Di dunia fantasi yang kejam, di mana hierarki ditentukan oleh kekuatan dan kemurnian garis keturunan, terlahir sebagai seekor Goblin adalah sebuah kutukan. Mereka adalah ras terendah-lemah, kotor, diburu sebagai ajang latihan para petualang amatir, dan dibantai tanpa ampun oleh umat manusia.
Namun, dari kedalaman keputusasaan ras yang nyaris punah di Hutan Misti, lahirlah sebuah anomali.
Bukan dengan kulit hijau menjijikkan atau tubuh bungkuk yang menyedihkan, melainkan dengan paras rupawan bagai seorang High Elf yang agung. Berambut pirang keemasan, bertelinga runcing yang elegan, dan dianugerahi ingatan serta kecerdasan dari dunia modern, ia adalah Altair-Sang Goblin Emperor pertama.
menyadari ras nya di ambang kepunahan altair pun bertekad membangkitkan kembali ras goblin yang hina, menjadi penguasa dunia dengan bantuan sistem manipulasi genetik dan kekuatan reproduksi nya sebagai sang kaisar goblin. bisakah dia menghadapi segala rintangan di depan nya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PrinceArslan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20: Bayang-Bayang Besi di Balik Kanopi
Hutan Misti tidak lagi bersuara seperti
Biasanya, relung Qirwood dipenuhi oleh dengungan serangga malam, desau angin kanopi, dan lolongan jauh monster-monster kecil yang saling berburu. Namun, di malam ketujuh sejak mesin perang peradaban manusia dilepaskan dari perbatasan, seluruh suara alam itu seolah mati suri, ditelan oleh satu suara baru yang jauh lebih berat dan menakutkan: dentum ribuan sepatu bot baja yang menghantam tanah basah secara teratur.
Di balik tirai akar-akar gantung yang menjuntai di tepi jurang lembah, Altair berdiri tanpa suara. Jubah hitamnya menyatu dengan pekatnya malam. Di sampingnya, Zyrus berdiri tegak, matanya yang memancarkan cahaya kuning redup menembus kegelapan, mengawasi lautan obor yang perlahan merayap dari kejauhan.
Cahaya ratusan api unggun kecil dan obor magis tampak berkelap-kelip di antara barisan pohon, membentuk garis lengkung raksasa yang menyala terang—sebuah formasi jaring pemburu yang dirancang dengan presisi militer tingkat tinggi.
"Mereka bergerak lebih terorganisasi dari perkiraan, Ayahanda," bisik Zyrus pelan, suaranya terdengar tenang tanpa secercah pun rasa takut. "Penyihir di barisan tengah menggunakan batu kompas sihir untuk melacak sisa-sisa energi magis dari pertempuran para pengintai kita beberapa hari lalu."
Altair tidak langsung menjawab. Ia menatap tajam ke arah barisan terdepan musuh. Dari titik pengamatannya, siluet infanteri berisai besar dan kavaleri berat keluarga Baron Cass tampak berjalan beriringan dengan para petualang bayaran berzirah compang-camping. Bau mesiu, keringat besi, dan minyak pelita terbawa angin malam, mencemari aroma murni Hutan Misti.
"Mereka menggunakan formasi sapuan total," ucap Altair akhirnya, nadanya datar namun dingin. "Baron Cass dan Viscount Rejerson tidak ingin mengambil risiko kehilangan jejak. Setiap jengkal tanah yang mereka lewati diperiksa, dibakar, dan dibersihkan."
Di dalam gua utama, proses evakuasi dan persiapan lapis kedua sedang dikebut habis-habisan. Anrus memimpin para goblin pekerja untuk mengangkut batu mana dan sisa persediaan makanan ke jalur rahasia bagian selatan. Sementara itu, di dalam sel tahanan, dua mayat wanita dari desa perbatasan telah dipakaikan sisa-sisa pakaian Lyra dan hiasan pelat perak milik Cassvia, menunggu waktu yang tepat untuk dibakar habis demi menciptakan ilusi kematian yang sempurna.
Altair mengalihkan pandangannya dari lautan obor di bawah sana. Ia tahu betul, bentrok fisik dengan dua ribu lima ratus pasukan manusia di ruang terbuka adalah kebodohan mutlak. Tetapi membiarkan mereka masuk begitu saja tanpa memberikan sambutan yang berkesan juga bukanlah gaya seorang Kaisar.
"Zyrus," panggil Altair pelan.
"Ya, Ayahanda?"
"Katakan pada Grush dan unit Hobgoblin penyergap untuk mulai memasang pemicu batu mana di jalur rawa barat. Biarkan mereka mencicipi 'hidangan pembuka' sebelum mereka sempat mencium bau sarang kita," perintah Altair dengan seringai tipis yang tersamar oleh kegelapan.
Zyrus mengangguk patuh, lalu berkelebat mundur ke dalam gelapnya lorong gua.
Situasi tidak terlalu menguntungkan, tetapi aku akan melakukan segala cara untuk bertahan dan menang, kejayaan bagi ras ini ada di tanganku coba saja jika kalian bisa wahai para manusia.
Altair kembali menatap barisan obor manusia yang bak kunang-kunang didalam kegelapan kini semakin mendekat, bersiap merangkai babak akhir dari strategi mundurnya. Badai itu telah tiba di depan pintu, dan sang Kaisar telah menyiapkan jebakan maut di atas abu kepalsuan.