💗🤗 Assalamualaikum semua! Ayo mampir baca pelan-pelan aja ya! jika suka jangan lupa tinggalkan jejak kalian!👇🤗😍
Di balik wajah cantiknya, Alana menyimpan identitas mematikan: seorang hacker genius sekaligus penembak jitu bayaran yang tak pernah meleset. Namun, ia terpaksa menggantung senapannya demi satu tujuan baru yang tak pernah ia rencanakan—menjadi ibu pengganti bagi keponakannya yang mendadak yatim piatu.
Di sisi lain kota, Sang Bos Mafia penguasa dunia bawah tanah sedang murka. Pembantaian brutal baru saja menewaskan tangan kanan kepercayaannya, dan sepasang anak kembar sang tangan kanan menghilang tanpa jejak.
Dalam perburuannya mencari anak-anak itu dan menuntut balas, sang Mafia juga memburu seorang hacker misterius yang terus-menerus meretas sistem keamanan kartelnya.
Takdir mempertemukan mereka dalam kejar-kejaran yang mematikan. Sang Bos Mafia tidak tahu bahwa wanita cantik yang mati-matian melindungi sepasang anak kembar di dekapannya adalah penembak jitu yang
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riniasyifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
Sinar matahari pagi yang cerah menerobos masuk melalui deretan jendela raksasa di ruang makan utama Mansion Adhitama. Meja makan panjang bergaya Victoria itu kini terasa jauh lebih hidup dan ramai dibandingkan biasanya.
Di ujung meja, Tuan Besar Bramantya sedang membaca koran bisnis harian sambil menyesap kopi hitamnya. Nyonya Besar Lidya tersenyum lembut mengoleskan selai pada roti panggang, sementara Sonia sibuk menuangkan jus jeruk ke dalam tiga gelas kecil yang berjejer rapi di depannya.
"Makan brokolinya sampai habis, Jagoan," tegur Alana lembut. Wanita itu tampil segar dengan kemeja berwarna krem muda dan celana panjang hitam, terlihat seperti ibu muda yang elegan.
Di sebelahnya, Kael dan Kai yang sudah rapi mengenakan seragam sekolah mengangguk patuh. Kai dengan cekatan menusuk sayuran di piringnya, sementara Kael diam-diam mencoba menyembunyikan kacang polongnya di bawah potongan telur dadar.
"Paman Bas, nanti sepulang sekolah kau janji akan menunjukkan padaku pesawat pengintai baru, kan?" tanya Kael, menatap Bastian dengan mata penuh harap.
Bastian yang duduk tepat di seberang Alana tersenyum lebar, mengedipkan sebelah matanya. "Tentu saja, Jagoan. Paman juga punya beberapa kode baru yang bisa kita pecahkan bersama. Bagaimana kalau kita mampir ke toko es krim dulu sebelum pulang? Lana, kau ikut, kan?"
"Tentu," sahut Alana santai, menyendok sup krim jagungnya. "Aku butuh udara segar setelah semalaman sibuk di ruang server."
Suasana hangat itu tiba-tiba diinterupsi oleh derap langkah sepatu kulit yang tegas menapaki lantai marmer. Elvano melangkah masuk ke ruang makan. Pria itu sudah mengenakan setelan jas hitam yang rapi sempurna, rambutnya disisir rapi ke belakang, memancarkan aura seorang pemimpin yang tak tertandingi. Namun, ada kilat ketidaksenangan yang tersembunyi di balik matanya saat melihat posisi duduk Bastian yang tepat berhadapan dengan Alana.
"Pagi, El," sapa Sonia, menahan senyum geli melihat adiknya yang langsung menarik kursi tepat di sebelah Alana — tempat yang biasanya tidak pernah ia tempati karena lebih suka duduk di ujung meja yang lain.
"Tumben sekali kau sudah siap sepagi ini. Rapat dewan direksi baru dimulai jam sepuluh, kan?"
Elvano menarik kursinya dan duduk dengan tenang. "Aku ada urusan lain pagi ini. Jace akan menyiapkan mobil." Ia melirik sekilas ke arah si kembar.
"Aku yang akan mengantar anak-anak ke sekolah hari ini."
Hening sejenak.
Sonia menghentikan gerakan tangannya yang sedang menuang jus. Lidya menoleh menatap putra bungsunya dengan tatapan heran, sementara Bramantya perlahan menurunkan korannya.
Bastian menaikkan sebelah alisnya. "Oh? Tumben sekali Tuan Muda kita turun tangan langsung. Padahal aku sudah bersiap menemani Lana mengantar mereka. Aku bahkan sudah menyuruh orang menyiapkan mobil pengawal yang baru."
"Kau baru pulang dari luar negeri, Bastian. Sebaiknya kau istirahat dan periksa laporan keuangan wilayah barat. Lagipula, keamanan si kembar adalah tanggung jawab utamaku," sahut Elvano dingin, nadanya tegas tanpa ruang untuk perdebatan.
Ia menoleh menatap Alana, rahangnya sedikit mengeras saat menangkap sisa tawa di wajah wanita itu yang tadinya ditujukan untuk Bastian. "Kau siap berangkat dalam sepuluh menit, Nona Alana?"
Alana mengerutkan kening, bingung. "Aku? Ya, aku siap. Tapi kenapa kau harus repot-repot ikut? Pengawalan rutin yang Jace siapkan sudah lebih dari cukup."
"Itu aturan baru," potong Elvano cepat, beralibi dengan wajah datar. "Setelah insiden semalam, aku harus memastikan sendiri rute perjalanan aman dari titik buta."
Mendengar itu, Sonia tak kuasa lagi menahan tawanya. Wanita itu menutupi mulutnya dengan serbet, bahunya berguncang pelan.
"Aturan baru atau kecemburuan baru, Adikku Sayang?" celetuk Sonia dengan nada jahil.
"Selama Lea sekolah kau baru sekali mengantarnya itupun kalau Mommy yang menyuruh. Sekarang mendadak kau jadi pengawal pribadi yang sangat teliti? Ckckck."
Wajah Elvano seketika mengeras. Telinganya memerah samar, namun ia mati-matian mempertahankan ekspresi dinginnya. "Ini urusan keamanan klan, Kak Sonia."
"Oh, tentu saja," sahut Lidya menimpali sambil tersenyum lembut. Nyonya Besar itu menatap Alana dengan penuh kasih sayang, lalu beralih menatap putranya dengan tatapan penuh arti.
"Mommy setuju dengan 'aturan baru' ini, El. Tapi kalau kau memang berniat menjadikan keamanan si kembar, itu artinya Alana juga masuk dalam tanggung jawab utamamu selamanya... kau tahu kan, di keluarga kita, perlindungan seutuhnya biasanya disahkan di depan janji sehidup semati?"
Uhuk!
Alana, yang baru saja menyesap air putihnya, seketika tersedak hebat. Wajahnya memerah padam.
Elvano langsung menoleh, tangannya dengan cepat menepuk punggung Alana dengan lembut. "Pelan-pelan," gumam Elvano, suaranya mendadak rendah dan lembut, meski rahangnya berkedut menahan malu.
"Mom, tolong jangan bicara yang tidak-tidak," gerutu Elvano pada ibunya, meski ia sama sekali tidak menyingkirkan tangannya dari punggung Alana.
Bramantya melipat korannya dan meletakkannya di atas meja, tertawa pelan. "Mommy-mu benar, Son. Keluarga kita tidak pernah setengah-setengah dalam berkomitmen. Jika kau sudah menemukan orang yang berharga bagimu, jangan sampai ia pergi, apalagi diambil sampai di tikung sepupumu sendiri!"
"Hei, aku cuma menawarkan tumpangan!" protes Bastian sambil mengangkat kedua tangannya seolah menyerah, meski matanya berkilat jenaka.
"Lagipula, Lana ini sudah aku anggap adikku sendiri. Kami punya banyak hal untuk dibicarakan. Kalau kau mau bersaing denganku, El, setidaknya kau harus belajar mengerti apa yang kami bicarakan dulu."
"Aku tidak butuh mengerti itu untuk mengalahkanmu, Bastian," desis Elvano pelan namun tegas, tatapannya menyiratkan peringatan yang jelas.
Alana yang akhirnya berhasil meredakan batuknya, perlahan menyingkirkan tangan Elvano dari punggungnya. Ia menatap seluruh keluarga yang kini memandangnya dengan berbagai senyum penuh arti.
"Ehm," Alana berdeham keras, mencoba mengembalikan ketenangannya. Ia berdiri dari kursinya. "Anak-anak, ayo kita berangkat sekarang. Kalau Tuan Adhitama ingin ikut memeriksa setiap jengkal aspal jalanan, silakan saja. Kita tidak punya waktu untuk drama pagi yang tidak perlu ini."
Alana bergegas melangkah keluar ruang makan, diikuti si kembar yang menahan senyum melihat wajah Bunda mereka yang merah padam.
Elvano bangkit dari kursinya perlahan, merapikan kancing jasnya. Ia melirik keluarganya satu per satu dengan tatapan peringatan yang sama sekali tidak dihiraukan.
"Semoga sukses dengan 'pemeriksaan rutenya', El," goda Sonia, mengangkat cangkir kopinya seolah bersulang.
"Ingat, Elvano," tambah Lidya dengan senyum lembut namun penuh makna, "Cincin pusaka nenekmu masih tersimpan rapi. Kabari Mommy saat kau siap menggunakannya."
Elvano mendengus kasar, wajahnya sedingin es batu, namun jantungnya berpacu cepat. Ia berbalik dan melangkah lebar menyusul Alana keluar ruangan.
Pagi ini mungkin terasa konyol dan penuh godaan, tapi saat Elvano melihat siluet Alana yang berjalan di depannya, ia menyadari satu kebenaran yang tak terbantahkan. Wanita ini adalah miliknya, dan ia tidak akan pernah membiarkannya pergi.
Bersambung...