seketika mengurungnya. Awalnya, Naura mencoba mendorong dada Adrian dengan tangan gemetarnya. "T-Tuan Adrian... apa yang Anda lakukan? Lepaskan..."
"Diamlah, Naura. Sebentar saja," bisik Adrian di atas puncak kepala Naura. Lengannya justru semakin merapat, mendekap Naura seolah-olah ingin menyembunyikan gadis itu dari segala ancaman dunia luar. "Jangan menahannya lagi. Menangislah jika kau ingin menangis."
Pertahanan terakhir Naura runtuh mendengar kalimat itu. Tangannya yang tadinya mendorong dada Adrian, kini beralih meremas kemejanya kuat-kuat. Tangisnya pecah di dada pria itu. Selama beberapa menit, di dalam mobil yang terparkir di area rumah sakit yang sunyi, Naura menumpahkan segala rasa takut, lelah, dan kecemasannya. selama itu pula, Adrian tetap memeluknya erat, menepuk-nepuk punggung Naura dengan gerakan yang sangat menenangkan, membiarkan kemeja mahalnya basah oleh air mata sang istri kontrak.
Setelah Naura agak tenang dan hanya menyisakan Isak kecil, Adrian perlahan merenggangkan pelukannya. Dia menyugar rambut hitam Naura yang sedikit berantakan dengan jarinya, lalu menatap mata jernih gadis itu yang kini merah dan sembap.
"Maafkan aku," ucap Adrian tulus, menatap lurus ke manik mata Naura. "Ini semua karena kesalahanku yang melibatkanmu ke dalam lingkaran masalah keluargaku yang kotor. Gavin mengincarmu karena dia tahu kau adalah caraku untuk mempertahankan posisi CEO."
Naura menghapus sisa air matanya dengan punggung tangan, mencoba menguasai dirinya kembali. "Tuan Adrian... Gavin sudah tahu tentang bukti pelunasan rumah sakit itu. Dia tahu pernikahan kita palsu. Dia mengancam akan membongkarnya pada Kakek Tirta jika aku tidak menyerahkan dokumen kontrak aslinya kepada dia. Apa yang harus kita lakukan? Bagaimana dengan posisi Tuan?"
Adrian tersenyum tipis, seulas senyuman yang tidak lagi sinis, melainkan memancarkan rasa percaya diri. "Kau tidak perlu mencemaskan hal itu. Gavin hanyalah seekor ular kecil yang suka menggertak. Dia tidak akan berani menemui Kakek tanpa bukti kontrak asli yang kita pegang. Selama kontrak itu aman di dalam brankas kamarku, dia tidak bisa berbuat apa-apa selain meneror."
Pria itu menggenggam kedua tangan Naura yang masih terasa sedingin es. "Yang paling penting sekarang adalah keselamatanmu dan ibumu. Mulai hari ini, aku akan memperketat penjagaan di rumah sakit ini dengan pengawal pribadiku yang paling tepercaya. Gavin tidak akan pernah bisa mendekati ibumu lagi. Paham?"
Naura menatap tangan mereka yang saling bertautan. Kehangatan yang menjalar dari telapak tangan Adrian perlahan mengusir rasa dingin yang membekukan tubuhnya sejak tadi. Dia mengangguk pelan. "Paham, Tuan."
"Bagus," Adrian melepaskan genggamannya perlahan, lalu kembali memposisikan tubuhnya di depan setir. "Sekarang kita pulang ke mansion. Kau butuh istirahat."
Perjalanan pulang diisi dengan keheningan yang berbeda. Ada rasa saling percaya yang mulai tumbuh di antara mereka berdua setelah melewati badai pertama ini.
Setibanya di mansion, suasana terasa sangat hangat. Adrian mengantar Naura hingga ke depan pintu kamarnya di lantai dua. Sebelum Naura memutar knop pintu, Adrian menahan langkahnya sejenak.
"Naura," panggil Adrian.
Naura menoleh, menatap sang CEO. "Ya, Tuan?"
Adrian memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana bahan hitamnya, menatap Naura dengan pandangan mata yang intens namun lembut. "Mulai malam ini... jangan mengunci pintu penghubung di antara kamar kita lagi."
Jantung Naura berdegup kencang mendengar permintaan itu. Ingatannya langsung melayang pada kejadian beberapa malam lalu saat Adrian mabuk. "Tuan, bukankah Anda semalam yang mengizinkan saya untuk menguncinya?"
Adrian maju satu langkah, mengikis jarak di antara mereka hingga Naura bisa merasakan kembali embusan napas pria itu. "Itu sebelum aku tahu Gavin mulai bergerak mengincarmu. Aku ingin memastikan kau selalu berada dalam jangkauan pengawasanku. Jika terjadi sesuatu malam-malam, aku harus bisa masuk ke kamarmu tanpa hambatan. Ini demi keselamatanmu."
Adrian menjeda kalimatnya sejenak, wajahnya merunduk sedikit, menatap bibir ranum Naura yang malam ini tampak sedikit bergetar. "Atau... kau masih takut aku akan kehilangan kendali seperti malam itu, hm?" bisik Adrian dengan nada menggoda yang sangat tipis, membuat bulu kuduk Naura meremang halus.
Wajah Naura seketika merona merah karena malu. Dia buru-buru memutar knop pintu kamarnya dengan gugup. "B-baiklah, saya tidak akan menguncinya. Selamat malam, Tuan Adrian!" seru Naura cepat, lalu segera masuk ke dalam kamarnya dan menutup pintu kayu besar itu dengan terburu-buru.
Di luar kamar, Adrian menatap pintu yang tertutup itu dengan seulas senyuman yang menghiasi sudut bibirnya, sebuah senyuman tulus yang sudah bertahun-tahun tidak pernah muncul di wajah dingin sang CEO. Pria itu menyentuh dadanya sendiri yang berdegup sedikit lebih cepat. Logika bisnisnya kini telah sepenuhnya kalah oleh getaran aneh yang terus menuntutnya untuk melindungi dan memiliki Naura seutuhnya. Kontrak pernikahan mereka mungkin hanya berlaku satu tahun di atas kertas, namun di dalam hati Adrian, dia tahu bahwa dia tidak akan pernah membiarkan Naura pergi dari sisinya selamanya.
Sementara itu, di dalam kamar, Naura bersandar di balik pintu sambil memegangi dadanya yang bergemuruh hebat. Dinding pembatas yang dia bangun untuk tidak jatuh cinta pada Adrian Mahendra kini telah retak parah, menyisakan ketakutan baru di hatinya. ketakutan bahwa dia benar-benar akan kehilangan hatinya pada sang CEO sebelum kontrak satu tahun mereka berakhir.