Cerita terinspirasi kisah nyata!
Karena tak tahan dengan kerasnya didikan sang ayah, Galih nekat pergi dari rumah. Dia meninggalkan kampung halamannya hanya dengan selembar uang seratus ribu.
Galih memilih pergi ke ibukota. Di sanalah dia menemukan tempat tinggal baru yaitu sebuah kost campuran. Di sana Galih bertemu wanita cantik yang ternyata istri orang, lalu gadis pendiam misterius, serta lelaki mencurigakan yang terus menatapnya. Saat satu per satu misteri terkuak, Galih sadar, tempat yang ditinggalinya punya sisi gelap tak terduga.
Di antara sisi gelap itu, Galih berusaha keras mengejar mimpi dan memperbaiki kehidupannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 7 - Mencari Kerja
Usai menghabiskan suapan terakhir mie goreng bercampur udang balado pemberian Fika, Galih bergegas mencuci mangkuk dan panci di tempat cuci piring. Udara malam di area dapur terasa kian dingin. Setelah membilas seluruh peralatan masak sampai bersih, ia melangkah kembali menuju kamarnya di ujung lorong.
Sesampainya di kamar, Galih mengunci pintu papan itu rapat-rapat. Rasa lelah yang luar biasa mendadak menyerang seluruh persendiannya. Ia merebahkan tubuhnya di atas kasur lantai yang keras, memandangi langit-langit kamar yang kusam sejenak, hingga akhirnya matanya terpejam lelap tanpa gangguan lagi malam itu.
Keesokan harinya, tatkala fajar baru saja menyingsing dan menyinarkan cahaya remang di sela-sela jendela kayu, Galih sudah terbangun. Ia membasuh mukanya di kamar mandi luar yang masih sepi, lalu segera berkemas.
Saat membuka tas ransel yang disiapkan ibunya sebelum ia melarikan diri, mata Galih berbinar terharu. Di selipan paling bawah baju-bajunya, terbungkus plastik rapi, terdapat lembaran map berisi ijazah SMA miliknya beserta beberapa dokumen penting lain. Sang ibu ternyata sudah memikirkan segalanya demi masa depan anak sulungnya itu. Uang di sakunya kini tersisa tiga puluh enam ribu rupiah dari kembalian membeli mie kemarin. Tanpa membuang waktu, Galih merapikan pakaian, mengenakan kemeja polos yang paling rapi, dan memeluk map ijazahnya dengan erat.
Galih melangkah keluar dari kosan dengan semangat membara. Hari ini adalah hari pertamanya menantang kerasnya kehidupan kota. Ia berjalan kaki menelusuri jalanan kota yang mulai ramai oleh lalu lalang kendaraan. Prinsipnya satu, ia bersedia menerima pekerjaan apa saja, tak peduli seberapa berat atau kasarnya, yang penting halal dan bisa menghasilkan uang untuk menyambung hidup serta melunasi utangnya pada Aldi.
Jauh di dalam lubuk hatinya, Galih sebenarnya menyimpan sebuah cita-cita yang tak pernah berani ia ucapkan keras-keras di depan ayahnya. Sejak kecil, Galih sangat suka memasak. Setiap kali berada di dapur membantu ibunya mengulek bumbu atau meracik masakan, ia merasa amat bahagia. Ia bermimpi suatu hari nanti bisa menjadi seorang chef atau juru masak profesional. Namun, impian itu terpaksa ia kubur dalam-dalam. Bagi Hilman, ayahnya yang berdisiplin militer keras, dapur adalah tempat perempuan. Seorang laki-laki yang bergelut dengan wajan dan pisau dapur dianggap lemah dan tidak berwibawa.
"Ah, cita-cita itu nanti saja. Yang penting sekarang dapat kerjaan dulu," gumam Galih menyemangati dirinya sendiri di tengah kebisingan kota.
Sayangnya, kenyataan di lapangan tidak semudah membayangkannya. Berjam-jam Galih berjalan kaki menembus terik matahari siang, mengetuk pintu toko kelontong, bengkel, Minimarket, hingga tempat cuci mobil. Jawaban yang ia terima hampir selalu sama, penolakan. Ada yang menolak secara halus karena tidak ada lowongan, ada pula yang memandangnya sebelah mata begitu melihat luka lebam di wajahnya yang belum sepenuhnya pulih.
Hingga menjelang sore hari, kaki Galih terasa amat pegal dan tenggorokannya kering. Kemejanya basah oleh keringat. Saat melangkah di sepanjang trotoar sebuah jalan sekunder yang agak lengang, matanya tertuju pada sebuah warung makan sederhana beratap seng dengan papan nama kusam bertuliskan "Warung Makan Bu Asih".
Warung itu tampak sepi pengunjung. Di bagian depan pintu masuk yang terbuat dari papan kayu, tertempel selembar kertas HVS yang ditulis tangan menggunakan spidol hitam: "DIBUTUHKAN PELAYAN / PEMBANTU WARUNG. JUJUR DAN MAU KERJA KERAS."
Seketika harapan Galih membumbung tinggi. Ia membetulkan posisi kemejanya, menyapu keringat di dahi, lalu melangkah masuk ke dalam warung tersebut.
Di balik meja kasir dan etalase kaca yang menampung beberapa wadah lauk, duduk seorang pria tua berusia sekitar enam puluhan tahun. Pria itu mengenakan kaos oblong putih dan celana kain kusam. Wajahnya tampak cemberut, dahi berkerut tebal, dan matanya menatap tajam ke arah pintu saat mendengarkan langkah kaki Galih.
"Permisi, Pak... Selamat sore," sapa Galih dengan sangat sopan sambil membungkukkan badan.
Pria tua itu mengamati Galih dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan tatapan dingin dan menakutkan. Matanya berhenti sejenak di lebam pipi Galih. "Mau makan? Lauknya tinggal sedikit," jawabnya dengan suara serak dan bernada ketus.
"Bukan, Pak... Saya lihat tulisan pengumuman di depan. Apakah lowongan untuk pembantu warung di sini masih ada, Pak? Saya mau melamar kerja," tutur Galih mantap seraya menyodorkan map ijazahnya.
Pria tua yang tak lain adalah Pak Susilo, pemilik warung makan tersebut bersama istrinya, sama sekali tidak menyentuh map yang disodorkan Galih. Ia hanya mendengus kasar, memandangi Galih dengan raut wajah galak yang membuat siapa saja akan merasa gentar.
"Kamu niat kerja atau cuma main-main? Mukamu lebam begitu habis berkelahi, ya?" tembak Pak Susilo curiga.
"Nggak, Pak! Saya niat kerja sungguh-sungguh. Saya butuh pekerjaan ini dan saya janji bakal kerja keras apa saja yang Bapa suruh," sahut Galih tegas tanpa ragu.
Pak Susilo menatap mata Galih dalam-dalam selama beberapa detik, seolah mencari kebohongan di sana. Namun yang ditemukannya hanyalah sorot mata pemuda yang kelaparan dan haus akan kesempatan hidup.
Tanpa diduga, Pak Susilo malah mendengus lagi lalu mengibaskan tangannya. "Yaudah! Nggak usah banyak bicara. Taruh tasmu di belakang! Mulai kerja sekarang juga! Nanti malam langsung ikut beres-beres dan cuci piring!"
Galih terperanjat. Ia tidak menyangka prosesnya akan secepat ini tanpa perlu wawancara berbelit-belit atau pemeriksaan berkas yang rumit. "B-berarti saya diterima, Pak?"
"Kamu dengar saya ngomong apa tidak?! Mau kerja tidak?!" bentak Pak Susilo dengan suara meninggi.
"Mau, Pak! Mau banget! Terima kasih banyak, Pak!" jawab Galih cepat seraya membungkuk berulang kali.
"Nasi dan lauk di meja belakang boleh kamu makan nanti kalau tugasmu beres. Sana ke belakang! Ketemu sama Koni!" seru Pak Susilo galak sebelum kembali memalingkan wajahnya ke arah jalanan.
Galih berjalan menuju bagian belakang warung dengan senyum yang tak bisa disembunyikan dari bibirnya. Di area dapur belakang yang agak pengap oleh uap masakan, seorang pria berusia sekitar dua puluh lima tahunan sedang sibuk mengelap tumpukan piring bersih. Pria itu bertubuh agak kurus dengan rambut sedikit gondrong yang diikat ke belakang.
Melihat kehadiran Galih, pria itu menghentikan aktivitasnya. "Eh? Siapa kamu?"
"Halo, Mas... Saya Galih. Tadi disuruh Pak Susilo mulai kerja di sini hari ini," ujar Galih memperkenalkan diri.
Pria itu tersenyum ramah, sangat bertolak belakang dengan sikap Pak Susilo di depan tadi. Ia mengulurkan tangannya yang agak basah. "Oh, pembantu baru ya? Kenalin, namaku Koni. Aku udah setahun lebih kerja di sini."
Galih menjabat tangan Koni dengan hangat. "Mohon bimbingannya ya, Mas Koni."
Koni terkekeh pelan seraya menepuk bahu Galih. "Santai aja, Lih. Pak Susilo memang kelihatannya galak dan omongannya tajam kayak silet, tapi aslinya orangnya baik kok. Beliau cuma tegas aja. Nah, karena kamu baru datang, tugas awalmu simpel aja dulu."
Koni lalu menunjukkan beberapa sudut dapur warung. "Tugas kita sehari-hari itu ngelap meja makan, mengantar pesanan ke pembeli, terus kalau warung mulai sepi, kita bagi tugas cuci piring sama nyapu-ngepel lantai dapur. Pokoknya apa aja yang disuruh Pak Susilo atau Bu Asih nanti, kita kerjakan cepat-cepat. Jangan bikin Pak Susilo nunggu lama kalau dia udah memanggil, bisa kena semprot kamu," jelas Koni panjang lebar.
Galih mengangguk-angguk paham, menyerap setiap arahan yang diberikan Koni dengan cermat. Hatinya merasa sangat lega. Meskipun pemilik warungnya berkarakter dingin dan tegas, mendapatkan pekerjaan di hari pertama pencariannya adalah sebuah berkah besar yang tak pernah ia sangka sebelumnya. Galih langsung melepas kemeja luarnya, menyingsingkan lengan kaos oblongnya, dan mulai membantu Koni membersihkan peralatan dapur dengan penuh semangat.