NovelToon NovelToon
My Idol Is My Desktop Shortcut

My Idol Is My Desktop Shortcut

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Idola sekolah / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:345
Nilai: 5
Nama Author: TCN_Luna

Di sekolah, Rendra Adijaya adalah pangeran sempurna yang dingin dan tak tersentuh. Namun di balik pintu kamar, dia hanyalah cowok anxious kronis yang menyembah seorang admin Discord anonim sebagai "pawang mental"-nya. Siapa sangka, admin gaming tempatnya mengemis semangat setiap malam itu ternyata Naya, cewek cuek bermulut tajam yang duduk di pojok kelasnya dan paling anti dengan cowok nyata.

Begitu rahasia terbongkar, saklar obsesi Rendra langsung menyala. Topeng pangeran dinginnya pecah total saat dia nekat menyudutkan Naya di kelas kosong sambil memelas gila, "Tolong jangan block gue... gue rela beliin angkot jalur sekolah ini asal lu tetep mau jadi pawang gue!" Mampukah Naya bertahan menghadapi tingkah bucin akut sang idola sekolah yang aslinya serapuh kerupuk kesiram kuah soto?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon TCN_Luna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 13: Perjanjian Rahasia Baru

Naya kembali melangkah menuju kursi kayunya di pojok belakang kelas, lalu menduduki pantatnya dengan santai. Dia melipat kedua kakinya secara bertumpu di atas permukaan meja, sementara Rendra berdiri tegap di depannya seperti prajurit baru yang sedang menunggu vonis dari komandan perang. Kamar kelas XI-A yang remang-remang karena seluruh gorden ditutup rapat itu mendadak berubah fungsi menjadi ruang interogasi sekaligus penandatanganan kontrak kerja sama ilegal.

"Oke, Rendra Adijaya. Tarik napas dulu lo yang dalem, gak usah masang muka tegang kayak manekin pajangan toko baju yang baru disita Satpol PP gitu," buka Naya memecah keheningan sambil mengetuk-ngetuk layar ponselnya yang masih menampilkan profil Discord @King_Ren.

Rendra berdehem pendek, membetulkan posisi berdirinya agar tegak lurus. Dia menekan pita suaranya sedalam mungkin demi memulihkan sisa-sisa harga diri pangeran sekolahnya yang tadi sempat hanyut ke selokan. "Gue gak tegang, Kanaya. Gue cuma... sedang menunggu klausul kesepakatan dari lo secara profesional."

"Halah, sok formal banget lo kunyuk. Tadi aja nangis bombay meluk ujung jaket rajut gue sambil gemeteran," cibir Naya tanpa ampun, sukses membuat wajah blasteran Jerman-Sunda milik Rendra kembali memerah padam sampai ke ulu telinga. "Nih, dengerin baik-baik biar otak lo yang ranking satu itu bisa nyerna. Biar rahasia wibu cengeng lo ini aman seaman-amannya, dan akun Discord pro-player lo ga gue ban permanen dari bumi pertiwi, ada tiga syarat utama yang wajib lo patuhi tanpa tapi selama satu semester ke depan."

Rendra dengan gerakan sigap langsung mengeluarkan sebuah buku catatan kecil berlapis kulit mewah berwarna hitam dari saku seragamnya, lengkap dengan sebuah pulpen gel keramat yang tadi sempat jatuh di bawah sepatu Naya. "Sebutkan poin-poinnya, Kanaya. Gue bakal catat semuanya per poin di sini agar tidak ada yang terlewat."

Naya melongo sesaat melihat totalitas dan kegilaan cowok di depannya. “Ini anak emang sarafnya udah geser korsleting total semenjak lahir,” batin Naya heran campur ngeri.

"Syarat pertama!" Naya mengacungkan jari telunjuk kanannya ke depan wajah Rendra. "Mulai besok pagi, stop kelakuan aneh lo yang bikin gue risih di kelas. Lo dilarang keras jalan bolak-balik lewat depan meja pojok gue kayak setrikaan berkarat dengan alasan bodoh mau minjem rautan pensil kayu, nyari penghapus karet, atau cuma sekadar buang sampah tisu selembar ke tempat sampah belakang. Risih gue diliatin anak-anak sekelas, tahu ga?!"

"Tapi kalau gue mendadak butuh asupan energi dengan cara melihat muka lo pas jam pelajaran Biologi gimana?" potong Rendra dengan tatapan mata yang mendadak berubah menjadi sangat intens, memancarkan aura obsesif wibu akutnya yang mengerikan.

"Gunakan mata belo lo itu buat liat papan tulis atau muka Pak Tono, bego! Bukan buat liat muka gue!" semprot Naya gemas sambil melemparkan gulungan kertas kecil ke dada Rendra. "Kalau lo mau liat gue atau mau ngobrol manja, tunggu pas jam latihan game privat di Discord malam hari aja! Pas di sekolah asli, lo tetep wajib akting jadi pangeran es kutub utara yang dingin, sombong, dan ga kenal sama rakyat jelata kayak gue. Paham?!"

Rendra menghela napas pasrah, lalu menggoreskan pulpennya di atas kertas binder kecilnya. "Oke, baik. Poin satu: dilarang melakukan pendekatan fisik atau caper visual di area sekolah. Lanjut ke poin dua."

"Syarat kedua. Ini poin yang paling menguntungkan buat keberlangsungan hidup gue di sekolah," Naya tersenyum licik, sepasang matanya berkilat berbinar penuh rencana eksploitasi otak jenius sang juara umum paralel. "Mulai hari ini sampai enam bulan ke depan, semua tugas sekolah gue—mulai dari matematika peminatan, fisika, kimia, sampai rangkuman materi sejarah yang panjangnya kayak kereta api—lo yang wajib ngerjain. Gue cuma mau terima beres dalam bentuk buku tulisan rapi atau file dokumen siap kumpul di meja guru."

Rendra tertegun sesaat, menatap lembar catatannya dengan mata yang mendadak berbinar-binar gila. Sisi batin wibu cemasnya langsung menggelar aksi sujud syukur massal di dalam dada. “YA TUHAN! Ini bukan hukuman, ini berkah dari surga! Gue bisa megang buku tulis Naya, gue bisa ngerjain tugasnya pake tangan gue sendiri, artinya secara tidak langsung otak gue bakal menyatu dengan nilai-nilai akademisnya! Ini namanya ikatan batin secara biologis dan akademis!” batin Rendra menjerit histeris penuh kebahagiaan psikopat bucin.

"Rendra? Kok lo malah senyum-senyum serem gitu sih? Heh! Lu keberatan ga sama syarat nomor dua gue?" tanya Naya curiga begitu melihat gelagat aneh Rendra yang bukannya sedih atau marah karena diperbudak, malah kelihatan kayak orang habis menang lotre seratus miliar.

"Gak! Sama sekali gak keberatan, Nayaaa!" jawab Rendra cepat dengan suara cempreng aslinya yang kelepasan keluar saking senangnya, sebelum dia buru-buru menutup mulutnya dan berdehem berat membetulkan nadanya kembali. "Ehem. Maksud gue... itu syarat yang sangat rasional dan efisien bagi kapasitas otak gue. Kapasitas intelektual gue sanggup menampung seluruh beban akademik lo selama sepuluh turunan, Kanaya. Poin dua: gue resmi menjadi asisten akademis pribadi lo secara sukarela. Selesai dicatat."

Naya menggeleng-gelengkan kepalanya pasrah, merasa agak merinding dengan tingkat kepatuhan Rendra yang sudah masuk tahap di luar nalar manusia waras. "Lu beneran nurut banget ya kalau diancam ban... kayak anak kucing kelaparan minta makan. Ya udah, nih syarat terakhir yang paling krusial."

Naya menurunkan kedua kakinya dari atas meja kayu, memajukan posisi tubuhnya sedikit ke depan, lalu menatap Rendra dengan ekspresi wajah yang mendadak berubah menjadi sangat serius. "Syarat ketiga: soal pasokan kiriman makanan misterius yang nongkrong di meja gue tiap pagi. Gue udah tahu seratus persen itu kelakuan lo."

Jantung Rendra langsung berdegup kencang laksana genderang perang. "K-kopi premium sama croissant cokelat itu... lo ga suka ya? Seleranya salah?" tanya Rendra mendadak cemas setengah mati, takut hadiah cintanya dinilai buruk oleh sang idola.

"Suka. Kopinya enak banget bikin melek, croissant-nya juga mantap empuk bikin kenyang," aku Naya jujur dengan wajah datar, yang langsung membuat batin Rendra bersorak lebay merayakan kemenangan besar antar galaksi. "Tapi, mulai besok ga usah lo tempelin stiker kucing hitam dari Discord segala di cup-nya. Bego banget lu, itu namanya ninggalin jejak digital di dunia nyata! Dan satu lagi... gak usah beli kopi mahal yang harganya di atas gocal ke atas dari pusat kota."

"Kenapa? Uang bukan masalah buat gue, Nay. Gue bisa beli kedai kopinya sekalian kalau lo mau," potong Rendra polos tanpa maksud pamer.

"Bukan masalah uangnya, pangeran kaku! Kasihan sopir pribadi lo harus disuruh nyari subuh-subuh pas toko baru buka! Lagian kalau cewek-cewek gosip di kelas ngeliat gue makan mewah tiap pagi, mereka bakal makin curiga dan nyari tahu siapa pelakunya!" semprot Naya, menepuk dahi sendiri karena pusing menghadapi pola pikir anak sultan di depannya. "Cukup beliin gue susu kotak rasa stroberi merek Ultra sama roti isi cokelat yang dijual di minimarket depan sekolah aja. Harganya murah, merakyat, dan ga bakal bikin anak-anak kelas curiga. Paham?"

Rendra terdiam sesaat, mencerna baik-baik permintaan spesifik dari Naya. Namun, di dalam struktur otaknya yang dominan diisi oleh gen obsesif akut, kalimat Naya barusan diterjemahkan secara otomatis ke jalur yang sangat berbeda. “Naya perhatian sama pengeluaran gue? Naya peduli sama jam tidur sopir gue? Dan dia secara spesifik minta dibeliin susu stroberi... ini bukan syarat tugas, ini namanya Naya sedang memesan menu sarapan cinta harian dari gue secara privat!”

"Baik. Merek susunya harus Ultra, rasa stroberi, dan roti isi cokelat tanpa mesis berlebih," ucap Rendra dengan nada dingin buatannya yang kembali stabil, padahal jemarinya sudah gemetaran hebat menulis detail pesanan itu di bukunya dengan tambahan coretan emoji love kecil tersembunyi di sudut halaman. "Semua syarat dan klausul kontrak dari lo... resmi gue terima tanpa ada opsi banding atau negosiasi ulang."

"Bagus. Kalau gitu, kesepakatan rahasia kita resmi dimulai hari ini di dunia nyata," Naya bangkit dari kursi kayunya, menepuk pundak tegap Rendra sekali dengan santai sebelum berjalan santai menuju pintu depan kelas. "Sekarang buruan lo buka kembali gorden jendelanya dan buka kunci pintunya, pangeran kaku. Bentar lagi bel masuk pelajaran ketiga bunyi, ntar dikira anak-anak kita lagi ngelakuin yang iya-iya di dalam ruang kelas remang-remang gini."

"Siap, laksanakan komandan," jawab Rendra patuh dengan posisi tegap.

Begitu Naya membalikkan badannya untuk membantu membuka gorden, Rendra langsung memandangi punggung cewek pojok kelas itu dengan tatapan mata yang berkilat penuh kepuasan gila dan obsesi yang semakin membara. Perjanjian rahasia baru ini mungkin membuat Rendra menjadi "budak tugas" di mata Naya, tetapi bagi seorang Rendra Adijaya, ini adalah tiket emas legal untuk masuk secara permanen ke dalam lingkaran kehidupan nyata sang pawang mental tanpa bisa diusir lagi. Saklar obsesinya kini telah menemukan wadah perbudakan yang tepat, dan kegilaannya bersiap naik ke level yang jauh lebih berbahaya besok pagi di sekolah.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!