Rebecca membesarkan si kembar seorang diri sejak kakaknya tiada—dengan satu janji yang ia ucapkan di ranjang kematian sang kakak: jangan pernah mencari ayah mereka.
Selama bertahun-tahun ia menepatinya. Sampai seorang penguntit muncul dari kegelapan, mengirim bunga yang berubah jadi ancaman, lalu foto anak-anaknya di depan gerbang sekolah. Polisi angkat tangan. Waktu Rebecca habis.
Kini hanya ada satu nama yang mungkin sanggup melindungi mereka—nama yang telah ia sumpahi untuk tak pernah diucapkan. Dante. Pengusaha berpengaruh, dingin, tak tersentuh… dan bos sebuah kerajaan mafia yang bahkan tak tahu bahwa ia punya anak.
Untuk menyelamatkan kedua bocah yang ia cintai melebihi nyawanya sendiri, Rebecca harus melanggar janji terpenting dalam hidupnya dan melangkah masuk ke dunia paling berbahaya yang pernah ada—dunia milik pria yang seharusnya tak pernah ia temui.
Tapi Dante bukan sekadar bahaya. Ia posesif. Ia sabar. Dan begitu ia memutuskan sesuatu—atau seseorang—adalah miliknya, ia tak akan pernah melepaskannya.
Di antara ancaman yang mengintai, rahasia masa lalu, dan gairah yang mustahil ditolak, satu janji yang teringkari bisa jadi awal dari segalanya… atau akhir dari semuanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon marilu@123, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Interogasi
Sudut Pandang Rebecca
Aku naik ke kamar sambil tersenyum. Sendirian. Tapi rasanya tidak begitu.
Karena dia masih ada di sana. Di kepalaku. Di tubuhku. Di cara jantungku masih berdebar berbeda.
Kuhempaskan diri ke ranjang, memeluk bantal.
"Ini ide yang buruk sekali…" gumamku.
Tapi senyum di wajahku berkata sebaliknya.
Kupejamkan mata. Dan bayangannya datang dengan mudah. Dante. Serius. Intens. Tapi… senyum-senyum kecil itu. Nyaris tak kelihatan. Yang hanya muncul saat ia lupa menjadi dirinya yang biasa.
Dan bersamaku… ia lupa. Setidaknya selama beberapa detik.
Kuembuskan napas pelan. Dan akhirnya tertidur begitu saja. Memikirkan dia.
Waktu aku terbangun… hal pertama yang muncul di benakku: bagaimana aku menghadapinya sekarang?
Dan lebih parah lagi. Keluarga itu.
Karena jauh di dalam… aku tahu. Ada yang membantu. Clarice. Pasti.
"Ya Tuhan…" gumamku, menyembunyikan wajah di bantal.
Terlambat. Pintu terbuka. Tanpa ketukan. Tentu saja.
"Tante?"
Heitor. Masih berpiyama. Rambut berantakan. Seolah menyerbu kamarku pagi-pagi adalah hal paling wajar di dunia.
"Gimana tadi?" tanyanya. Langsung.
Aku duduk di ranjang, berusaha terlihat biasa saja. "Seru," jawabku. Singkat. Salah. Salah besar.
Pintu terbuka lagi.
"Seru?!" Henrique masuk. Tak terima. "Cuma gitu doang?!"
Kutatap dia. "Selamat pagi juga buat kamu."
Ia tak mengindahkan. "Kami butuh lebih banyak detail."
Kulipat tangan. "Nggak butuh."
Heitor memiringkan kepala. "Kalian ciuman nggak?"
Hening. Wajahku langsung memanas.
"Aku nggak akan jawab itu," kataku. Cepat. Berusaha menjaga harga diri.
Henrique melepas tawa. "Ah, sudahlah. Kami tahu gimana ini biasanya jalan." Ia melipat tangan. "Kencan, plus suasana, plus kalian berdua…" ia mengangkat bahu, "kalau nggak ada ciuman, artinya semuanya sia-sia."
"HENRIQUE!"
Ia mengangkat kedua tangan. "Aku bohong?"
Kutatap keduanya. Lalu ke lantai. Lalu ke dinding. Dan kemudian—
"Iya," gumamku. Pelan.
Hening. Sedetik. Dan kemudian—
"SUDAH KUDUGA!" Henrique nyaris bersorak.
Heitor tersenyum. Tenang. Tapi jelas-jelas puas. "Enak?" tanyanya. Sederhana. Langsung.
"AKU NGGAK AKAN JAWAB ITU!" kataku. Sudah merah total.
Heitor menatapku. Lalu melontar, "Mukamu sama persis kayak Henrique waktu pertama kali dia ciuman."
Aku langsung berpaling. "MAKSUDNYA APA?!" Kutatap Henrique. Tak terima. "Kamu nggak pernah cerita itu ke aku!"
Henrique memutar bola mata. "Aku bukan anak kecil lagi. Dan itu bukan urusanmu."
"OH, SEKARANG BUKAN URUSANKU?!" Kutatap keduanya. "Sejak kapan kalian jadi tukang gosip begini?!"
"Itu bawaan keluarga."
Suara itu datang dari pintu. Clarice. Tersenyum. Seolah sedang menonton pertunjukan. "Dan Adam itu tukang gosip terbesar yang pernah ada."
"Aku dengar itu."
Adam muncul di pintu. Tentu saja. "Dan aku bukan tukang gosip." Ia masuk ke kamar. "Aku cuma suka… menyampaikan kabar terkini."
Aku memandanginya. Terperangah. "Kalian menyerbu kamarku. Pagi-pagi. Rombongan."
Adam mengangkat bahu. "Urusan penting." Ia menatapku. Dengan senyum jahil. "Jadi… Om Dante ciumannya enak nggak?"
Otakku macet. "ADAM!"
Tapi sudah terlambat. Langkah kaki di lorong.
"Kami juga mau tahu." Ryan masuk. Dylan tepat di belakangnya. Oliver juga.
"Soalnya dari dia sama sekali nggak bisa dikorek," ujar Ryan sambil melipat tangan. "Mustahil dimanipulasi."
"Beda sama kamu," Dylan menimpali. Datar.
"Hei!" balasku. "Aku nggak gampang dimanipulasi!"
Semuanya menatapku. Menunggu. Dalam diam. Wajahku terbakar.
"Aku nggak akan bicara," kataku. Menegaskan.
Mereka melangkah maju.
"Iya, pasti bicara," kata Adam.
"Nggak akan."
"Bakal."
"Nggak akan!"
"Bakal."
"NGGAK AKAN!"
"Bakal."
Pintu terbuka lagi.
"Ribut-ribut apa ini?"
Victor masuk. Bersama Matheus. Dan di belakang— Romulo. Sempurna. Cuma itu yang kurang.
Romulo memandangi pemandangan itu. Semua orang di kamarku. Lalu tersenyum. "Sekumpulan tukang gosip," katanya, melirik anak-anaknya. "Salah didik."
Tapi kemudian… ia menatapku. Dan memiringkan kepala sedikit. "Tapi sekarang aku jadi penasaran juga."
Hening.
"Aku perlu tahu bagaimana penampilan adikku."
Mataku membelalak. "JANGAN—"
"Ayo, bilang saja," kata Adam. "Bebaskan kami dari rasa penasaran ini."
Kupejamkan mata. Kutarik napas dalam-dalam. Dan aku sadar. Mereka takkan pergi dari situ. Tidak akan pernah.
"Baik," gumamku, membuka mata. "Iya. Dia ciumannya enak."
Hening. Sedetik. Dan kemudian—
"HOREEEE!"
Teriakan. Sorak-sorai. Seolah ini final kejuaraan.
Kutarik selimut. Dan kusembunyikan diri. "AKU BENCI KALIAN!"
Tawa. Keras. Kacau.
Dan kemudian—
"Ada apa ini?"
Suara itu. Berat. Tegas. Dante.
Kamar langsung senyap. Seketika.
Kuangkat mata saja. Masih bersembunyi di balik selimut.
Ia berdiri di pintu. Mengamati. Semua orang. Lalu… menatapku. Dan langsung paham. Seketika.
Adam yang pertama buka mulut. "Jadi— terkonfirmasi—"
Dante mengangkat tangan. "Keluar."
Hening.
"Sekarang."
Suaranya keluar pelan. Tapi tak seorang pun berani membantah.
"Ish…" Adam mulai beranjak keluar. "Si mafioso ngambek."
Ryan tertawa. Dylan melewatinya dalam diam. Victor menarik Matheus. Romulo keluar paling akhir. Masih tersenyum.
"Semoga beruntung," gumamnya.
Pintu tertutup. Hening. Berat.
Aku masih bersembunyi. Di balik selimut.
"Kau mau membunuhku?" suaranya datang. Lebih dekat. Pelan.
Kusibak selimut perlahan. "Ini bukan salahku," gumamku.
Ia menaikkan sebelah alis. "Bukan?"
Aku menggeleng. "Keluargamu gila."
Ia mengembuskan napas pelan. Nyaris seperti tawa. Dan kemudian… ia mendekat. Lebih dekat. Jantungku berpacu. Lagi.
"Dan kau bercerita?" tanyanya, menatap lurus ke arahku.
Aku menelan ludah. "Cuma seperlunya."
Ia memiringkan kepala sedikit. "Dan itu termasuk bilang kalau aku ciumannya enak?"
Wajahku terbakar. "Termasuk."
Hening. Sedetik. Dan kemudian— ia tersenyum. Miring. Senyum itu. Kecil. Berbahaya.
"Bagus kalau begitu."
Jantungku salah berdetak. Dan kali ini… aku sudah tak tahu lagi apakah aku ingin bersembunyi… atau mengulang semuanya dari awal.