Dilara di cerai oleh Kevin karena wanita yang di cintai Kevin kembali.
Setelahnya Dilara melamar menjadi seorang baby sitter, dan di terima pada salah satu keluarga kaya. Dilara memang seorang sarjana, namun dia butuh pergi cepat dari rumah Kevin dan juga butuh tempat tinggal baru. intinya dia ingin lepas dari Kevin dan memulai hidup barunya.
namun, ternyata di rumah itu ada seorang tuan muda bernama Elian yang selalu membuat Dilara kesal dengan sikap dinginnya. lalu apakah pada akhirnya mereka akan saling suka? apa keluarganya akan setuju dengan hubungan mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dilara 33
Di koridor Pengadilan Agama yang dingin dan beraroma kertas arsip tua, derak langkah kaki terdengar bergema. Kevin melangkah keluar dari pintu ruang sidang dengan wajah pucat pasi. Langkahnya gontai, seolah seluruh tenaga dan jiwanya baru saja disedot habis. Di tangannya, selembar kertas putusan sidang verstek terkulai lemas.
Suara ketukan palu hakim tiga kali beberapa menit lalu masih mengiang menyiksa di dalam kepalanya: Resmi bercerai.
Namun, berbanding terbalik dengan Kevin yang bagai mayat hidup, Asha yang berjalan anggun di sampingnya justru memancarkan binar kemenangan yang tak tertutupi. Kacamata hitam bermerek melingkar di wajahnya yang dipoles riasan tebal. Bibir berpoles gincu merah menyala itu mengembang membentuk senyuman lebar.
"Akhirnya, Kev! Akhirnya!" jerit Asha kegirangan, merangkul lengan kiri Kevin dengan sangat erat tanpa peduli beberapa orang di koridor menatap mereka heran.
"Ketukan palu tadi itu suara paling indah yang pernah aku dengar! Kamu resmi jadi duda! Kamu resmi lepas dari wanita kampung itu! Rasanya aku sudah tidak sabar untuk menikah dengan kamu... Impian kita dulu akhirnya bisa terwujud..."
Kevin tidak merespons. Matanya menatap kosong ke arah lantai pualam. Dadanya terasa begitu sesak, seolah ada batu berbobot ratusan ton yang menindih jantungnya. Apalagi kala mengingat semua kenangannya bersama dengan Dilara, kenangan yang tidak banyak namun sangat menyesakkan. Di tambah lagi dengan kenyataan kalau dekarang Dilara sudah di lindungi oleh Kevin. Rasanya sangat sulit untuk dia bisa kembali sekedar bertemu dengan Dilara.
"Kenapa diam saja, sih?" tegur Asha, mencubit pelan lengan kemeja Kevin.
"Harusnya kamu senang, dong! Rintangan terbesar kita sudah bersih! Sekarang kita bisa fokus seratus persen ke acara pernikahan mewah kita sebentar lagi,"
"Senang kamu bilang, Sha?" panggil Kevin dengan suara yang amat serak dan pelan.
"Ya iya lah! Kamu pikir aku tidak senang melihat kamu akhirnya lepas dari beban masa lalumu?" Asha memutar bola matanya malas saat mereka tiba di area parkir luar gedung pengadilan. Angin siang yang terik langsung menyengat kulit.
"Aku baru saja menghancurkan hidup seorang wanita yang tidak punya salah apa-apa padaku, Asha..." desis Kevin, menghentikan langkahnya tepat di samping mobil Sedan hitam miliknya. Ia menatap Asha dengan mata memerah dan penuh kilatan frustrasi.
"Dan kamu minta aku untuk gembira?!"
"Lho, kok kamu malah membela dia lagi?!" suara Asha langsung meninggi, senyum nyaris sempurnanya hilang seketika, berganti raut wajah kejam.
"Kamu lupa siapa yang selama ini ada buat kamu?! Kamu yang talak dia, Kevin! Kamu yang mau ceraikan dia! Kenapa sekarang lagakmu seperti pria yang dipaksa?!"
"Karena aku memang linglung!" teriak Kevin emosional, meluapkan seluruh gumpalan mual dan frustrasi yang terpendam sejak kemarin.
"Aku buta karena omongan manis kamu dan Mamamu! Sampai-sampai aku tega melakukan hal sejahat iu kepada Dilara, juga tanpa bawa sepeser pun harta! Dan hari ini... pengadilan resmi memutuskan perceraian kami tanpa dia hadir membela diri sekali pun!"
"Bagus dong kalau dia tidak hadir! Berarti dia sadar diri kalau dia memang tidak selevel sama kamu!" tembak Asha tanpa beban, bersedekap dada dengan angkuh.
"Lagipula buat apa sih kamu mikirin wanita miskin itu? Yang penting sekarang statusmu sudah bersih. Mana bukti pembelian logam mulia dan sertifikat booking apartemen yang Mama minta kemarin?"
Kevin terkekeh sumbang, sebuah kekehan pahit yang membuat Asha berkerut jijik.
"Uang? Mahar? Apartemen?" Kevin menunjuk dirinya sendiri dengan jari gemetar.
"Kamu tahu apa yang terjadi semalam setelah kita dari resto?! Aku datang berlutut ke rumah orang tuaku, Asha! Aku minta bantuan Papa!"
Asha membelalakkan matanya antusias. "Lalu? Papamu kasih, kan? Keluarga kamu kan kaya raya!"
"Papa mengusirku!" bentak Kevin tepat di depan wajah Asha.
"Papa menolak mengeluarkan sepeser pun uang keluarga untuk menuruti pemerasan mahar dari kamu dan Mamamu! Bahkan Papa dan Mama mengancam tidak akan sudi hadir di pernikahan kita kalau aku memaksakan mahar gila itu!"
Wajah Asha seketika pucat, namun dalam sekejap matanya berkilat murka.
"Apa?! Papamu bilang apa?! Pemerasan?! Kurang ajar sekali orang tuamu menyebut harga diriku sebagai pemerasan!"
"Karena itu memang pemerasan, Asha!" potong Kevin tak kalah tajam.
"Kamu tahu bedanya kamu sama Dilara?! Saat aku nikahin Dilara, dia cuma minta mahar seperangkat alat shalat dan cincin emas lima gram! Dia tidak pernah memeras hartaku! Tapi kamu? Belum sah jadi istriku saja kamu sudah memeras bisnisku sampai mau hancur!"
PLAAK!
Sebuah tamparan keras mendarat mulus di pipi kanan Kevin. Suara tamparan itu bergema di area parkiran yang agak lengang. Kevin tersengal, menahan perih di pipinya sambil menatap Asha yang kini gemetar oleh amarah yang meledak.
"Jaga mulutmu, Kevin Pratama!" jerit Asha dengan napas berburu, jarinya menunjuk-nunjuk wajah Kevin.
"Jangan berani-berani kamu bandingkan aku sama wanita murahan itu! Aku ini Asha! Anak orang terpandang! Kalau bukan karena aku kasihan melihatmu, aku tidak bakal sudi nikah sama duda pecundang seperti kamu!"
"Kalau begitu batalkan!" bentak Kevin tanpa ragu. Kalimat itu meluncur begitu saja dari mulutnya, dipicu oleh kelelahan jiwa yang amat sangat.
"Batalkan pernikahan ini kalau kamu merasa rugi menikah denganku!"
Asha tertegun seketika. Sorot matanya menunjukkan keterkejutan luar biasa. Ia tidak menyangka Kevin yang biasanya penurut dan mudah dimanipulasi kini berani menantangnya secara terbuka.
"Kamu... kamu berani ngomong begitu ke aku...?" bisik Asha, air mata buayanya mulai menggenang kilat di pelupuk mata.
"Kamu tega, Kev... Kamu tega ngancam aku setelah aku mengorbankan segalanya buat kamu... Hiks..."
Namun kali ini, tangisan yang biasanya menjadi senjata pamungkas Asha tidak lagi mempan. Kevin menatap air mata itu dengan dingin dan tatapan hampa.
"Tangisanmu tidak akan membuat logam mulia setengah kilo atau apartemen itu tiba-tiba muncul di tanganku, Asha," ucap Kevin datar, membuka pintu mobilnya.
"Aku mau pulang. Kepala aku mau pecah."
"Kevin! Jangan berani-berani kamu jalan!" jerit Asha histeris sambil menggedor kaca mobil Kevin saat pria itu melompat masuk dan mengunci pintu dari dalam.
"Kevin! Selesaikan ini sekarang! Mama dan Papaku sedang menunggu bukti mahar itu malam ini! KEVIN!"
Tanpa mengindahkan teriakan dan gedoran histeris Asha di luar, Kevin menginjak pedal gas dalam-dalam. Mobil Sedan hitam itu melaju kencang meninggalkan area parkir Pengadilan Agama, menyisakan Asha yang menghentakkan kakinya ke aspal dengan kemarahan dan rasa malu yang meluap-luap.
Di dalam mobil yang melaju membelah kemacetan Jakarta, Kevin meremas kemudi erat-erat. Air matanya akhirnya menetes deras tanpa sanggup ia tahan lagi.
Di hari yang sama ketika ia memenangkan haknya menjadi seorang duda dan berhasil menyadarkan dirinya dari manipulasi Asha, Kevin menyadari kenyataan paling pahit dalam hidupnya. Ia telah membuang permata paling murni yang pernah dimilikinya demi mengejar racun berbalut emas yang kini siap menghancurkan seluruh sisa hidupnya.
sabar y Rendy 🤭
mandi kembang Rendy ....biar ngga kena sembur lagi 😂😂😂😂😂