Di dunia otomotif, uang bisa membeli mobil mewah, kekuasaan bisa membeli bengkel terbaik, dan nama besar bisa membuat seseorang dihormati. Namun, tidak semua orang memahami bahwa di balik setiap mesin hebat, ada seseorang yang benar-benar mengerti cara kerjanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rahmat Agung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23 — PETUGAS YANG MENGHILANGKAN JEJAK
Arga Pratama menatap nama yang tertera di layar ponselnya.
Bima Saputra.
Nama itu bukan nama asing baginya. Bima adalah teknisi sistem yang bekerja untuk panitia kompetisi otomotif nasional. Ia pula yang pernah membantu memeriksa anomali akses pada sistem kendaraan uji ketika notifikasi ARX Legacy Profile muncul.
Namun, Arga tidak pernah mengetahui bahwa Bima mungkin memiliki hubungan dengan fasilitas pemasok ARX-9 lima tahun lalu.
Arga membuka kembali foto buku tamu tersebut.
Ia memperbesar bagian sudut kanan atas, kemudian membandingkannya dengan dokumen inventaris kartu akses yang dikirimkan Nadia.
Nomor identitas petugas keamanan dalam kedua dokumen tampak cocok.
Tetapi ada satu persoalan.
Foto buku tamu itu belum terverifikasi sebagai dokumen asli.
Jika seseorang sengaja memanipulasi tanda tangan, mereka juga mungkin telah mengubah bagian lain dalam gambar tersebut.
Arga segera menghubungi Nadia.
“Nadia, aku menemukan nama Bima Saputra pada kode petugas keamanan dalam foto buku tamu.”
“Bima yang bekerja di kompetisi?”
“Ya.”
Nadia terdiam sejenak.
“Apakah kamu sudah menghubunginya?”
“Belum. Aku ingin memastikan dokumen ini lebih dahulu.”
“Bagus. Aku akan memeriksa daftar personel keamanan ARX-9 dan membandingkannya dengan catatan inventaris. Kita tidak boleh menganggap orang yang memiliki nama sama sebagai orang yang sama tanpa pemeriksaan.”
Arga menyetujui pendapat itu.
Setelah panggilan berakhir, ia memeriksa waktu.
Hari sudah malam. Arena kompetisi hampir kosong, tetapi beberapa teknisi masih bekerja di area pemeriksaan kendaraan.
Arga memutuskan untuk tidak mendatangi Bima secara mendadak.
Ia akan menunggu sampai memiliki informasi yang cukup untuk mengajukan pertanyaan secara jelas.
Namun, ketika ia hendak memasukkan ponsel ke saku, sebuah pesan masuk dari Bima sendiri.
Arga, aku mendengar kamu sedang mencari dokumen lama ARX-9. Besok pagi, datanglah ke ruang administrasi teknis. Ada sesuatu yang perlu kujelaskan kepadamu.
Arga membaca pesan itu dua kali.
Ia tidak segera membalas.
Sebaliknya, ia meneruskan pesan tersebut kepada Nadia dan Fajar, lalu mengirimkan balasan singkat.
Baik. Kita akan berbicara di ruang administrasi melalui prosedur resmi. Aku juga ingin mengetahui sumber informasi yang Bapak miliki.
Balasan Bima datang beberapa detik kemudian.
Setuju. Jangan membawa dokumen asli yang belum tercatat dalam inventaris resmi.
Arga mengerutkan kening.
Ia memang tidak berniat membawa dokumen asli.
Namun, kalimat itu menunjukkan bahwa Bima mengetahui Arga telah menemukan sesuatu.
Pertanyaannya, dari siapa?
Keesokan paginya, Arga tiba di ruang administrasi teknis bersama Nadia dan Fajar.
Bima sudah menunggu di dalam.
Di atas meja terdapat sebuah map berwarna abu-abu dan sebuah komputer yang menampilkan daftar arsip lama.
“Terima kasih sudah datang,” kata Bima.
Arga duduk di seberangnya.
“Kamu mengatakan ada sesuatu yang perlu dijelaskan.”
Bima mengangguk.
“Aku melihat foto buku tamu yang beredar di antara beberapa mantan personel proyek. Foto itu menunjukkan nama Raka Wibisono dan tanda tangan yang diklaim sebagai tanda tangan penerima kartu akses.”
“Apakah kamu pernah melihat buku aslinya?”
“Pernah, tetapi bukan dalam bentuk yang sama persis dengan foto itu.”
Nadia segera mengajukan pertanyaan.
“Apa perbedaannya?”
Bima membuka map abu-abu dan mengeluarkan salinan catatan inventaris.
“Dalam buku asli, penerbitan kartu akses dicatat pada kolom terpisah dari tanda tangan pengunjung. Ada pula nomor kartu dan nama petugas yang menyerahkannya. Foto yang beredar tidak memperlihatkan seluruh kolom tersebut.”
Arga memperhatikan salinan itu.
“Apakah kamu bisa memastikan tanda tangan pada foto bukan tanda tangan Pak Darto?”
Bima menggeleng.
“Aku tidak bisa memastikan hanya dari gambar itu. Tetapi aku bisa menjelaskan prosedur yang berlaku. Pak Darto tidak tercatat sebagai petugas penerbit kartu akses dalam daftar personel keamanan.”
“Jadi, jika tanda tangannya benar-benar ada di sana, itu tidak sesuai dengan prosedur?”
“Benar. Namun, kita masih harus melihat buku asli untuk mengetahui apakah tanda tangan tersebut memang tercatat atau hanya muncul pada salinan yang beredar.”
Fajar membuka catatannya.
“Apakah kamu bertugas di fasilitas pemasok pada malam pengujian ARX-9?”
Bima terdiam sejenak sebelum menjawab.
“Aku pernah bekerja sebagai petugas administrasi keamanan di fasilitas itu. Tetapi aku tidak bisa mengingat setiap jadwal yang kutangani lima tahun lalu tanpa memeriksa catatan.”
Arga menatapnya dengan serius.
“Apakah kamu mengenal Raka Wibisono?”
“Ya. Dia teknisi integrasi yang beberapa kali datang untuk memeriksa komponen dan sistem komunikasi.”
“Apakah kamu menyerahkan kartu hitam kepadanya pada pukul 21.50?”
Bima tidak langsung menjawab.
Ia membuka sebuah halaman pada komputer, lalu menunjuk nomor referensi yang tercantum di sana.
“Ada catatan penerbitan kartu sementara pada malam itu. Nomornya cocok dengan salah satu kartu hitam yang tercatat dalam inventaris. Tetapi kolom penerima dalam salinan ini tidak lengkap.”
“Siapa yang mengesahkan penerbitannya?”
Bima menunjuk bagian bawah halaman.
“Permintaan itu menggunakan kode EW-01.”
Arga merasakan ketegangan meningkat.
“Artinya, pemegang kewenangan eksternal memerintahkan penerbitan kartu?”
“Belum tentu. Kode tersebut menunjukkan jalur otorisasi yang digunakan, bukan identitas orang yang secara langsung meminta atau menyerahkan kartu. Kita perlu melihat log komunikasi dan dokumen autentikasinya.”
Nadia mengangguk.
“Kalau begitu, apa yang kamu ketahui tentang catatan pemeriksaan VIS-09?”
Bima menutup halaman sebelumnya dan membuka dokumen lain.
“Setelah proyek dihentikan, aku diminta membantu memeriksa inventaris keamanan. Kami menemukan perbedaan antara jumlah kartu yang seharusnya kembali dan jumlah kartu yang tercatat.”
“Berapa kartu yang tidak cocok?” tanya Arga.
“Satu kartu hitam.”
“Apakah kartu itu ditemukan kemudian?”
“Catatan yang kumiliki tidak menunjukkan bahwa kartu tersebut pernah dikembalikan secara resmi.”
Ruangan menjadi sunyi.
Arga teringat kalimat pada dokumen VIS-09.
Pemeriksaan lanjutan ditunda atas instruksi pemegang kewenangan eksternal.
“Siapa yang memerintahkan penundaan itu?” tanyanya.
Bima menghela napas.
“Itulah bagian yang tidak pernah bisa kupastikan. Aku menerima pemberitahuan melalui jalur administrasi, tetapi pesan yang tersimpan tidak menampilkan nama pengirim secara langsung. Hanya kode kewenangan.”
“Apakah kamu pernah mempertanyakan perintah itu?”
“Pernah. Aku menanyakan apakah pemeriksaan kartu harus tetap dilanjutkan. Jawaban yang kuterima menyatakan bahwa masalah tersebut akan ditangani oleh komite pengawasan.”
“Dan kamu berhenti memeriksanya?”
Bima menunduk.
“Ya.”
“Kenapa?”
“Karena aku masih pegawai junior. Aku mengira orang yang bertanggung jawab akan menyelesaikannya.”
Arga menatapnya beberapa saat.
Ia tidak langsung menyalahkan Bima. Namun, keputusan untuk berhenti memeriksa ketidaksesuaian kartu akses telah membuat salah satu petunjuk penting menghilang dari rangkaian pemeriksaan berikutnya.
“Apakah kamu memiliki salinan pesan tersebut?”
“Aku punya catatan bahwa pesan itu pernah diterima. Namun, salinan lengkapnya berada dalam arsip komunikasi yang aksesnya dibatasi.”
Nadia segera mencatat nomor referensinya.
“Kalau begitu, kita ajukan permintaan pemeriksaan resmi.”
Bima mengangguk.
“Aku akan membantu.”
Arga menatap map abu-abu di atas meja.
Ada sesuatu yang masih mengganjal.
“Bima, mengapa kamu baru menjelaskan semua ini sekarang?”
Bima memandangnya.
“Karena aku melihat namamu kembali muncul dalam kompetisi. Aku membaca berita tentang dugaan penyalahgunaan akses dan kemudian mengetahui bahwa penyelidikan ARX-9 kembali dibuka.”
“Apakah kamu tahu bahwa laporan final lima tahun lalu menyalahkanku?”
“Ya.”
“Apakah kamu pernah membaca laporan awal?”
Bima terdiam cukup lama.
“Aku pernah melihat bagian yang mencatat adanya ketidaksesuaian konfigurasi dan rekomendasi penundaan pengujian.”
Arga menegakkan tubuh.
“Apakah laporan itu mencantumkan namaku sebagai orang yang meminta penghentian?”
“Aku tidak bisa memastikan tanpa melihat dokumen aslinya. Tetapi aku ingat ada catatan tentang permintaan penghentian dari tim teknis.”
Arga mengangguk pelan.
Satu lagi orang mengingat adanya peringatan keselamatan.
Namun, belum ada yang dapat menjelaskan mengapa peringatan itu tidak muncul dalam laporan final.
Sebelum pertemuan berakhir, Bima menyerahkan salinan catatan inventaris kepada Nadia melalui prosedur dokumentasi.
Arga kemudian berdiri.
“Terima kasih sudah memberikan keterangan. Kami akan memeriksa semuanya sebelum mengambil kesimpulan.”
Bima mengangguk.
“Arga, ada satu hal yang ingin kukatakan.”
Arga menoleh.
“Lima tahun lalu, setelah pemeriksaan inventaris selesai, aku menerima sebuah pesan pribadi. Pengirimnya mengatakan bahwa kartu hitam yang hilang tidak boleh dibahas lagi karena masalahnya sudah diselesaikan oleh pengawasan.”
“Apakah kamu mengenali pengirimnya?”
“Tidak. Pesan itu dikirim melalui akun internal yang sekarang sudah tidak aktif.”
“Apakah kamu masih memiliki salinannya?”
Bima menggeleng.
“Aku tidak memiliki pesan aslinya. Tetapi aku masih mengingat satu kalimatnya.”
Arga menunggu.
Bima menatapnya dengan wajah serius.
“Jangan mencari orang yang membawa kartu itu. Cari orang yang memutuskan bahwa kartu tersebut tidak perlu ditemukan.”
Di luar ruang administrasi, Nadia segera menghubungi Kevin.
Mereka harus memeriksa apakah catatan penerbitan kartu sementara dapat dicocokkan dengan riwayat akses EW-01.
Sementara itu, Arga menerima telepon dari Pak Darto.
“Bagaimana pertemuanmu dengan Bima?” tanya Pak Darto.
“Dia mengakui pernah memeriksa inventaris keamanan setelah proyek dihentikan. Ada satu kartu hitam yang tidak tercatat kembali.”
Pak Darto terdiam.
“Apakah dia menyebut namaku?”
“Tidak. Dia justru mengatakan bahwa tanda tangan pada foto yang beredar belum bisa diverifikasi.”
“Bagus. Jangan biarkan seseorang menggunakan foto itu untuk membuatmu mengambil keputusan tergesa-gesa.”
Arga mengangguk.
“Pak, apakah Bapak ingat pernah bertemu Raka pada malam pengujian?”
“Aku ingat dia pernah datang ke fasilitas pemasok. Tetapi aku tidak bisa memastikan tanggal dan waktunya.”
“Kalau kami menemukan catatan asli, apakah Bapak bersedia memberikan keterangan resmi?”
“Tentu.”
Jawaban itu membuat Arga merasa sedikit lebih tenang.
Setidaknya, Pak Darto tidak berusaha menghalangi pemeriksaan.
Namun, misteri kartu hitam masih belum terpecahkan.
Arga menutup telepon dan kembali ke ruang kerjanya.
Di sana, Nadia telah menampilkan tiga dokumen pada layar komputer.
Dokumen pertama adalah daftar delegasi kewenangan EW-01.
Dokumen kedua adalah catatan penerbitan kartu sementara.
Dokumen ketiga adalah catatan pemeriksaan inventaris VIS-09.
Ketiganya memiliki referensi yang saling berkaitan.
Namun, setiap dokumen kehilangan bagian yang berbeda.
Pada dokumen delegasi, nama pemegang kewenangan tidak terlihat.
Pada catatan penerbitan kartu, identitas penerima tidak lengkap.
Pada catatan inventaris, tanda tangan penerimaan tidak dapat diverifikasi.
“Ini bukan berarti seseorang sengaja menghilangkan semua bagian itu,” kata Nadia. “Sebagian bisa saja hilang karena pemindahan arsip atau kualitas salinan yang buruk.”
“Benar,” jawab Arga. “Kita harus menemukan sumber aslinya sebelum menyatakan ada penghilangan yang disengaja.”
Fajar masuk membawa secangkir kopi.
“Aku baru mendapat kabar dari Ratih. Dia menemukan referensi lain dalam catatan serah terima. Ada satu dokumen yang belum pernah kita lihat.”
Nadia menoleh.
“Dokumen apa?”
“Daftar pemeriksaan keamanan setelah pengujian. Kodenya SEC-22.”
Arga berdiri.
“Apakah dokumen itu masih tersedia?”
“Ratih belum bisa memastikan. Tetapi menurut catatannya, dokumen SEC-22 dibuat untuk menjelaskan mengapa satu kartu hitam belum tercatat kembali.”
Nadia segera mencari kode tersebut dalam indeks arsip.
Beberapa detik kemudian, sebuah hasil pencarian muncul.
SEC-22 — PEMERIKSAAN KARTU AKSES DAN PENUTUPAN TEMUAN.
Status dokumen: terbatas.
Tanggal pembuatan: dua hari setelah pengujian ARX-9.
Kolom penanggung jawab: tidak ditampilkan dalam indeks publik.
Namun, pada bagian keterangan terdapat satu kalimat:
Temuan dinyatakan selesai berdasarkan konfirmasi pengawasan eksternal.
Arga menatap layar.
“Siapa yang menyatakan temuan itu selesai?”
Nadia membuka rincian dokumen.
Sistem meminta otorisasi tambahan.
“Aku harus mengajukan permintaan akses resmi.”
“Lakukan sekarang.”
Nadia mengirimkan permintaan tersebut dengan menyertakan alasan bahwa dokumen itu relevan dengan audit keselamatan dan pemeriksaan inventaris.
Mereka menunggu.
Lima menit kemudian, sistem memberikan pemberitahuan bahwa permintaan telah diterima.
Namun, belum ada keputusan akses.
Arga memandang kalimat pada layar sekali lagi.
Temuan dinyatakan selesai.
Satu kartu hitam belum ditemukan, tetapi pemeriksaan dihentikan.
Siapa yang memiliki kewenangan untuk membuat keputusan itu?
Dan mengapa keputusan tersebut tidak disertai bukti bahwa kartu telah dikembalikan?
Pertanyaan-pertanyaan itu terus berputar di kepalanya ketika ponselnya bergetar.
Pesan baru dari nomor yang tidak dikenal.
Kamu sudah berbicara dengan Bima. Sekarang kamu tahu bahwa kartu itu tidak pernah tercatat kembali.
Arga tidak membalas.
Pesan kedua masuk.
Tetapi kamu belum tahu bahwa kartu itu digunakan sekali lagi setelah laporan final ditandatangani.
Arga merasakan dadanya menegang.
Ia segera menunjukkan pesan itu kepada Nadia.
“Jika benar ada penggunaan setelah laporan final, kita harus mencari log autentikasi yang mendukungnya,” kata Nadia. “Pesan anonim ini bukan bukti.”
“Aku tahu.”
Arga kembali melihat layar.
Pesan ketiga muncul.
Kali ini, pengirimnya melampirkan sebuah gambar.
Gambar itu memperlihatkan catatan akses dari sistem lama.
Pada baris pertama, kartu hitam tercatat digunakan pada pukul 21.50 malam pengujian.
Pada baris kedua, kartu yang sama tercatat digunakan dua hari setelah laporan final ditandatangani.
Waktu penggunaan kedua tercatat pukul 02.17.
Lokasi akses: ARSIP PENGAWASAN — RUANG BAWAH TANAH.
Pada kolom pengguna, tidak terdapat nama.
Hanya sebuah kode.
EW-01.
Arga menatap gambar tersebut dengan serius.
Jika catatan itu asli, kartu hitam yang tidak pernah tercatat kembali masih digunakan setelah proyek resmi dihentikan.
Artinya, seseorang mungkin tetap memiliki akses ke sistem pengawasan.
Atau catatan tersebut sengaja dibuat untuk menyesatkan mereka.
Arga menyimpan gambar itu dan segera mengirimkannya kepada Nadia untuk diperiksa.
Kemudian ia mengirim pesan kepada pengelola arsip, meminta verifikasi apakah lokasi bernama Ruang Bawah Tanah benar-benar tercatat dalam denah fasilitas lama.
Balasan datang beberapa menit kemudian.
Lokasi tersebut memang pernah ada. Namun, ruang itu ditutup setelah pemindahan arsip lima tahun lalu.
Arga membaca jawaban itu dua kali.
Ruang arsip bawah tanah.
Kartu hitam.
Akses pada pukul 02.17, dua hari setelah laporan final ditandatangani.
Ia memandang Nadia.
“Kita harus mengetahui apa yang disimpan di ruang itu sebelum ditutup.”
Nadia mengangguk.
“Aku akan meminta denah lama dan daftar inventaris pemindahan. Jika ada catatan yang menunjukkan dokumen apa saja yang dipindahkan, kita bisa mengetahui apakah ruang itu berkaitan dengan VIS-09 atau AUTH-03.”
Arga menatap layar ponselnya sekali lagi.
Ia tidak tahu siapa pengirim pesan anonim tersebut.
Ia juga tidak tahu apakah catatan akses yang diterimanya asli.
Namun, satu hal sudah jelas.
Penyelidikan mereka kini tidak hanya berpusat pada malam pengujian ARX-9.
Ada aktivitas lain setelah laporan final ditandatangani.
Seseorang mungkin kembali ke ruang pengawasan untuk mengambil atau memeriksa sesuatu.
Dan jika catatan itu benar, orang tersebut menggunakan jalur kewenangan yang sama.
EW-01.
Arga menutup laptopnya.
Lima tahun lalu, sebuah kartu hilang tanpa penjelasan.
Dua hari setelah laporan final ditandatangani, kartu itu diduga digunakan kembali.
Dan kini, seseorang mengirimkan bukti yang mungkin mengungkap tujuan penggunaan kedua tersebut.
Tetapi sebelum Arga sempat memikirkan langkah berikutnya, Nadia menerima pemberitahuan baru dari sistem arsip.
Permintaan akses mereka terhadap dokumen SEC-22 telah diputuskan.
AKSES DITOLAK.
Alasannya hanya satu kalimat:
Dokumen terkait sedang berada dalam pemeriksaan khusus dan tidak dapat diakses oleh pihak pemohon.
Di bawah keterangan tersebut terdapat nama pejabat yang mengeluarkan keputusan.
Arga membaca nama itu.
Kemudian ia menoleh kepada Nadia.
Karena orang yang menolak akses mereka bukan Adrian Voss.
Bukan Marcus Hale.
Bukan pula Gunawan Wiratama.
Nama yang tercantum adalah nama seseorang yang hingga hari itu belum pernah mereka hubungkan dengan penutupan kasus ARX-9.
Bersambung.